
Yasmin tak menoleh ke Samuel, ia kelepasan bicara.
"Hal itu akan ku pertimbangkan nanti, untuk saat ini aku pikir bisa memiliki kamar sendiri" ucap Yasmin mencari alasan.
"Ayolah, bila memiliki rumah kita akan punya kamar yang besar seperti di apartemen ini untuk kita berdua dan Sheryl akan aku berikan kamar lain yang juga besar dengan cat berwarna merah muda" bujuk Samuel, Yasmin menahan senyumnya.
Yasmin berdehem.
"Aku sudah bilang akan mempertimbangkannya" ucap Yasmin lagi.
"Bila kau bicara begitu aku menjadi berharap lebih, jadi ku mohon jangan mengatakan kau tidak mau diakhirnya" Samuel memohon.
Yasmin mengulum senyumnya, ia ingin sengaja menarik ulur perasaannya untuk Samuel. Yasmin sangat tahu semua pria akan berubah bila wanitanya mencintai pria tersebut, hanya Rey yang tak pernah berubah. Kira-kira itu yang ada dibenak Yasmin selama ini.
"Sudahlah Sam, jangan bicara terus. Buktikan saja bila kau memang ingin membeli sebuah rumah untukku dan Sheryl" Yasmin menantang.
Samuel mendekati Yasmin dan memperlihatkan layar ponselnya.
"Ini.."
Mata Yasmin membulat, gambar sebuah rumah yang cukup besar dan terlihat nyaman. Sangat cocok untuk membangun keluarga kecilnya.
"Apakah ini hanya sebuah gambar?" Yasmin bertanya seperti acuh.
"Gio berkata aku akan mendapatkan sebuah rumah jika kita mau menandatangani sebuah program acara reality show. Banyak sekali penggemarku yang ingin tahu kehidupan rumah tangga kita" kata Samuel dengan semangat.
"Rumah ini akan diberikan kepada kita secara gratis?" Yasmin setengah terkejut.
Samuel mengangguk yakin, Yasmin seakan tidak percaya. Sepertinya Yasmin Luna bahwa suaminya adalah aktor yang sangat terkenal.
"Hem.. Tapi aku tidak mau setiap hari harus diikuti kamera" kata Yasmin.
"Kau bisa membaca kontraknya dulu, dan merevisi bagian yang membuatmu keberatan. Aku akan mendukung setiap protes darimu atas kontrak yang mereka berikan"
Yasmin menatap Samuel, Samuel ingin meyakinkan Yasmin.
"Apakah kita akan seumur hidup mengikuti reality show itu?" tanya Yasmin.
"Tentu tidak istriku yang cantik, kontrak terus diperbaharui setahun sekali. Kau harus tahu siapa suamimu ini, banyak televisi melakukan survey tentang program yang akan kita lakukan. Dan hasilnya sangat banyak yang ingin melihatnya" ujar Samuel dengan bangga.
Yasmin terkekeh.
"Aku tidak menyadari, ternyata selama ini aku menikah dengan pria yang sangat sangat populer" ungkap Yasmin dengan nada meledek.
Samuel terlihat jumawa, ia memegang kedua kerah kemejanya.
"Sayangnya kepopuleranmu itu tidak berpengaruh apapun padaku" ucap Yasmin lagi sambil menatap malas ke Samuel.
Wajah Samuel berubah sedikit kecewa.
"Apapun yang kau katakan aku akan tetap mencintaimu"
__ADS_1
Samuel langsung mencium kening Yasmin secepat kilat sebelum istrinya menghindar lalu ia berjalan cepat masuk ke kamar mandi. Yasmin tersenyum dan memegang kening yang baru saja dicium oleh suaminya.
"Mungkin tidak buruk bila malam ini aku mengizinkannya untuk tidur dikasur yang sama denganku" ucap Yasmin sambil tertawa kecil.
♥️♥️♥️
Rey masuk ke dalam rumah, ia melihat Armando sedang berjaga seperti biasa di gazebo yang ada didekat tempat parkir.
"Kau tidak istirahat Armando?" tanya Rey dengan ramah.
Armando segera berdiri dan membungkukkan badannya saat melihat Rey.
"Selamat malam tuan, saya akan berjaga sampai pukul 12 malam ini" ucap Armando dengan wajah tegas.
Rey melihat sebuah cangkir kosong didekat tempat duduk Armando.
"Isilah lagi cangkirmu, udara disini cukup dingin" kata Rey.
Armando mengangguk.
"Baik tuan nanti saya akan mengisinya kembali"
Rey menepuk bahu Armando.
"Bekerjalah dengan baik" ujar Rey sambil berjalan ke arah pintu masuk.
Armando membungkukkan badannya kembali.
Tuan Rey sangat baik, apakah tuan benar-benar sudah bisa menerima hubunganku dengan adiknya?
Cling..
Sebuah pesan masuk ke ponsel Armando, siapa lagi kalau bukan sang kekasih Rara yang mengirimnya.
"Malam ini cukup dingin.." tulis Rara dalam pesan.
Armando tersenyum, ucapan Rara hampir sama dengan Rey tadi.
"Ya, namun perasaanku selalu hangat bila memikirkanmu" balas Armando.
Rara yang membaca pesan itu mengguling-gulingkan badannya ditempat tidur.
"Apa yang kau pikirkan tentangku?" Rara membalas dengan hati-hati, ia tak mau kelihatan terlalu senang.
"Aku memikirkan kau sedang berguling ditempat tidurmu sambil berusaha menenangkan hatimu saat membaca pesanku tadi" Tebak Armando membuat Rara memperhatikan seluruh kamarnya.
"Apa kau seorang paranormal?" tanya Rara dibubuhi emoticon terkejut.
Armando tertawa membaca pesan dari Rara, ia tiba-tiba merindukan kekasihnya itu.
Klak...
__ADS_1
Terdengar suara dari pintu balkon kamar Rara, Rara sedikit terkejut.
Klak..
Terdengar suara lagi, Rara perlahan membuka gorden yang menutupi pintu ke arah balkon. Wajahnya berubah sumringah, sang kekasih berdiri disana dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya.
Ceklek..
Rara membuka pintu perlahan, ia takut ada yang mendengarnya.
"Hai.." sapa Armando.
Rara tersenyum malu, ia menyelipkan rambut ke telinganya.
"Haii.." Rara membalas dengan suara pelan, hatinya sangat senang.
"Aku merindukanmu" kata Armando tiba-tiba membuat wajah Rara merah padam.
Rara menunduk untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Aku juga.." Rara menjawab dengan sangat pelan membuat Armando tersenyum.
"Kemarilah, hari ini bulan dan bintang sangat indah" ujar Armando.
Rara menatap ke langit, langit begitu terang karena cahaya bulan penuh malam itu.
"Kau benar ini sangat indah" Rara mensejajarkan dirinya dengan posisi Armando berdiri.
"Tapi kau lebih indah" Armando menoleh ke Rara, sekali lagi wajah Rara menjadi merah.
"Kau senang sekali menggodaku" ujar Rara sambil memalingkan wajahnya.
"Apa itu hal yang buruk?" tanya Armando dengan wajah heran.
Rara menggeleng.
"Hanya saja, aku takut kata-kata itu kau ucapkan kepada gadis lainnya" ungkap Rara, karena ia membaca sebuah artikel pria yang suka memuji dan berkata manis adalah pria yang suka mempermainkan hati wanita.
Armando sedikit memiringkan kepalanya, ia agak kurang paham dengan kata-kata Rara.
"Lihat ini.." Rara menunjukkan layar ponselnya, sebuah artikel yang ia baca.
Armando membaca artikel itu dengan seksama, ada rasa bersalah dihatinya. Padahal Armando tak bermaksud untuk terlihat seperti seorang playboy, ia hanya ingin menyenangkan hati Rara.
"Maaf.." ucap Armando dengan nada menyesal.
Rara menjadi gelagapan, ia juga tak bermaksud membuat Armando merasa bersalah. Ia hanya ingin mengatakan isi hatinya.
"Sebenarnya aku senang, sangat senang. Tapi jadi sedikit takut" kata Rara dengan suara pelan.
"Awalnya aku berpikir untuk bisa memahami hati kekasihku, aku membaca artikel wanita suka dimengerti dan diberi pujian. Namun ternyata artikel itu tidk sepenuhnya benar" Armando juga mengungkapkan isi hatinya.
__ADS_1
"Maafkan aku Armando, kau adalah cinta pertamaku. Aku sangat takut untuk patah hati" Rara menggigit bibirnya.
"Mana mungkin aku menyakiti gadis yang sangat ingin aku lindungi didunia ini"