
"Itu tidak seperti yang kau pikirkan sweety, aku hanya..." Rey menggantung kata-katanya.
"Hanya apa? Cepat katakan padaku. Aku tak suka kau bertemu dengan Yasmin, kau tahu itu hubby" Luna menjadi kesal.
Rey melihat ke segala arah untuk menghindari tatapan Luna.
"Apa yang kau sembunyikan dariku?" Luna memicingkan matanya.
"Itu..." Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal berusaha mencari jawaban yang tepat.
"Mami ingin membuat pakaian yang di design oleh Yasmin" jawab Rey sambil memaksakan senyumnya, namun masih tak berani menatap Luna.
Luna masih belum puas dengan jawaban Rey, ia masih memicingkan matanya.
"Lalu untuk apa mami mengajakmu ikut ke sana juga?"
"Oowwh itu.... itu.. itu karena mami ingin dekat dengannya, jadi mami mengajakku" ujar Rey menjawab seadanya.
"Benarkah?" Rey mengangguk cepat.
"Baiklah untuk kali ini aku percaya padamu, tapi bila kau berbohong aku akan marah padamu" ujar Luna, ia memalingkan wajahnya dari Rey.
♥️♥️♥️
Keesokan harinya, Luna dan Rey kembali ke rumah sakit. Luna akan menjalani kuret, ia menggenggam erat jemari Rey sebelum ia dibius dan tak sadarkan diri.
"Ingatkan aku sweety aku selalu bersamamu, aku mencintaimu" bisik Rey lalu mencium telinga Luna, Luna mengangguk air matanya menetes terus menerus.
Dokter mulai menyuntik Luna, Rey diminta untuk keluar. Rey memanfaatkan waktu untuk menunggu Luna untuk memeriksakan tangannya.
"Sungguh luar biasa, ini adalah keajaiban tuan. Tanganmu sebentar lagi akan sembuh total, namu tetaplah minum obat untuk menghilangkan semua racun yang ada dalam tubuhmu" ujar Dokter.
"Terima kasih dokter" Rey menjabat tangan dokter dan keluar dari ruangannya.
Mami berjalan cepat untuk melihat Luna, ia berpapasan dengan Rey.
"Apa yang terjadi padanya?" ujar mami lirih, ia seperti menahan tangis.
"Luna mengalami molar pregnancy mi" jawab Rey pelan.
"Ya Tuhan... bagaimana bisa hal ini terjadi juga pada Luna?" pekik mami, air matanya mengalir dan tubuhnya terasa lemas.
Rey segera memegang kedua lengan mami dan merangkulnya untuk duduk.
__ADS_1
"Dulu mami juga pernah merasakan hal yang sama, dan kini ini terjadi pada Luna" mami menutup wajah dengan kedua tangannya.
Rey memeluk mami untuk memberi ya kekuatan.
"Luna akan baik-baik saja, dokter tadi mengatakan usia kandungannya baru beberapa minggu jadi resikonya sangat kecil" Rey menghibur mami, mami mengangguk.
Mami merasakan kedua tangan Rey memegangnya.
"Tanganmu?" mami menatap wajah Rey dengan tatapan tak percaya.
"Ya, kemarin saat aku harus menguatkan Luna tiba-tiba saja tanganku menjadi memiliki kekuatan untuk bergerak seperti biasa. Ini aja keajaiban Tuhan mi"
"Syukurlah" mami menangis tersedu-sedu.
Selang beberapa waktu, dokter keluar dari ruangannya. Luna dibawa keluar menggunakan brankar dan dibawa keruang rawat inap. Dokter mengajak Rey untuk bicara sedangkan mami mengikuti perawat yang membawa Luna.
Dokter menjelaskan kondisi Luna dan apa saja yang harus dilalui bila memang Luna dan Rey ingin segera memiliki anak. Rey mengangguk-angguk, ia paham. Setelah itu Rey keluar dari ruangan dokter dan menyusul Luna ke ruangannya.
"Lihat dia, wajahnya terlihat pucat" mami terus menangis.
"Tadi dokter mengatakan Luna baik-baik saja mi, bahkan sore ini dia bisa langsung pulang. Aku akan merawatnya dengan baik, Luna harus istirahat total"
"Bawa Luna pulang ke rumah mami, banyak pelayan yang akan menjaganya" kata mami sambil menatap Rey, ia seperti memohon tanpa kata-kata.
"Aku tak bisa memutuskannya mi, aku tak mau Luna merasa tak nyaman bila aku memaksanya" ucap Rey, mami tersenyum mendengar jawaban Rey.
"Ya baiklah bila begitu, tapi mami ingin tahu semua perkembangan tentang Luna. Mana ponselmu?"
Rey bingung mendengar permintaan mami, ia mengeluarkan ponsel dari sakunya.
"Ponselmu sangat ketinggalan zaman" kata mami memandang jijik ponsel Rey.
Mami mengeluarkan ponselnya yang merupakan keluaran terbaru, ia menghubungi assisten pribadinya.
"Kau harus mengganti ponselmu, jangan membuat mami malu" ujar mami santai, ia lalu berjalan mendekati Luna yang masih terbaring.
Pelan-pelan Luna membuka matanya, ada mami disebelahnya.
"Mami.." ucapnya dengan suara serak.
"Iya Luna, ini mami. Mami mendengar kau ada dirumah sakit dari Jiraiya. Mami segera kesini untuk menemanimu" mami mengelus kepala Luna.
Luna meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Terima kasih mami sudah perduli kepadaku"
Mami menahan air matanya, ia tersenyum untuk menghibur Luna.
"Jangan menangis, setelah ini kau harus rutin melakukan pemeriksaan agar 6 bulan kedepan kau bisa hamil dan memberikan mami cucu"
Luna mengangguk, air matanya adalah air mata kebahagiaan. Rey berdiri disebelah mami.
"Apa kau merasakan sakit sweety?" tanya Rey.
Luna menggeleng lalu ia tersenyum melihat mami dan Rey yang ada dihadapannya.
"Apakah kau mau pulang ke rumah mami? Mami akan membantu Rey merawatmu di rumah. Apartemen kurang baik untukmu" ucap mami meyakinkan Luna.
Luna melihat ke arah Rey, Rey tidak bereaksi apapun. Ia menyerahkan semua keputusan kepada Luna.
"Ya setidaknya tinggalah dirumah untuk beberapa hari. Setelah kau pulih, kau bisa kembali ke apartemen" bujuk mami.
Luna masih menimbang-nimbang.
"Tapi aku tidak mau bertengkar dengan mami setiap hari seperti dulu" ucap Luna yang sepertinya ragu.
Mami melirik sebal ke arah Luna, memang dirinya dan Luna jarang sekali bisa akur. Ada saja hal yang bisa membuat mereka berdebat, bahkan baju yang Luna atau mami pakai saja bisa menjadi bahan pertengkaran mereka.
"Mami janji tidak akan berdebat dengan mu" mami mengatakannya dengan nada kurang yakin membuat Luna menjadi semakin ragu.
"Bagaimana menurutmu hubby?"
Rey terkejut Luna meminta pendapatnya. Ia takut memutuskan sesuatu karna mata mami dan Luna menatap tajam kepadanya.
Bila aku salah mengambil keputusan salah satunya akan marah kepadaku.
Pikir Rey, ia berusaha berpikir jernih.
"Sepertinya tidak masalah bila kita tinggal dirumah mami selama dua sampai tiga hari" ujar Rey sambil tersenyum, wajah mami berubah senang berbeda dengan Luna yang masih ragu.
"Aku butuh istirahat total hubby, bila aku terus bertemu mami dan bertengkar dengannya maka aku akan menjadi stress"
"Ada aku sweety, aku akan meminimalisir pertengkaranmu dengan mami. Bila akan terjadi gesekan antara kau dan mami akan akan segera menengahinya" Rey meyakinkan Luna.
"Ya baiklah, hanya untuk dua sampai tiga hari tidak lebih" ucap Luna mengulang kata-kata Rey.
"Mami akan membiarkanmu beristirahat dengan baik, karena mami tak mau rencana mami gagal" kata mami dengan suara pelan.
__ADS_1
"Rencana apa?" tanya Luna heran.
"Ya tentu saja acara resepsi pernikahan kau dengan Rey yang sudah mami rancang sedemikian rupa!"