
Restauran sudah sepi, hanya James dan Anne yang tertinggal disana. Anne mengganti pakaiannya, James menunggu Anne diruangannya.
"Kau sudah siap untuk pulang?" tanya Anne sambil berjalan memasuki ruangan James.
"Ya.." jawab James singkat.
Anne melihat sebuah tempat cincin dimeja James. Ia mengulum senyumnya, ia berpikir James akan memberikannya kejutan istimewa.
"Ayo kita pulang" ujar James sambil memakai jaketnya.
James berjalan mendahului Anne, Anne bingung kenapa James meninggalkan tempat cincin begitu saja di mejanya.
"Emm.. James.." panggil Anne pelan.
James membalikkan badannya.
"Apa?" jawab James, ia kembali pada sikapnya yang dingin.
"Itu.." Anne menunjuk tempat cincin dengan matanya.
"Oh itu, ambillah.. itu cincin pertunangan kita. Ayahku yang membelikannya" ujar James enteng.
Anne terlihat kecewa dengan sikap James, ia mengambil tempat cincin itu dan mengejar James.
"Ini.. aku tak mau menerimanya!" tukas Anne kesal, ia menaruh tempat cincin di tangan James.
"Kenapa? Apa kau berubah pikiran?"
Anne menghentakkan kaki kanannya sambil menatap sebal pada James.
"Bukan begitu James, tapi aku ingin kau memberikannya dengan romantis. Seperti di film-film drama" kata Anne malu-malu.
"Drama? Aku tak pernah menontonnya" kata James santai.
"Ke sini" ujar Anne.
James mengikuti arahan Anne.
"Kau harus membungkuk sedikit dan memberikan cincinnya padaku, lalu kau pakaikan cincin itu dijemariku" Anne menjelaskan.
"Bila aku melakukannya kau akan senang?"
"Ya tentu saja" Anne menjawab dengan mata berbinar.
James melakukan apa yang Anne minta. Setelah James memasangkan cincin dijemari Anne, Anne mengalungkan tangannya dileher James dan memanyunkan bibirnya.
"Apa ini?" James memundurkan sedikit wajahnya.
"Biasanya setelah melamar pasangan kekasih akan berciuman" kata Anne lalu ia memanyunkan lagi bibirnya.
"Tidak.." James melepaskan tangan Anne dan berjalaan meninggalkannya.
"Kenapa?!" Anne kesal kembali, lagi-lagi ia menghentakan kaki kanannya.
"Bukankah kau ingin menikah denganku?" tanya James, Anne mengangguk dengan wajah masih kesal.
"Kita akan sering melakukannya setelah menikah, jadi sekarang sebaiknya kita tidak sering melakukannya" ucap James santai.
"Kau baru pernah menciumku satu kali Jamesssss" Anne menjadi gemas.
"Aku menjadi kekasihmu bukan untuk mencium dan menjamahmu" ujar James membuat Anne berpikir.
__ADS_1
"Bayangkan bila aku berpikir seperti itu dan aku tidak mau menikahimu?" tukas James.
Anne terharu, ia tak menyangka James memikirkan hal yang sangat jauh untuk selalu melindunginya.
"Terima kasih James, aku mencintaimu" ucap Anne sambil tersipu.
"Ya sama-sama, ayo kita pulang. Malam semakin larut" James melangkah keluar, Anne tersenyum dan mengaitkan tangannya dilengan James.
♥️♥️♥️
Rara dan Luna sedang berbincang-bincang di ruang keluarga, mami sedang perjalan keluar negeri dan baru berangkat sore tadi. Mami tak mengajak Rara karena ia pergi bersama teman-teman sosialitanya.
"Apakah mami sering pergi seperti ini kak?" tanya Rara.
"Ya begitulah, biasanya mereka pergi setahun sekali dan sudah menjadwalkannya beberapa bulan sebelumnya. Mereka pergi untuk refreshing dari kesibukan sehari-hari" kata Luna.
"Sebelum berangkat mami sudah memberikan peringatan padaku agar tidak berdekatan dengan Armando" Rara menghela nafasnya.
"Lalu kau akan menurut?" tanya Luna dengan tatapan usil.
Rara mengangkat kedua bahunya.
"Entahlah, aku merasa sangat berdosa pada mami"
"Kenapa?" Luna menjadi heran.
"Mami sangat baik padaku dan aku seperti sedang membohonginya"
Luna terkekeh mendengar ucapan Rara.
"Bila kau ingin mengikuti kata-kata mami aku tak akan melarangmu Rara. Namun saranku, lebih baik aku ikuti kata yang berasal dari dalam hatimu" kata Luna santai.
"Aku tak tahu apakah itu cinta atau bukan kak setelah mendengar apa yang kak Rey katakan padaku" ucap Rara sedih.
"Rey hanya ingin yang terbaik untukmu Rara, dia khawatir kau akan tersakiti" Luna mengusap rambut Rara lembut.
"Jangan terlalu banyak berpikir, kau hanya perlu menjalani sesuatu yang membuatmu bahagia" kata Luna lagi.
Rara tersenyum dan mengangguk.
"Kau ingin menemui Armando?" tanya Luna iseng.
Rara mengangguk malu.
"Dia ada diluar, temui dia" kata Luna membuat Rara langsung merapihkan rambutnya.
"Apa aku sudah terlihat cantik?"
Luna mengangguk dengan yakin, Rara berjalan keluar namun ia harus memastikan bahwa Rey belum pulang karena kakaknya itu sedang ke kedai sejak siang.
"Kau mencari sesuatu nona?" Armando muncul dibelakang Rara.
Rara terkejut melihat Armando, ia terlihat gugup.
"A..aku ingin melihat apakah kak Rey sudah pulang atau belum" ujar Rara berbohong.
"Oh.." Armando berjalan keluar, ia membawa sebuah buku.
Rara memukul kepalanya pelan.
Kenapa aku malah berbohong..??
__ADS_1
Gerutunya dalam hati, Rara mengikuti langkah Armando.
"Kenapa kau mengikuti ku?" tanya Armando heran.
"Aku ingin menunggu Kak Rey diluar bersamamu" kata Rara, ia melanjutkan kebohongannya.
Armando duduk di kursi taman dekat mobil Luna diparkirkan, ia membuka buku yang ia bawa dan membacanya. Rara sengaja duduk disampingnya.
"Buku apa itu?" tanya Rara penasaran.
Armando menunjukan cover buku yang dibacanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Rara mengangguk-angguk, ia tak paham buku yang Armando baca. Rara melihat sekitar halaman rumah mami yang luas.
"Apa kau tidak berniat berbincang-bincang denganku?" Rara memulai obrolan.
"Bukankah kau ingin menunggu tuan Rey?" kata Armando tanpa menoleh ke Rara.
Rara cemberut, Armando masih saja bersikap dingin padahal mereka sedang berduaan.
"Jika kau ingin bersamaku, kenapa kau berbohong?" Armando menoleh ke Rara, Rara terlihat bingung menjawab pertanyaan Armando.
"Aku hanya tak ingin terlihat terlalu mengejarmu" ungkap Rara pelan, Armando tersenyum tipis.
"Lalu kau ingin terlihat seperti apa?" Armando menutup bukunya dan menatap Rara, membuat gadis itu menjadi gugup.
"Jangan menatapku begitu" Rara mengalihkan pandangannya dari Armando, ia melihat ke arah lain untuk menutupi rasa malunya.
"Apa kau ingin aku yang terlihat mengejarmu nona?" ucap Armando, Rara melirik ke arah Armando.
Ada seburat senyum kebahagiaan disana, Rara suka melihat senyuman mahal itu.
"Tidak, aku ingin terlihat kita saling memperhatikan" kata Rara ragu.
Armando menggaruk alisnya, ia tertawa kecil.
"Bagaimana caranya agar bisa terlihat seperti itu nona?" Armando mendekatkan dirinya pada Rara.
"Entahlah, aku tidak tahu. Tapi aku merasa kau tidak perduli padaku tadi pagi, bahkan kau membuatku merasa buruk" Rara menceritakan keluh kesahnya.
"Aku melihat seorang gadis cantik yang baru bangun tidur dengan wajah mengantuk dan rambut tergerai indah tadi pagi, aku juga memperhatikan wajahnya saat ia sudah mencuci wajahnya dan menyisir rambutnya hingga rapi" tukas Armando, Rara tersipu.
"Ternyata kau sangat memperhatikanku"
Armando senang melihat Rara yang tersipu, wajahnya terlihat sangat imut.
"Emmm... kau tahu Armando, aku menyukaimu. Apakah..." Rara menggantung ucapannya.
Armando menunggu Rara melanjutkan kata-katanya.
"Sudah lupakan.." Rara memaksakan tawanya, ia mengurungkan niatnya untuk menanyakan status hubungan mereka.
"Apakah nona mau menjadi kekasihku?"
Bonus Visual 😍😍😍
Armando
Ramona/ Rara
__ADS_1