
Mami menundukkan kepalanya karena terkesima.
"Nyonya bisa menghubungi saya jika memang ingin menjenguk tuan Sam. Saya bersedia mengantarkan nyonya kemana pun nyonya pergi" ujar Jiraiya sambil menggenggam jemari mami lembut.
Mami mengulum senyumnya dengan malu-malu bak anak remaja yang baru jatuh cinta.
"Kau sangat perhatian" kata mami pelan sambil menyenggol bahu Jiraiya dengan bahunya.
Jiraiya tersenyum, mami mengalihkan pandangannya ke tempat lain sambil menahan perasaan senangnya.
Ting....
Lift berhenti dilantai 5, tempat Samuel dirawat. Mami segera menuju ruang perawatan Samuel dan bertemu Gio di depan ruangan tersebut.
"Nyonya Lauren?" ujar Gio terkejut.
"Bagaimana nyonya bisa masuk?" tanya Gio heran.
"Kau lupa siapa aku?" jawab mami santai dengan wajah angkuh sambil berjalan memasuki ruangan.
Gio masih berpikir, Jiraiya hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan kepada Gio lalu ikut masuk mengikuti langkah mami.
"Samuel...."
Mami langsung memeluk Samuel yang sedang duduk dengan kaki terangkat. Jiraiya berdiri tepat dibelakang mami.
"Bagaimana mami bisa masuk?" tanya Samuel heran, ia membalas pelukan mami.
Mami melirik ke arah Jiraiya membuat Samuel paham.
"Terima kasih pria tua" ucap Samuel asal, membuat mami agak kesal tetapi rasa senangnya bisa bertemu Samuel lebih besar.
Jiraiya membungkukkan badannya kepada Samuel, mami duduk disebelah tempat tidur Samuel. Yasmin sedang kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang Samuel karena ia yang tak mau ada barang yang terlupakan untuk dibawa jika meminta orang lain yang membawakannya.
"Bagaimana keadaanmu Sam?" tanya mami dengan nada khawatir.
"Aku baik-baik saja mi, hanya saja aku tidak bisa berjalan dalam waktu yang lama" kata Samuel dengan manja membuat mami mengelus kepalanya.
"Apa Yasmin merawatmu dengan baik?" tanya mami lagi.
"Sangat baik mi, semua yang aku inginkan diberikan olehnya" kata Samuel.
Tulalit..
Ponsel mami berbunyi namun wajah mami menunjukan rasa tidak senang, ia mereject telpon tersebut.
"Siapa itu mi?"
"Siapa lagi yang dengan seenaknya menelponku kalau bukan Luna.." seloroh mami.
__ADS_1
"Kenapa tidak diangkat? Siapa tau Luna ingin tahu keadaanku" ujar Samuel bangga.
"Simpan besar hatimu itu Sam, mami sangat tahu apa tujuannya menelpon mami"
Samuel menghela nafasnya dengan wajah kecewa. Namun mami menghiburnya.
"Kalau sekarang apa yang kau inginkan? Mami akan memberikannya untukmu"
"Aku ingin ada video game disini, aku sangat bosan bermain dengan ponsel. Aku mau ada layar besar disana" pinta Samuel dengan wajah kembali sumringah.
Mami mengangguk-angguk.
"Baiklah.."
Mami mengambil ponselnya dan menelpon Armando. Armando yang sudah kembali ke dalam mobil bersama Rara dan baru akan melajukan mobil langsung menjawab panggilan mami.
Tulalit..
Rara penasaran dengan siapa yang menelpon Armando, matanya menyiratkan sebuah pertanyaan. Armando memperlihatkan nama yang tertera pada Rara dan mengangkatnya. Rara tersenyum puas karena tak ada yang perlu dicurigainya.
"Baik nyonya akan segera saya laksanakan" jawab Armando.
Tak lama Armando menutup telpon dari mami dan melajukan mobilnya.
"Apa yang harus kau laksanakan?" tanya Rara.
"Nyonya memintaku membeli sebuah televisi besar dan video game terbaru untuk tuan Samuel" jawab Armando dengan mata yang fokus pada jalanan.
"Kau ingin ikut denganku membeli barang yang nyonya inginkan?"
"Bolehkah?" mata Rara berbinar-binar.
Armando mengangguk, dibubuhi senyuman yang membuat wajah Rara memerah. Setelah sampai di sebuah gerai elektronik terbesar di kota, Rara dan Armando turun dari mobil lalu langsung memasuki tempat itu.
"Wah.. tempat ini besar sekali" ujar Rara terkesima.
Armando tersenyum melihat kepolosan Rara, ia meraih jemari kekasihnya dan jalan bersama menuju tempat pemesanan barang. Seorang sales mengantar Armando dan Rata untuk melihat televisi dan video game yang mereka inginkan, sesekali Rara melakukan panggilan video dengan mami untuk menunjukkan pada Samuel yang ia inginkan.
"Baik, kami akan segera kirimkan barangnya. Terima kasih atas kepercayaannya" ucap sales tersebut.
Armando dan Rara hanya membalas dengan senyuman.
"Sekarang sudah waktunya kita pulang" kata Armando, ia mengulurkan tangannya.
Dengan malu-malu Rara menyambut uluran tangan kekasihnya tersebut. Setelah itu mereka masuk kedalam mobil.
"Sebentar.." ucap Rara.
Ia mengambil ponselnya dan menelpon.
__ADS_1
"Rara... kau ada dimana? Apa mami memanfaatkanmu?" Luna diujung telpon langsung memberikan banyak pertanyaan pada Rara.
"Tenang kak, aku baik-baik saja. Mami juga sedang menjenguk Kak Samuel sekarang"
"Sudah ku duga mami akan melakukan berbagai macam cara untuk menjenguk Samuel" Luna bersungut-sungut.
"Hemm.."
"Lalu kenapa kau menelpon? Disana tidak terjadi hal yang buruk kan?"
"Tidak kak, disini baik-baik saja. Em.. aku ingin meminta izin padamu, apakah aku boleh berkencan dengan Armando malam ini?" tanya Rara takut-takut membuat Armando terkejut dengan permintaan Rara.
Rara menggigit bibirnya perlahan menunggu jawaban dari Luna.
"Tentu saja boleh, Rey ada dirumah saat ini. Aku merasa cukup aman dengan keberadaannya. Jangan pulang terlalu larut atau Rey akan marah padaku nanti"
"Terima kasih banyak Kak..."
"Okkk, hati-hati yaa"
Rara menutup telpon dengan hati senang, ia menoleh ke arah Armando yang masih tak percaya dengan apa yang Rara pinta kepada Luna.
"Apa kau benar-benar ingin berkencan saat ini?"
❤️❤️❤️
"Terima kasih miiii" ucap Samuel senang.
"Mami hanya ingin kau tidak merasa kesepian" ucap mami.
Biasanya Samuel mendapatkan semua yang ia inginkan dari sponsor ataupun fans, namun kali ini ia ingin bermanja dengan mami Luna. Entah apa yang ia pikirkan.
"Aku ingin segera memainkannya. Jiraiya nyalakan layarnya dan berikan stik video game itu padaku" perintah Samuel.
Jiraiya mengikuti perintah Samuel, mami agak terkejut dengan perintah Samuel tersebut.
"Remotenya berikan padaku, aku tidak bisa menjangkaunya jika kau menaruhnya terlalu jauh" perintah Samuel lagi.
Jiraiya tersenyum dan menuruti perintah Samuel lagi.
"layar itu terlalu mendongak ke atas, turunkan sedikit untukku agar aku bisa melihat gambar dalam layar itu dengan jelas" lagi-lagi Samuel memberikan perintah pada Jiraiya.
Sangat menyebalkan, karena saat layar itu dipasang Samuel tidak meminta perubahan pada petugas yang memasangnya. Samuel hanya ingin menunjukan bahwa ia bisa memerintah siapa saja sesukanya asal.mami berada dipihaknya.
"Baik tuan" Jiraiya masih mengikuti perintah Samuel.
"Turunkan sedikit lagi... eeehhh.. itu terlalu turun, naikkan sedikit.." ujar Samuel seperti sedang menguji kesabaran Jiraiya.
Mami yang sedari tadi diam saja melihat tingkah Samuel menjadi geram, akhirnya mami berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Jiraiya yang sedang menundukkan layar untuk Samuel.
__ADS_1
"Bisakah kau berhenti memberi perintah kepada calon suami ku, Sam!!!!"