
"Sebenarnya aku dan kekasihku bekerja ditempat yang sama, kami bertemu setiap hari namun ia sangat tidak romantis dan saat bekerja ia akan menjadi pria yang sangat serius" cerita Anne, Rara mengernyitkan dahinya.
"Bagaimana bisa kau jatuh cinta dengan pria seperti itu?" tanya Rara heran.
"Entahlah, perasaan itu datang begitu saja padaku" kata Anne sambil tersenyum.
Rara memperhatikan wajah Anne yang penuh cinta saat mengingat kekasihnya.
"Aku sangat suka melihat wajah penuh cintamu, kau sangat terus terang" ucap Rara sedikit iri.
"Kau juga harus terus berjuang, aku lihat Armando adalah pria yang sangat peka dengan perasaanmu. Kau sangat beruntung" ujar Anne.
Mereka tertawa bersama lalu berjalan kembali menuju meja makan. Armando melewati mereka, ia juga hendak makan siang.
"Armando.." panggil Anne usil.
Armando menoleh.
"Ada apa nona?" tanyanya sopan.
"Apa kau akan makan siang?" tanya Anne.
Armando mengangguk.
"Makanlah bersama kami disini, Rara pasti senang bisa makan siang bersamamu" ujar Anne sambil melirik Rara yang terlihat mencuri pandang pada Armando.
Armando juga melirik pada Rara.
"Aiihh.. kalian benar-benar membuatku iri. Bahkan aura cinta kalian menyebar keseluruh ruangan" ledek Anne, Rara menunduk.
"Maaf nona, saya sebaiknya makan dibelakang saja. Permisi" Armando membungkukkan badannya, ia berjalan ke arah dapur namun ia tetap sempat melihat ke arah kekasih hatinya.
Rara mengulum senyumnya karena senang, Anne tertawa kecil dan menghela nafas panjang.
"Benar-benar kisah cinta anak muda" ucap Anne seperti nenek-nenek.
"Bukankah kau seumuran denganku?" Rara menjadi heran, Anne mengangguk.
"Aku memang seumuran denganmu, namun kekasihku berusia lebih dari 30 tahun" Anne terkekeh, Rara terlihat terkejut.
"Benarkah?"
Anne mengangguk lagi, ia menyuap makanannya dengan santai.
♥️♥️♥️
Menjelang sore, Ben datang. Anne sudah pulang beberapa menit yang lalu. Ben datang bersama seorang wanita, Armando mempersilahkan Ben dan wanita itu masuk.
Tok tok tok..
__ADS_1
Armando mengetuk pintu kamar Luna, Luna sedang beristirahat disana. Luna membuka pintu.
"Tuan Ben datang bersama dokter Bianca nona" ucap Armando, membuat Luna heran.
Luna keluar dari kamarnya, ia memang sudah mempersiapkan diri untuk kedatangan Ben.
"Ben? Bianca?" Luna makin heran.
Ben dan Bianca saling tukar pandang dan tersenyum. Luna duduk di sofa tunggal sambil memperhatikan mereka berdua, Bianca mengaitkan tangannya di lengan Ben.
"Kalian?"
"Kami akan menikah Luna" ucap Ben membuyarkan rasa penasaran Luna.
"Menikah?" Luna tak percaya.
"Iya Luna, kami akan menikah" Bianca membenarkan ucapan Ben.
"Ceritakan padaku bagaimana bisa kalian akan menikah?"
Bianca tersenyum malu, Ben yang akan menceritakannya.
"Aku melihatnya saat kau melahirkan, dia tidak menghiraukan ku saat itu. Namun aku mencari tahu tentangnya, dia adalah dokter muda cantik yang masih single. Jadi aku terus mengejarnya selama satu bulan ini dan sekarang kami akan menikah" ucap Ben bangga.
"Secepat itu?" Luna mengedipkan matanya, ia masih tak habis pikir dengan keputusan keduanya.
"Setidaknya kami melewati proses, tidak dalam satu malam dan memutuskan menikah" ledek Ben, Luna melotot padanya.
"Wah wah wah.. kalian sangat kompak menyudutkan ku" Luna berdecak kesal.
Bianca dan Ben tertawa bersamaan, wajah mereka sekilas mirip. Mungkin itu yang dinamakan jodoh.
"Bila kau berjodoh dengannya, sudah sejak dulu aku mengenalkan kaliaan berdua" ucap Luna sambil tertawa kecil.
"Kau yang menjebak ku untuk terus mengagumimu" tutur Ben, membuat Bianca mencubit perutnya.
"Jangan cemburu Bianca, aku sama sekali tak pernah menanggapi pria kaya ini. Dia bukan tipeku" Luna membalas ledekan Ben.
"Tipe mu seperti Samuel? Pria tampan dan terkenal?" ujar Bianca.
Luna memutar matanya karena sebal.
"Tentu saja tidak, pria tipeku adalah yang baik dan sangat mencintaiku seperti suamiku saat ini" kata Luna bangga.
Rara menuruni anak tangga, ia melihat Ben dengan tatapan senang. Ben adalah pahlawan untuk Rara.
"Ben.." sapa Rara, ia juga tersenyum pada Bianca.
"Bukankah wanita ini..." Rara terlihat berpikir.
__ADS_1
"Dia dokter kandunganku Rara, kau pasti pernah bertemu dengannya di rumah sakit" tutur Luna.
Rara mengingat-ingat.
"Oia benar, dokter Bianca. Yang membantu persalinan Kak Luna saat melahirkan Avior dan Alioth" ucap Rara.
"Dia adalah calon istriku, Rara" ucap Ben.
Rara tersenyum senang mendengarkannya, itu berarti mami tak bisa memaksanya untuk dekat dengan Ben lagi.
"Waah.. selamat.. kapan kalian akan menikah?" tanya Rara antusias.
Ben menggaruk kepalanya, ia seperti terlihat bingung.
"Mungkin kami akan menikah tahun depan, tahun ini aku dan Bianca masih sangat sibuk" ujar Ben, disambut anggukan oleh Bianca.
"Kami akan bertunangan bulan depan, untuk saling mengikat. Terutama mengikatnya agar tak pergi kemana-kemana" ujar Bianca sambil melirik Ben.
"Lalu, apa tujuan kalian kesini?" tanya Luna heran.
"Emm.. sebenarnya aku hanya ingin memberitahumu tentang hubunganku dengan Bianca. Aku tak mau kau memarahiku karena tahu dari orang lain" ucap Ben sambil terkekeh.
"Aku sudah tahu kau bersama seorang wanita direstauran ku kemarin" ujar Luna sambil melirik usil pada Ben dan Bianca.
"Aah.. pasti Anne yang mengatakannya. Dia memperhatikan kami terus menerus dengan penuh curiga" kata Ben mengingat kejadian kemarin.
Luna tertawa, Rara hanya tersenyum dengan tebakan Ben yang tepat sasaran.
"Kalian benar-benar menggosipkan ku?" tanya Ben.
Luna menggeleng, namun Rara mengangguk. Luna memberikan kode pada Rara untuk menggeleng.
"Aku tak percaya padamu Luna" Ben terkekeh lagi, Rara adalah gadis yang polos dan lebih bisa dipercaya.
"Kami tidak berniat seperti itu Ben, hanya saja tadi siang Anne datang dan memberikan informasi itu padaku" kata Luna setengah tertawa.
"Bukankah Anne itu adik Samuel?" tanya Bianca yang cukup mengenal aktor terkenal itu.
Luna mengangguk lagi.
"Aku cukup dekat dengannya, dan kau pasti tahu istri Samuel saat ini adalah sahabatku, Yasmin" tukas Luna.
"Kau sangat hebat Luna, kau bisa akrab dengan keluarga sekaligus istri dari mantan kekasihmu" puji Bianca.
"Jangan ingatkan aku tentang mantan kekasih atau apapun namanya itu. Aku hanya memiliki suami dan itu adalah Rey" Luna menjadi sewot.
Ben dan Bianca tertawa, hanya Rara yang terdiam. Ia baru tahu Samuel adalah mantan kekasih Luna.
Setelah beberapa saat Ben dan Bianca pulang, Rara mengantarkan mereka keluar. Luna harus menyusui si kembar. Armando memperhatikan Rara yang sedang menatap mobil Ben yang keluar dari pagar besar rumah mami.
__ADS_1
Rara melambaikan tangannya dengan malu-malu kearah Armando. Armando membalasnya dengan senyuman manisnya. Rara melakukan kiss bye pada Armando, Armando menangkapnya dan menaruh didadanya.