
Bobby tertawa lepas melihat wajah Ben.
"Maafkan aku soal waktu itu tuan, aku hanya memperingatkanmu untuk tidak mengganggu nona"
Luna tersenyum lebar mendengar kata-kata Bobby.
"Itu hanya salah paham Ben, Bobby hanya menjalankan tugasnya. Aku akan pastikan hal itu tidak terjadi lagi" kata Luna menjelaskan, tangannya masih melingkar indah dilengan Rey.
Luna menoleh ke arah Rey yang ternyata dari tadi memperhatikan Ben. Ia menarik tangan Rey menjauh dari Ben dan Bobby yang mulai asik mengobrol.
"Kenapa kau melihatnya seperti itu hubby? Apa ada yang salah?" tanya Luna dengan suara pelan.
"Emm tidak sweety, aku hanya ingin tahu lebih jauh tentang pria itu" kata Rey sambil menoleh ke arah Ben.
"Untuk apa?" Luna menjadi heran.
"Ya setidaknya aku harus tahu mengenai pria-pria yang pernah berusaha mendekatimu" ujar Rey jujur, Luna tersenyum melihat Rey yang terlihat cemburu dan itu untuk pertama kalinya.
"Dia pria yang baik hubby, dia tidak seperti Samuel" Luna mengusap punggung suaminya dengan lembut.
"Itulah yang membuatku merasa lebih khawatir"
"Aku hanya mencintaimu hubby, hanya kau..." bisik Luna membuat wajah Rey memerah.
"Tentu saja aku juga mencintaimu sweety, lebih dari segalanya" ucap Rey sambil mengelus perut istrinya.
"Jangan merasa khawatir lagi, dalam hatiku hanya ada kau dan si mungil yang akan menghiasi hidup kita"
"Maafkan aku sweety, aku hampir saja termakan oleh rasa cemburu yang tak beralasan. Sangat sulit memiliki istri yang menakjubkan sepertimu"
"Ini pertama kalinya kau cemburu, bahkan dengan Samuel kau tak pernah terlihat seperti ini" Luna mencubit pipi Rey pelan.
"Sam terlihat seperti seorang pelawak yang mewarnai kehidupan rumah tangga kita" ujar Rey sambil tertawa, Luna ikut tertawa mendengar kelakar suaminya.
Ben yang melihat kemesraan Luna dan Rey menjadi bertambah sadar bahwa tak ada sedikitpun celah baginya untuk mendekati Luna.
♥️♥️♥️
__ADS_1
Yasmin sampai di apartemennya, ia menggendong Sheryl dengan hati-hati. Samuel membawakan semua barang bawaan Yasmin dengan susah payah.
"Kita sudah sampai sayang..." ucap Yasmin sambil menatap bayinya penuh rasa sayang.
Samuel memasukan semua barang-barang kedalam kamar, Yasmin menaruh Sheryl ditempat tidur mungilnya. Putrinya terlihat sangat lucu dengan jumper pink yang menambah sisi imut bayi kecil itu.
"Ahh.. pinggangku terasa pegal" keluh Samuel sambil memiringkan badannya ke kanan dan kiri.
"Baru begitu saja kau mengeluh? Sembilan bulan aku membawa Sheryl kemana pun aku pergi tapi aku tidak mengeluh" seru Yasmin sebal mendengar keluhan Samuel.
Samuel diam saja, ia sangat terbiasa dengan omelan Yasmin. Samuel mendekati box kecil Sheryl.
"Berhentilah memarahiku, Sheryl akan sedih bila tahu papinya yang tampan terus menerus dimarahi oleh maminya" ucap Samuel sambil melihat Sheryl yang tertidur pulas.
Yasmin hanya mendengus kesal. Samuel terlihat sangat menyayangi Sheryl, ia memegang tangan Sheryl dengan lembut dan menciuminya.
"Jangan sentuh bayiku bila kau belum cuci tangan!" lagi-lagi Yasmin membentak Samuel, Samu tersentak ia lupa belum mencuci tangan.
Samuel langsung berlari ke kamar mandi dan mencuci tangannya dan kembali melihat Sheryl. Wajahnya memang sangat bahagia dengan kehadiran Sheryl dalam hidupnya.
"Sebentar lagi aku akan berangkat untuk syuting, apakah kau perlu seorang baby sitter untuk menjaga Sheryl?" tanya Samuel, Yasmin seperti berpikir.
Rumah tangga yang masih terlihat hanya seperti dua orang yang tinggal bersama tanpa cinta, namun dengan kehadiran Sheryl ada sedikit kehangatan yang terpancar dari kedua orang tuanya walaupun hanya kepada bayinya.
Ting tong..
Bel apartemen Yasmin berbunyi, Gio datang untuk menjemput Samuel. Tak lupa Gio membawakan hadiah-hadiah yang diberikan penggemar Samuel yang dikirimkan ke agensinya.
"Apa ini?" Yasmin terkejut dengan banyaknya hadiah yang dibawa Gio.
Hadiah itu dibawa Gio dengan bantuan mobil box yang biasa digunakan orang yang akan pindah rumah.
"Kau tahu aku ini aktor terkenal, semua penggemarku mencintai dan memujaku. Kabar lahirnya anakku menyita perhatian mereka" ujar Samuel bangga, Yasmin hanya mencibir tak suka namun apa yang dikatakan Samuel adalah hal yang benar.
"Apartemenku terlihat seperti sebuah toko hadiah Sam! Apa ada lagi diluar sana?" tanya Yasmin pada Gio, Gio mengangguk membuat Yasmin menepuk keningnya.
"Ini akan memakan waktu lama" kata Yasmin sambil menghela napas.
__ADS_1
"Kau harus bersyukur memiliki suami seperti ku, kau tak perlu membeli apapun untuk keperluan Sheryl" ujar Samuel sambil berjalan santai ke arah pintu.
Yasmin menarik kerah kaos Samuel.
"Dalam keadaan apartemenku seperti ini kau akan pergi?"Yasmin melotot kesal.
"Bereskan dulu semua itu dan kau boleh pergi!" ucap Yasmin kesal.
Terdengar suara tangisan Sheryl, Yasmin langsung masuk ke dalam kamar.
"Cup cup sayang, ada mami disini.." Yasmin menenangkan bayinya, namun saat akan disusui Sheryl menolak dan terus menangis.
Mendengar Sheryl yang tak henti menangis, Samuel masuk ke kamar. Ia meminta untuk menggendong Sheryl, seketika tangis Sheryl terhenti namun matanya yang bulat tidak terpejam malah melihat lantang ke arah papinya.
"Kenapa Sheryl diam saja?"tanya Yasmin heran, ia melihat bayinya yang lucu menatap Samuel dengan tatapan serius.
"Apa Sheryl tak mau aku pergi?" Samuel balik bertanya kepada Yasmin.
Yasmin menaikan kedua bahunya, Samuel memberikan Sheryl kepada Yasmin. Namun Sheryl menangis kembali, Samuel mengurungkan niatnya melepaskan Sheryl.
"Bagaimana ini? Aku harus berangkat syuting" Samuel melihat ke arah Yasmin.
"Mana aku tahu, Sheryl tak mau bila aku gendong dan dia tidak tidur. Kau harus menidurkannya dulu"
"Hemmm baiklah, princess cantik ayo kita tidur"
Samuel bersenandung seadanya untuk menidurkan Sheryl. Tak lama putrinya itu terlelap kembali, pelan-pelan Samuel menaruh Sheryl ke tempat tidurnya.
"Cepat keluar sebelum ia bangun lagi..." usir Yasmin sambil berbisik.
Baru akan memegang gagang pintu, Sheryl kembali menangis. Yasmin berusaha menggendong dan menyusuinya kali ini Sheryl mau menyusu tapi wajahnya seperti menahan tangis.
"Wajahnya terlihat sangat sedih" kata Yasmin, Samuel yang sudah berada didekat pintu mendekati Yasmin dengan ragu.
Sambil menutup mata karena tak mau melihat Yasmin sedang menyusui anaknya Samuel mengusap kepala Sheryl.
"Papi akan pulang segera dan menggendongmu lagi ya cantik, mami yang akan menemanimu sampai papi pulang" bisik Samuel pada Sheryl.
__ADS_1
Berangsur-angsur wajah Sheryl berubah menjadi tenang. Samuel keluar dari kamar dan segera berangkat. Yasmin menghela napas lega melihat Samuel sudah pergi, Ia menatap Sheryl.
"Tak apa kau suka pada papimu, asalkan tingkah laku dan sifatnya tidak menurun padamu"