
Bobby menarik tangan Yasmin, dan membawanya ke mobil. Sebelumnya ia mengikat Yasmin dengan borgol.
"Aku tidak bersalah! Seharusnya kau matiii!" Teriak Yasmin saat mobil mulai melaju.
"Katakan itu pada nona muda" Bobby menjawab singkat dengan tegas.
"Rey terlalu baik, dia tidak pantas bersama Luna! Aku adalah yang terbaik untuknya!! Dan kau adalah penghalang terbesar yang sudah menghadang jalanku!"
"Diamlah nona atau kau akan menyakiti dirimu sendiri! Tuan Rey belum sadar dan kau bertanggung jawab atas hal itu"
"Apa? Ternyata benar mereka salah... Rey ku.. huuuu" Yasmin menangis.
"Aku mau bertemu dengannya, bawa aku bertemu dengan Rey..." Yasmin menarik-narik tangan Bobby.
Bobby melepaskan pegangan tangan Yasmin dengan kasar lalu menghentikan laju mobil.
"Kau terlalu berisik!" Bobby mengambil lakban yang ada di dasbor mobilnya, lalu menutup mulut Yasmin.
Yasmin melihat kesal kepada Bobby yang bertindak semena-mena pada dirinya. Sesampainya di rumah sakit, Bobby menarik paksa lengan Yasmin. Orang-orang yang berada di rumah sakit memperhatikan mereka.
"Maaf mengganggu ketenangan kalian, adikku sedang terkena gangguan jiwa karena putus cinta" ucap Bobby sambil tersenyum manis kepada semua orang yang melihatnya.
Orang-orang pun memaklumi mereka, Yasmin semakin kesal mendengar kata-kata Bobby. Ia menginjak kaki Bobby dengan kencang. Bobby menatap Yasmin tajam, Yasmin membalas tatapan Bobby dengan wajah kesal. Bobby memalingkan wajahnya lalu kembali menarik Yasmin.
"Nona..."
Bobby masuk ke dalam ruangan Rey dan melempar Yasmin ke lantai. Luna yang sedang memperhatikan Rey yang belum sadar langsung menoleh dan berdiri lalu menghampiri Yasmin. Luna berjongkok dan membuka lakban dari mulut Yasmin.
"Kau lihat itu, Rey sedang merenggang nyawa karena ulahmu! Berhentilah berusaha memisahkan aku darinya!" ujar Luna geram, namun ia memelankan suaranya karena mereka ada dirumah sakit.
"Aku tidak memiliki maksud melukai Rey. Aku mencintainya, bila aku mau aku lebih memilih untuk menyakitimu" ujar Yasmin tanpa kenal takut.
Luna menjambak rambut Yasmin dengan kuat, ia sangat kesal melihat wajah sahabatnya itu.
"Kau tahu, Rey akan terluka bila dia dipisahkan dariku. Aku adalah wanita yang dicintainya! Sadarlah Yasmin" Luna melepaskan rambut Yasmin dengan kasar.
"Kau terlalu serakah! Wanita sepertimu lebih pantas bersama Samuel, kau sama sepertinya. Sama-sama sampah!" Yasmin membuat Luna bertambah kesal.
"Terkadang aku tak paham bagaimana bisa aku bersahabat begitu lama denganmu!" Ia hendak menampar wajah Yasmin, namun ia mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Rey tidak akan suka bila aku bertengkar dengan mu" Luna berusaha mengendalikan emosinya.
"Luna, izinkan aku melihat Rey" Yasmin memohon.
"Apa katamu?! Berani sekali kau memintanya padaku!" Luna benar-benar kehilangan kesabarannya menghadapi Yasmin.
Bobby segera menahan Luna. Ia menggelengkan kepalanya Luna membalikan badannya mendekati Rey.
"Bawa dia pergi, kepalaku pusing melihatnya! Kembalikan dia ke galerinya dan pastikan kau selalu mengawasinya! Aku tak mau dia melakukan hal gila lagi kepada Rey!"
Bobby menarik lengan Yasmin. Yasmin memberontak, ia berlari ke arah Rey.
"Rey, maafkan aku. Maafkan aku Rey...." ucapnya lirih, ia menempelkan kepalanya di dada Rey karena ia tak bisa menyentuh Rey tangannya masih diikat.
Luna menarik bahu Yasmin kasar, menjauhkannya dari Rey.
"Jangan menyentuhnya! Kau hampir membunuhnya, kau sadar itu!" bentak Luna, Yasmin menangis melihat kondisi Rey.
Sekali lagi Bobby menarik Yasmin dan menutup kembali mulutnya.
"Kau itu terlalu membuatku repot!" gerutu Bobby sambil membawa Yasmin keluar dari ruang rawat Rey.
"Mintalah kepada pegawai mu untuk membuka borgol itu" Bobby membuka penutup mulut Yasmin dan memberikan kunci borgol ke tangan Yasmin.
Yasmin berjalan masuk ke galerinya mengetuk pintu dengan kepalanya. Bobby berlalu pergi, Luna menelpon Bobby menyuruhnya kembali ke rumah sakit.
"Selamat siang nona" Bobby masuk ke dalam ruang rawat Rey, matanya terbelalak melihat Rey yang sudah siuman.
"Rey.. kau sudah sadar?" Bobby menghampiri Rey dan memeluknya, ia bersyukur sahabatnya mulai pulih sehingga ia lupa memanggil Rey tanpa tambahan kata tuan didepannya.
"Aku senang kau baik-baik saja Bobby" Rey tersenyum sambil menepuk punggung Bobby, tangan kiri Rey masih mati rasa akibat racun yang menyebar.
Luna melihat persahabatan yang erat antara keduanya. Ia duduk disofa yang ada disudut ruangan itu sambil memainkan ponselnya.
"Maafkan aku Rey, karena menolongku yang ceroboh kau jadi begini" Bobby terdengar sangat menyesal.
"Aku berjanji pada Erika untuk menjagamu, itu adalah janjiku sebagai temannya dan aku harus menepatinya" Rey tersenyum.
"Terima kasih kawan, kau benar-benar sahabat baikku"
__ADS_1
"Kau sudah menolong ku begitu banyak, bahkan kau membantuku saat aku sedang berada dalam kesulitan"
"Itulah gunanya teman" Rey dan Bobby menautkan tangan mereka menunjukan rasa solid persahabatan.
"Drama yang kalian tunjukan membuatku kesal, bahkan saat ini aku sudah tidak memiliki sahabat!" gerutu Luna, matanya masih tertuju pada ponselnya.
"Kemarilah sweety, jangan cemberut seperti itu. Bila kau mau memaafkan nona Yasmin aku yakin kalian bisa bersahabat kembali"
Luna memanyunkan bibirnya, ia berjalan ke arah Rey dan duduk di sisi kanan tempat tidur.
"Mana mungkin aku bisa memaafkannya, apa yang dia lakukan sudah diluar batas!"
"Aku tidak bisa memaksamu, aku hanya bisa memberikanmu saran" Rey menatap wajah Luna lekat.
"Jangan memandangku seperti itu, kau membuatku seperti penjahat" rengek Luna.
"Kau tidak jahat, bila aku jadi kau mungkin aku akan memusuhi Bobby" ujar Rey sambil tertawa.
"Benarkah kau akan memusuhiku?" Bobby terkejut.
"Hahaha apakah kau berencana mengambil istriku?" Rey bertanya dengan wajah iseng, Luna melihat Rey yang berusaha ceria menjadi sedikit sedih.
"Aku tidak berani" Bobby berkata dengan suara pelan, ada Luna didepannya yang bersiap melotot ke arahnya.
Bobby dan Rey tertawa bersamaan. Luna hanya tersenyum melihat kedekatan mereka.
"Kau sangat hebat Bobby, dalam sekejap kau bisa menemukan mereka dan meringkusnya"
"Tuan Jiraiya membuatku merasa sangat kecil, bahkan ia bisa mengetahui siapa dibalik semua ini hanya dengan sebuah kata" Bobby memikirkan cara Jiraiya membaca situasi.
"Dia belum kehilangan taringnya dalam hal penyelidikan" ujar Luna, ia sangat kagum pada Jiraiya sejak kecil.
Setahu Luna hanya satu yang tak dapat dilakukan Jiraiya selama ini, menyembuhkan penyakit ayahnya hingga meninggal namun Luna tidak pernah menyalahkan Jiraiya.
"Aku masih harus banyak belajar darinya" ucap Bobby.
Bobby tersenyum, ia merasa lega dengan keadaan Rey yang sudah membaik.
"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Erika?" Luna bertanya penasaran.
__ADS_1
"Sepertinya aku berencana akan memajukan hari lamaranku untuknya, sebelum ia berubah pikiran karena banyaknya masalah yang aku sebabkan akhir-akhir ini"