
Yasmin menatap tajam ke arah Samuel, Samuel berlutut sambil memegang tangan Yasmin.
"Aku minta maaf, aku hanya ingin menyampaikan perasaanku dengan cara yang berbeda" Samuel memohon.
"Tadi aku sempat berpikir bila terjadi sesuatu padamu maka Sheryl akan menjadi seorang Yatim. Dia terlalu kecil untuk kehilanganmu! Kau b***h Sam, sangat b***h!" Yasmin meneteskan air matanya.
Samuel berdiri dan memeluk Yasmin dengan erat.
"Jangan menangis, maafkan aku" bisik Samuel, Yasmin melepaskan pelukan Samuel.
"Jangan pernah berpikir untuk melakukannya lagi"
"Iya aku tak akan melakukannya lagi" Samuel kembali memeluk Yasmin.
"Tapi apakah itu artinya kau menerima cintaku?" ucap Samuel penuh harap.
"Emm.. aku akan mempertimbangkannya, bila aku terlalu cepat menerimanya nanti kau tidak akan menurut lagi padaku. Karena biasanya pria akan berubah menjadi acuh saat tahu ada seorang wanita yang mencintainya" ucap Yasmin santai, ia mengambil bunga dari tangan Samuel dan berjalan keluar dari ballroom.
Luna hanya mengulum senyumnya melihat tingkah laku Yasmin.
"Kau sangat hebat Yasmin" bisik Luna saat Yasmin melewatinya.
"Jika itu Rey, aku akan langsung menerimanya tanpa berpikir" balas Yasmin sambil terkekeh.
"Kau ingin mati ya?" seru Luna dengan wajah kesal.
♥️♥️♥️
Tak terasa usia kandungan Luna dan Erika memasuki usia 6 bulan, sudah saatnya mereka mengetahui jenis kelamin bayi yang ada didalam kandungan.
Malam itu Luna dengan manja meminta Rey untuk mengelus punggungnya, karena dokter berkata bila perutnya banyak diusap maka akan sering terjadi kontraksi.
"Itu sangat membuatku nyaman Hubby" ucap Luna sambil memejamkan matanya.
"Apa kau mau aku buatkan coklat hangat?" ujar Rey sambil terus mengusap punggung istrinya.
"Tidak, aku hanya mau kau ada didekatku"
Luna membalik badannya dan memeluk Rey. Perut Luna bergerak dengan aktif.
"Apakah mereka menyakitimu sweety?" Rey terkejut dengan gerakan perut Luna.
"Hihihi tidak hubby, mereka berdua sedang bahagia berada dekat dengan papanya. Sama bahagianya seperti aku bilas berada dekat denganmu" ujar Luna mempererat pelukannya.
Si kembar bergerak lagi, membuat Rey penasaran. Rey melepaskan pelukannya, ia menempelkan wajahnya diperut Luna. Gerakan besar terjadi yang disebabkan oleh si kembar.
"Ya Tuhan, mereka sangat menyukaimu" kata Luna sambil tertawa senang.
"Benarkah? Bukankah mereka sedang menendangku saat ini?" tanya Rey, karena ia pernah membaca bayi suka menendang saat masih berada didalam perut ibunya.
__ADS_1
"Mana mungkin begitu, mereka bergerak karena ingin memperlihatkan betapa senangnya mereka saat papanya mendekatkan diri"
"Apa aku harus menengok mereka?" tanya Rey dengan tatapan menggoda, Luna mengangguk malu.
Rey mendekat pada Luna, hendak mencium bibir istrinya. Namun sekali lagi gerakan besar ditimbulkan oleh si kembar.
"Sepertinya mereka cemburu aku mendekatimu sweety" kata Rey sambil tertawa kecil.
Rey dan Luna sangat menikmati masa-masa itu. Rey berbaring disebelah Luna, kedua tangannya dilipat diatas kepala dan Luna meletakan kepalanya di lengan kanan Rey.
"Emm, besok aku sudah memiliki janji dengan Bianca. Kita akan segera tahu jenis kelamin si kembar. Apa kau merasa berdebar hubby?" tanya Luna dengan nada bersemangat.
Rey mengangguk antusias.
"Tentu saja, aku yakin apapun jenis kelaminnya mereka pasti memiliki wajah menggemaskan seperti mamanya" Rey mencubit pipi Luna pelan.
"Dan mereka akan memiliki sifat hangat sepertimu. Karena bila mereka memiliki sifat sepertiku, maka aku sendiri akan kewalahan menghadapinya" Luna sedikit mendengus kesal.
"Aku yang akan menanganinya bila memang seperti itu" hibur Rey membuat Luna tersenyum kembali.
"Kau papa terbaik untuk mereka, dan aku akan menjadi mama yang galak" Luna terkekeh.
Rey memeluk Luna, ia merasa sangat bahagia.
Sementara itu, di kediaman Jiraiya. Bobby dan Erika sudah menetap disana selama 2 bulan. Erika juga sudah sangat tak sabar mengetahui jenis kelamin bayinya.
"Mungkin kita ke dokter setelah nona selesai memeriksakan kandungannya, aku dan Rey tak mungkin meninggalkan kedai bersamaan" jawab Bobby, Erika memanyunkan bibirnya.
"Bisakah jika kita yang duluan memeriksakan si kecil?" Erika seperti tak terima.
"Aku harus menanyakannya dulu pada Rey, bisa saja nona memiliki kesibukan dipagi hari kan?" Bobby mencoba menghibur Erika.
Erika langsung mengambilkan ponsel Bobby yang diletakan di meja dekatnya.
"Cepat telepon dia dan pastikan" ujar Erika penuh harap.
Bobby hanya bisa menghela napas dan menerima ponselnya.
"Tak perlu jika kau terpaksa" ujar Erika sambil cemberut.
"Tidak darling, aku akan menelpon Rey dengan senang hati" kata Bobby sambil memaksakan senyumnya.
"Ayo cepat, telpon dia" Erika sangatlah tidak sabar.
Bobby menelpon Rey, sebenarnya ia merasa tidak enak karena jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Ia takut mengganggu Rey dan Luna.
"Ya Bobby" jawab Rey diujung telpon.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Bobby ragu.
__ADS_1
"Tidak.. Aku masih terjaga"
"Oh begitu...Hahaha" Bobby malah tertawa.
"Cepat tanyakan padanya..." bisik Erika sambil menatap tajam kepada Bobby, Bobby mengangguk.
"Emm.. aku ingin bertanya sesuatu padamu Rey"
"Apa itu?"
"Apakah besok nona akan ke dokter Bianca untuk mengetahui jenis kelamin si kembar?" tanya Bobby, membuat Erika melotot.
Bagi Erika, Bobby terlalu banyak basa-basi.
"Ya besok Luna sudah membuat janji dengan dokter Bianca. Ada apa?"
"Hahaha tidak apa-apa" Bobby enggan menanyakannya.
"Honey cepat tanyakan" Erika berbisik lagi, ia benar-benar sudah tidak sabar.
"Rey.. pukul berapa kau akan mengantar nona ke dokter?" Bobby mengecilkan suaranya.
Erika mengangguk dengan puas karena akhirnya Bobby bertanya pada Rey.
"Sepertinya Luna membuat janji besok pagi, karena ia akan menghadiri peresmian hotel barunya di pinggir kota bersama Ben dari siang hingga" Rey menjelaskan.
"Oh begitu.. apa kau perlu penjagaan untuk itu?"
"Tidak perlu Bobby, kau berjaga saja dikedai"
"Baiklah, terima kasih Rey"
Bobby mengambil napas panjang, Erika sudah tidur membelakanginya dengan wajah cemberut.
"Seharusnya kau bilang pada Rey, aku ingin memeriksakan kandunganku pagi-pagi" ucap Erika kesal.
"Nona sudah membuat janji dengan dokter Bianca, tidak mungkin kita menyelak begitu saja. Lagipula apa kau sudah membuat janji dengan dokter Bianca?" tanya Bobby heran.
Erika menggeleng namun ia enggan menghadap ke arah suaminya.
"Sudahlah darling, apa bedanya tahu saat pagi atau siang? Itu tak akan merubah jenis kelamin bayi kita" Bobby mulai putus asa.
"Aku hanya ingin tahu lebih awal sebelum nona Luna dan Rey mengetahui jenis kelamin anak kita. Ya setidaknya aku bisa unggul lebih dulu"
"Hahaha apa yang kau bicarakan darling? Ini bukan perlombaan, kita hanya ingin tahu jenis kelamin calon bayi kita. Apa harus aku mengantarmu malam ini juga? Agar kau tahu lebih awal daripada nona"
Erika tersenyum, ia membalik tubuhnya.
"Ide bagus honey, ayo segera kita bersiap"
__ADS_1