
"Tante Lauren? Kau pasti bercanda" ujar Yasmin.
"Ya begitulah.." kata Luna enteng, ia tersenyum kecut.
"Apa kau menyetujuinya begitu saja? Bagaimana jika pria itu tidak baik?"
"Aku tak begitu yakin, namun bila mami memang menginginkannya aku bisa apa. Iya kan?" Luna terkekeh.
"Bercandaanmu sangat tidak lucu Luna, mana mungkin Tante Lauren... Ya Tuhan.." Yasmin teringat sesuatu.
"Apakah Tante Lauren akan menikah dengan Jiraiya?" tanya Yasmin dengan wajah agak terkejut.
Luna mengangkat kedua bahunya, Yasmin memicingkan matanya karena Luna membuatnya menjadi penasaran.
"Ayolah Luna.. Apa aku harus menelpon Tante Lauren sekarang dan bertanya langsung padanya?" ancam Yasmin sambil memegang ponselnya.
"Telpon saja, kau tak akan mendapatkan jawaban apapun. Mami mematikan ponselnya sejak kemarin"
"Kenapa?"
"Dia merasa malu karena aku memergokinya sedang kencan hahaha, dan wajah Rey terlihat santai. Aku curiga selama ini Rey tahu namun ia menyembunyikannya dariku" gumam Luna.
"Hmm.. apakah Tante Lauren sudah lama berhubungan dengan pria itu?" tebak Yasmin.
"Bisa ya dan tidak, entahlah.. Tapi bagaimana kau bisa kau berpikir bahwa itu Jiraiya?" tanya Luna heran.
Yasmin menyeringai.
"Sebenarnya aku beberapa kali melihat Tante Lauren pergi bersamanya, namun bisa saja itu bagian dari pekerjaan Jiraiya. Jadi aku tak pernah berpikir sampai sejauh itu" kata Yasmin mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.
"Apakah pria itu memang Jiraiya?" Yasmin bertanya lagi.
Sekali lagi Luna mengangkat kedua bahunya.
"Aku tak bisa memberitahumu sekarang" kata Luna sambil tertawa puas.
💐 Flashback Kemarin💐
"Yasmin tak bisa mengukurmu dan Armando hari ini, sebelum pulang aku ingin makan sesuatu" ujar Luna setelah pemotretan Avior dan Alioth selesai.
"Baiklah" jawab Rara sambil mengangguk dan mengaitkan tangannya ke lengan Luna.
Luna mengelus lembut rambut adik iparnya. Rey sibuk menggendong Avior, sedangkan Alioth sangat tenang dalam gendongan Armando. Baby sitter mereka membawa semua perlengkapan yang telah digunakan dalam pemotretan.
"Bagaimana jika kita makan di restauran pancake yang terkenal di pusat kota?" usul Luna, semua sepakat.
__ADS_1
Mobil melaju ke tempat makan yang sudah mereka sepakati. Setelah sampai mereka langsung masuk dan memilih tempat duduk. Luna bersama Rey dan si kembar juga baby sitternya, sedangkan Rara dan Armando duduk di dekat jendela luar.
"Apa kau ingin es krim hubby?" tanya Luna saat membaca menu.
Rey mengangguk, memang cuaca agak panas saat itu. Luna juga memesan makanan juga minuman untuk kedua baby sitter putranya.
"Kau ingin satu atau dua es krim?" tanya Armando.
"Untuk apa aku memesan dua es krim? Itu terlalu banyak untukku" ujar Rara dengan wajah heran.
"Jika hanya satu maka kita akan berciuman secara tidak langsung lagi seperti waktu itu" kata Armando sambil mengedipkan sebelah matanya.
Rara tersipu mendengar ucapan Armando. Tiba-tiba mata Rara menangkap sesuatu yang tak asing baginya.
"Bukankah itu mami?" seru Rara sambil terus memperhatikan seorang wanita yang duduk bersama seorang pria diruangan private restauran itu, namun ada kaca berwarna gelap yang membuat Rara bisa melihat mami yang memakai baju berwarna cerah.
Armando menoleh, ia memperhatikan wanita yang Rara maksud.
"Aku tak bisa memastikannya, kaca itu terlalu gelap" ujar Armando sambil kembali menatap kekasihnya.
"Aku ingat mami memakai baju berwarna merah tadi, dan itu persis seperti yang dipakai wanita itu" Rara belum mengalihkan pandangannya.
Rara berdiri dan menghampiri Luna. Ia menunduk dan membisikkan sesuatu pada Luna. Luna paham lalu mengeluarkan ponselnya, ia mencoba menelpon mami. Mata Rara terbelalak saat wanita yang ia maksud keluar dari ruangan private dan mengangkat telepon.
"Mami dimana?" tanya Luna yang belum melihat apa yang Rara sedang perhatikan.
"Mami sedang arisan dengan teman-teman mami, kau sangat menggangu" kata mami sedikit kesal.
"Owh ya, dimana tempatnya? Aku sedang ingin makan bersama yang lain, bukankah mami akan senang jika bisa makan bersama" ucap Luna.
"Eeh.. tidak tidak.. ini sudah akan selesai. Mami akan pulang segera" ucap mami agak gugup.
Rara menyenggol lengan Luna dan memberi arahan dengan kepalanya, Luna menoleh sambil menghela nafas.
"Ya baiklah mi, aku akan makan ditempat lain" kata Luna lalu menutup telponnya.
Mami kembali masuk ke ruangan, Luna dan Rara berjalan ke arah ruangan itu. Mereka terkejut melihat mami sedang berdua dengan seorang pria yang tak lain adalah Jiraiya. Mami tersenyum malu-malu, mereka makan ice cream dari gelas besar yang sama.
"Apa mataku sudah rusak?" ujar Luna dengan wajah terheran-heran.
"Tidak kak, aku juga melihatnya" ucap Rara, keduanya tak memalingkan pandangannya dari kedua sejoli tengah baya yang sedang memadu kasih.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Rara menoleh ke Luna.
Luna terdiam sejenak dan menoleh juga ke Rara. Seketika Luna membuka pintu ruangan itu.
__ADS_1
Brak...
Mami dan Jiraiya tersentak.
"Apakah arisannya sudah selesai mami?" tanya Luna sambil menyeringai, Rara berdiri sambil bersembunyi dibalik tubuh Luna.
"Lu... lu... Luna.." mami sangat gugup
Jirajya segera berdiri dan membungkukkan badannya memberi hormat kepada Luna. Luna melirik usil pada pria tua itu.
"Hem... sepertinya kau harus mulai membiasakan diri untuk tidak membungkukkan badanmu dihadapanku Jiraiya.. eeem atau harus aku sebut kau sebagai ayah?" kata Luna dengan nada sedikit meledek.
Mami berdiri seolah ingin lari, namun Rey ada didepan pintu karena ia merasa penasaran dengan apa yang dilakukan Rara dan Luna.
"Mami?" ucap Rey dengan wajah polos.
Mami melirik kesana dan kemari, wajahnya merah padam.
"Mami arisan disini?" ucap Rey lagi membuat mami semakin malu.
Luna menahan tawanya, Rara masih ketakutan dan bersembunyi dibalik tubuh Luna.
"Aaarghhh.. mau kalian apa?!" seru mami agak marah, ia berusaha menutupi rasa malunya.
Rey menjadi heran, ia menoleh kedalam dan menyapa Jiraiya. Jiraiya membungkukkan badan pada Rey.
"Tak ku sangka kau akan lengah Jiraiya, aku pikir kau cukup pandai menutupi semuanya" sindir Luna sambil tertawa.
"Sudah cukup! Ayo kita pulang" mami berjalan cepat mendahului yang lain dan langsung masuk ke mobilnya.
"Apa yang terjadi? Kenapa tak ada satupun teman mami disini?" tanya Rey masih heran.
Luna hanya tersenyum melihat wajah polos suaminya.
"Yang lain sudah pulang hubby, atau mungkin arisan ditempat lain" Luna terkekeh, Rey makin tidak paham.
Rey menoleh ke Jiraiya, pria tua itu berusaha terlihat tenang.
"Baiklah, temui aku nanti dirumah mami" ucap Luna pada Jiraiya lalu ia mengajak Rara dan Rey kembali ke meja masing-masing.
💐Back On💐
"Jadi kapan Tante Lauren akan ke sini?" tanya Yasmin yang sudah sangat penasaran.
"Kita tunggu sampai rasa malunya hilang"
__ADS_1