
Kali ini Luna yang terdiam, ia menimbang-nimbang untuk memberitahu Rey karena kedua pria itu sudah Rey kenal selama ini.
"Kau ingin mengenalnya untuk apa?" tanya Luna takut-takut.
"Aku harus memastikan adikku dijaga dengan baik dan pria itu harus mencintainya seperti aku mencintaimu" ujar Rey membuat wajah Luna memerah karena malu.
"Apa kau sedang menggodaku hubby?" Luna mengulum senyumnya sambil memukul dada Rey pelan.
Rey menggeleng, wajahnya serius. Luna mulai kelabakan dengan ekspresi Rey.
"Ehem.. aku tak tahu pasti soal itu. Karena seperti yang aku bilang, ini baru sebatas perkiraanku saja" ucap Luna.
Rey menghela nafas lega.
"Bagaimana keadaan Erika?" Luna mengalihkan pembicaraan.
"Masih belum ada perkembangan apapun, ia belum sadar. Aku melihat Jiraiya dan Bobby menjaganya dengan baik, aku bersyukur Erika memilikinya" ujar Rey dengan wajah sedikit sedih.
Wajah Luna juga menjadi sedih, ia dan Erika pernah membayangkan melahirkan bersama-sama.
♥️♥️♥️
Rara sudah selesai check up lalu mami mengajaknya ke sebuah tempat treatment terbaik di kota itu. Seperti yang sudah Luna perintahkan, Armando mengawal mereka. Saat Rara berjalan agak lambat, langkahnya menjadi sejajar dengan Armando yang awalnya berjalan dibelakang.
Tatapan mereka tak sengaja bertemu, Rara langsung menunduk dan menahan senyumnya. Begitupun dengan Armando yang langsung mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Rara, berjalanlah disebelah mami" ujar mami sambil menoleh ke Rara dan melirik sinis pada Armando.
Romansa antara Rara dan Armando sangat terasa oleh mami, namun mami ingin menjodohkan Rara dengan Ben. Diam-diam mami mengajak Ben untuk treatment bersama.
"Tante Lauren apa kabar?" sapa Ben, membuat Rara terkejut bisa bertemu lagi dengan pria yang menolongnya.
Armando membungkukkan badannya saat melihat Ben, Ben membalasnya dengan senyuman.
"Aku baik Ben, bagaimana denganmu?" tanya mami sambil memberikan tangannya pada Ben, Ben mencium tangan mami dengan hangat.
"Rara.." Ben melihat ke arah Rara, Rara tersenyum pada Ben malu-malu.
"Hai tu.. maksudku Ben.." balas Rara pelan.
Mami menyeringai, ia melirik sinis lagi kepada Armando yang seolah tak terganggu dengan keadaan itu.
__ADS_1
"Aku mengucapkan terima kasih karena kau sudah menolong Rara waktu itu, kau memang pria yang bisa diandalkan" puji mami sambil tersenyum.
"Itu hanya sebuah kebetulan saja Tante" ucap Ben sambil memegang kepala bagian belakangnya.
"Rara.. kau ingin mengucapkan sesuatu pada Ben?" ujar mami menarik tangan Rara lembut dan menjajarkannya dengan Ben.
Rara bingung dengan pertanyaan mami, ia hanya melirik sekilas kepada Ben.
"Ya Tuhan kalian terlihat sangat serasi" kata mami memprovokasi, ia melirik lagi ke Armando yang masih dalam posisinya.
Mami agak kesal karena Armando tidak memberikan respon apapun. Lalu mereka masuk bersama.
"Armando kau cukup mengantar kami sampai disini" ucap mami menahan Armando untuk masuk.
"Maaf nyonya, saya harus memeriksa bagian dalam terlebih dahulu. Untuk berjaga semua aman terkendali" kata Armando dengan nada datar, mami menghela nafas kesal.
Mami tak dapat melarang Armando melakukan tugasnya. Saat berjalan melewati Rara dan Ben, Armando melirik sedikit ke arah Rara dan tak disangka sekali lagi pandangan mereka bertemu. Armando salah tingkah dan menabrak seorang therapist wanita.
"Maafkan saya nona" ucap Armando sambil membungkukkan badannya.
Therapist itu tersenyum malu, melihat wajah Armando yang tegas dan sejuk dipandang. Rara melihat kejadian itu dengan wajah agak heran.
"Silahkan masuk tuan, nyonya" ucap therapist itu.
"Ben apa kesibukanmu saat ini?" tanya mami memulai perbincangan.
"Aku masih mengembangkan hotel baruku bersama Luna, aku berharap hotel itu bisa sesukses Black hotel miliknya" kata Ben, ia sangat suka membicarakan Luna.
"Kau pria sukses, muda dan tampan. Sebaiknya kau segera menikah" ujar mami santai.
"Aku juga ingin seperti itu, namun sangat sulit menemukan wanita yang menakjubkan seperti Luna" Ben menjawab dengan nada malu.
"Lupakan wanita menyebalkan itu, kau harus membuka hatimu. Terjebak dengan perasaan seperti itu tak baik untukmu Ben. Apalagi bila ada yang lebih baik. Iya kan Rara?" mami menoleh ke Rara, namun Rara terbuai dengan pijatan dan tertidur jadi dia tak mendengar apa yang mereka katakan.
Mami heran, tak ada jawaban apapun dari Rara.
"Rara?" panggil mami dengan suara agak keras.
Rara tak bergeming, mami meminta therapist membuka kain yang menyekat antara dirinya dan Rara. Saat melihat Rara tertidur pulas, mami hanya bisa menghela nafas dan tersenyum.
"Apakah Rara baik-baik saja Tante?" Ben juga menunggu jawaban Rara.
__ADS_1
"Dia sangat baik dan tertidur seperti bayi" jawab mami sambil terkekeh.
Ben mengintip sedikit, terlihat Rara sedang terpejam sambil tersenyum senang. Ben merasakan kehangatan diwajah Rara.
"Jangan mengintip, nanti matamu bisa sakit" ujar mami dengan nada meledek.
Ben yang tertangkap basah memalingkan wajahnya dan tersenyum malu. Mami merasa sudah ada getaran yang terjadi, tak kalah dengan romansa Rara bersama Armando.
Tak lama pijatan sudah selesai, mami mengajak Rara untuk berendam agar otot-otot mereka menjadi lemas dan tentu saja terpisah dengan Ben.
"Apa kau menikmatinya Rara?" tanya mami.
Rara mengangguk dengan antusias.
"Kau suka?" tanya mami lagi.
"Ya tentu saja" ucap Rara sambil tersenyum.
"Mami juga suka, Ben adalah pria yang baik" kata mami membuat Rara tak mengerti.
"Ben?"
"Iya Ben, kau suka padanya kan?" kata mami lagi, Rara terperangah.
Rara memasang wajah bingung namun mami santai saja karena memang mami berencana mendekatkan Rara dan Ben. Ia tak mau kalah dengan Luna.
"Kalau kau suka padanya itu adalah hal yang sangat wajar. Hanya Luna yang tak suka pada Ben" ucap mami santai.
"Mi.. sepertinya Ben masih menyukai kak Luna dan aku tak pantas untuknya" kata Rara pelan.
"Apa yang kau katakan? Kau adalah sangat pantas untuknya, akan sangat menyebalkan bila Ben menikah dengan wanita dari keturunan tak jelas" tukas mami dengan yakin.
Namun kata-kata mami membuat Rara sedih. Ayahnya seorang perampok dan ibunya seorang penjudi, tak ada yang bisa ia banggakan dari kedua orang tuanya. Bisa dibilang Rara pun dari keturunan orang-orang yang tak jelas kehidupannya.
"Kau kenapa?" tanya mami tanpa merasa bersalah saat melihat wajah Rara yang bersedih.
Rara menoleh ke mami dan menggeleng sambil memaksakan senyumnya. Mami tiba-tiba mengerti apa yang membuat Rara menjadi muram.
"Maafkan mami sayang, mami sudah merasa kau adalah anak mami" ujar mami sambil memeluk Rara.
"Tidak apa-apa mi, aku yakin mami juga tak bermaksud seperti yang aku pikirkan" kata Rara sambil menahan tangisnya.
__ADS_1
"Mulai sekarang lupakan ibu dan ayahmu, dan hanya mami orang tuamu!"