
Rara tersenyum mendengar perkataan mami, ia berjalan ke arah mami hendak memeluk ibu angkatnya itu.
"Stop.. jangan peluk mami, kau penuh dengan tepung Rara. Selesaikan sarapan buatanmu, mami juga mau mencoba masakan pasangan kekasih yang sedang mabuk cinta" kata mami seraya berjalan ke arah meja makan lalu sibuk dengan ponselnya.
Armando dan Rara saling tatap dan tersenyum senang. Mereka kembali sibuk membuat pancake untuk sarapan pagi
"Bersyukurlah karena mami sudah merestui hubungan antara aku dan kau" bisik Rara.
Armando mengangguk.
"Bila waktunya nanti aku akan segera menikahimu" ucap Armando.
Rara terkejut dan menoleh ke Armando yang sudah memalingkan wajahnya dari Rara.
♥️♥️♥️
Menjelang siang, Luna sibuk menyiapkan si kembar yang akan melakukan pemotretan untuk sebuah majalah bayi. Luna mendapatkan kesempatan itu dari seorang rekannya yang sangat suka dengan foto postingan Luna di media sosial.
"Bagaimana menurutmu tentang baju yg ini? Aku suka saat Avior menggunakan pakaian hewan yang terlihat sangar, namun aku lebih suka Alioth menggunakan kostum kucing ini" Luna menimbang-nimbang pakaian yang akan digunakan si kembar untuk tema hutan.
"Apakah tidak aneh jika seekor kucing biasa ada didalam hutan?" ujar Rara sambil ikut memilihkan pakaian untuk keponakan lucunya.
"Bagaimana dengan ini? Kelinci dan rubah. Memberikan kesan lain untuk keduanya, namun tema yang diambil bisa menampilkan sebuah cerita dongeng" sambung Rara.
Avior dan Alioth memang memiliki koleksi baju hewan yang beragam, itu semua hasil dari kalapnya Luna dan mami jika pergi ke mall atau melihat market place melalui ponsel.
"Tidak tidak, aku tidak mau Avior terlihat seperti akan memangsa Alioth. Hemm.. ternyata tidak semudah yang aku bayangkan" kata Luna sambil terus berpikir.
"Apa aku terlambat untuk persiapan putra-putra tampanku?" Rey masuk ke kamar si kembar, ia pulang lebih awal karena Luna memintanya ikut menyaksikan pemotretan anak-anaknya.
"Hubby.. syukurlah kau datang. Aku tidak dapat menentukan baju yang cocok untuk Avior dan Alioth" tutur Luna.
Rey melihat ke arah baju yang berserakan di atas karpet kamar anaknya. Rara terlihat duduk dibawah bersama Luna sambil ikut memilih.
"Ini cocok untuk keduanya.." Rey memilih kostum beruang, berwarna putih dan coklat muda.
"Begitukah?" Luna agak ragu.
Rara berbinar, ia setuju dengan pilihan kakaknya.
"Hem.. beruang ya" Luna masih berpikir.
"Sweety ini hanya untuk pemotretan sebentar, kau terlihat sangat khawatir" Rey menghampiri Luna, Luna berdiri dan memeluk Rey lalu menghela nafas.
"Aku ingin mereka terlihat luar biasa, akan banyak orang yang melihat mereka hubby" tukas Luna.
"Bukankah Avior dan Alioth selalu terlihat luar biasa apapun yang mereka kenakan?" tanya Rey dengan wajah heran.
Luna menatap suaminya sambil berpikir kembali.
"Ya Tuhan, kau benar. Kenapa aku malah sibuk hanya karena banyaknya baju ini?" Luna memukul kepalanya pelan.
Rey mengusap kepala Luna lembut, ia takut Luna menyakiti dirinya sendiri.
__ADS_1
"Melihat kalian membuatku ingin menikah juga" kata Rara sambil terkekeh.
Luna tersenyum.
"Menikah tidak semudah yang kau lihat Rara, ada kalanya kau harus berkorban" ujar Luna.
"Berkorban seperti apa misalnya?" tanya Rara bingung.
"Ya misalnya dengan tidur disofa saat belum diizinkan masuk ke dalam kamar" Luna melirik usil ke arah Rey.
Rara terlihat bingung, Rey hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Luna. Ia mencuci tangan dan menggendong Avior.
"Kak aku mau siap-siap dulu ya. Apakah mami jugaa ikut?" ujar Rara, ia berdiri dan hendak keluar dari kamar.
Luna menggeleng.
"Mami akan meeting dengan beberapa temannya, sepertinya mereka sedang merencanakan membuat sebuah produk kecantikan" kata Luna.
"Owh begitu, baiklah"
Rara keluar dari kamar si kembar. Luna mendekati Rey yang sedang bermain dengan Avior sedangkan Alioth tertidur dengan pulas.
"Kenapa Avior tidak tidur?" tanya Rey.
"Entahlah, aku melihat Avior sangat semangat untuk pemotretan. Lihat dia tak berhenti tersenyum" kata Luna sambil menunjuk pipi Avior yang gembul.
"Benarkah begitu jagoan?" Rey menatap ke arah putranya, Avior tertawa melihat Rey sedang menggodanya.
"Aku juga harus bersiap" kata Luna.
Rey menarik tangan istrinya, Avior sudah terlelap dan ditaruh diboxnya.
"Apa kau tidak merindukanku nona muda?" Rey memeluk Luna, wajah mereka saling berhadapan.
Luna mengulum senyumnya, sudah lama ia dan Rey tidak melakukan hal yang romantis karena keduanya sibuk dengan urusan hotel juga anak-anak mereka.
"Apa kau sedang merayuku tuan Rey?" Luna mengedipkan matanya.
"Ya Tuhan bagaimana bisa istriku secantik ini" tutur Rey membuat Luna tertawa.
Cup...
Luna mencium pipi Rey. Rey tak bergeming ia tetap menatap istrinya penuh cinta.
"Sangat aneh.." ucap Luna sambil memicingkan matanya.
"Aneh kenapa?" tanya Rey yang sepertinya enggan melepaskan pelukkannya.
"Yang aku tahu Rey akan pingsan jika dicium oleh nona mudanya" kata Luna sambil tersenyum usil.
Rey tertawa kecil.
"Aku sangat malu jika mengingatnya"
__ADS_1
"Itu sangat manis hubby" kata Luna menempelkan hidungnya ke hidung suaminya.
"Apakah boleh aku menciummu?" ujar Rey.
Luna mengangguk dengan cepat.
"Itu tidak melanggar norma?" tanya Rey lagi.
Luna tertawa.
"Itu melanggar kontrak" ucap Luna.
Rey mendekati wajah istrinya, Luna menutup matanya seolah itu ciuman pertamanya dengan Rey.
Krekk...
Pintu terbuka perlahan, Rara masuk kembali. Mata Rara membulat saat melihat bibir Rey hampir menyentuh bibir Luna.
"Maaf kak.." Kata Rara sambil menutup matanya.
Luna dan Rey tersenyum.
"Ponselku tertinggal.." kata Rara agak gugup.
"Masuk dan carilah.." ucap Luna santai.
Luna melepaskan pelukkan Rey, ia ikut mengedarkan pandangannya untuk membantu Rara menemukan ponselnya.
"Ini dia.." kata Rara.
Ponselnya terselip diantara baju-baju Avior dan Alioth yang berserakan dibawah. Rara tersenyum kecut kepada Rey dan Luna.
"Maaf... aku akan segera keluar" kata Rara sambil berjalan cepat menuju pintu.
"Rara.." panggil Luna.
Rara agak bergidik mendengar suara Luna, ia perlahan membalikkan tubuhnya.
"Iya kak.." sahutnya pelan.
"Ini tidak kau bawa juga?" tanya Luna sambil menunjukan sebuah headphone berwarna pink pada Rara.
"Oia.. itu juga milikku" ucap Rara, ia segera menghampiri Luna dan mengambil headphonenya.
"Sekali lagi maaf kak" ucap Rara lagi.
Rara keluar dari kamar si kembar dengan perasaan dag dig dug karena ia merasa baru saja mengganggu kemesraan kedua kakaknya.
"B*dooh.. seharusnya aku mengetuk pintu dulu" gerutu Rara lalu ia menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.
Luna tertawa melihat sikap Rara yang gelagapan, Rey kembali menarik tubuh istrinya.
"Apakah kita bisa melanjutkan hal yang tertund tadi sweety?"
__ADS_1