
Mohon maaf untuk keterlambatan UP kemarin ya, Author sedang menghadapi sebuah masalah pekerjaan. Doakan segera bisa diselesaikan ya 🙏🙏
Senyum Rara merekah, Armando menunggu jawaban Rara. Mobil Rey memasuki halaman, mata Rara membesar melihat mobil kakaknya. Ia segera masuk ke dalam meninggalkan Armando dengan ketidakpastian.
"Selamat malam tuan" sapa Armando saat melihat Rey keluar dari mobil, suaranya terdengar gugup.
Armando melirik sekilas ke arah Rara yang sudah masuk ke dalam rumah.
"Selamat malam Armando, kau sudah makan malam?" tanya Rey ramah.
Armando mengangguk dengan tegas, Rey menepuk bahu Armando dan berjalan memasuki rumah. Armando menghela nafasnya.
"Kak Luna, kak Rey sudah pulang. Aku naik ke kamarku ya" seru Rara sambil berlari kecil menaiki anak tangga.
Luna melihat ke arah Rara yang terlihat buru-buru, tak lama Rey menghampiri Luna dengan senyuman.
Rara menutup pintu kamar, ia keluar menuju balkon kamarnya. Armando yang berada dibawah melihat Rara keluar dari balkon. Rara tersenyum pada Armando, lalu ia melengkungkan kedua tangannya diatas kepala membentuk hati sebagai jawaban atas pertanyaan Armando.
Armando tersipu melihat tingkah Rara, ia mengangguk tanda paham. Rara yang merasa sangat malu masuk kembali ke kamarnya.
♥️♥️♥️
Siang itu Anne datang ke rumah mami Luna, dia datang seorang diri karena James bekerja. Anne baru sempat menjenguk Avior dan Alioth.
"Ya Tuhan kedua bayi ini sangat tampan" puji Anne, ia sangat suka melihat bayi.
"Mereka adalah pelengkap kebahagiaan ku" ujar lunna senang.
Rara masuk ke dalam kamar si kembar, Anne terlihat heran melihat Rara.
"Anne perkenalkan ini Rara, adik Rey" ucap Luna, Anne langsung paham.
Sebenarnya Anne sudah mendengar tentang adik Rey dari Yasmin namun ia belum pernah melihatnya secara langsung.
"Haii Rara, aku Anne" saya Anne sambil tersenyum.
"Haii.." Rara membalas dengan malu-malu.
"Apakah Rara seusia denganku?" tanya Anne pada Luna, Luna mengangguk.
Wajah Anne seketika berbinar, ia berdiri dan menghampiri Rara.
"Senangnya ada yang seusia denganku" Anne memegang kedua tangan Rara.
"Selama ini aku selalu dianggap anak kecil namun sekarang ada yang sebaya denganku dan aku merasa tidak kecil lagi" kata Anne dengan bangga.
"Tidak kecil apanya? Kalian menjadi dua orang anak kecil sekarang" ledek Luna sambil tertawa kecil.
Anne memanyunkan bibirnya.
"Apa kau sudah punya kekasih?" tanya Anne tiba-tiba.
Mata Rara membulat, Anne memang tipe gadis yang terus terang akan sesuatu yang ia ingin diketahui. Luna mengulum senyumnya, ia pun menunggu jawaban Rara. Rara nampak ragu menjawabnya.
"Kau tahu Armando?" Luna membuka suaranya, Rara melihat ke arah Luna dan menggeleng.
__ADS_1
"Armando?" Anne terlihat bingung dan mengernyitkan dahinya.
"Iya Armando, pria yang ada diluar itu"
Anne teringat pria yang membukakan pintu mobilnya.
"Ah.. aku tahu.. pria tampan dengan kaos berkerah berwarna hitam dengan postur tubuh tinggi itu kan kak?" ujar Anne.
Luna mengangguk sambil melirik usil ke arah Anne.
"Dia menyukainya" goda Luna.
"Benarkah? Wahh seleramu bagus juga" Anne juga tersenyum iseng pada Rara.
Wajah Rara memerah, ia belum memberitahu Luna bahwa ia dan Armando sudah menjadi kekasih.
"Apakah kau sudah menyatakan cintamu?" Anne semakin antusias.
Rara menunduk malu, ia bingung harus menjawab apa.
"Atau jangan-jangan kau sudah menjalin hubungan ya dengan pria tampan itu?" tebak Anne sambil tertawa.
Rara menatap Anne dengan wajah terkejut, Luna bisa membaca mimik wajah Rara.
"Benarkah? Hem.. kau tidak berniat menyembunyikannya dariku kan?" Luna semakin meledek Rara.
Rara menggeleng.
"Bukan begitu. Tapi aku terlalu malu untuk memberitahukannya pada kak Luna" ucap Rara pelan.
Wajah Luna terlihat senang, begitu pula dengan Anne.
"Kau juga punya kekasih?" tanya Rara ragu.
Anne mengangguk dengan yakin.
"Aku akan menikah dengan kekasihku, lihat ini" dengan bangga Anne menunjukkan cincin pemberian James.
Rara takjub melihatnya.
"Tak pernah ku sangka James akan menikah dengan gadis kecil sepertimu" Luna meledek Anne.
Anne cemberut.
"Aku bukan gadis kecil kak Luna, aku wanita dewasa" kata Anne membuat Luna tertawa.
Tiba-tiba Anne terdiam.
"Oia kak, kemarin Ben datang ke restauran" kata Anne.
"Ben?" Luna dan Rara berbarengan mengucapkannya.
Anne mengangguk.
"Kau juga mengenalnya?" tanya Anne pada Rara, Rara mengangguk.
__ADS_1
"Dia pria yang pernah menolongku" tutur Rara.
"Dia memang pria yang baik" ucap Anne.
"Ehemm.. lalu kenapa bila dia ke restauran?" tanya Luna penasaran dengan lanjutan cerita Anne.
"Kemarin dia ke restauran dengan seorang wanita" Anne terlihat seperti ibu-ibu yang bergosip.
"Wanita? Apakah itu ibunya?" Luna bertambah penasaran.
Anne menggeleng.
"Wanita itu masih muda, terlihat seusia kak Luna. Dia cantik dan terlihat pintar" Imbuh Anne.
Luna terlihat berpikir, Rara hanya menjadi pendengar saja.
"Apakah itu koleganya?" Luna bertanya lagi.
"Emm.. entahlah tapi sepertinya bukan. Ben terus menatapnya dengan kagum dan wanita itu juga demikian" kata Anne lagi.
"Apakah dia sedang melakukan kencan buta?"
Anne menggeleng.
"Mereka datang bersama, Ben terlihat senang bersama wanita itu"
"Emm.. aku penasaran, apakah Ben sudah menemukan wanita yang tepat untuknya?" ujar Luna, ia mengambil ponselnya.
Namun sebelum Luna menekan apapun, Ben menelponnya terlebih dahulu. Mata Luna terbelalak.
"Ya Ben.." jawab Luna, Rara dan Anne saling pandang karena momen yang sangat pas untuk Ben menelpon.
"Apakah kau ada dirumah Tante Lauren saat ini?" tanya Ben.
"Ya tentu saja, aku tidak bisa pergi kemana-mana saat ini" ucap Luna, ia melirik ke arah Anne dan Rara yang sedari tadi menatapnya.
"Emmm... bolehkah aku mengunjungimu? Ada yang ingin aku bicarakan" ujar Ben membuat Luna semakin ingin tahu.
"Datanglah Ben" Luna menahan dirinya untuk tidak bertanya macam-macam.
"Oke, terima kasih Luna" Ben terdengar senang dan menutup ponselnya.
Rara dan Anne menatap Luna dengan heran, mereka sangat ingin tahu apa yang Ben katakan.
"Dia akan datang sekarang, kita akan segera tahu siapa wanita itu" ucap Luna dengan yakin.
Rara dan Anne mengangguk-angguk.
"Apa kau lapar Rara?" tanya Anne yang belum makan siang.
Rara mengangguk.
"Ajak Anne makan siang bersama, aku akan menyusul nanti" ucap Luna.
Rara dan Anne keluar dari kamar, Anne mengaitkan tangannya dilengan Rara. Saat keluar mereka berpapasan dengan Armando. Rara dan Armando saling bertukar pandang, Anne menahan senyum melihat tatapan keduanya yang malu-malu. Armando membungkukkan badannya dan berjalan kembali ke arah belakang.
__ADS_1
"Enak sekali bisa bertemu setiap saat, bahkan tinggal dirumah yang sama" ujar Anne iri.
"Apakah kau dan kekasihmu tak dapat bertemu setiap saat Anne?"