Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
Terungkap


__ADS_3

Bobby menutup kembali amplop itu dan menaruhnya dilaci dekat tempat tidur Jiraiya. Badannya gemetar setelah melihat isi dalam amplop yang dibukanya.


Bagaimana bisa tuan Jiraiya memiliki anak perempuan bernama Erika Savana? Bukankah itu nama Erika yang ada di restauran?


Pikir Bobby, ia menjadi menerawang jauh membayangkan jika benar Erika adalah anak dari Jiraiya.


"Aku harus mencari tahu kebenarannya!" gumam Bobby dalam hati.


Ponsel Jiraiya berdering, Bobby memegang ponsel itu ragu untuk mengangkatnya. Namun entah mengapa sekali lagi Bobby sangat penasaran.


"Ha.. hallo" Bobby mengangkat dengan gugup.


"Tuan, semua berkas yang anda inginkan sudah saya titipkan kepada pengawal yang berjaga. Untuk putri anda saat ini dia berada di kota yang sama dengan anda,, dia bekerja sebagai koki di restauran milik nona muda nada"


Bobby menjatuhkan ponsel Jiraiya, ia menatap Jiraiya penuh sesal. Ia sudah menyakiti Erika dengan memutuskan hubungannya secara sepihak. Padahal ayah Erika adalah pria yang sangat berjasa untuknya.


"Maafkan aku tuan.." ucap Bobby lirih, ia menangisi kebodohannya.


Tangan Jiraiya mulai bergerak, Bobby terlihat panik. Jiraiya memegang tangan Bobby dengan lemah.


"Kenapa kau menangis?" tanyanya dengan suara serak, mulut Jiraiya masih ditutup oleh alat bantu pernapasan.


"A..aku bersalah padamu tuan" kata Bobby sambil menaruh keningnya dipunggung tangan Jiraiya.


"Apakah ini berhubungan dengan putriku?" Bobby mengangguk, Jiraiya menggenggam tangan Bobby dengan sisa-sisa tenaganya.


"Bawa dia kesini, aku ingin bertemu dengannya"


Bobby mengangguk, ia segera bergegas ke restauran untuk menjemput Erika.


"Erika!!" panggil Bobby sambil berteriak saat sampai di restauran.


Erika terkejut Bobby meneriakan namanya, ia menghampiri Bobby dan menatapnya heran.


"Ada apa?" tanya Erika.


"Ikut denganku!" Bobby menarik paksa tangan Erika, dan mengajaknya masuk ke mobil.


Erika merasa tidak nyaman dengan perlakukan Bobby kepadanya.


"Lepaskan aku! Jangan bertindak semaumu!" bentak Erika sambil melepaskan tangannya dari genggaman Bobby dengan kasar.


Bobby diam saja, ia berusaha memegang Erika lagi tetapi Erika menolaknya. Bobby terus memaksanya.


Plaakkk...


Tamparan dari tangan Erika mendarat di pipi Bobby, ia terkejut begitu pula dengan Erika.

__ADS_1


"Ma.. maafkan aku" ucap Erika merasa bersalah.


Bobby masih diam saja, ia menarik tangan Erika lagi dengan kasar.


"Lepaskan aku!!! Kau membuat tanganku sakit!!" pekik Erika, membuat Bobby melepaskan tangannya.


"Ikutlah denganku, aku akan mempertemukan mu dengan ayahmu" ucap Bobby, namun ia tak berani menatap Erika.


"Apa?!! Ayahku?!" Erika sangat terkejut dengan kata-kata Bobby.


"Ayahmu sedang sakit, ia terkejut mendengar ibumu sudah meninggal. Sekarang dia ada dirumah sakit dan ingin bertemu denganmu" Bobby masih membelakangi Erika.


Erikaa berjalan ke depan Bobby, Bobby memalingkan wajahnya.


"Baiklah aku akan ikut denganmu bila yang kau katakan benar"


Bobby membukakan pintu mobil untuk Erika, tanpa menatapnya sedikit pun. Mobil yang dikendarai Bobby melaju menuju Rumah sakit tempat Jiraiya di rawat. Suasana canggung dan senyap tercipta di mobil sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.


"Apakah ayahku baik-baik saja? Aku bertemu dengannya bukan untuk terakhir kalinya kan?" Erika bertanya saat sedang berjalan di koridor rumah sakit, Bobby terlihat masih enggan melihat ke arah Erika.


"Ayahmu pria yang kuat, dia pasti baik-baik saja"


Bobby dan Erika sampai didepan ruang rawat Jiraiya. Bobby hendak membuka pintu, namun Erika menghentikannya.


"Tunggu, aku butuh persiapan mental untuk bertemu ayahku" ucap Erika, ia menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Baiklah.. Baiklah aku sudah siap"


Bobby mengangguk tanpa menoleh kepada Erika. Sekali lagi Erika menghentikan Bobby yang akan membuka pintu ruangan Jiraiya.


"Bolehkah aku mendapatkan pelukkan darimu? Kau tahu ini sangat berat bagiku, ini adalah untuk pertama kalinya aku bertemu dengan ayahku selama hidupku" Mata Erika berkaca-kaca, untuk pertama kalinya Erika mendapat tatapan dari Bobby lagi.


Bobby membentangkan tangannya, Erika langsung berhambur kepelukan Bobby. Tangisnya langsung pecah, tak ada yang tahu apakah itu tangis kesedihan atau kebahagiaan hanya Erika yang tahu makna tangisan itu. Tanpa ia sadari Bobby mengusap punggung Erika secara refleks untuk menenangkannya.


"Sepertinya aku sudah cukup siap" Erika melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.


Bobby membuka pintu perlahan, Erika berjalan dibelakangnya. Erika sangat terkejut karena ayah yang selama ini dicari olehnya adalah Jiraiya. Pria yang ia hindari untuk bertemu bila sedang berada di restauran. Jiraiya sedang tertidur saat Erika dan Bobby datang.


"Apakah benar tuan Jiraiya adalah ayahku?" tanya Erika ragu, Bobby mengangguk pasti.


Bobby menyerahkan amplop coklat yang ada dilaci meja dekat ranjang Jiraiya. Erika menerimanya dan membuka isinya, ada foto ibunya dan semua hal yang berhubungan dengan masa lalu ibunya.


"Ya Tuhan... ternyata selama ini ayahku sangat dekat denganku, namun aku tidak mengetahuinya" Erika menutup mulutnya dengan satu tangan menahan tangisnya yang semakin deras.


Jiraiya terbangun mendengar suara yang berasal dari Erika.


"Bobby.." panggil Jiraiya.

__ADS_1


Bobby segera menghampiri Jiraiya. Erika mengikuti Bobby dan berdiri dibelakangnya.


"iya tuan" jawab Bobby cepat.


"Apakah kau sudah membawa putri ku?" tanya Jiraiya yang masih lemah.


"Nona sudah disini bersama denganmu tuan"


Perlahan Erika menampakan diriny di depan Jiraiya yang masih terbaring diranjangnya.


"A... ayah.." panggil Erika lirih, suaranya terputus-putus karena terisak.


"E.. Erika?" Jiraiya tak percaya bahwa putrinya adalah Erika, gadis pemberani yang selalu menghindarinya.


Erika dan Jiraiya berada dalam situasi yang agak canggung, Bobby mohon izin keluar agar Jiraiya dan Erika bisa berbicara berdua. Erika duduk disebelah ranjang Jiraiya.


"Apakah benar Grace adalah ibumu?"


"Iya benar"


"Mengapa ibumu bisa meninggal?" Jiraiya bertanya dengan suara serak menahan tangisnya.


"I.. ibu meninggal karena hiks... karena ibu sakit keras" Erika terisak mengingat ibunya yang telah tiada.


"Apakah dia tidak berobat?"


"Hidup kami sangat sulit, saat itu aku masih menjadi anak yang nakal dan baru menyadari betapa pentingnya ibu setelah ibu mau meninggal. Ibu tak mau aku sendiri, ia berpesan untuk mencarimu"


"Ya Tuhan... Grace.. Graceku.." Tangis Jiraiya pecah, impiannya bertemu dengan cinta pertamanya hilang begitu saja.


"Maafkan aku ayah, aku tak bisa menjaga ibu dengan baik hingga akhirnya ia meninggal" pekik Erika menahan sesak di dadanya.


Jiraiya meraih tangan Erika dan menciumnya.


"Ibumu meninggal bukan karena kau, tapi itu semua karena Tuhan terlalu menyayanginya. Dan kini aku yang akan memikul tanggung jawab untuk merawat dan melindungimu" ucap Jiraiya.


"Apakah ayah tidak marah kepadaku?" Jiraiya menggeleng.


"Kau adalah satu-satunya harta berharga yang Grace berikan kepadaku"


"Terima kasih ayah" Erika memeluk Jiraiya, kini ia tidak sebatang kara lagi.


Jiraiya menepuk-nepuk lengan putrinya, Erika mengusap air mata ayahnya lalu tersenyum.


"Lekaslah sembuh ayah" ujar Erika.


"Setelah aku sembuh mintalah Bobby untuk segera melamarmu"

__ADS_1


__ADS_2