Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
S2 - Pendamping


__ADS_3

Erika memukul pelan lengan Rey.


"Banyak hal yang terjadi Rey. Mulai dari aku bertemu dengan ayahku, menikah dengan Bobby dan hampir kehilangannya lalu aku hampir kehilangan nyawaku saat melahirkan Bintang" ungkap Erika sambil tersenyum.


"Ya kau benar, semua itu terjadi begitu cepat. Aku masih ingat betapa judesnya kau saat kita pertama bertemu, aku nyaris kau rebus saat itu" Rey terkekeh, pertemuan pertama dengan Erika memang tak bisa dia lupakan.


Erika merupakan salah satu pegawai Luna yang mencurigainya namun juga sering membantunya.


"Bagaimana bisa akhirnya kau bisa jatuh cinta pada Bobby? Dan hingga saat ini aku belum mengerti mengenai kalian makan mie bersama" ujar Rey sambil tersenyum usil.


Erika agak malu Rey mengingat hal itu, karena itu adalah ciuman pertamanya dengan Bobby.


"Apa saat kalian makan mie terjadi hal yang tidak terduga?" desak Rey sambil memicingkan matanya.


Ting..


Cookies sudah matang, Erika berdiri. Ia meninggalkan Rey dimeja makan dan mengangkat cookiesnya. Bobby datang, Bintang sudah tertidur pulas.


"Ada apa?" tanya Bobby saat melihat Rey seperti menunggu sesuatu.


"Kebetulan ada kau, bisakah kau ceritakan mengenai makan mie waktu itu?" tanya Rey sambil berbisik.


Karena Rey mengerti sepertinya Erika ingin menutupinya.


"Makan mie?" tanya Bobby heran, ia tak mengerti.


"Ya, saat itu kau canggung dengan Erika" Rey berusaha mengingatkan Bobby.


Bobby mengingatnya, lalu ia membisikan sesuatu pada Rey. Mata Rey membulat.


"Benarkah?" Rey meninju lengan Bobby pelan.


"Aku hebat kan" ucap Bobby bangga.


"Hebat apanya?" Erika datang dengan membawa cookies yang masih panas.


"Ahh.. tidak.." Bobby memberi kode pada Rey untuk tidak memberitahu Erika.


Rey mengangkat jempolnya sembunyi-sembunyi kepada Bobby.


♥️♥️♥️


Armando baru saja tiba dirumah mami, setelah mengantar Luna ke hotel untuk meeting dan kembali siang hari. Rara yang melihat sang pujaan hati langsung keluar dari balkon kamarnya namun ia agak bersembunyi agar Armando tak bisa melihatnya.


"Apa kau sudah makan siang?" tulis Rara dalam pesan singkat.


Armando duduk di kursi taman sambil mengeluarkan ponselnya. Ia tersenyum melihat pesan dari Rara, sepertinya Armando belum tahu bahwa Rara memperhatikannya dari balkon.


"Ya aku sudah makan siang tadi, dan kau?"


"Aku juga sudah.. Apa kau merindukanku?" Rara bertanya dengan wajah malu sambil melihat ke arah Armando.


Armando terlihat tertawa sambil memperhatikan ponselnya, ia menutup wajahnya malu. Cukup lama Rara menunggu balasan Armando, pria itu hanya tersenyum sambil melihat layar ponselnya.


"Kau tak merindukanku?" Rara mengirim pesan lagi dibubuhi emoticon kesal, ia tak sabar menunggu balasan Armando.

__ADS_1


"Kenapa kau bertanya begitu?" balas Armando membuat Rara tidak puas.


"Kau membalas pertanyaanku dengan pertanyaan lain, apa begitu sulit mengatakan bahwa kau merindukanku?" Rara semakin kesal.


Armando tertawa lagi, Rara melihat Armando dengan wajah sebal. Ia menghentakkan kakinya pelan.


"Kau ingin bertemu?" Tanya Armando, Rara mengulum senyumnya.


Armando dan Rara sejak pagi tidak bertemu karena Luna berangkat sebelum Rara bangun tidur.


"Bisakah kau menjawab dulu pertanyaanku?" Rara memaksa.


"Kau tak bisa merasakan apa yang aku rasakan?" Armando masih tak menjawab pertanyaan Rara, membuat Rara menjadi gemas.


"Tidaaak.. aku tak bisa merasakannya!" Rara akhirnya berteriak dari balkon kamarnya.


Armando menoleh ke arah Rara, ia tersenyum.


"Rindunya sudah hilang, yang ku rindukan sudah ada dihadapanku" Armando mengirim pesan lagi lalu melambaikan tangannya ke arah Rara.


Rara membaca pesan dari Armando dan menahan senyumnya. Saat Rara menoleh kembali ke Armando, kekasihnya sudah tidak ada.


"Apa kau mencariku?" Tiba-tiba Armando sudah ada dibelakang Rara.


"Bagaimana mana bisa..." Rara terkejut, ia melihat ke bawah dan ke Armando bergantian.


Armando tersenyum.


Cekrek...


"Rara.. apakah kau mau ikut mami ke salon?" tanya mami saat masuk ke kamar Rara.


Rara berjalan cepat menghampiri mami.


"Emm.. aku.."


Mami melihat pintu keluar ke arah balkon terbuka.


"Kau sedang apa disana?" tanya mami heran.


"A.. aku hanya ingin melihat cuaca diluar mi" ujar Rara agak gugup, ia takut mami mengetahui ada Armando.


"Apa kau sedang bersama pengawal itu?" tanya mami curiga, ia berjalan cepat keluar menuju balkon.


Rara tak bisa mencegahnya, ia mengikuti langkah mami dengan perasaan cemas.


"Wah.. disini udaranya segar" ujar mami, ia melihat ke arah bawah.


Ada Armando sedang membaca buku didekat mobil Luna. Mami melirik ke arah Armando, Rara menghela nafas lega.


"Jadi.. kau mau ikut mami ke salon?" mami bertanya lagi.


Rara mengangguk, ia tak mau membuat mami semakin curiga. Mami keluar dari kamar Rara, Rara mengganti pakaiannya. Sebenarnya ia ingin tetap berada dirumah dan bertemu Armando lebih lama.


Rara keluar dari kamar dengan wajah agak murung. Mami menunggu mami di ruang tamu.

__ADS_1


"Kau sudah siap?" tanya Mami antusias.


Rara mengangguk pelan. Mami berjalan keluar mendahului Rara, Rara mengikuti langkah mami sambil menunduk.


"Ayo Rara.." mami memanggil Rara karena Rara berjalan perlahan.


Pintu mobil sudah dibuka, Rara masuk ke dalam lalu memakai sabuk pengaman. Ia memainkan ponselnya dengan wajah cemberut.


"Rara, kau ingin makan sesuatu sebelum kita ke salon?" tanya mami.


Rara menggeleng, rasanya ia hanya ingin kembali pulang.


"Kenapa kau murung begitu? Kau tak suka pergi dengan mami?" tanya mami lagi.


"Aku suka mi" jawab Rara datar, ia mengangkat wajahnya.


Rara merasa agak bingung.


"Kenapa aku duduk didepan?" gumamnya dalam hati.


Rara menoleh ke kursi pengemudi, matanya membulat. Armando tengah berada disampingnya dan fokus menyetir. Rara mengulum senyumnya, ia tak menyangka Armando yang akan mengantarnya ke salon bersama mami.


"Dasar anak muda" gerutu mami, Rara menoleh ke arah mami.


"Terima kasih mamiiii" ucap Rara manja.


Armando tersenyum tipis, ia harus tetap menjaga sikapnya didepan mami.


"Sudah jangan menoleh ke sini, bukankah kau senang ada pengawal itu disampingmu?" ujar mami dengan nada usil.


Rara mengangguk malu-malu.


"Tapi jangan lupakan ada mami disini" ujar mami, lalu ia sibuk dengan ponselnya.


Rara menoleh lagi ke Armando.


"Hai.." sapa Rara sambil berbisik.


Armando melirik sedikit dan tersenyum.


"Hai.." balas Armando dengan berbisik juga.


Akhirnya mereka berbicara berbisik-bisik.


"Aku senang kau disini" ucap Rara.


"Ya aku juga senang bisa bersamamu"


Mereka berdua tersenyum malu, mami memperhatikan mereka dari belakang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Fokuslah menyetir, tapi biarkan aku memperhatikanmu" ujar Rara sambil tersenyum.


Armando mengangguk mendengar permintaan kekasihnya. Rara mengambil ponselnya dan mengambil foto Armando diam-diam.


"Melihat kalian seperti itu membuat mami ingin menjadi muda kembali, apakah sebaiknya mami mencari pendamping?"

__ADS_1


__ADS_2