
Anne benar-benar tak bisa percaya dengan apa yang didengarnya, ia berjalan perlahan mendekat kepada James.
"Mau kah kau mengulang kata-kata mu tadi?" ujar Anne yang sudah berada didepan James.
James tertawa tipis, ia melihat ke arah Anne.
"Kau cukup menghiburku hari ini. Cara bicaramu yang aneh, memaksakan diri minum kopi pahit dan lihat kakimu. Bahkan kau rela menyakiti dirimu sendiri. Sebenarnya apa yang kau pikirkan?" tanya James sambil menaruh telunjuknya di kening Anne.
Anne menunduk malu, sepertinya rencananya untuk terlihat dewasa gagal total.
"A... aku hanya ingin bisa terlihat pantas berada di sebelahmu. Aku tidak mau orang-orang yang melihat aku berjalan disebelahmu mengira aku adalah adik atau anakmu" ujar Anne sambil memalingkan wajahnya.
James tertawa lebar, ia melihat wajah Anne yang manis sedang berusaha menutupi rasa gugupnya.
"Ya itu memang menyebalkan, namun aku suka wanita yang bisa membuatku tertawa dan manis sepertimu"
Anne melirik ke arah James, James menutupi wajah dengan jemarinya yang mulai memerah karena mengakui perasaannya.
"Terima kasih tuan James" ujar Anne sambil tersenyum.
♥️♥️♥️
Luna sedang duduk ditempat tidur, ia memainkan ponselnya pagi itu. Rey baru saja selesai mandi dan mencium kening Luna dengan mesra.
"Bagaimana bila kita bulan madu di pulau milik papiku? Aku sangat ingin menghabiskan waktu berdua denganmu disana" ucap Luna dengan suara manja.
"Bulan madu?"
"Iya hubby, waktu itu bulan madu kita gagal karena kau terluka. Sekarang kondisimu sudah membaik dan aku pun sudah selesai dari masa penyembuhan ku. Kau setuju kan bila kita berbulan madu?" Luna memeluk Rey yang duduk dihadapannya.
"Emmm aku rasa tidak masalah jika memang harus seperti itu" Rey tersenyum, ia mencium bibir istrinya lembut lalu bersiap untuk bekerja.
"Baiklah, aku akan meminta Jiraiya mempersiapkan semuanya. Aku mau bulan madu yang terbaik untuk kita berdua" ucap Luna, ia mulai sibuk kembali dengan ponselnya.
Luna menunjukan beberapa foto pemandangan indah yang ada disana. Ada sebuah tempat dengan sebuah ayunan kayu, Rey tertarik saat melihatnya.
"Ayunan ini dibuatkan oleh papi, dia sendiri yang memotong kayu dan memasang talinya khusus untukku" Luna mengenang masa-masa indahnya bersama papi.
"Sepertinya papi adalah ayah yang sempurna untukmu" Rey mengusap kepala Luna yang saat ini menyenderkan kepalanya di dada Rey.
"Setelah papi meninggal, aku dan mami hampir setiap hari bertengkar lalu aku memutuskan untuk pindah ke apartemen ini"
"Apakah mami juga sangat sedih saat itu?"
"Aku tidak bisa melihatnya, apapun yang mami lakukan selalu salah dimataku. Padahal mami sudah susah payah untuk tetap mengelola hotel saat aku masih berkuliah saat itu" Mata Luna berkaca-kaca.
__ADS_1
"Mami wanita yang hebat, dan aku melihat kehebatan mami didirimu" Ucap Rey membuat Luna tersenyum, air matanya menetes.
"Saat ini aku merasa sangat jahat pada mami" Luna terisak.
"Kita akan mengunjungi mami sebelum berangkat bulan madu, pasti mami senang bila kita datang ke rumahnya" hibur Rey sambil mengusap air mata dari pipi Luna.
Luna mengangguk senang, ia membalik tubuhnya dan memeluk Rey dengan erat.
"Aku sangat mencintaimu Rey"
"Aku juga sangat sangat sangat mencintaimu sweety"
Mereka saling berdekatan, bibir mereka mulai menyentuh satu sama lain.
Tulalit tulalit...
Ponsel Luna berbunyi, Luna mengambilnya.
"Hallo Jiraiya..."
"Nona semua hal mengenai bulan madu nona sudah selesai dipersiapkan, apakah nona akan berangkat hari ini?"
"Ya, tapi aku mau ke rumah mami dulu sebelum menuju bandara"
"Baik nona"
"Ayo hubby kita bersiap" kata Luna sambil menarik tangan Rey.
"Bersiap kemana?" tanya Rey heran.
"Aku kan sudah bilang kita akan berbulan madu" ujar Luna enteng, Rey seperti orang tidak percaya.
"Bukankah kau baru merencanakannya 30 menit yang lalu?"
"Kau benar, Jiraiya sudah selesai mempersiapkan semuanya dan kita tinggal berangkat sekarang. Kita akan ke rumah mami dulu kan?" Luna beranjak dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi.
Rey membuka lemari dan mulai mengepak barang. Tak lama Luna keluar dari kamar mandi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Luna.
"Tentu saja mengepak barang-barang yang harus dibawa sweety" jawab Rey masih sibuk memilih pakaian yang akan dibawanya.
"Aku sudah bilang semuanya sudah dipersiapkan hubby, kita hanya tinggal berangkat. Ayo.. Bobby menunggu dibawah"
Luna mengambil tas kecilnya dan berjalan keluar kamar sambil menggandeng Rey.
__ADS_1
"Aku harus membereskan barang-barang ku kembali"
"Tidak perlu, nanti akan ada pelayan yang kesini untuk membereskannya" kata Luna santai.
Luna dan Rey segera turun, Bobby sudah siap mengantar mereka ke rumah mami. Selang beberapa lama mereka sudah sampai dirumah mami.
"Mami senang akhirnya kalian akan berbulan madu ke pulau itu, mami sering sekali ke sana bersama beberapa teman mami. Pulau itu sangat bagus Rey, papi Luna membelinya saat Luna lahir" cerita mami sambil menerawang jauh.
"Dan pulau itu merupakan peninggalan terindah yang papi berikan padaku"
Rey tersenyum mendengar cerita mami dan Luna. Mereka berdua tampak kompak saat membicarakan pulau yang diberi nama Pulau Luna.
"Oia mi, aku tak ingat sudah memberitahu mu kalau bulan maduku akan ke pulau itu. Apakah mami mengetahuinya dari orang lain?" tanya Luna, karena biasanya mami akan bertanya banyak hal padanya.
Mami terlihat agak gugup.
"Eemm mami tahu dari pengawal mami, mereka bilang Jiraiya meminta beberapa orang untuk membereskan pulau pagi ini. Karena mami tidak akan ke sana ya pasti kau yang ke sana. Mami benar kan?"
Luna mengangguk-angguk.
"Baiklah mi, aku akan berangkat sekarang bersama Rey. Doakan bulan madu kami lancar ya" ucap Luna sambil mencium pipi maminya.
"Apakah ada pengawal yang menemanimu disana?" tanya mami khawatir.
"Aku membawa Bobby, Armando dan dua pengawal lainnya untuk ikut. Jiraiya akan tetap disini mengawasi hotel"
Mami mengangguk paham.
"Kalau begitu kalian berhati-hatilah disana. Jangan terlalu lelah" ujar mami sambil tersipu malu.
Rey dan Luna saling tatap lalu tertawa kecil.
"Tenanglah mi, aku akan selalu menjaga Luna dengan baik" ucap Rey yang juga mencium pipi mami.
"Ingat Rey, Luna belum diperbolehkan untuk hamil. Jadi jangan mudah tergoda olehnya" ucap mami sambil melirik Luna usil.
"Aku tahu mi" Rey merangkul mami, mami memegang pipi Rey.
Jiraiya masuk ke dalam rumah mami dengan napas tersengal-sengal. Luna, mami dan Rey melihat heran ke arahnya.
"Ada apa Jiraiya?" tanya mami.
Jiraiya mengatur napasnya, ia berdiri dengan tegak.
"Mohon maaf nona, sepertinya kita tidak bisa ke pulau saat ini" kata Jiraiya.
__ADS_1
"Kenapa?" Luna penasaran.
"Tiba-tiba saja terjadi badai dan sangat berbahaya bila kita ke sana"