
Rey melongo mendengar kata-kata Luna, ia merasa seperti di sambar petir saat itu.
"Kenapa aku dipecat? Apa salahku? Ku mohon jangan lakukan itu padaku" Rey memohon.
Wajah Rey memelas, ia sangat menyukai pekerjaannya. Luna seolah sudah tidak peduli lagi, ia hanya ingin Rey menjauh dari Erika segera.
"Kau sudah melakukan kesalahan besar dan bertindak tidak profesional!" ujar Luna kesal.
"Maksudnya apa nona? Aku tidak paham sama sekali" Rey makin bingung.
"Kau sudah membuat sebuah kejutan cinta untuk sesama pegawai di restauran ku!"
"Apakah direstauran nona dilarang untuk membuat sebuah kejutan?"
Luna menggelengkan kepalanya, ia gemas melihat keluguan Rey.
" Bukan itu alasannya. Tetapu aku tidak akan mengijinkan pegawai ku menjalin hubungan kekasih di dalam satu pekerjaan!" Luna membuat-buat alasan.
"Begitukah? Ya Tuhan, berarti salah satu dari mereka harus keluar dari restauran dan semua itu salahku" Rey menepuk keningnya merasa menyesal, ia juga memikirkan Bobby tidak lagi bekerja bersamanya.
"Mereka?" Luna heran mendengar kata-kata Rey, ia mulai merasa ada kesalahpahaman.
"Maksud ku Erika dan Bobby, nona" Rey mencoba menjelaskan kepada Luna perlahan-lahan.
"Erika dan Bobby?" Luna semakin bingung.
Luna berpikir sejenak, ia berusaha memahami apa yang dimaksud oleh Rey. Saat ia paham wajahnya menjadi merah padam, ia sudah terlanjur cemburu buta pada Rey namun ia tetap berusaha menutupi segala rasa dimilikinya.
"Ya nona, aku membuat kejutan cinta untuk Erika dan Bobby hingga akhirnya mereka berdua bisa mengakui perasaannya masing-masing" jelas Rey, Luna memalingkan wajahnya. Ia menutupi rasa malunya.
"Kau tidak berbohong?"
"Mana mungkin aku berani membohongimu nona" Rey tersenyum manis.
Ingin rasanya Luna mencubit pipi Rey dan menciumnya. Namun sudah pasti ia tak akan melakukannya, harga dirinya akan runtuh bila ia menerjang keinginannya tersebut.
"Baiklah, katakan pada mereka untuk menemuiku besok" ucap Luna lalu berdiri hendak meninggalkan meja makan.
"Apa nona akan ke restauran besok?" wajah Rey terlihat senang.
"Ya sepertinya begitu, aku akan mengadakan sedikit inspeksi" Luna mencari alasan untuk meyakinkan dirinya kalau Rey tidak jatuh cinta pada Erika.
"Nona, lalu bagaimana denganku? Kau tidak serius untuk memecatku kan?" Rey mengejar Luna dan memegang tangannya, Luna menahan senyumnya sambil melihat tangannya yang dipegang oleh Rey.
__ADS_1
"Aku bisa saja mempertimbangkannya, asal..." Luna menggantung kata-katanya, Rey menjadi penasaran.
"Asal apa nona??? Aku akan melakukan apapun agar tetap bisa bekerja disana. Aku sangat menyukai pekerjaanku" Rey mendesak Luna.
"Kau menyukai pekerjaanmu?" tanya Luna penasaran.
"Sangat nona, seperti aku menyukaimu" Ujar Rey dengan nada serius, Luna ingin melompat karna senang dengan kata-kata Rey.
"Oke... asal kau menjaga matamu di restauran dan selalu bertindak profesional aku akan tetap mempertahankan mu di restauran" ujar Luna melepaskan genggaman Rey lalu masuk ke kamarnya.
Luna mengutuk dirinya sendiri yang dengan mudah mengambil kesimpulan kalau Rey menyukai Erika.
Sudah jelas ia hanya menyukaiku, kenapa aku masih saja menaruh curiga dan merasa cemburu buta seperti itu
Luna bergumam dalam hati, ia menari-nari dikamarnya dengan mengingat ucapan Rey yang mengatakan bahwa ia sangat menyukai Luna.
Apa yang aku lakukan?
Luna mukul kepalanya sendiri, lalu ia masuk ke kamar mandi dan mencuci mukanya agar segera sadar dari angannya.
Sementara Rey tersenyum senang, ia berjanji pada dirinya sendiri akan selalu bersikap profesional dan menjaga hatinya hanya untuk Luna.
"Hampir saja aku kehilangan pekerjaanku, fuiiih... Tapi nona, aku berharap bisa menyentuhmu lagi" gumam Rey dalam hati sambil melihat tangannya yang habis memegang tangan Luna.
♥️♥️♥️
Pemeran utama wanita sudah datang dan pegawai Yasmin sedang mengukurnya.
"Ternyata kau yang akan mendesign pakaianku di drama terbaruku" suara dari belakang Yasmin mengagetkannya.
"Samuel?" Yasmin terkejut melihat Samuel dengan gaya tengilnya sedang berdiri dibelakangnya.
"Ya aku.. Kau pasti terkejut kalau aku ini adalah seorang aktor yang sangat populer saat ini" ucapnya menyombongkan diri.
Yasmin tersenyum menyeringai, ia sebal melihat tingkah Samuel yang sangat sombong.
"Owh ya? Hahaha setelah beberapa tahun terakhir bukankah ini drama pertamamu?" ledek Yasmin.
"Setidaknya aku kembali mendapatkan popularitas ku. Dan bila Luna tahu, dia akan menyesal lebih memilih koki rendahan itu dibandingkan aku" ucap Samuel dengan angkuh.
"Setidaknya Rey lebih punya hati dan seorang pria setia, bukan pengkhianat seperti kau!"
Samuel mencengkram lengan Yasmin dan mendekati telinganya.
__ADS_1
"Kecilkan suaramu itu" bisiknya dengan nada mengancam.
"Lepaskan aku!" seru Yasmin sambil melepaskan lengannya kasar.
Yasmin berjalan ke arah ruangannya dan duduk, Samuel mengikutinya.
"Lancang sekali kau masuk ke ruangan ku tanpa izin" ujar Yasmin marah.
"Kau itu terlalu kaku Yasmin, sangat disayangkan" ucap Samuel sambil menyeringai.
"Apa yang kau inginkan?"
"Aku dengar kau memesan sebuah tempat makan romantis lalu membatalkannya. Apakah itu karna kekasihmu pergi begitu saja?"
Yasmin terdiam, bahkan Luna saja tidak tahu akan hal itu. Ia menatap Samuel dengan tatapan menyeramkan.
"Kau tidak perlu mengurusi urusanku"
"Ckckck tenanglah Yasmin, aku bisa menjaga rahasia mu" ucap Samuel seperti mengancam.
"Kau tak perlu repot-repot merahasiakannya. Aku juga tidak berniat menyembunyikannya"
"Hahaha aku sudah menduga kau akan berkata seperti itu. Bila kau patah hati, aku akan membantumu mencari pria lain untukmu"
Yasmin makin sebal dengan kata-kata Samuel.
"Keluarlah secara baik-baik, sebelum aku mengatakan kepada semua orang bahwa kau hampir dipenjara karna hendak menculik orang didesa"
Brakkk...
Samuel menggebrak meja dan menatap sinis ke arah Yasmin.
"Baiklah, ini kartu namaku. Bila kau butuh bantuanku hubungi aku. Dan aku titip salam cintaku untuk Luna, sebentar lagi aku akan merebutnya dari suami pura-puranya itu"
"Itu hanya akan terjadi dalam mimpimu!!!" ledek Yasmin kesal.
Samuel keluar dari ruangan Yasmin. Yasmin menggenggam erat pulpen yang dipegangnya, ia melihat malas ke arah kartu nama yang diberikan oleh Samuel.
Mungkin suatu saat aku membutuhkannya, lebih baik aku menyimpannya.
Pikir Yasmin lalu memegang jijik kartu nama Samuel dan menaruhnya dilaci mejanya.
Tiba-tiba terlintas di kepala Yasmin sesuatu hal yang licik, ia menyeringai dan keluar dari ruangannya mencari Samuel. Samuel sedang diukur oleh salah satu pegawainya disebuah ruangan.
__ADS_1
Yasmin menghampiri Samuel lalu meminta pegawainya keluar dari ruangan agar ia bisa berbicara empat mata dengan Samuel.
"Sam, aku ingin membuat penawaran denganmu"