
"Apa maksud kata-kata mu?"
Bobby mengambil sesuatu dari belakang telinga Erika.
"Bisakah kau menjelaskan ini apa?" Bobby menunjukan sebuah penyadap.
"I...itu..."
Erika terlihat gugup, ia mengalihkan pandangannya dari Bobby. Bobby terlihat menyeringai sambil memukul tembok kamar Erika dengan kesal.
"Kau tahu aku tidak akan memaafkan siapapun yang berusaha menyakiti bosku, dan Rey adalah bosku" Bobby berusaha melihat Erika namun Erika merasa sangat malu karna sudah ketahuan oleh Bobby.
"Biarkan aku menjelaskannya.." ucap Erika lirih.
"Kau tak perlu menjelaskan apapun kepadaku. Aku ambil benda ini juga sepatuku, dan sekarang aku harus pergi" Bobby beranjak dari tempat tidur Erika, Erika menahan tangisnya melihat Bobby yang akan keluar dari kamarnya.
"Satu hal lagi, aku tak bisa berhubungan dengan seorang pengkhianat" ucap Bobby sambil tersenyum pahit menoleh ke arah Erika dan pergi.
Erika ingin sekali mengejar Bobby dan mengatakan kata maaf tetapi senyuman Bobby terasa sangat menyakitkan untuknya.
♥️♥️♥️
Pagi hari, Bobby menjemput Rey. Tidak seperti biasanya Bobby menekan bel apartemen Luna.
Ting tong...
Rey membuka pintunya.
"Masuklah.." ajak Rey, ia dan Luna sudah menunggu Bobby diruang tamu.
"Apa yang kau temukan Bobby?" tanya Luna saat Bobby sudah masuk dan berdiri di hadapannya.
Bobby meletakan penyadap yang ia dapatkan dari belakang telinga Erika dan menjelaskan apa yang terjadi.
"Kerja bagus, kau memang selalu bisa aku andalkan. Aku akan memecat Erika!" ujar Luna geram.
"Tunggu, jangan terburu-buru mengambil keputusan sweety. Kita harus mencari tahu apa alasan Erika melakukan hal ini" cegah Rey yang masih tak percaya bahwa Erika adalah mata-mata mami.
"Kita tidak membutuhkan alasan apapun, Erika sudah mengkhianati kepercayaan ku hubby" Luna melotot ke arah Rey.
"Biarkan aku berbicara dengannya, aku mohon. Jangan langsung menilainya buruk karena masalah ini" bujuk Rey, dalam hatinya sangat yakin bahwa Erika adalah gadis yang baik.
Bobby dia saja, ia menahan dirinya untuk tidak berbicara. Dalam hal ini Bobby juga harus mengorbankan perasaannya kepada Erika namun Bobby sangat menjunjung tinggi profesionalitas dirinya sebagai pengawal Luna.
"Kau setuju denganku kan Bobby?" tanya Rey.
"Menurutku seorang pengkhianat tidak perlu diberikan kesempatan" jawab Bobby cepat, Rey terperangah mendengar jawaban Bobby yang terdengar sangat yakin.
__ADS_1
"Kau lihat itu? Bobby setuju denganku!" kata Luna sambil menoleh ke arah Rey.
"Berikan aku satu kesempatan untuk berbicara dengan Erika, ku mohon" Rey memandang melas kepada Luna, Luna kesal melihatnya.
"Ya oke baiklah, tapi kau tidak boleh berbohong mengenai apa yang menjadi alasannya kepadaku!"
"Aku janji"
Rey memegang tangan Luna untuk meyakinkannya, Luna tersenyum lalu mengangguk menandakan kepercayaannya kepada Rey.
"Bobby harus menemanimu!"
"Tentu saja, pasti Bobby juga ingin tahu alasan Erika. Iya kan Bobby?"
Bobby menggeleng dengan tegas.
"Tidak, aku tidak membutuhkan alasan apapun darinya"
Rey kembali terperangah dengan jawaban Bobby.
"Dia kekasihmu, jangan terlalu mudah menghakiminya Bobby" Rey ingin menyadarkan Bobby.
"Aku sudah memutuskan hubunganku dengannya saat membongkar semua yang dia lakukan" jawab Bobby yakin.
"Apa!!?" Rey terkejut bukan main.
Rey hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ke arah Bobby, pandangan Bobby lurus ke depan. Ia tak mau mendapatkan provokasi dari manapun.
"Sebaiknya aku berangkat ke restauran sekarang" ucap Rey lalu masuk ke dalam kamar Luna untuk mengambil tas.
"Apakah kau benar-benar yakin dengan keputusanmu Bobby?" tanya Luna dengan suara pelan.
"Saya yakin nona" Bobby menjawab tegas tanpa ada rasa gugup sama sekali.
"Aku berharap kau bisa membuat keputusan yang baik untuk aku, Rey dan dirimu sendiri. Jangan memaksakan diri" Luna berdiri lalu menepuk bahu Bobby untuk memberinya kekuatan.
Luna mengikuti Rey masuk ke dalam kamar.
"Hubby, aku ingin meminta sesuatu kepadamu" kata Luna sambil memeluk Rey dari belakang.
"Apa itu?"
"Buatlah hubungan Bobby dan Erika kembali baik. Aku bisa melihat Bobby sangat sedih, tapi dia tidak ingin mengkhianati ku" Rey menoleh ke arah Luna, tak biasanya Luna memperhatikan pegawainya.
"Kau serius?" Rey membalikkan badannya dan menyelipkan rambut Luna kebelakang telinganya.
"Ya aku serius, terkadang melihatmu begitu baik aku merasa sangat tertampar. Aku tak pernah memperhatikan pegawaiku selama ini, tapi kau? Kau memikirkan apapun tentang orang lain" Rey mencium kening Luna, Luna memejamkan matanya karena kecupan Rey terasa sangat hangat untuknya.
__ADS_1
"Terima kasih karena sudah menjadikanku suamimu" Rey memeluk Luna dengan erat.
"Aku bersyukur kau adalah suamiku" Luna menenggelamkan dirinya dalam pelukan Rey.
"Aku akan menemui Erika, semoga saja dia masih datang ke restauran pagi ini" Rey melepaskan pelukannya.
"Pasti dia datang, tak mungkin dia membolos bekerja"
Rey mengangguk, ia mengecup sekali lagi kening Luna. Rey keluar dari kamar, Bobby masih menunggu mereka. Ia terlihat agak termenung.
"Ayo kita berangkat" ajak Rey sambil merangkul Bobby.
Bobby mengangguk lalu mengikuti Rey. Sepanjang perjalanan menuju restauran Bobby diam saja, itu menunjukan kegelisahan hatinya.
"Ini minumlah.." Rey memberikan secangkir teh manis untuk Bobby saat sampai di restauran.
"Terima kasih Rey?" Bobby tersenyum kecut sambil menepuk lengan Rey.
Tak lama Erika datang, wajahnya terlihat sangat kusut dan matanya memerah.
"Pagi Erika"
"Ya pagi" jawab Erika pelan, ia melirik ke arah Bobby tapi Bobby tidak menoleh sama sekali.
Bobby memilih berjalan ke restauran untuk menyapu. Rey mengikuti langkah Erika.
"Apa kau baik-baik saja?"
Erika hanya mengangguk sambil menahan tangis.
"Ayo kita bicara" Rey menarik lengan Erika, mereka berbicara berdua di ruang penyimpanan makanan.
Erika menunduk, ia merasa sangat malu kepada Rey.
"Bisakah kau menjelaskan padaku apa yang menjadi masalah mu?" tanya Rey perlahan-lahan, ia tahu Erika masih terguncang.
"Maafkan aku, maafkan aku. Aku tak punya pilihan..." Erika berkata lirih, air matanya mulai mengalir.
"Ceritakan padaku, aku akan mempercayai apapun yang kau katakan asalkan kau tidak mencoba untuk berbohong" Rey menatap mata Erika dalam.
Erika melihat ketulusan hati Rey, memang Rey adalah orang yang baik. Jika tidak, pasti Erika sudah dimaki saat bertemu tadi.
"Nyonya besar berjanji akan membantuku..." Erika menggantung kata-katanya, ia masih tampak ragu.
"Membantumu untuk apa?" Rey bertanya dengan nada heran.
"Kau tahu aku tidak memiliki siapapun saat ini, ibuku sudah meninggal dan aku ke kota untuk mencari ayahku. Nyonya besar yang mengetahui asal usul ku menelponku dan mengatakan akan membantuku mencari ayah. Tapi ia mau aku memberitahu semua hal tentangmu dan mengintaimu setiap saat"
__ADS_1