
Rey dan Luna telah sampai dirumah, tangan Luna bergelayut manja di lengan suaminya seperti takut suaminya tersebut diambil oleh orang lain.
"Kak Luna.. Syukurlah kau sudah pulang.." Sambut Rara dengan penuh kebahagiaan.
Rey mengelus punggung tangan Luna, membuat Luna merasa nyaman sekaligus merasa tak enak pada Rara.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku Rara. Kau memang adik yang sangat baik.." Tutur Luna sambil mencubit pelan pipi Rara yang memerah.
Rara mengangguk senang, seketika wajahnya berubah kembali khawatir.
"Ada apa?" Luna dan Rey menjadi heran.
"Mamiii...." ucap Rara lirih, ia tak berani melihat mata Rey dan Luna seolah ada sebuah ketakutan didalam hatinya.
Luna mengedarkan pandangannya keseluruh rumah, rumah terasa sangat sepi dan hening. Seketika terbesit apa yang terjadi di hati Luna, ia bisa menebak apa yang dilakukan oleh maminya.
"Pukul berapa mami pergi?" tanya Luna segera membuat Rara menjadi gugup.
"Sudah 30 menit yang lalu kak.." suara Rara terasa sangat berat, bibirnya gemetar.
"Baiklah baiklah... kita tunggu mami pulang saja, biar aku yang menghadapinya" ujar Luna seakan geram dengan tingkah kekanakan maminya.
Luna menoleh ke arah Rey dengan wajah sedikit kesal, Rey tersenyum. Hati Luna yang terasa panas seketika mendingin dengan sikap lembut suaminya.
"Aku yakin semuanya masih bisa dibicarakan, dan belum tentu pemikiranmu itu benar" Rey berusaha menenangkan Luna.
Luna mengangguk mencoba berdamai dengan hati dan pikirannya.
"Tapii... bagaimana bisa mami menjadi berubah pikiran seperti itu?" Luna menatap tajam ke arah Rara, Rara sedikit terkejut dan menunduk takut.
"Pasti ada hal yang terjadi dan aku tidak mengetahuinya.." tebak Luna membuat Rara semakin menunduk.
"Baiklaaah jika memang kau tidak mau menceritakannya padaku, aku akan bertanya pada Bobby.." ujar Luna sambil mengeluarkan ponsel dari tasnya.
"Jangan kak..." Rara mencegah Luna, namun terlihat dari wajahnya kalau Rara enggan bercerita kepada Luna.
"Bagaimana kalau kau bercerita sambil duduk di sofa itu?" Rey memecah kebuntuan.
Rara mengangguk pelan. Luna mengangguk, mengikuti instruksi Rey. Setelah mereka duduk, Rara mulai mengatur nafasnya.
"Jadi... ehmm...." suara Rara menjadi serak karena tertahan.
__ADS_1
Luna tak bergeming matanya menatap lurus ke arah Rara yang sama sekali tak membalas tatapannya.
"Kemarin saat di dermaga..."
Rara menceritakan tentang kata-kata Armando yang menggodanya ingin menikah di hari yang sama dengan mami, ternyata hal tersebut menjadi beban pemikiran tersendiri untuk mami sehingga dengan sesukanya mami ingin merubah hari pernikahannya menjadi esok hari.
"Ya Tuhan...." Luna menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Aku mohon jangan hukum Armando kak..." Rara memohon dengan wajah memelas.
Luna menoleh ke arah Rara dengan wajah malas.
"Dimana Armando?" tanya Luna membuat wajah Rara semakin memelas.
"Kak...." Rara semakin memohon.
"Aku bertanya padamu, dimana Armando?" Luna sedikit menaikan nada bicaranya, tentu saja Luna tak berani membentak Rara karena ia ingin jauh dari masalah dengan Rey.
"Armando diajak mami ke dermaga untuk mempersiapkan pesta besok.." kata Rara pelan.
"Aku harus menghubungi Jiraiya.." Luna mengambil ponselnya.
"Tapi Kak.. Tuan Jiraiya pergi bersama mamii..."
"Aku tau ini aku terjadi jika aku tidak turun tangan langsung untuk mempersiapkan semuanya" ujar Luna geram.
"Yasmin...." Luna teringat akan sahabatnya, pasti mami akan memaksa Yasmin membuatkan gaun dalam 1 malam bak ibu peri dalam film putri raja.
Belum Luna menghubungi sahabatnya itu, ponsel Luna berdering. Melihat nama Yasmin yang tertera di layar ponselnya Luna hanya bisa bergumam dalam hati, sebelum mengangkat telfon ia menarik nafas panjang bersiap menerima hinaan dari Yasmin.
"Ya..."
"Luna... Apa kau berniat membunuhku? Aku memang designer ternama dan terbaik kota ini, tapi aku tidak memiliki kekuatan sihir untuk membuat gaun dengan design yang Tante Lauren inginkan hanya dalam satu malam!!!" Yasmin langsung menyela.
"Hem...." Luna hanya bisa berdehem, ia membiarkan Yasmin menyelesaikan kata-katanya.
"Aku sudah mulai membuat gaunnya namun jika itu dipaksakan untuk besok pagi pasti hasilnya tidak akan maksimal dan aku akan menerima komplain beruntun dari Tante Lauren. Pasti ini juga akan merusak reputasi ku!!" Yasmin mengeluh lagi.
"Ku mohon bicaralah pada Tante Lauren dan yakinkan dia bahwa aku hanya manusia biasa, Ya Tuhan rasanya otakku akan keluar" lanjut Yasmin.
"Samuel masih sakit dan akan operasi, itu sudah cukup membuatku depresi. Aku akan gil*" Yasmin menyudahin keluhannya.
__ADS_1
"Aku paham Yasmin, aku akan bicara dengan mami segera. Sayangnya, saat ini mami tidak berada dirumah" ucap Luna santai.
"Ya Tuhan.... apa yang harus aku lakukan sekarang??? Jika aku membatalkan pesanan Tante Lauren maka akan sia-sia design dan gaun yang sudah mulai aku buat"
"Tenang Yasmin... Aku akan membantumu. Kira-kira kau bisa menyelesaikan gaun itu dalam berapa hari? Apakah lusa kau bisa menyelesaikannya?" tanya Luna tanpa merasa bersalah.
"Lusa?" Yasmin terperanjat dengan pertanyaan Luna.
"Ya... Jika lusa gaun itu selesai aku bisa mengulur waktunya 1 hari"
Yasmin terdiam sejenak seperti kehabisan kata-kata.
"Yasmin..??? Kau masih sadar kan?" tanya Luna karena sambungan telpon terdengar hening
"Berikan aku waktu untuk bernafas sejenak, karena setelah aku menyanggupi permintaanmu maka nafasku akan sesak selama 1 hari"
Klep...
Yasmin memutus sambungan telponnya. Luna tersenyum puas, ia mulai menghubungi maminya namun nihil. Seolah tahu Luna tidak akan setuju dengan rencananya, mami tidak mau berkompromi dengan anak semata wayangnya tersebut.
"Mami sengaja tidak mengangkat telfon dariku!" Luna mendengus kesal, Rey mengelus punggung Luna untuk menenangkannya.
♥️♥️♥️
Sementara itu, mami sedang berada di dermaga ia mulai memerintahkan tim WO untuk mendekorasi. Sepertinya keputusan mami untuk mempercepat pernikahannya sudah bulat.
"Apa ini karena ucapanmu saat itu?" tebak Bobby yang tiba-tiba saja mengagetkan Armando. Saat itu Armando sedang menyesali kata-katanya.
"Aku tak menyangka gurauanku akan menimbulkan keputusan serius seperti ini" Armando menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bagaimana kau bisa berada disini?" tanya Armando.
"Kau pasti tau, nona muda yang mengutusku ke sini" ucap Bobby santai.
"Mau membawa istrimu juga?" tanya Armando saat melihat Erika sedang berbicara dengan nyonya besarnya.
"Saat Erika tau nyonya besar akan mempercepat pernikahan, dia sangat semangat. Ini akan menjadi perang yang sangat besar" Bobby terbahak.
Membayangkan mami mendapatkan dukungan penuh dari Erika dan penolakan dari Luna pasti akan terjadi sebuah hal yang menarik.
"Kenapa kau terlihat sangat santai saat sudah berada diambang peperangan seperti ini?' Armando heran melihat Bobby.
__ADS_1
"Aku hanya penasaran siapa diantara mereka yang akan memenangkan peperangan kali ini"