
Ayah Rara, Yoshida mulai curiga. Selama sejam ia menunggu Rara yang tak kunjung keluar dari kamar mandi. Ia memanggil seorang wanita pembersih.
"Di dalam hanya ada seorang wanita tua dan cucunya yang masih berusia 7 tahun tuan" ujar wanita pembersih.
"S**l!!!!" Maki Yoshida kesal.
"Kita harus segera mengejarnya!"
Yoshida dan temannya berlari ke mobil lalu mereka langsung melaju mencoba mencari keberadaan Rara. Namun diperjalanan, mereka dihadang oleh para pengawal Luna yang dikomandoi oleh Armando.
"Kalian tak akan bisa lari kemana-mana sekarang!" seru Armando, ia juga beserta pihak kepolisian untuk menangkap Yoshida.
Tak semudah itu bisa menangkap komplotan penjahat seperti Yoshida dan teman-temannya. Armando dan pengawal lainnya cukup kewalahan menghadapi empat orang yang cukup terlatih. Tak lama Rey dan Bobby datang, mereka ingin menjemput Rara.
"Kalian lagi!" hardik Yoshida kepada Bobby dan Rey.
Hanya Yoshida yang mampu bertahan. Teman-temannya yang lain sudah diamankan dimobil tahanan dengan borgol ditangannya.
"Kali ini aku tak akan kalah!" seru Yoshida langsung menyerang Rey.
Rey langsung menghindar, ia tak ingin berkelahi dengan ayahnya.
"Kenapa kau menghindar?! Hadapi aku pengecut!" Yoshida ingin Rey melawannya.
Para polisi hendak menembak Yoshida namun gerakkannya yang gesit membuat polisi menahan tembakannya karena takut meleset dan mengenai orang lain.
"Aku lawanmu!" Bobby menyerang Yoshida dengan mencoba menendangnya, namun Yoshida dengan mudah menghindar lalu menyeringai.
Rey menatap nanar ayahnya, ia tak menyangka ayah yang selama ini ia rindukan menjadi seseorang yang kriminal dan tak memperdulikannya sama sekali.
Perkelahian antara Bobby dan Yoshida cukup sengit, Rey hanya melihat saja. Ia tak kuasa melawan ayahnya.
"Rey.. bantu aku!" Seru Bobby kesal karena Rey diam saja.
Rey tak bergerak, Yoshida melihat ke Rey hendak menyerangnya. Namun saat Yoshida sudah dekat dengan Rey...
Dor.....
Polisi dengan tepat menembak dada Yoshida, dan Yoshida langsung tersungkur dipelukan Rey. Mata Rey membulat melihat ayahnya bercucuran darah.
"Ayah... ayah..." Rey menggoyang tubuh ayahnya yang terpuruk di badannya.
Rey terduduk bersama dengan Yoshida yang melemah.
"Ayah.. " Rey masih memanggil ayahnya penuh harap.
Bobby terkejut, ia hanya diam ditempatnya begitu pun dengan semua yang ada ditempat itu. Rey membalikkan tubuh Yoshida.
__ADS_1
"Bobby... cepat bantu aku membawa ayah ke rumah sakit!!" seru Rey dengan wajah khawatir.
Bobby dan Rey memasukan Yoshida ke mobil dan menuju rumah sakit, Armando memeriksa mobil yang digunakan Yoshida. Ia tak bisa menemukan keberadaan Rara.
"Kemana gadis itu pergi?" pikir Armando.
♥️♥️♥️
Ben keluar dari hotel, ia meminta assistennya Eva untuk menjaga Rara. Eva sudah lama menyukai Ben, ia tak suka ada gadis yang dibawa oleh Ben.
"Siapa gadis ini? Tidak ada istimewanya sama sekali? Huh!" Ujar Eva sambil menatap Rara yang masih pingsan.
"Apa yang membuatmu pantas tidur disini" hardik Eva kesal.
Ia duduk di sofa dan bermain dengan ponselnya sambil meruntuki Rara. Tak lama Rara tersadar, ia melihat sekitar dan merasa heran.
"Kau sudah sadar?" tanya Eva dengan nada tak suka.
"Kau siapa?" Rara balik bertanya, ia masih melihat tempat dimana ia berada.
"Aku Eva, kekasih Ben. Kau kenapa ada disini dan tidur di ranjang kekasihku?" Eva mengaku-ngaku.
"Ben?" Rara berpikir sejenak.
"Maksudmu pria yang mobilnya aku tumpangi bernama Ben?" sambung Rara sambil mengingat-ingat.
"Kau menuduhku seorang pe****r?" ujar Rara dengan wajah tak percaya.
"Apalagi? Hanya wanita m****n yang dengan mudah menumpang dimobil seorang pria dan dengan sengaja berlagak pingsan. Apa kau ingin menjerat kekasihku?" Eva makin memojokkan Rara.
"Aku tidak serendah itu nona!" Rara menjadi marah, ia berdiri namun jantungnya terasa sakit.
Rara memegang dadanya dan duduk kembali perlahan.
"Aktingmu luar biasa nona manis" sindir Eva sambil berdiri dan berjalan menghampiri Rara.
Eva melihat Rara dari kepala hingga kaki, Rara menatap Eva dengan nanar kemudian ia mencari ponselnya.
"Apa kau melihat ponselku nona?" tanya Rara dengan wajah bingung, ia ingin menghubungi Rey.
"Ponsel? Huh kau pikir aku mengambilnya?" Eva menyeringai, ia masih ingin memaki dan menyudutkan Rara.
Tiba-tiba Ben masuk, ia membawa makanan untuk Rara. Makanan yang disarankan dokter.
"Kau sudah sadar?" tanya Ben sambil tersenyum.
Ben terlihat sangat tampan dengan kaos polos dan meja kecil yang dibawanya, seperti seorang suami yang menyiapkan sarapan untuk istrinya. Membuat Rara tak henti memandangnya.
__ADS_1
"Terima kasih Eva sudah membantuku menemaninya, kau bisa kembali bekerja" ujar Ben, Eva hanya bisa mengangguk dengan wajah kesal.
Lalu Eva keluar dari kamar Ben. Ben menaruh nampan yang dibawanya di meja samping tempat tidurnya.
"Kau merasa baikkan?" tanya Ben, Rara hanya mengangguk tatapannya tak bisa berpaling dari Ben.
"Aku minta maaf, tadi aku sempat menuduhku pencuri" ucap Ben dengan nada menyesal.
Rara menggeleng, ia mulai tersadar kalau dirinya terlalu terkesima dengan ketampanan Ben.
"Tak apa-apa, wajar saja kau berpikir begitu. Aku tanpa izin masuk ke mobilmu, maaf" kata Rara agak sedih.
"Ya sudah anggap saja kita impas, ini makanlah. Aku memesannya agar kau cepat kembali sehat" kata Ben, Rara hanya tersenyum kecut mengingat Ben yang sudah memiliki kekasih.
Rara menerima meja makan kecil yang dibawa oleh Ben, ia memakannya perlahan sambil sesekali mencuri pandang ke arah Ben. Ben duduk di sofa sambil melihat-lihat ponselnya.
"Bila kau sudah selesai makan, taruh disitu saja. Nanti akan ada petugas hotel yang membereskannya" ujar Ben santai, ia tidak menoleh ke arah Rara.
Rara mengangguk pelan. Setelah makan Rara bingung ingin melakukan apa, ia melihat ke arah Ben.
"Kau sudah selesai?" Ben menoleh ke arah Rara.
"Ya aku sudah selesai tuan" ucap Rara sopan.
"Hahaha jangan memanggilku tuan, namaku Ben. Dan kau?" Ben mengalihkan pandangannya lurus ke Rara membuat Rara sedikit salah tingkah.
"Namaku Ramona, biasa dipanggil Rara" jawab Rara.
"Nama yang bagus" puji Ben membuat wajah Rara memerah.
"Emm.. apa kau melihat ponselku?" tanya Rara ragu.
"Ponsel? Tidak. Mungkin kau menjatuhkannya ditempat lain" kata Ben.
Rara mencoba mengingat kejadian yang dialaminya dan menghela napas.
"Sepertinya ponselku jatuh saat diculik tadi"
ratap Rara.
"Diculik? Apa maksudmu?" mata Ben membulat.
Rara menceritakan kejadian yang dialaminya bahwa ia diculik oleh ayahnya sendiri dan akan dijadikan sandera untuk mendapat uang dari kakaknya.
"Bagaimana bisa ayahmu sangat jahat?" Ben tak habis pikir.
Rara hanya mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang. Dimana rumah kakakmu?"