
James segera mematikan rokoknya, ia melihat Anne sesak napas dan tubuhnya mulai lunglai. Anne hampir terjatuh namun James segera menangkapnya.
"Ini sangat merepotkan" James mengusap wajahnya dengan kasar.
James mengangkat tubuh Anne dan memasukkannya ke mobil lalu membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Dia baik-baik saja, alerginya kambuh terpapar asap atau debu. Apakah anda kakaknya?" tanya Bu dokter yang menangani Anne.
James menggeleng, ia melihat ke arah Anne yang masih berada di ranjang ruangan dokter.
"Anda Pamannya?" Bu dokter bertanya lagi dengan heran.
James menggeleng lagi.
"Anda...... bukan ayahnya kan?" Bu dokter mulai bertanya dengan ragu.
"Saya temannya ditempat kerja dokter" James menatap dingin ke arah Bu dokter itu.
"Oh.... ya ya baiklah. Saya akan menulis resep untuk nona Anne" Bu dokter menjadi salah tingkah ditatap oleh James.
James mengangkat tubuh Anne lalu menggendongnya. Anne masih tak sadarkan diri.
"Kemana aku harus membawanya?" pikir James.
James mencoba menelpon Erika, namun Erika tidak menjawabnya karena malas. James melihat kembali Anne yang masih memejamkan matanya di kursi belakang mobilnya.
"Tak mungkin aku mengantarnya pulang dalam keadaan seperti ini" James mengusap wajahnya kasar.
Akhirnya James membawa Anne pulang ke rumahnya. Ia merebahkan Anne di sofa lalu berjalan santai menuju kamar ayahnya. James melihat tuan Bob dalam keadaan sudah tidur.
"Aku harus mandi" James masuk ke kamarnya dan mandi, sampai ia lupa kalau ia membawa Anne pulang.
James membuat teh hangat di dapur, ia melihat kaki Anne menyembul dari balik sofa. Ia terlihat kaget, perlahan ia mendekati sofa.
"Ya Tuhan, aku lupa telah membawanya pulang" James menepuk keningnya.
Anne terlihat meringkuk, sepertinya dia kedinginan. James dengan santai membawa Anne ke kamarnya, ia rebahkan tubuh Anne di kamarnya dan menyelimutinya. Lalu James tidur di sofa kamarnya.
Pagi itu Anne terbangun, ia bermimpi indah malam itu. Anne melihat sekitar saat membuka matanya, ia terkejut itu bukan kamarnya.
"Aku ada dimana?" pikirnya.
Anne melihat ke arah pakaiannya, masih sama seperti semalam dan tidak terkoyak sedikitpun. Mata Anne mengangkat James yang tidur duduk disofa singke yang ada didalam kamar itu.
"Apa aku sedang bermimpi?" Anne membelalakkan matanya, lalu ia mengusapnya untuk memastikan.
__ADS_1
Anne beranjak perlahan dari tempat tidur, ia mendekati James. Ia menyentuh hidung James hati-hati.
"Ya Tuhan aku tidak bermimpi, ini benar-benar tuan James. Dan aku kini ada di kamarnya" Seru Anne dalam hati.
James bergerak, Anne berjalan perlahan kembali ke tempat tidur.
"Kau sudah bangun" James memergoki Anne yang sedang melangkah perlahan menuju tempat tidur, ia segera membalikkan badannya.
"Aaaah iya" Anne menjawa sambil memegang tengkuknya, ia melihat James dengan malu.
"Bagus kalau begitu, cepat siap-siap aku akan mengantarkanmu ke restauran" ujar James sambil melangkah keluar, Anne mengejarnya dan menarik kaos yang dikenakan James.
"Tuan James, aku malu kalau ke restauran memakai baju yang sama seperti kemarin" ucap Anne malu.
James berjalan ke arah lemarinya dan melemparkan kemeja ke Anne.
"Pakailah, bila sudah siap langsung keluar dan sarapan" James keluar dari kamar, Anne mencium kemeja yang diberikan oleh James.
Anne sudah selesai mandi dan berpakaian, kemeja yang diberikan James terlalu besar untuknya jadi Anne menggulung lengannya dan mengikat bagian bawahnya.
"Ini makanlah"
James membuatkan pancake untuk Anne.
"Terima kasih tuan James, selamat makan" seru Anne senang.
"Jamie, siapa dia?" tuan Bob yang baru saja keluar dari kamarnya terkejut melihat Anne berada di rumahnya.
"Ini temanku ayah, Ani namanya" ucap James sambil berjalan menghampiri ayahnya yang sedang melangkah dibantu oleh sebuah tongkat kayu.
James membantu tuan Bob duduk, tuan Bob memperhatikan Anne dengan seksama. Anne tersenyum manis kepadanya.
"Apakah Ani menginap disini?" tanya Tuan Bob heran.
James mengangguk tanpa merasa berdosa, namun wajah Anne menjadi memerah.
"Ayah tak menyangka, kau sudah menjadi pria sejati sekarang" tuan Bob tertawa senang.
"Itu tidak seperti yang ayah pikirkan" James berusaha menjelaskan.
"Heii Ani kemarilah" panggil Tuan Bob.
Anne menghampiri tuan Bob yang duduk di sofa.
"Kau masih terlalu muda untuk Jamie" ujar Tuan Bob saat melihat Anne dari dekat.
__ADS_1
"Ayaaah.." James mencegah ayahnya bertanya macam-macam pada Anne.
"Apa kau benar-benar sudah siap menikah dengan anakku dengan menginap disini?" tanya Tuan Bob membuat wajah Anne memerah.
"Ayaaahhh...!"
♥️♥️♥️
Persiapan pernikahan Rey dan Luna sudah 90%, Luna sudah mulai pulih namun ia masih belum kuat untuk berdiri lama-lama jadi saat melihat ballroom hotel yang sudah di persiapkan untuk pernikahan, Luna masih menggunakan kursi roda.
"Tempat dihias dengan sangat cantik, terima kasih mami" ujar Luna, ia memegang tangan maminya erat.
Kini hubungan Luna dan mami semakin membaik. Mami menepuk tangan Luna dengan lembut.
"Mami ingin yang terbaik untukmu Luna, ini juga untuk menebus kesalahan mami karena pernah berusaha memisahkan mu dengan Rey" kata mami sambil menatap Luna dan Rey bergantian.
"Itu semua adalah hal yang dapat menguatkan cinta kami mi" Rey memegang pundak mami dan mencium pipinya, mami menepuk pipi Rey pelan.
"Kak Rey!!!"
Syafa dan Lody memanggil Rey, Rey menoleh dan langsung berlari menghampiri kedua sepupunya itu. Mereka saling berpelukan, Bibi May dan Paman Ken ada dibelakang mereka.
"Kalian sudah datang" sambut Rey penuh haru.
"Terima kasih sudah meminta seseorang untuk menjemput kami Rey" ucap Bibi May sambil mengusap lengan Rey.
Rey mengajak keluarganya menemui Luna dan Mami yang melihat mereka dari sisi lain ballroom.
"Kak princess..." mata Syafa berbinar melihat Luna, Luna langsung memeluknya.
Lody hanya melihat iri kepada Syafa.
"Kemarilah Lody, apa kau tidak rindu padaku?" ucap Luna sambil tersenyum, malu-malu Lody mendekati Luna.
Bibi May dan mami masih terlihat dingin satu sama lain.
"Mami, ini bibi dan pamanku" Mami melirik sinis dengan gaya sombongnya.
Bibi May berusaha tersenyum dan mengulurkan tangannya. Mami menyambut uluran tangan Bibi May dengan malas. Rey merangkul keduanya.
"Senangnya saat ini Bibi dan mami bisa bertemu lagi dalam suasana yang hangat" ucap Rey sambil tersenyum.
Mami memegang dada Rey, tangannya berbarengan dengan tangan Bibi May yang hendak melakukan hal yang sama. Tatapan mereka bertemu tanpa sepengetahuan Rey. Mereka saling tatap dengan tatapan membunuh memperebutkan Rey.
"Apakah mami dan Bibi ingin minum?"
__ADS_1
Bibi May dan mami kompak mengangguk, membuat Rey menahan senyumnya.
"Aku bersyukur setelah tidak bertemu kalian terlihat sangat akrab"