Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
Kenyataan Pahit


__ADS_3

"Hamil???" Rey kali ini membelalakkan matanya.


"Ya mungkin saja kan. Kalian suami istri yang sudah melakukan hal itu, jadi wajar saja nona bisa hamil" ujar Bobby santai, Rey masih tak percaya.


Ia segera membawa susu yang telah selesai dibuat dan menghampiri Luna yang sedang terbaring di tempat tidur. Luna seperti berusaha memejamkan matanya, namun ia merasa tubuhnya sangat tidak nyaman.


"Sweety..." panggil Rey pelan setelah ia meletakan gelas susu di meja samping tempat tidur.


Perlahan Luna membuka matanya, ia mengusap matanya pelan dan memegang tanga Rey lalu menciuminya. Ia merasa lebih baik saat Rey ada disampingnya.


"Sebaiknya kita ke dokter untuk memeriksakan kesehatan mu" kata Rey pelan.


"Tidaak, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin tidur dan bersamamu" Luna bangun dari tidurnya dan memeluk Rey sambil menciuminya.


"Nanti Bobby melihat, aku malu" ujar Rey yang belum menutup pintu kamarnya.


"Biarkan saja, aku nyaman jika memeluk dan menciummu"


Rey melepaskan pelukan Luna pelan.


"Minum dulu susumu, aku takut kau semakin kurang sehat bila tak mau mengisi perutmu itu" ujar Rey sambil menunjuk perut Luna.


Luna mengangguk dan menerima gelas yang disodorkan oleh Rey. Perlahan-lahan Luna meneguk susu yang diberikan Rey. Setelah habis Luna merasa mual kembali.


"Aku ingin..."


Luna berlari ke kamar mandi dan memuntahkan susu yang diminumnya ke wastafel. Rey menghampiri Luna dan mengelus punggung istrinya.


"Ayo kita ke dokter. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk kepadamu" ucap Rey, Luna memeluk Rey erat lalu mengangguk setuju.


"Aku akan mengganti pakaian ku dulu" kata Luna.


Rey keluar dari kamar dan membawa gelas susu yang sudah kosong ke dapur lalu ia meminta air putih hangat kepada Bobby.


"Apakah dia masih mual?" tanya Bobby, ia terlihat sangat penasaran.


"Ya, bahkan ia memuntahkan semua susu yang diminumnya"


"Aku rasa nona benar-benar hamil, aku melihatnya ditelevisi jika wanita hamil ia akan mual dan muntah" ujar Bobby dengan wajah yakin, Rey melirik Bobby sang menghela napasnya.


"Pria gagah sepertimu masih suka menonton film drama?" sindirnya.


Bobby tertawa lepas.


"Terkadang aku menontonnya untuk hiburan" kata Bobby membela diri.

__ADS_1


"Ya tentu saja, aku lebih tidak percaya kalau kau menonton tayangan anak-anak" Bobby mengeraskan ketawanya mendengar kata-kata Rey.


"Apa yang kalian bicarakan?" Luna keluar dari kamar sambil menutup hidung, aroma bubur nasi semerbak diseluruh ruangan.


Bobby lupa menyalakan mesin penyaring udara. Ia segera menyalakannya.


"Siapkan mobil, aku ingin ke dokter" ucap Luna kepada Bobby.


Bobby mengambil tasnya dan berlari keluar dari apartemen Luna. Rey menghampiri Luna dan merangkulnya dengan tangan kanan, Luna menyenderkan kepalanya dibahu Rey. Mereka keluar dari apartemen menuju lobby. Mobil Luna yang dikendarai Bobby sudah menunggu diluar.


Mobil melaju ke rumah sakit, Luna terus menempel pada Rey. Bobby melihat betapa manjanya Luna dari kaca spion depan.


"Kita sudah sampai nona, tuan"


Luna yang sempat tertidur dibahu Rey terbangun, ia dan Rey keluar dari mobil dan segera menemui dokter.


"Bagaimana keadaan istriku dokter" Tanya Rey.


Dokter itu tersenyum.


"Tuan dan nyonya, sebaiknya setelah ini segera menuju dokter obgyn untuk pemeriksaan lebih lanjut. Nyonya akan mendapatkan analisis lebih baik disana"


"Dokter Obgyn?" Luna mengerutkan dahinya.


"Ya nyonya, dokter yang akan memeriksakan kandungan nyonya"


"Iya nyonya, karena kemungkinan nyonya sedang hamil" jawab dokter itu.


Luna tidak terlihat senang, ia ragu dengan analisis dari dokter itu. Wajah Rey berseri-seri mendengar apa yang dokter katakan. Tanpa ia sadari jari tangan kirinya bergerak menggenggam jemari Luna.


"Baik dokter, saya dan istri saya akan segera ke sana. Terima kasih"


Rey memegang pinggang Luna dan berjalan dengan hati-hati. Luna masih nampak bingung namun ia mengikuti langkah Rey menuju dokter Obgyn.


Luna merebahkan dirinya di ranjang, dokter melakukan USG pada perutnya. Wajah dokter itu terlihat khawatir.


"Bagaimana dokter? Apakah istriku benar-benar sedang hamil?" tanya Rey bersemangat.


"Bisa dikatakan begitu, namun sepertinya nyonya Luna sedang molar pregnancy" kata dokter lalu membuka kacamatanya.


"Bagaimana bisa saya hamil? Sedangkan saat ini saya sedang mengalami flek" Luna bertanya dengan nada heran.


"Sudah saya duga..."


Dokter menjelaskan mengenai kehamilan yang sedang terjadi pada Luna, wajah Luna dan Rey seketika menjadi sedih.

__ADS_1


"...jadi harus dilakukan kuret untuk membersihkannya dan dilakukan perawatan intensif untuk nyonya bisa hamil normal"


"Tapi saya masih bisa hamil kan dok?" tanya Luna dengan berlinangan air mata.


"Ya tentu saja. Namun kami harus memastikan bahwa molar yang ada dikandungan nyonya saat ini bersih"


"Baik dokter, kapan saya bisa menjalaninya?"


"Sebaiknya sesegera mungkin, agar bisa lebih cepat dibersihkan. Namun nyonya bisa hamil kembali dalam masa waktu 6-12 bulan kedepan dengan pemantauan lebih lanjut"


"Ya baiklah"


Rey menggenggam jemari Luna dengan erat, ia ingin menguatkan istrinya itu. Luna menjalani serangkaian pemeriksaan untuk mempersiapkan dirinya.


"Besok pagi, bila hasilnya bagus nyonya sudah bisa menjalaninya"


"Terima kasih dokter"


Luna menangis sepanjang perjalanan pulang, Rey memeluknya erat.


"Tenanglah sweety, kau masih bisa hamil. Kita akan melewatinya bersama-sama" Rey menghibur Luna.


"Terima kasih hubby" Luna membenamkan wajahnya di dada Rey, Bobby ikut sedih melihatnya.


Setelah sampai di apartemen, Rey memberikan Luna teh hangat. Tangannya mulai bisa digerakkan dengan normal namun ia tak menyadarinya.


"Hubby.. lihat tanganmu.." katanya dengan wajah berbinar.


Rey melihat ke arah tangannya yang sudah bisa bergerak.


"Ya Tuhan, aku sudah bisa menggerakkannya kembali" ujar Rey sambil menangkupkan kedua tangan ke wajahnya.


"Dibalik kesedihan yang kita rasakan saat ini ada kebahagiaan yang Tuhan berikan" ucap Luna, ia memeluk suaminya sambil saling menguatkan.


"Bila Tuhan belum mengizinkan kita memiliki anak saat ini, kita harus menikmati waktu kita berdua. Anggap saja saat ini kita sedang merasakan menjadi pasangan kekasih" sekali lagi Rey menghibur Luna.


Luna mengangguk, ia masih tak dapat membendung air matanya. Ia menangis tersedu-sedu, Rey mengusap air matanya.


"Jangan menangis sweety, aku akan selalu berada disampingmu. Mulai saat ini kau tak boleh minum bir makan makanan yang sehat" kata Rey yang disambut dengan anggukan kepala oleh Luna.


"Baiklah suamiku sayang, aku akan menurut apa katamu"


Luna meminum teh hangat yang dibuatkan oleh Rey, tidak ada rasa mual saat meminumnya.


"Aku dengar tadi pagi kau ke tempat Yasmin bersama mami, kenapa kau tak mengatakan apapun kepadaku?" tanya Luna tiba-tiba membuat Rey berkeringat.

__ADS_1


"Eeem itu.."


"Apakah sekarang suamiku sedang bersengkokol dengan mami dan Yasmin?"


__ADS_2