
"Berpaling? Apa kau serius mengatakannya Anne?" tanya Yasmin heran.
Anne mengangkat kedua bahunya, ia tak yakin dengan apa yang ada dihatinya. Dia masih muda, masih ingin sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan. Hal itulah yang menjadi pemikiran James, Anne masih muda harus bisa menikmati masa mudanya.
"Bila tak yakin jangan mulai bermain api Anne" Yasmin menasehati Anne.
Anne duduk disofa dekat box Sheryl, ia menundukkan wajahnya.
"Aku pikir bisa menjalin hubungan dengan seorang pria dewasa akan menyenangkan seperti di cerita drama. Ternyata tidak enak saat cintamu bertepuk sebelah tangan" ujar Anne sambil tersenyum miris.
"James memang sudah cukup dewasa bahkan usianya lebih tua dari aku dan kakakmu" Yasmin duduk disebelah Anne, Anne menaruh kepalanya di bahu Yasmin.
"Aku terlihat seperti seorang anak kecil baginya kak, dia berpikir aku hanya seorang bocah yang jatuh cinta" ucap Anne sedih.
"Apa kau benar-benar siap menikah dengannya?" tanya Yasmin, ia pun ragu adik iparnya yang imut itu menikah.
"Apakah menikah itu menyeramkan kak?" Anne bertanya dengan polos.
Yasmin terkekeh lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Berpalinglah dari James dan cari pria yang seumuran denganmu"
♥️♥️♥️
Pagi itu Luna dan Ben sedang melakukan peninjauan pembangunan hotel baru. Lokasinya berada di pinggir kota untuk menjangkau semua orang yang ingin berkunjung di kota tersebut.
"Bagaimana bila di lobby kita berikan sedikit sentuhan tradisional? Itu akan menambah esensi kota ini" ujar Luna kepada Ben, namun Ben terlihat asik dengan ponselnya.
"Ben..?" panggil Luna karena tidak mendapat jawaban dari koleganya itu.
Ben tidak fokus karena ia seperti sedang chat dengan seseorang sambil tersenyum-senyum.
"Ben...!" Luna menepuk lengan Ben agak keras untuk menyadarkannya.
"Hah? Ehh.. maaf Luna apa yang kau katakan tadi?" ucap Ben agak gugup.
Luna menghela napas dan melirik kesal kepada Ben.
"Sudahlah, anggap saja aku tidak mengatakan apapun!" ucap Luna sambil berjalan menjauh dari Ben.
__ADS_1
Ben memasukan ponselnya ke saku celana dan mengikuti langkah Luna.
"Kalau tidak salah kau menyebutkan tradisional, aku benar kan?" kata Ben, Luna menghentikan langkahnya sambil menoleh ke arah Ben dengan tatapan sebal.
"Cobalah untuk fokus Ben, ini bukan main-main. Kita sedang memulai sesuatu yang penting" kata Luna mengingatkan, Ben menangkupkan tangan ke arah Luna tanda menyesal.
Sekali lagi Luna hanya bisa menghela napasnya.
"Aku juga tak bisa menghentikanmu bila sedang senang" ucap Luna karena dia cukup mengenal Ben.
Ben tersenyum malu.
"Ya kau benar. Anne akhir-akhir ini sering membalas pesanku, dan sepertinya aku mendapatkan respon yang cukup baik darinya. Berbeda dengan respon wanita lain yang pernah berusaha aku dekati" ujar Ben sambil melirik Luna usil.
Luna menatap malas kepada Ben.
"Maksudmu aku? Menyebalkan bila dibandingkan dengan orang lain.." tukas Luna lalu ia terlihat berpikir.
"Emm benarkah Anne meresponmu dengan baik?" tanya Luna heran.
Ben mengangguk yakin sambil tersenyum. Luna melirik ke arah lain, ia sedikit tak percaya Anne melakukannya.
"Oh begitu.." Luna menjawab singkat, ia sedikit penasaran mengapa Anne melakukannya namun ia tak mau ikut campur urusan mereka.
"Waah perut kalian sudah terlihat membuncit, rasanya mengingat saat aku hamil Sheryl waktu itu" ujar Yasmin saat mereka bertiga sudah ada di apartemennya.
Yasmin sudah mempekerjakan Melisa kembali untuk membantunya. Namun pada waktu-waktu tertentu Yasmin meminta Melisa tidak datang terutama saat Samuel sedang tidak ada syuting agar ia bisa dengan seenaknya menyuruh-nyuruh suaminya itu.
"Sekarang sudah terasa agak begah nona.." ujar Erika.
"Emm.. Erika. Sebaiknya jangan memanggil kami dengan sebutan nona lagi. Kita kan berteman sudah cukup lama" kata Luna, ia sedikit risih dengan sebutan 'nona' yang diucapkan oleh Erika.
"Aku merasa itu tidaklah sopan" ucap Erika pelan.
"Tak perlu sungkan Erika, anggap saja kami kakakmu seperti Anne. Panggil kami Kak Luna dan Kak Yasmin, itu terasa lebih akrab" usul Yasmin disambut anggukan oleh Luna.
"Ayah akan marah jika tahu" Erika ragu.
"Kau lihat suamimu itu, aku tak pernah mendengarnya memanggil Rey dengan sebutan tuan hahaha memang dia pria yang bertingkah sesuka hati"ujar Yasmin sambil terkekeh.
__ADS_1
"Bila Jiraiya marah biar aku yang akan menjelaskannya" kata Luna sambil tersenyum pada Erika.
"Emm..." Erika masih menimbang-nimbang permintaan Yasmin dan Luna.
"Kau terlalu banyak berpikir Erika, cepat biasakan dirimu memanggil kami dengan sebutan kak" paksa Yasmin, Erika tersenyum dan mengangguk senang.
Mereke bertiga tertawa bersama-sama, sudah tidak ada kecanggungan antara mereka satu sama lain.
"Sayang sekali Anne tidak bisa datang, padahal ini adalah makanan kesukaannya" kata Yasmin sedikit menyesal.
"Nanti kita akan mengadakan makan siang bersama lagi" hibur Luna, Yasmin mengiyakan kata-kata Luna.
"Aku agak khawatir dengan anak itu.." Yasmin mulai bercerita.
"Apa maksudmu?" Luna menjadi penasaran.
"Bagaimana caraku mengatakannya ya? Dia menjalin hubungan dengan pria yang usianya jauh lebih tua dengannya, namun ia sendiri masih terlalu muda untuk menikah. Bahkan dia berpikir pernikahan itu sesuatu yang menyeramkan" kata Yasmin sambil terkekeh.
"Anne gadis yang ceria, tapi aku setuju denganmu kak Yasmin. Bisa dikatakan Anne belum cukup dewasa untuk menikah" ucap Erika setuju, Luna masih diam saja dia masih ragu untuk menceritakan apa yang Ben katakan padanya.
"Anne juga mengatakan saat ini ada pria lain yang menarik perhatiannya" Yasmin menyambung ceritanya.
"Apakah kita akan menggosipkan Anne siang ini?" Luna memecah suasana dengan pertanyaan menarik.
Erika dan Yasmin saling menatap dan tertawa, mereka seperti tidak sadar apa yang sedang mereka bicarakan.
"Maafkan aku Luna, aku hanya sedikit meragukan keseriusannya dengan James" Kata Yasmin.
"Sudahlah tak perlu dikhawatirkan, dia sudah berusia 20 tahun. Apapun yang ia lakukan dia harus bisa mempertanggungjawabkannya" Luna memutus cerita Yasmin.
"Ya kau benar" kata Yasmin, ia mengambil minuman dan meneguknya.
"Bagaimana hubunganmu dengan papi Sheryl?" Luna bertanya sambil tersenyum usil, wajah Yasmin menjadi merah.
"Apa arti dari wajah merahmu itu kak Yasmin?" Erika menyenggol bahu Yasmin ikut meledeknya.
"Jangan-jangan kau sudah mulai program untuk membentuk adik untuk Sheryl" Luna tertawa puas.
"Benarkah kak Yasmin? Ya Tuhan.. itu sangat cepat, tapi tidak apa-apa kak. Sheryl sangat cantik dan lucu pasti adiknya juga akan sama lucunya"
__ADS_1
Yasmin menjadi kesal dengan ledekan kedua sahabatnya itu.
"Belum sampai sejauh itu, kami hanya berciuman sedikit"