Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
Persahabatan


__ADS_3

Sudah seminggu Anne bekerja di restauran. Pagi itu Rey sudah datang bersama Bobby, sudah ada Anne sedang menyapu lantai dapur. Anne anak yang rajin padahal dia terlahir dari keluarga yang cukup berada.


"Kalian sudah datang kakak-kakak tampan, lihat ini aku sudah membersihkan semua dapur" kata Anne bangga.


Rey dan Bobby tersenyum, beberapa hari ini senyum Anne yang menyambut kedatangan mereka di restauran. Setiap hari Anne menanyakan keberadaan James sampai membuat Rey, Bobby dan Erika bingung menjawabnya. Meski begitu Anne tetap rajin melatih kemampuan memasaknya.


"Selamat pagi" Sapa James, ia mematikan rokoknya dan masuk ke ruangannya dengan santai.


Bobby dan Rey bingung melihat James datang ke restauran hari itu.


"Apa yang dilakukan pak James disini?" tanya Rey heran, Bobby mengangkat kedua bahunya.


Wajah Anne bersinar senang, ia segera membuat secangkir kopi dan membawanya ke ruangan James.


"Selamat pagi tuan James, ini aku buatkan kopi panas untukmu" ucap Anne dengan wajah ceria.


James menatap aneh kepada Anne, ia mengangguk dan membiarkan Anne menaruh cangkir kopi di mejanya.


"Apakah ada barangmu yang tertinggal tuan?" tanya Anne sambil berjinjit, ia ingin melihat apa yang sedang James kerjakan.


"Aku hanya ingin ke sini" jawab James malas, ia tidak menoleh ke Anne sama sekali.


Anne cemberut tak mendapatkan respon yang baik dari James. Ia membalikkan badannya dan berjalan keluar.


"Siapa namamu? Ani? Terima kasih untuk kopinya" James mengangkat cangkirnya sambil terus menatap ponselnya.


Anne mengangguk senang, walaupun James salah menyebut namanya.


"Sama-sama tuan" katanya lalu keluar dengan wajah ceria.


Erika baru saja datang melihat Anne yang baru saja keluar dari ruangan James.


"Apa yang kau lakukan disana?" tanya Erika penasaran, ia dan Anne sudah cukup dekat.


"Tuan James datang dan aku membuatkannya kopi, kau tau kak Erika. Dia mengucapkan terima kasih kepadaku dengan wajah yang manis" ujar Anne, apapun ekspresi James akan terlihat manis untuk Anne.


"Manis?" Erika bertanya heran, ia menggelengkan kepalanya.


"James tidak pernah membuat wajah manis sekalipun, wajahnya selalu datar dan menyebalkan" ujar Erika tak percaya lalu berjalan meninggalkan Anne.


Anne masih saja tersenyum membayangkan wajah James. Tak lama James keluar dari ruangannya, Erika menegurnya.


"Sedang apa kau disini?"


"Aku bosan berada di hotel, disana semua orang melihatku sebagai anak kecil. Mereka hanya memandangku sebagai anak dari ayahku" cerita James, dan terlihat ia kesal.

__ADS_1


"Biasanya kau tak perduli dengan hal-hal seperti itu" ujar Erika heran.


"Sebenarnya aku malas menanggapi mereka, jadi aku memutuskan untuk tidak ke sana hari ini"


James keluar dari dapur dan menyalakan rokoknya. Erika memandang sebal kepada James.


♥️♥️♥️


Rey pulang dari restauran agak sore, karena Luna sudah kembali ke apartemen. Mereka menginap lebih lama dari yang direncanakan karena persiapan pernikahan mereka.


"Aku ingin berjalan hubby, aku lelah di kursi roda terus" keluh Luna.


"Baiklah aku akan membantumu" ujar Rey sambil membantu Luna untuk berdiri.


Luna mengambil kesempatan untuk memeluk Rey erat.


"Kau setiap hari meninggalkanku untuk bekerja, aku sangat merindukanmu" ucap Luna sambil memanyunkan bibirnya.


Rey mencium sekilas bibir Luna.


"Aku akan bersiap sebentar, setelah itu kita akan fitting ke galeri Yasmin" kata Rey, ia membantu Luna berjalan dan masuk ke kamar.


Rey mendudukkan Luna di tempat tidur dan berjalan mengambil pakaian di lemari.


"Terkadang aku tak habis pikir dengan mami, kenapa harus memilih Yasmin? Dia itu sudah bukan sahabatku" gerutu Luna, Rey menoleh ke arah Luna dan tersenyum.


"Dia hanya berpikir bagaimana bisa merebutmu dariku!" seru Luna kesal.


"Sweety, tidak ada yang bisa memisahkan kita saat ini. Jangan terus menerus menaruh dendam padanya. Jika kita berbuat baik padanya maka dia juga akan segan terhadap kita" Rey membelai rambut Luna pelan.


"Kau selalu bisa membuatku luluh, terima kasih hubby. Aku sangat sangat sangat sangat sangat mencintaimu" ujar Luna sambil tersenyum.


"Cintaku lebih banyak berkali-kali lipat dari kata sangat yang kau ucapkan" Rey mengecup kening Luna.


"Baiklah, ayo kita berangkat"


Rey dan Luna menuju galeri Yasmin diantar oleh Armando. Yasmin sudah menunggu dengan wajah kesal, ia masih belum benar-benar menerima Rey dan Luna bersama.


"Selamat datang" Yasmin berusaha tersenyum menyambut kedatangan Luna dan Rey.


Luna berjalan perlahan-lahan dipegangi oleh Rey dengan sabar.


"Ada apa denganmu Luna?" Yasmin bertanya heran.


"Tak perlu pura-pura memperdulikan ku!" ujar Luna ketus.

__ADS_1


"Aku tak berpura-pura, aku benar-benar tidak tahu kenapa kau bisa begini" Yasmin melihat Luna dengan wajah khawatir namun Luna sudah tak bisa percaya dengannya.


"Sudahlah, kau kerjakan saja apa yang harus kau kerjakan! Mana gaunku?!"


"Jangan berbicara seperti itu, kau akan menyakiti hatinya" bisik Rey, Luna menoleh dengan wajah kesal.


"Ya ya ya baiklah, ikuti aku" akhirnya Yasmin membalas ketus Luna.


Mereka memasuki ruangan yang dimaksud oleh Yasmin. Sudah ada sebuah gaun yang indah dan setelan jas yang bagus disana.


"Ini adalah hadiahku untuk kalian" ucap Yasmin dengan wajah kesal, ia enggan melihat ke arah Luna.


Luna suka melihat gaunnya, begitu juga dengan Rey.


"Aku ingin mencobanya" ujar Luna spontan.


"Aku akan membantumu" Yasmin mendekati Luna.


"Tidak, aku ingin Rey yang membantuku. Dia suamiku, tak masalah aku berganti pakaian didepannya bukan?" ujar Luna tersenyum menyeringai.


"Biarkan aku membantumu juga, Rey tak akan bisa memakaikannya padamu tanpa bantuanku" Yasmin memohon.


Luna berpikir, wajahnya nampak tak senang.


"Ya baiklah" kata Luna akhirnya dengan ketus.


Yasmin mengambilkan gaun Luna, Rey membantunya masuk ke ruang ganti mewah yang ada disana.


"Pegangi aku hubby, nanti aku jatuh" kata Luna dengan nada manja, Rey tersenyum dan memegangi pinggang Luna.


Yasmin melihat iri kepada mereka. Luna memang berniat memperlihatkan kebahagiaannya dengan Rey, dan tak ada celah untuk Yasmin.


"Bisakah kalian mempercepat langkah dan biarkan aku memakaikan gaun ini pada Luna?"


"Sabar nona Yasmin" ledek Luna.


Yasmin menghela nafas panjang, ia memutar matanya karena kesal.


"Cepat bantu aku!" perintah Luna.


Yasmin membantu Luna menggunakan gaunnya dengan hati-hati, sesekali ia mencuri pandang pada Rey. Namun Rey hanya melihat Luna. Yasmin dapat melihat cinta yang dalam dimata Rey untuk Luna.


"Bisakah matamu itu berhenti menatap suamiku?"


Yasmin salah tingkah karena ketahuan oleh Luna. Yasmin memberanikan diri menatap Luna.

__ADS_1


"Apakah kita bisa bersahabat lagi seperti dulu Luna?"


__ADS_2