Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
Mematuhi Kontrak


__ADS_3

Erika menatap sepatu Bobby dengan mata terbelalak.


Aduuuh apa yang harus aku katakan??


Ting..


Erika mendapat Ide.


"Oowh itu adalah sepatu bosku, James. Ia memintaku mencuci sepatunya, lihat itu sangat kotor" ujar Erika sambil memandang jijik ke arah sepatu itu.


Wajah ibu kos galak menjadi cerah, ia memang sudah lama menyukai James dari awal melihatnya saat mengantarkan Erika pulang karena sakit. James terlihat keren dan sempat tersenyum pada ibu kos itu, membuat ibu kos jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Benarkah sepatu itu milik Bebeb James?" tanyanya senang.


Erika mengangguk yakin.


"Baiklah, berikan itu padaku biar aku yang mencucinya. Jangan lupa kau katakan pada Bebeb James kalau aku yang membantunya mencuci sepatunya ya" ucap Ibu kos, membuat Erika menahan tawanya.


"Iya pasti Bu, aku akan bilang pas James kalau sepatu itu dicuci dengan penuh cinta olehmu"


Ibu kos keluar dari kamar Erika sambil bersenandung ria, Erika tertawa saat pintu kamar sudah ditutup. Bobby yang mendengar percakapan Erika dari balik tembok kembali masuk.


"Kenapa kau membiarkannya mengambil sepatuku?" tanya Bobby, Erika masih tertawa geli.


"Apa kau mau ketahuan olehnya dan fotomu dipampang di papan tulis bawah?"


"Tidak" Bobby bergidik ngeri.


"Ya sudah ikuti saja kata-kata ku" ujar Erika bangga.


"Lalu bagaimana aku bisa pulang tanpa sepatu?" Bobby memperlihatkan kakinya hanya menggunakan kaos kaki.


"Eeemmm... Ahaa kau bisa menggunakan ini" Erika memberikan sepasang sendal jepit kepada Bobby.


"Ya Tuhan sepatuku yang berharga ditukar dengan sandal jepit bermerk swafoto" Bobby menepuk keningnya.


"Hahaha itu lebih baik daripada kau harus pulang tanpa alas kaki Bobby"


"Ya kau benar, tapi bisakah aku menagih hutangmu sebelum pergi?"


♥️♥️♥️


Rey masuk ke dalam apartemen, ia membereskan barang-barangnya dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan tangannya.


Ceklek...


Luna pulang, ia merenggangkan badannya dan berjalan menuju sofa.


"Aaah aku lelah, Jiraiya sangat gila memintaku menyelesaikan pekerjaanku harus malam ini juga" gumamnya.


Rey keluar dari kamar mandi, ia melihat Luna sedang duduk di sofa.

__ADS_1


"Kau sudah pulang nona?" Luna menoleh ke arah Rey, dengan wajah manja ia melambaikan tangannya meminta Rey menghampirinya.


"Ada apa?" Rey berjalan menghampiri Luna.


"Duduklah disini" Luna menepak sofa disebelah ia duduk.


Rey ragu untuk duduk disebelah Luna karna biasanya ia duduk dibawah. Luna menarik tangan Rey agar ia segera duduk disebelahnya lalu Luna menyenderkan kepalanya di bahu Rey.


"Hari ini aku sangat lelah. Aku hampir saja gila karna kau tidak dapat dihubungi dan Jiraiya memintaku bekerja semalaman. Dia memang sudah tidak waras" gerutu Luna, Rey tersenyum karena ia tahu Jiraiya adalah salah satu bagian dari rencana Bobby.


"Apa kau mau makan sesuatu? Aku akan membuatkannya untukmu" hibur Rey, ia merangkul Luna dan mengusap-usap sisi lain lengan Luna.


"Bisakah kau membuatkan ku salad seperti wkati itu?" Luna mengangkat kepalanya dan menatap Rey dengan wajah memelas.


"Ya tentu saja apapun untukmu" jawab Rey cepat.


"Kau memang sangat baik" Luna mengecup pipi Rey dan berjalan cepat ke kamarnya.


Rey tersenyum sambil memegang pipinya yang habis dikecup Luna.


Aku berharap ini bukanlah sebuah mimpi


Gumam Rey dalam hati sambil bersyukur. Ia segera berjalan ke dapur lalu memakai apron dan membuatkan Luna salad.


"Aku mau susu hangat juga" Luna keluar dari kamar.


"Oke nona" ucap Rey sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Yasmin mengirimkan pesan padaku, ia mengatakan kalau dia menyesal" kata Luna dengan malas.


"Bukankah itu bagus" ucap Rey santai, sambil menoleh ke arah Luna.


"Ya itu bagus tapi tak bisa begitu saja memaafkannya" Luna mendengus kesal.


"Dia sahabatmu nona, aku akan merasa sangat bersalah karena menjadi penyebab kau bertengkar dengannya"


"Bukan kau yang salah, dia yang berbuat keterlaluan dengan menjebak dan menciummu"


Rey menghampiri Luna sambil membawa salad dan segelas susu hangat untuk Luna.


"Minumlah ini, kau akan merasa lebih baik"


Luna menerima gelas dari Rey, lalu Rey memijat pundak Luna agar Luna menjadi relax.


"Aah itu sangat menenangkan ku" Luna merasa nyaman dengan pijatan dari Rey.


Rey tersenyum melihat wajah Luna yang menjadi lebih tenang. Ia menghentikan pijatannya lalu duduk disebelah Luna.


"Segera minum susunya lalu makan salad ini, aku membuatkannya dengan segenap rasa cintaku"


Luna tersenyum lalu mencubit pipi Rey dengan gemas.

__ADS_1


"Bila diperhatikan kau sangat mirip dengan Syafa" ucap Luna sambil menyuap salad sayur ke mulutnya.


"Ya Bibi May juga mengatakan hal yang sama" Rey tersenyum sambil menatap Luna.


"Waah ini sangat enak, aku bersyukur menikah dengan pria sepertimu" Luna membalas tatapan Rey.


"Apa kau sudah selesai? Aku akan membereskan mejanya" ucap Rey lalu berdiri.


"Ya aku sudah selesai, aku akan menunggumu di sofa"


Luna beranjak dari kursi dan berjalan ke sofa, Rey mencuci gelas dan mangkok yang habis digunakan Luna. Ia mengelap tangannya lalu membuka apron yang ia kenakan.


"Kemarilah, aku ingin tiduran di pangkuanmu" kata Luna dengan wajah manisnya.


"Apakah tidak apa-apa bila aku duduk disofa bersamamu?"


"Tentu saja, kau suamiku"


Rey tersenyum senang, ia duduk disofa dan Luna menaruh kepalanya di pangkuan Rey.


Mereka menonton televisi bersama. Rey mengusap kepala Luna, ini seperti yang ada dalam khayalannya selama ini.


"Hoaaaam, aku mulai mengantuk" ujar Luna sambil menutup mulutnya.


"Istirahatlah nona besok adalah hari yang sibuk, karena kita akan kembali beraktifitas"


"Ya aku akan tidur sebentar lagi setelah film ini selesai" kata Luna sambil membuka lebar-lebar matanya.


"Sudahlah nona, jangan memaksakan dirimu. Aku sudah pernah menonton film ini nanti aku akan menceritakannya untukmu"


"Itu sangat menyebalkan, aku ingin melihat sendiri film ini Rey" Luna berkata dengan manja.


"Baiklah baiklah.." Rey menepuk pelan lengan Luna.


"Apa kau marah padaku karena aku belum mau tidur?" Luna memanyunkan bibirnya.


"Mana mungkin aku bisa marah padamu nona, kau tahu aku sangat mencintaimu"


"Cium aku bila itu benar"


Rey tanpa ragu mencium kening Luna yang ada di pangkuannya.


"Bukan disitu.. tapi disini.." Luna menunjuk bibirnya.


Wajah Rey jadi memerah, ia terlihat gugup harus memulai ciumannya dengan Luna. Karena selama ini Luna yang selalu memulainya.


"Apa kau ragu dengan cintamu padaku?" Luna memicingkan matanya.


"Bukan begitu nona tapi...." Rey menggantung kata-katanya.


"Kenapa?" Luna bangun dari rebahannya dan memandang Rey penuh tanya.

__ADS_1


"Hanya saja aku ingat isi kontrak kita kalau aku tak boleh menyentuhmu duluan dan aku takut melanggar norma yang sering kau ucapkan nona"


__ADS_2