Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
Menduga-duga


__ADS_3

Luna kembali dari negara KS sore ini, ia bergegas menuju apartemen. Rindunya sudah sangat memuncak. Namun saat Armando membukakan pintu mobil untuknya, Armando memberikan sekuntum bunga Lily untuk Luna.


"Terimalah bunga ini sebagai tanda cintaku, Rey" Armando membacakan tulisan yang ada di secarik kertas yang dipegangnya.


Luna tersenyum dan menerima bunga itu. Sepanjang perjalanan Luna mencoba menghubungi Rey, namun ponsel Rey tidak aktif. Luna menatap kesal ke arah bunga yang dipegangnya.


"Buat apa memberiku bunga tapi kau tidak menjawab teleponku" Gerutu Luna sambil menaruh bunga itu di kursi sebelahnya.


Wajahnya cemberut sampai tempat tujuannya. Di lobby apartemen, semua orang membawa bunga Lily putih dan memberikannya kepada Luna.


"Ada apa ini? Apa Rey yang melakukannya?" Luna bertanya dalam hati.


Sampai Luna akan masuk ke lift, penjaga lift memberikan sekuntum bunga Lily kepadanya. Luna mulai kesulitan membawa bunga Lily di tangannya. Saat pintu lift terbuka, Bobby sudah berada di depan Luna dan membantu Luna membawa bunga Lilly yang ada ditangannya.


"Silakan nona" Bobby membukakan pintu apartemen untuk Luna.


Luna masuk ke apartemen dengan hati yang berbunga-bunga.


"Haii cantik.." Rey berdiri di dekat sofa ruang tamu memandang lurus ke arah Luna yang baru saja masuk.


Luna melihat Rey dengan tatapan bahagia, ia ingin segera berlari dan memeluk suaminya itu.


"Jangan melangkah ke sini dulu, aku akan membimbing mu dan kau jalan selangkah demi selangkah" Rey memberikan arahan.


Luna mengangguk sambil tersenyum, ia sudah tidak sabar ingin memeluk Rey.


"Aku mencintaimu, apakah kau mencintaiku? Satu langkah bila kau tidak mencintaiku, dua langkah bila kau mencintaiku"


Luna maju dua langkah, Rey tersenyum jarinya menunjukan tanda cinta.


"Aku ingin memiliki mu seumur hidupku, satu langkah bila kau tidak menginginkanku dan dua langkah bila kau menginginkanku"


Luna maju lagi dua langkah.


"Apakah ini akan lama? Aku sangat ingin memelukmu" Luna mulai mengeluh.


Rey meletakan jari dibibirnya, memberi tanda Luna tak boleh protes.


"Bila aku sudah menjawab keduanya, apakah kau mau menikah denganku? satu lang..."


Luna langsung mengambil dua langkah besar sambil berlari dan berhambur dipelukan Rey.


"Aku mau aku mau aku mau" jawab Luna sambil menciumi bahu Rey.


Rey memeluk Luna dengan satu tangan, namun tak melunturkan niatnya untuk memeluk Luna lebih erat.


"Ini kejutan untukku?" tanya Luna merenggangkan pelukannya.


Rey mengangguk.


"Apa kau suka?" Luna mengangguk senang.


"Lain kali tidak perlu menanyakan hal yang kau sudah tahu jawabannya. Itu hanya membuatku semakin gemas untuk menciummu"

__ADS_1


"Memang itu yang aku mau"


Luna dan Rey menautkan bibir mereka, melepaskan segala rasa rindu yang melanda selama dua hari tak bertemu.


"Ehem..." Bobby berdehem untuk memberitahukan keberadaannya.


Rey melepaskan tautannya, Luna menoleh ka arah Bobby.


"Harus aku apakan bunga ini?" tanyanya polos.


"Kau suka bunga itu?" tanya Rey, Luna mengangguk.


"Tolong letakkan bunga itu di atas meja, terima kasih Bobby sudah membantuku"


Bobby meletakkan bunga yang dipegangnya di atas meja lalu melakukan tos tinju dengan Rey. Lalu ia keluar dari apartemen Luna.


"Buat apa kau membeli bunga sebanyak itu?" tanya Luna heran.


"Untuk menunjukan seberapa besar rasa cintaku untukmu" jawab Rey, Luna masih berada dipelukkannya.


"Apakah kau hanya menyiapkan bunga untukku?" tanya Luna penuh harap.


"Kau berharap yang lainnya?"


Luna mengangguk, namun ia malu memintanya kepada Rey. Rey mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


"Apakah ini yang kau harapkan?" Sebuah cincin emas putih dengan bentuk sederhana ia tunjukan kepada Luna.


Wajah Luna bertambah senang. Rey menyematkan cincin itu dijari manis Luna.


"Tidak apa-apa" ucap Luna lalu kembali memeluk Rey erat.


"Apa kau lelah?" tanya Rey, ia merasakan badan Luna sedikit gemetar.


"Aku merasa badanku kurang sehat hubby"


Rey mengajak Luna untuk duduk, Luna merebahkan tubuhnya dipangkuan Rey.


"Kau butuh istirahat, aku akan menyiapkan air hangat untukmu"


"Tidak perlu hubby, aku ingin disini saja bersamamu"


Luna memejamkan matanya, Rey mengelus rambut Luna perlahan-lahan. Sampai akhirnya Luna tertidur. Rey mengambil ponselnya. Ia meminta Bobby untuk masuk dan membantunya memindahkan Luna dari pangkuannya.


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Bobby heran melihat Rey berjalan ke arah dapur.


"Aku ingin memasak bubur untuk Luna, kemarilah dan bantu aku"


Bobby mengikuti permintaan Rey dan berjalan ke dapur.


"Tolong potong ini.." Rey memberikan dada ayam kepada Bobby.


"Bagaimana cara memotongnya?" tanya Bobby sambil mengambil pisau.

__ADS_1


"Menyerong seperti ini" ujar Rey sambil menyontohkannya, ia sedikit kesulitan menggunakan tangan satu.


"Baiklah.." Bobby mulai memotong daging ayam itu.


Rey menyalakan kompor, ia membuat bubur ayam dengan tambahan sedikit jahe agar badan Luna menjadi hangat. Luna terbangun mencium aroma masakan Rey.


"Bau apa ini?" ujar Luna sambil menutup hidungnya dengan jari telunjuk.


"Kau sudah bangun sweety? Aku membuatkan bubur untukmu"


"Bubur? Tapi kenapa baunya tidak enak seperti ini?" gerutu Luna, ia menahan aroma bubur itu dengan menutup rapat hidungnya.


Rey dan Bobby saling tatap, mereka mencoba mencium aroma bubur itu. Namun tak ada yang aneh dan tercium sangat wangi dan segar.


"Rasanya aku ingin muntah..."


Luna berlari ke kamar, lalu ia muntah di kamar mandi yang ada dikamarnya.


"Huweeekkk..."


Wajah Luna seketika menjadi pucat. Rey menghampiri Luna, dan memijat tengkuknya pelan.


"Ada apa sweety? Tubuhmu bergetar dan wajahmu terlihat sangat pucat" ujar Rey.


Luna mencuci mulutnya dengan air dan memeluk Rey, rasanya sangat nyaman dan membuatnya merasa lebih baik.


"Jangan kemana-mana, temani aku disini" kata Luna, Rey mengangguk.


Ia mengajak Luna untuk berbaring di tempat tidur.


"Kau harus makan lalu minum obat agar tubuhmu terasa lebih baik" ujar Rey, seraya beranjak keluar.


"Tidak tidak.... aku tak mau makan bubur itu, baunya menjijikan. Buatkan aku susu saja" rengek Luna.


Rey merasa aneh dengan tingkah Luna, namun ia mengikuti keinginan istrinya itu.


"Ada apa dengan nona? Bubur yang sedap ini dia bilang tak enak" ujar Bobby sambil menuangkan secentong bubur ke mangkok yang dipegangnya.


"Eeemmm rasanya enak dan hangat" sambungnya setelah menyuap bubur itu.


Rey mengangkat bahunya. Ia membuatkan susu untuk Luna dan Bobby membantunya menuangkan air hangat ke gelas yang sudah disiapkan oleh Rey.


"Luna mengatakan bau bubur itu menjijikan dan dia menolak memakannya" ujar Rey dengan nada sedih.


Bobby terdiam sejenak, lalu matanya terbelalak.


"Rey, apakah kau sudah melakukan itu dengan nona?" tanyanya dengan nada penasaran.


"Itu?" Rey balik bertanya tidak paham.


"Iya itu.. Haduuuh kau bodoh" Bobby menyontohkan dengan menautkan jarinya.


Wajah Rey memerah.

__ADS_1


"Kau sangat tak sopan menanyakan hal itu!" ujarnya kesal, ia memalingkan wajahnya dari Bobby.


"Jangan jangan nona....."


__ADS_2