
Dokter memindahkan Yoshida ke ruang rawat intensif, Jiraiya diminta untuk menunggu di luar ruangan. Tak lama Rey datang, Jiraiya membungkukkan badannya memberi hormat pada Rey. Melihat wajah Jiraiya yang gusar, Rey memiliki perasaan tak enak.
"Ada apa Jiraiya?" tanya Rey masih berusaha berpikir positif.
"Ayah anda diracuni oleh seseorang tuan" ucap Jiraiya penuh ke hati-hatian.
"Apa?!" seru Rey tak percaya, ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Saya sudah meminta Bobby mengecek cctv yang ada dirumah sakit ini, kita akan segera mengetahui siapa pelaku dan mengejarnya" kata Jiraiya, ia mengerat jemarinya kuat-kuat karena kesal.
Rey memejamkan matanya sebentar, ia menahan sesak didadanya.
"Aku percaya padamu, lalu bagaimana keadaan ayahku?" tanya Rey mulai khawatir.
"Dokter berusaha menyelamatkannya, namun kondisinya masih belum stabil" kata Jiraiya, Rey terduduk ia merasa sangat terpukul.
Ponsel Jiraiya berbunyi, Bobby yang menelponnya. Jiraiya mengangguk-angguk sesekali ia melirik ke arah Rey yang terlihat frustasi. Perawat mengizinkan Rey masuk, ayahnya sadar dan ingin bertemu dengannya.
Rey memakai pakaian khusus, ia melihat ayahnya terkulai lemah di ranjang.
"Ayah.." panggil Rey lirih.
Yoshida membuka matanya perlahan mendengar Rey memanggilnya.
"Rey.. maafkan ayah.." ucap Yoshida terbata-bata.
Rey menggenggam jemari Yoshida, Ia mengangguk dengan yakin.
"Tolong jaga Rara... jauhkan dia dari ibunya.. arghh..." Yoshida mengerang, dadanya terasa sakit.
Rey meneteskan air matanya, ia menekan tombol untuk memanggil dokter. Namun...
Tiiiiiiiiitttt......
Denyut jantung ayahnya dilayar monitor sudah bergerak datar.
"Ayah... ayah.... AYAAAAHHH....." tangis Rey pecah, dokter datang dan memeriksa Yoshida.
Jiraiya masuk menahan tubuh Rey yang ingin mendekat kepada ayahnya, dokter menutup seluruh tubuh ayah Rey dengan selimut putih yang membalut tubuhnya sejak tadi. Dokter menatap Rey dan menggeleng.
"Catat waktu kematiannya.." ujar dokter pelan kepada perawat yang berada disebelahnya.
__ADS_1
"Kami turut berduka tuan Rey, namun racun itu sudah merusak sel-sel yang ada ditubuh ayah anda" ucap dokter.
Tubuh Rey gemetar, ia benar-benar kehilangan ayahnya. Jiraiya memeluk Rey yang mulai lemas, Rey menatap tubuh kaku ayahnya dengan nanar.
"Ayah.. maafkan aku karena belum bisa berbuat banyak untukmu" ucap Rey dengan deraian air mata.
♥️♥️♥️
Pemakaman Yoshida dilakukan keesokan harinya, nampak Rara memeluk erat kakaknya sambil menangis histeris. Pandangan Rey kosong, Luna hanya bisa duduk disisi lain tubuh Rey sambil menggenggam erat jemari suaminya yang tak henti gemetar.
Semua pelayat mengucapkan bela sungkawa, Rey tetap berusaha tersenyum dengan wajar menghargai semua orang yang datang. Tak nampak Bobby dan beberapa pengawal kepercayaan Luna.
"Hubby.. ayo kita pulang" ajak Luna setelah acara pemakaman selesai, Rara sudah pulang bersama mami karena Rey memintanya untuk beristirahat.
"Aku masih ingin bersama ayah sebentar" kata Rey sambil memaksakan senyumnya kepada Luna.
Luna mengelus punggung suaminya, ia menatap pusara ayah mertua yang tak sempat tahu ada cucu kembar dirahimnya.
"Ayah.. terima kasih karena kau sudah menghadirkan pria luar biasa untukku" ucap Luna, Rey menatap istrinya lekat.
Tak pernah disangka olehnya, Luna akan mengatakan hal itu. Rey memeluk erat istrinya, air matanya mulai menetes kembali.
"Aku pikir kau membenci ayahku" bisik Rey dengan suara serak.
"Tak mungkin aku membenci pria yang sudah menghadirkanmu ke dunia hubby" kata Luna, Rey terharu dengan pemikiran baik istrinya.
"Aku akan ke mobil lebih dulu" ucap Luna, ia melepaskan pelukkannya.
Rey mengangguk, ia meletakan telapak tangan Luna diwajahnya.
"Terima kasih sweety.."
Luna tersenyum lalu berjalan perlahan ditemani oleh Jiraiya ke mobil. Rey berjongkok dan memegang nisan ayahnya.
"Ayah.. aku akan menjaga pesan terakhirmu. Aku akan menjaga Rara dengan sebaik-baiknya, walaupun saat ini dia tidak tinggal bersamaku tapi aku pastikan dia bersama orang yang tepat dan menyayanginya dengan penuh kasih sayang. Selamat tinggal ayah, kau akan selalu ada dalam doaku" ucap Rey, ia mengusap pusara ayahnya dengan lembut.
Rey berdiri, ia menatap langit sambil berdoa kepada Tuhan. Tak lama ia meninggalkan makam ayahnya dan menyusul istrinya ke mobil.
"Orang yang meracuni ayah tuan sudah tertangkap, mereka sudah ada dikantor polisi saat ini" ucap Jiraiya, Rey terkejut mendengar perkataannya.
"Kau pergilah ke kantor polisi bersama Jiraiya, badanku terasa sakit. Aku ingin istirahat di apartemen" kata Luna, Rey mengangguk paham.
__ADS_1
Setelah mengantar Luna ke apartemen, Rey dan Jiraiya bergegas ke kantor polisi.
"Siapa pelakunya? Dan tadi kau menyebut mereka? Apakah mereka yang kau maksud adalah sebuah komplotan?" tanya Rey, ia terlihat sangat emosional saat itu.
"Tuan akan mengetahuinya nanti, saya tidak dapat mengatakan apapun saat ini" Jiraiya mencoba menenangkan Rey.
Sepanjang perjalanan Rey terus memikirkan ayahnya. Tak ada yang pernah menyangka ayahnya akan pergi untuk selamanya secepat itu. Rey sangat kehilangan.
Setelah sampai di kantor polisi, terlihat beberapa pengawal Luna menunggu kedatangannya disana. Mereka berniat untuk mengucapkan bela sungkawa pada Rey.
"Terima kasih semua" ucap Rey, ia membungkukkan badan menghormati semua orang yang turut berduka atas kepergian ayahnya.
"Rey.." Bobby memeluk sahabatnya itu.
"Maaf aku tak bisa menemanimu saat-saat seperti ini" sambungnya dengan wajah sedih.
"Aku paham, kau sedang mengejar pelakunya. Terima kasih kau sudah membantuku" Rey tersenyum dengan wajar.
Rey memasuki kantor polisi dengan rasa penasaran yang sangat tinggi. Mata Rey terbelalak saat melihat pelaku yang sudah meracuni ayahnya.
"Cepat keluarkan aku dari sini!" bentak wanita yang sedang diintrogasi polisi kepada Rey.
Rey menatap nanar wanita itu. Siapa lagi kalau bukan Feli, ibu Rara. Wanita itu membunuh ayah Rey untuk mendapatkan uang asuransi kematian.
"Dia adalah anak tiriku pak polisi, dia ke sini untuk membebaskanku!" ucap Feli dengan yakin.
Suami Feli menunduk malu melihat Rey yang menatap istrinya dengan tatapan sedih.
"Ayahku sudah meninggal.." ucap Rey, Feli tertawa mendengarnya.
Wanita itu memang sudah sangat g**a oleh uang.
"Bagus kalau begitu, sekarang kau berikan uang jaminan pada mereka dan lepaskan aku. Aku akan mengurus semua uang asuransi ayahmu, kau dan Rara tetap akan ku berikan bagian" ucap Feli dengan antusias.
"Apa hanya itu yang ada dipikiranmu?" tanya Rey dengan suara menahan kepedihan.
"Hidup itu butuh uang.. Tak usah kau berpura-pura kepadaku, apa kau pikir aku tak tahu mengapa kau menikah dengan wanita kaya itu? Hah! Ya pasti karena ia mempunyai banyak uang.. Hahaha" Feli mengatakannya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Rey menatap ibu tirinya dengan tatapan kasihan.
"Kau ingin uang?" tanya Rey, Feli menatap Rey dengan yakin dan mengangguk.
__ADS_1
Rey mengambil dompetnya, dan mengeluarkan semua uang yang ia miliki.
"Ambil uang ini dan kembalikan ayahku!"