
Tambah semangat aku yuk dengan komen dan like setelah membaca novel ini, biar aku tambah semangat up setiap harinya 🥰😍😘
Luna gusar menunggu kabar dari Rey mengenai kondisi Erika, Rara hanya duduk disebelah sambil memperhatikan Luna.
"Kak Luna, tenanglah. Nanti kau lelah" ujar Rara, ia memegang tangan Luna.
Luna menoleh ke arah Rara dan menghela napas.
"Bagaimana aku bisa tenang bila aku belum mendapatkan kabar apapun mengenai Erika!" bentak Luna, Rara terdiam dan menunduk.
Luna terkejut dengan suara bentakan yang keluar dari mulutnya.
"Ma.. maafkan aku Rara, aku tidak bermaksud marah padamu. Aku terlalu khawatir pada kondisi sahabatku Erika" ucap Luna sambil memegang jemari Rara.
"Apa kau membenciku kak Luna? Karena aku datang dan hal buruk menimpamu? Apa kau berpikir aku adalah pembawa sial?" ujar Rara menunduk sedih.
"Tak ada yang berpikir seperti itu Rara" Luna membelai rambut Rara yang panjang.
"Tapi ibu selalu berkata aku pembawa sial, karena aku lahir nasib ibu menjadi berubah sulit. Apalagi aku lahir dengan kelainan jantung yang membutuhkan biaya yang cukup besar. Saat aku kecil ibu membiarkan aku dalam keadaan sesak, bila aku mati itu akan lebih baik katanya" tukas Rara.
"Ayah masih terlihat tidak tega dan membawaku ke klinik untuk mendapatkan sedikit perawatan, hal itu membuat ayah dan ibu selalu bertengkar lalu berpisah. Namun setelah ayah dan ibu berpisah, ayah bergabung dengan sindikat perampok lalu tertangkap saat mencoba merampok kedai kak Rey" Rara tersenyum miris, Luna memeluknya.
"Semuanya sudah berlalu, ada aku dan Rey yang akan selalu perduli padamu. Kami akan berusaha agar kau bisa sembuh" ujar Luna, ia ingin Rara merasa diterima.
"Aku takut semua ini hanya mimpi dan pada waktunya aku harus terbangun lalu mendapatkan ibu berada di hadapanku dengan segala kemarahannya"
"Kami tak akan membiarkan ibumu mendekatimu lagi" ujar Luna dengan tegas.
Ting tong..
Suara bel berbunyi, Luna membuka pintu. Mami datang dan terkejut melihat ada seorang gadis diapartemen Luna.
"Siapa dia?" tanya mami dengan tatapan penasaran.
Rara melihat mami dengan wajah membulat.
Siapa wanita ini? Dia terlihat tua namun wajahnya sangat cantik dan elegan..
Pikir Rara, ia kagum dengan semua orang yang berada disekitar Rey.
"Dia Rara mi, adik Rey" jawab Luna enteng sambil duduk kembali disebelah Rara.
"Adik?" mami seolah tak percaya.
Luna mengangguk. Mami melihat Rara dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.
__ADS_1
"Dia sama sekali tidak mirip dengan Rey" ucap mami santai sambil memalingkan pandangannya dari Rara.
"Rara, ini mamiku" Luna memperkenalkan mami kepada Rara.
Rara mengangguk-angguk, dia melihat Luna dan maminya secara bergantian.
Mereka berdua sangat mirip, pantas saja kak Luna begitu mempesona..
Puji Rara dalam hati, terselip iri dihatinya.
"Apa mami ke sini untuk melihat keadaanku?" tanya Luna heran, tak biasanya mami datang tiba-tiba.
"Emm.. mami ingin tahu keadaan putri Jiraiya. Tapi mami ragu ingin ke rumah sakit sendirian, mami ingin mengajak Rey ke sana. Dimana dia?" tanya mami sambil mencari keberadaan menantu kesayangannya.
"Rey sudah berangkat ke rumah sakit sejam yang lalu, dia langsung ke sana bagitu Bobby menelponnya"
"Ahh.. kenapa dia tidak mengajak mami kesana bersama" mami terlihat kecewa.
Dari percakapan mami dan Luna, Rara bisa membaca bahwa mami Luna menyayangi Rey. Semua orang disekitar Rey sangat memperhatikan kakaknya itu. Berbeda jauh dengan kehidupannya.
"Kenapa gadis itu melihat mami terus? Apa mami tampak aneh hari ini?" tanya mami yang mulai terusik dengan mata bulat Rara menatapnya.
"Apa nyonya ingin minum sesuatu?" Rara mulai membuka suaranya.
"Aku mau teh.." ucap mami santai.
"Mi... dia bukan pembantu disini" tukas Luna kesal dengan sikap maminya.
"Tidak apa-apa kak, teh buatanku sangat enak. Aku akan membuatkannya untukmu juga" ujar Rara sambil berjalan ke arah dapur.
Luna dan mami memperhatikan Rara. Rara cukup cekatan, ia bergerak perlahan agar tidak mudah lelah. Setelah selesai membuat teh, Rara membawakan teh itu untuk Luna dan mami.
"Emm.. bagaimana bisa teh ini rasanya hampir sama dengan buatan suamiku?" ujar Luna agak terkejut.
"Ya kau benar, ini terasa sama. Namun sedikit lebih manis" mami setuju dengan pendapat Luna.
"Syukurlah bila nyonya dan kak Luna suka" Rara tersipu malu, selama ini hanya ayahnya yang pernah memuji teh buatannya itupun hanya sekali.
"Kau bisa memasak?" tanya mami penasaran.
Rara mengangguk.
"Waktuku banyak digunakan dirumah untuk membantu ibu, untuk menghemat pengeluaran aku sering memasak dengan sayuran yang aku tanam sendiri"
"Kau hebat.." Luna sangat terkesima, Rey dan adiknya merupakan orang dengan keterbatasan ekonomi yang pantang menyerah.
__ADS_1
"Kau suka berkebun?" mami terlihat antusias.
Rara mengangguk dengan wajah gembira.
"Tak banyak yang dapat aku lakukan, setiap hari harus bermakna. Karena tidak memiliki teman aku perlahan menyibukan diriku dengan sesuatu yang ringan dan menyenangkan"
"Wah.. kau benar-benar menganggumkan" Luna memuji Rara lagi.
Rara sekali lagi tersipu malu. Pujian itu melambungkan hatinya.
"Maaf nyonya.." Rara melihat kerah baju mami agak terselip, ia berdiri dan membetulkannya.
Mami terkejut dan memperhatikan Rara sekali lagi. Luna tersenyum, Rara memiliki sikap perduli yang sama dengan Rey.
"Tadi siapa namamu?" tanya mami.
"Namaku Rara, nyonya" jawab Rara gugup.
"Ya Tuhan, bahkan gaya bicaranya sama dengan Rey saat bertemu dengan mami" ucap mami sambil tertawa kecil.
Rara menggaruk kepalanya karena bingung, ia belum sepenuhnya mengenal Rey karena baru beberapa hari mereka bertemu.
"Apa saat ini kalian tinggal bertiga disini?"
"Iya mi, Rey mengalah dan tidur di sofa. Rara memiliki riwayat kelainan jantung sejak lahir" ucap Luna disambut anggukan dari Rara.
"Tempat ini tidak cukup untuk kalian bertiga" ucap mami sambil mengedarkan pandangannya ke apartemen Luna.
"Mana mungkin aku membiarkan Rara tinggal sendiri mi. Rey pasti tak akan setuju" ucap Luna.
Mami mulai berpikir, terlintas sebuah ide gila di kepala mami. Luna menatap maminya dan bisa membaca apa yang mami rencanakan.
"Tidak mi, itu sangat tidak masuk akal" ucap Luna tak percaya.
"Itu adalah sebuah ide yang brilian Luna. Semua masalah akan terselesaikan" mami meyakinkan Luna.
Luna tetap menggeleng kuat.
"Tidak mi! Aku menentangnya!" seru Luna.
"Baiklah jika kau tak setuju biar mami menelpon Rey, dia pasti akan setuju dengan usul mami" mami mengambil ponsel dari tasnya.
Luna menghela napas.
"Halo.. Rey.. Mami akan membawa Rara untuk tinggal dirumah mami. Kau pasti setuju kan?"
__ADS_1