Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
S2 - Mami Datang


__ADS_3

Jiraiya dan Rey kembali ke kota, mereka segera menuju apartemen keduanya tak sabar bertemu dengan Bobby. Erika memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Bobby.


"Mana Bobby?" tanya Rey saat sampai di apartemen Erika.


"Dia didalam kamar, dokter sedang memeriksanya. Aku senang akhirnya Bobby kembali" ujar Luna sambil memeluk Rey.


Jiraiya langsung masuk ke kamar, ia hendak menemui Bobby. Dokter baru saja selesai memeriksa Bobby dan memasangkan infus.


"Keadaannya sudah membaik, jangan siksa dirimu dengan rasa bersalah" dokter keluarga Luna memberi nasihat kepada Jiraiya yang terlihat frustasi.


Erika menyuapi Bobby makan, ia membuatkan bubur untuk suaminya.


"Ayah.. lihat Bobby sudah pulang" ucap Erika senang, ia menghampiri ayahnya dan merangkul lengannya.


Jiraiya menatap nanar pada Bobby, Bobby tersenyum senang melihat ayah Erika dalam kondisi baik-baik saja.


"Ayah.." panggil Bobby.


Jiraiya seketika bersimpuh dihadapan Bobby.


"Maafkan aku.. Harusnya aku lebih waspada saat itu. Hampir saja anak dan cucuku kehilanganmu" ucap Jiraiya lirih, suaranya serak menahan tangis.


Bobby berusaha untuk bangun, ia ingin meraih ayah mertuanya namun Erika terlebih dahulu meminta ayahnya untuk berdiri.


"Jangan seperti itu ayah, aku pun akan sedih jika terjadi apa-apa denganmu" ujar Erika, ia memeluk Jiraiya dengan erat.


"Kau dan Bobby adalah harta berharga yang tak dapat digantikan dengan apapun untukku" ucap Erika membisikan telinga ayahnya.


Jiraiya memeluk Erika, Bobby merasa apa yang dilakukannya adalah hal yang benar walaupun nyawanya hampir saja melayang.


♥️♥️♥️


Luna dan Rey kembali ke apartemennya, Rey terlihat lelah namun ia senang bisa bertemu kembali dengan Bobby.


"Dengan begini Erika bisa kembali bersemangat menjalani hari-harinya lagi" ucap Rey disambut anggukan bahagia dari Luna.


"Ya aku juga senang, Erika terlihat sangat bahagia" Luna memeluk suaminya dengan erat.

__ADS_1


"Emm.. aku sangat merindukanmu, saat kau mencari Bobby kita hanya bertemu beberapa jam setiap hari" sambung Luna.


"Sekarang aku disini untukmu dan si kembar sweety" Rey mencium puncak kepala istrinya lembut.


"Hubby, aku ingin meminta sesuatu. Sebenarnya ada yang aku inginkan dari kemarin namun situasinya kurang menyenangkan" kata Luna dengan manja.


"Apa itu?" tanya Rey penasaran.


"Aku ingin bertemu mami, bagaimana bila besok kita ke rumah mami untuk bertemu dengannya?" ajak Luna, Rey mengangguk setuju.


Terakhir mereka bertemu adalah saat pertama kali Luna memberitahukan kehamilannya. Mami langsung datang ke apartemen dan membawakan susu serta vitamin lainnya untuk Luna konsumsi selama kehamilan. Mami juga meminta dr. Bianca teman Luna untuk menjadi dokter pribadi selama Luna hamil.


Setelahnya mami kembali menyibukan diri dengan mengurus beberapa hotel yang ada di berbagai kota dan negara. Mami memang mengurus hotel yang berada dipinggir pantai, destinasi favoritnya.


"Aku akan menelpon mami, aku takut mami sedang ke luar kota atau keluar negeri" kata Luna lalu mengambil ponselnya.


Mami mengangkat telpon Luna, namun ia bersemangat dan datang saat itu juga ke apartemen Luna.


"Mami akan datang ke sini sekarang, sepertinya dia menahan diri untuk kesini" ujar Luna sambil menaruh ponselnya di meja.


"Mami pasti merindukanmu sweety, saama seperti aku. Semenit saja rasanya seperti setahun bila tak melihatmu" Rey merayu Luna.


"Apakah itu mami?" tanya Rey heran, begitu cepat mami datang.


Luna mengangkat kedua bahunya, tanda tak tahu. Luna memeriksa dari layar, benar mami yang datang. Luna langsung membuka pintu untuk maminya.


"Luna..." mami sangat sumringah dan langsung memeluk Luna.


Dibelakang mami ada pengawalnya yang membawakan dua buah keranjang buah untuk Luna. Mami langsung masuk begitupula dengan pengawalnya. Pengawal itu menaruh buah yang dibawanya dan keluar kembali.


"Ini buah untukmu, kau harus menjaga kesehatan dirimu dan calon cucu mami" ujar mami sambil duduk disebelah Rey.


"Apa kabar mi?" sapa Rey sambil tersenyum, mami membalas senyuman Rey.


"Mai baik-baik saja, lihat wajah mami saja masih segar seperti baru berusia 30 tahun kan" kata mami bangga, Rey mengangguk setuju.


"Apa mami habis perawatan?" tanya Luna dengan wajah heran.

__ADS_1


"Tentu saja, mami harus menjaga kulit mami agar tetap muda. Mami tidak mau terlihat tua walaupun nanti sudah memiliki cucu. Kau tahu semua orang berpikir mami adalah kakakmu" mami memelankan wajahnya dan tersenyum malu, Luna memaksakan senyumnya kepada mami.


Rey membawa keranjang buah ke dapur dan menyiapkan minum untuk mami.


"Tak perlu repot-repot Rey, mami baru saja minum" ujar mami sambil menghampiri Rey.


Luna menatap aneh ke maminya, biasanya mami paling anti berada di dekat dapur. Ia adalah wanita dengan harga diri tinggi yang tak suka berada didapur.


"Mami duduk saja disofa bersama Luna, aku akan memotong kan buah untuk kita makan bersama" kata Rey dengan sopan.


"Kau sangat baik Rey, ya hampir sama dengan papinya Luna. Ia selalu memanjakan mami" ucap mami sambil mengingat kenangannya.


"Emmm.. itu kah alasan mami tidak menikah lagi sampai sekarang?" goda Luna sambil menyenggol bahu maminya.


"Tidak juga, papimu memiliki banyak harta dan mami bekerja keras bersamamu siang malam untuk menjaganya. Mami tidak mau menikah lagi dan mendapatkan suami yang tidak lebih kaya dari papimu" ujar mami agak sewot.


"Jangan berbohong, aku tahu ada beberapa pengusaha yang ingin menjadikan mami istrinya. Dan mereka sangat kaya raya" Luna tersenyum usil.


"Mami tidak mau menjadi istri kedua apalagi mendapat julukan pelakor" mami makin sewot.


"Sudahlah sweety jangan menggoda mami terus. Mami adalah wanita yang memiliki prinsip yang tinggi" puji Rey membuat mami tersenyum manis padanya.


"Nah.. Rey lebih bisa memahami mami, kau memang menantu yang bisa diandalkan" mami juga memuji Rey.


"Apa ini? Kalian berdua bersengkokol untuk melawanku? Tak bisa dipercaya" Luna mendengus kesal.


"Bukan begitu sweety..." Rey menghampiri Luna sambil membawa buah yang sudah ia potong.


"Mami akan memiliki cucu-cucu yang manis dari kita, mami tak akan kesepian walaupun tidak menikah lagi. Iya kan mi?" sambung Rey dan dijawab mami dengan anggukan.


"Benar-benar tak ku sangka, suamiku begitu membela mami" Luna terlihat mulai kesal.


Mami tersenyum puas melihat Luna kesal padanya.


"Lagipula aku heran, kenapa mami cepat sekali bisa sampai ke sini? Baru 5 menit aku menelpon dan mami langsung ada didepan apartemenku" ujar Luna.


"Ya tentu saja, mami memiliki cara agar bisa cepat ke sini" kata mami dengan enteng.

__ADS_1


"Cara? Bagaimana caranya?" Luna penasaran begitu juga dengan Rey.


"Mami membeli sebuah apartemen satu lantai dibawah apartemen mu"


__ADS_2