
Sudah beberapa hari Yasmin bungkam, ia tak menggubris apapun yang Samuel katakan. Jangankan menjawab apa yang Samuel katakan, menganggap Samuel ada saja tidak.
"Ayolah Yasmin, ini sudah hampir seminggu kau mendiamkan aku. Bobby sengaja menjebak ku waktu itu" Setiap hari Samuel harus merayu Yasmin agar mau berbicara padanya.
Yasmin diam saja, ia tak menoleh sedikit pun pada Samuel.
"Aku akan syuting selama tiga hari di pulau Anyelir, kau pasti akan merindukanku" Samuel memberitahu Yasmin tiba-tiba.
Yasmin menoleh ke arah Samuel.
"Baguslah, setidaknya kau tidak perlu tinggal bersama hantu selama tiga hari" ucap Yasmin dengan nada menyindir.
"Ya Tuhan, mana mungkin istriku yang cantik seperti hantu. Aku hanya bercanda" Samuel masih berusaha berdamai.
Yasmin diam, lagi-lagi ia tidak menghiraukan Samuel. Yasmin memberikan Sheryl kepada Samuel dan masuk ke kamar mandi. Samuel duduk sambil menaruh Sheryl dipangkuannya.
"Apakah mamimu akan terus marah pada papi? Padahal papi adalah pria yang tampan, tetapi mami bisa mendiamkan papi selama itu" ucap Samuel pada Sheryl, Sheryl hanya tersenyum mendengar ocehan papinya.
Setelah dari kamar mandi, Yasmin melirik sinis ke Samuel.
"Katakan pada mami, papi minta maaf" kata Samuel menghampiri Yasmin sambil menggendong Sheryl.
Sheryl meminta Yasmin menggendongnya, namun ia memegang ibu jari Samuel. Sheryl seperti ingin menyatukan kedua orang tuanya.
"api.. ami.." ucap Sheryl lucu, bayi berusia 8 bulan itu mulai mengucapkan kata.
Yasmin tak percaya putri kecilnya sudah bisa memanggil namanya. Ia menoleh ke Samuel dengan mata berkaca-kaca.
"Sheryl tidak ingin kau marah terus padaku" kata Samuel, ia mendekat pada Yasmin.
Yasmin menciumi Sheryl dengan gemas, Sheryl tertawa namun ia tak melepaskan ibu jari papinya.
"Ami..." Sheryl meletakkan ibu jari Samuel ke lengan Yasmin yang sedang menggendongnya.
Samuel dan Yasmin saling bertukar pandang. Sheryl adalah satu-satunya alasan mereka bersama.
"Jangan marah lagi, aku minta maaf Yasmin" kata Samuel dengan wajah menyesal.
"Apa aku menyeramkan saat marah?" tanya Yasmin dengan wajah sedih namun agak kesal.
Samuel menggeleng.
__ADS_1
"Kau cantik apapun yang kau lakukan" puji Samuel, Yasmin mengulum senyumnya.
"Alasan sebenarnya aku tak pernah membayangkanmu saat beradegan mesra adalah karena kau tak akan bisa digantikan dengan siapapun walaupun hanya dalam drama" kata Samuel, ia meraih jemari Yasmin dan memeluknya.
Yasmin tak menolak pelukkan Samuel, Sheryl berada diantara mereka. Gadis mungil itu terlihat senang.
"Kau sudah tidak marah kan?" tanya Samuel sambil mengusap kepala Yasmin.
Yasmin menggeleng.
"Tapi jika kau melakukannya lagi, maka aku akan pastikan kau keluar dari apartemen ini seumur hidupmu!!" bisik Yasmin mengancam.
♥️♥️♥️
Rey baru saja pulang dari kedai malam itu, Luna sedang berada dikamar si kembar. Setelah mandi dan mengganti baju, Rey menghampiri istrinya.
"Bagaimana dengan kondisi Avior dan Alioth? Apakah mereka rewel hari ini?" tanya Rey sambil mengecup puncak kepala istrinya.
"Avior agak manja namun Alioth sama sekali tidak rewel, aku melihat keduanya memiliki sifat yang berbeda. Alioth tidak menangis saat aku menggendong Avior, namun Avior terlihat cemburu saat aku menggendong Alioth" tutur Luna, Rey tersenyum mendengar cerita Luna.
Rey melihat box bayi Alioth, bayi mungil itu belum terlelap. Rey mengangkat dan menggendong Alioth.
"Kau adalah kakak yang baik Alioth. Kau harus selalu menjaga Avior dengan sabar" ucap Rey sambil memeluk putranya.
"Sepertinya aku tahu sekarang kenapa Avior sangat pencemburu" ujar Luna sambil cemberut, Rey menoleh kepada istrinya dan mengernyitkan keningnya.
Sepertinya Rey belum paham apa yang Luna maksud.
"Dia mirip seperti ku" kata Luna, agak kecewa dnegan sifatnya sendiri.
"Apa buruknya menjadi pencemburu sweety?" tanya Rey menenangkan Luna.
"Entahlah.. tapi aku merasa buruk. Aku sangat kerepotan karena Avior tak mau bergantian dengan Alioth saat aku menggendongnya. Mungkin hal itu juga yang kau rasakan selama ini" kata Luna dengan wajah menyesal.
Rey menaruh kembali Alioth ke boxnya, bayi mungil itu sudah mulai mengantuk.
"Aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu, apa kau merasa keberatan dengan permintaan Avior?" tanya Rey lembut, Luna menggeleng.
"Mana mungkin aku merasa begitu, aku menyayangi mereka berdua" kata Luna.
"Itu juga yang aku rasakan, aku sangat sangat mencintaimu. Semua yang aku lakukan tulus dari dalam sini" Rey menaruh tangan Luna didadanya.
__ADS_1
Luna tersenyum mendengar ucapan suaminya, ia memeluk Rey dengan erat.
"Walaupun kita menikah setelah beberapa jam bertemu tapi aku tak pernah menyesal kau menjadi suamiku" Luna menciumi bahu suaminya.
Rey mengusap punggung Luna.
"Oia, dimana Rara?" tanya Rey karena ia juga tidak melihat Rara di ruang keluarga saat ke kamar.
"Mungkin dia sedang dikamarnya menonton drama kesukaannya" ujar Luna.
Rey melepaskan pelukannya.
"Apa dia sudah menemukan arti dari cinta yang aku sempat katakan padanya?" tanya Rey dengan wajah agak khawatir.
"Kenapa kau seperti tak mempercayainya?" Luna menjadi penasaran.
"Bukan seperti itu sweety, aku hanya ingin dia belajar sesuatu. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan untuk menjalin hubungan dengan seseorang yang belum ia kenal" tukas Rey menjelaskan.
Seketika Luna tertawa. Rey melihat Luna dengan tatapan bingung.
"Apa kau lupa hubby? Aku baru bertemu denganmu malam pukul 11 dan menikah pukul 6 pagi keesokan harinya. Apakah itu bukaan waktu yang cepat?" Luna terkekeh.
Rey terlihat berpikir dan menggaruk kepalanya dengan wajah malu.
"Kau benar, tapi aku tak bisa membiarkannya begitu saja" Rey terlihat bersikeras.
"Hubby.. Rara sudah besar. Dia sudah lama hidup terkungkung oleh ibunya, jangan membuatnya tertekan dengan rasa khawatir yang berlebihan. Dia akan sedih bila mengetahuinya. Jadilah kakak sekaligus sahabat untuknya, buat dia nyaman bukan takut" Luna memberikan pengertian kepad Rey.
Rey menghela nafasnya panjang.
"Ya kau benar, aku tak ingin Rara merasa takut padaku. Tujuanku hanya ingin melindunginya, namun aku tak mau melindunginya dengan cara yang salah"
"Emm.. apa menurutmu Armando bukan pria yang baik?" tanya Luna hati-hati.
Rey menoleh ke Luna dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Entahlah.. aku belum bisa 100% mempercayakan Rara pada siapapun" kata Rey.
"Kau tak harus mempercayai orang lain 100%, kau harus bisa melihat sisi baik dari orang tersebut. Aku sudah lama mengenal Armando, dia dari keluarga baik-baik dan aku mengenal kedua orang tuanya"
"Hemm... apa maksudnya ini? Apa kau secara terang-terangan mendukung kedekatan mereka?"
__ADS_1
Luna mulai gelagapan, ia takut mulutnya sembarangan memberitahu Rey tentang hubungan Rara dan Armando.
"Bukan begitu, hanya saja aku merasa mereka cocok sebagai sepasang kekasih"