
"Kabur? Bagaimana bisa?" Rey gusar mendengar kabar dari Bobby.
"Dia bekerja sama dengan teman-temannya untuk mengelabui polisi, ia menukar diri dengan temannya yang lain saat izin ke kamar mandi ketika di jenguk. Saat ini aku meminta penjagaan untuk nyonya besar dan Rara. Apa mereka sudah sampai di rumah?" Bobby sedikit khawatir.
"Entahlah, aku harus menghubungi Rara"
Rey menekan sebuah nomor dan menelpon adiknya.
"Iya kak" Rara menjawab diujung telpon.
"Apa kau sudah sampai dirumah mami?" nada suara Rey bergetar.
"Belum, aku dan mami sedang berada di pusat perbelanjaan. Mami ingin membelikan aku beberapa alat berkebun" ujar Rara dengan riang.
Rey bertambah gusar, pusat perbelanjaan bukanlah tempat yang aman.
"Berikan ponsel ini pada mami"
Rara mengikuti instruksi dari Rey dan memberikan ponselnya pada mami.
"Kenapa Rey? Kau tak perlu khawatir, mami akan menjaga Rara dengan baik" mami langsung mengoceh.
"Mami, segeralah pulang. Aku mohon" ujar Rey.
"Apa kau mulai berani mengatur mami?!" mami sewot.
Rey menceritakan apa yang terjadi, mata mami membulat. Mami menoleh ke kanan dan ke kiri lalu menelpon pengawalnya untuk menghampiri mereka disebuah toko.
"Rara, kau jangan kemana-mana. Kita harus tetap disini" Mami menjadi khawatir, ia belum melihat tanda-tanda ada pengawal yang menjaga mereka.
Mami memang bersikap santai akhir-akhir ini karena tak ada hal yang perlu dikhawatirkan dan membiarkan pengawal tidak mengikutinya. Namun saat ini keadaannya lain dan membuat mami merasa takut.
"Mi.. Ada apa?" Rara menjadi ikut khawatir.
"Jangan jauh-jauh dari mami" mami menggenggam erat jemari Rara.
Mami menjadi curiga pada semua orang, ia melihat semua dengan tatapan tak menyenangkan. Tak lama terlihat beberapa orang pengawal setengah berlari menghampiri mami, mami bernafas lega. Rara melepaskan tangan mami.
"Pengawal mami sudah datang, kita harus segera keluar" mami menoleh ke arah Rara.
Mami terkejut Rara tak ada disampingnya. Mata mami mencari ke segala arah, namun ia tak dapat menemukan Rara.
"Ra.. Rara... RARAAAA....." mami berteriak, pengawal sudah sampai ditempat mami berdiri.
"Nyonya.." ujar mereka sambil membungkukkan badan.
"Kalian melihat Rara?" mami terperangah, tidak sampai 1 detik Rara sudah menghilang entah kemana.
__ADS_1
Pengawal mami keluar dari toko melihat ke segala arah dan sebagian mengitari pusat pertokoan. Mami terduduk dengan lemas.
"Rara... kamu dimana?" ratap mami menyesal, seharusnya ia tak melepaskan genggamannya.
♥️♥️♥️
Rara pingsan dibawa oleh dua orang tak dikenal, ia dibawa kesebuah mobil. Saat siuman Rara melihat ada dua yang duduk disamping kanan dan kirinya.
"Kau sudah bangun?" suara yang tak asing ditelinga Rara.
"Ayah.." mata Rara membulat melihat ayahnya duduk disebelah kursi pengemudi.
"Kau masih mengenal ayah dengan baik" Ayahnya menyeringai.
"Kenapa ayah membawaku?" tanya Rara penasaran.
"Istri kakakmu itu adalah wanita terkaya dikota ini, ayah membutuhkan uangnya untuk membayar semua hutang-hutang ayah dan teman-teman ayah ini" ayahnya tertawa meledek.
"Apa?!" Rara tak percaya.
"Ayah menculikku dan akan meminta tebusan kepada Kak Rey dan kak Luna? Ayah... apa yang ayah lakukan itu jahat!" tukas Rara.
Ayahnya tertawa terbahak-bahak.
"Hidup itu keras Rara, kau adalah umpan yang sempurna untuk mendapatkan uang yang banyak dari wanita muda itu" ujar Ayahnya dengan bangga.
"Aku tak percaya ayah bisa melakukan itu padaku dan kak Rey" Rara menangis.
"Apa yang kau lakukan Rara? Itu sangat tidak sopan!" bentak ayahnya.
"Perutku sakit ayah, tadi mami Kak Luna memberikan makanan yang tak biasa aku makan" ujar Rara ragu, ia takut menjalankan rencananya sendiri.
"Kita berhenti di tempat pengisian bahan bakar, aku tak mau anakmu buang air besar disini" ujar pengemudi yang merasa muak dengan aroma gas yang Rara keluarkan.
Mereka menghentikan mobil disebuah pom bensin, Rara segera berlari masuk ke kamar mandi khusus perempuan. Ada beberapa wanita yang berada disana.
"Aku harus bisa kabur.." ujar Rara, ia mulai berpikir.
Ada sebuah jendela kecil di atas toilet itu, Rara meminta tolong kepada dua orang wanita muda yang ada disana untuk membantunya naik, kedua wanita itu tampak ragu. Namun setelah Rara menjelaskan wanita itu mau menolongnya.
Hap...
Rara berhasil turun dari dari kendala secara perlahan, ia mengendap-endap melihat ke depan toilet. Ayahnya berjaga dengan seorang pria lainnya sambil merokok. Rara melihat sekitar. Dua wanita yang menolong Rara membantunya lagi mengalihkan perhatian ayah dan temannya.
Sebuah mobil berhenti didekat toilet, Rara langsung masuk ke bagian belakang mobil itu dan bersembunyi. Pemilik mobil terburu-buru masuk ke dalam toilet.
"Anakmu lama sekali" keluh teman ayah Rara.
__ADS_1
"Mana aku tahu" ayah santai saja sambil menghisap rokoknya.
"Apa kau yakin dia tak akan kabur?" teman ayahnya mulai curiga.
"Kabur? Hahaha anakku itu lemah, ia tak memiliki keberanian untuk itu" ayah meremehkan Rara.
Mobil yang ditumpangi Rara sudah berjalan menuju pusat kota dan berhenti di sebuah hotel. Sang pengemudi hendak mengambil barangnya dikursi belakang.
"Aaaaaa.... siapa kau?" teriak pengemudi itu.
Rara yang sedang sembunyi juga terkejut karena ia tersentuh oleh pengemudi itu.
"Maaf maafkan aku tuan" Rara mengatupkan tangannya.
Pria pengemudi memperhatikan Rara dengan seksama.
"Apa kau mau mencuri dimobilku?" bentaknya.
"Ti.. tidak tuaan. Saya bukan pencuri" Rara terlihat takut dengan suara bentakan pria itu.
Air mata Rara menetes dengan sendirinya.
"Kau tak bisa mengelabuiku dengan air matamu itu!"
"A.. aku... "
Rara pingsan, ia terlalu lelah berpikir dan bergerak hari itu. Ia pingsan sambil memegang dadanya.
"Heii.. jangan berpura-pura" teriak pria itu.
Rara tak bergerak, pria itu terkejut.
"Apa yang harus aku lakukan dengan gadis ini" pekiknya bingung.
Pria itu menggendong Rara dan membawanya masuk ke hotel. Para pegawai hotel bingung, pemilik hotel menggendong seorang wanita muda masuk ke hotelnya.
"Tolong telpon dokter dan bawa ke kamarku" ujarnya.
Resepsionis hotel mengangguk paham. Tak lama dokter datang dan memeriksa Rara.
"Hem.. temanmu itu memiliki kelainan jantung, sepertinya dia kelelahan. Aku akan memberikannya obat dan vitamin, beri ia makan lalu berikan dia obat ini" ujar dokter.
"Ya baiklah" pria itu pasrah, karena gadis yang mengendap dimobilnya ternyata sakit sungguhan.
"Dia harus diperiksa secara berkala, kondisinya bisa menurun terus jika dibiarkan begitu saja" dokter itu menyarankan.
"Ya aku akan melakukannya nanti, namun aku harus bertanya dulu padanya"
__ADS_1
Dokter itu tertawa lalu memicingkan matanya.
"Apa gadis itu kekasihmu, Ben?"