Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
S2 - Gelisah


__ADS_3

Yasmin gusar, ia mondar-mandir didalam kamarnya. Samuel sudah menunggu diluar bersama Sheryl. Semua orang menunggu Yasmin, karena syuting program reality show akan dimulai.


Program ini diawali dari keluarga Samuel yang pindah ke rumah baru mereka. Agar semua orang tahu bahwa Samuel dan keluarganya memulai hidup baru dalam program tersebut.


"Yasmin.. kenapa kau lama sekali?" Samuel menghampiri Yasmin karena sudah tidak sabar menunggu.


Yasmin melipat tangan didepan dadanya, wajahnya terlihat cemas.


"Ada apa?" Samuel heran dengan ekspresi istrinya.


"Sam.. aku tak yakin bisa melakukan ini semua" kata Yasmin dengan wajah memelas.


"Apa maksudmu?" Samuel menjadi ikut gusar.


"Lihat diluar sana, semua orang memperhatikanku. Aku merasa sangat tidak percaya diri, kamera akan menyorotku terus menerus. Aku takut tak bisa bernafas dan pingsan nanti" keluh Yasmin.


"Apa kau bercanda Yasmin? Mereka tidak akan memakanmu, semuanya akan berjalan baik-baik saja. Tak ada bedanya dengan apa yang biasa kita lakukan sehari-hari" ucap Samuel yang berusaha menenangkan Yasmin.


"Sam..." Yasmin menatap Samuel dengan wajah memohon.


"Tidak Yasmin kau tak bisa melakukannya" Kali ini Samuel tak bisa mengikuti keinginan Yasmin.


Yasmin menghentakkan kakinya, ia ingin merajuk namun tak ada gunanya semua kontrak sudah ia dan Samuel tanda tangani.


"Ayolah Yasmin, banyak hal yang kita pertaruhkan jika tiba-tiba kita menolak untuk melakukan syuting" ujar Samuel, ia mendekati Yasmin dan merentangkan tangannya.


Yasmin cemberut, ia melirik ke Samuel tanpa bergerak sedikit pun. Samuel menggerakkan tangannya, meminta Yasmin mendekat padanya. Dengan wajah malas Yasmin mendekati Samuel lalu Samuel memeluknya walaupun tangan Yasmin tak membalas pelukkan itu.


"Ada aku, kau tak perlu khawatir. Tak perlu terbebani, jika kau bisa melewati syuting pertama maka syuting selanjutnya kau akan merasa lebih tenang" ujar Samuel.


Yasmin hanya bisa mengangguk lemas. Samuel melepaskan pelukkannya.


"Baiklah, kita harus keluar sekarang. Para kru sudah bersiap"


"Tunggu.. aku ingin berpisah dengan kamar ini.. Sudah cukup lama aku tinggal disini dan kini aku akan pindah" ujar Yasmin sambil mengedarkan pandangannya keseluruh kamar.


"Apa kau memikirkan tentang waktu itu?" ujar Samuel dengan suara menggoda.


"Bahkan aku lupa kejadian itu" kata Yasmin sambil menyeringai.


Samuel menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ia sendiri pun nyaris tak sadar saat melakukannya dengan Yasmin hingga akhirnya menghasilkan bayi cantik bernama Sheryl.


"Jangan lama-lama, aku dan yang lain menunggu diluar" ucap Samuel.


Yasmin mengangguk, Samuel keluar dari kamar. Yasmin menghela nafas panjang. Ia mengambil cardigan kesayangannya dan keluar dari kamar dengan langkah yang berat.

__ADS_1


Semua orang bertepuk tangan melihat Yasmin, membuat wajah Yasmin memerah. Yasmin langsung berdiri dibelakang Samuel.


"Aku bertambah malu jika menjadi pusat perhatian begini" bisik Yasmin.


"Tenanglah, pegang tanganku" Samuel meraih jemari Yasmin, mengajaknya berdiri disampingnya.


Samuel sudah menggendong Sheryl yang terlihat cantik dengan baju senada dengan kedua orang tuanya. Yasmin berusaha tersenyum dengan wajar kepada semua orang.


"Jadilah dirimu sendiri, tak perlu berpura-pura" bisik Samuel dengan suara sekecil mungkin.


"Apakah itu artinya aku boleh memukulmu?" balas Yasmin dengan suara yang sama kecilnya.


Samuel hanya tertawa mendengar ucapan Yasmin, dua orang kru mendekati Yasmin dan Samuel. Mereka menempelkan clip on untuk Yasmin dan Samuel.


"Sekarang kita sudah tidak bisa berbisik-bisik" goda Samuel, Yasmin tersenyum kecut.


"Kalian sudah membaca rundownnya? Wah.. ini akan menjadi program yang menarik" kata Gio yang ikut berada disana.


Yasmin melirik kesal pada manager Samuel itu.


"Yasmin berusahalah untuk tidak kesal pada Samuel, tapi kau boleh memukulnya dengan mesra jika dia sudah keterlaluan" ucap Gio dengan tatapan meledek.


Yasmin komat-kamit dengan wajah kesal tanpa mengeluarkan suara. Gio tertawa puas melihat wajah sebal Yasmin.


"Anggap saja ini sebagai permainan kau dan Samuel. Tetap jaga sikap dan bertindak sewajarnya" pesan sutradara itu, Yasmin mengangguk paham.


Sebenarnya selama ini Yasmin sudah sering berpura-pura depan kamera namun kali ini berbeda, biasanya hanya butuh beberapa menit dan sekarang harus terus menerus.


Yasmin masuk ke kamar mandi, ia melihat pantulan wajahnya didepan cermin lalu menghela nafas.


"Bagaimana ini? Kenapa terasa sulit bertindak wajar? Lagipula bagaimana bisa Sam selalu akting depan kamera dengan kru sebanyak itu? Ya Tuhan...." pekik Yasmin.


Tok.. tok..


"Yasmin, syuting akan dimulai.." panggil Samuel.


Yasmin segera keluar dari kamar mandi dan berhambur memeluk Samuel. Samuel tersenyum dan membalas pelukan Yasmin.


"Aku takut.." ucap Yasmin lirih.


"Ada aku.. mereka tidak akan memakan ataupun menggigitmu sayang"


Yasmin melepaskan pelukkannya.


"Mereka orang-orang yang baik, kita akan berada bersama mereka selama program ini berlangsung. Cobalah bicara dengan mereka dengan ramah maka rasa takutmu akan hilang" kata Samuel lagi.

__ADS_1


Yasmin mengernyitkan keningnya.


"Nona Yasmin, kau baik-baik saja?" seorang kru wanita muda menghampiri Yasmin dan Samuel.


Yasmin tersenyum dan mengangguk.


"Bolehkah aku merapihkan riasanmu?"ujar wanita muda itu lagi.


Yasmin menoleh ke Samuel, lalu Samuel mengangguk. Yasmin pun ikut mengangguk dan mengikuti langkah gadis itu. Gadis itu mengeratkan jemarinya saat berjalan didepan Yasmin.


"Duduklah nona" ucapnya sambil menarik sebuah kursi untuk Yasmin.


Yasmin mengikuti arahannya. Saat memegang kuas tangannya terlihat gemetar, Yasmin terlihat bingung.


"Ada apa denganmu?" tanya Yasmin heran.


"Ehem.. maaf nona. Ini adalah pekerjaan pertamaku, dan aku langsung menjadi bagian dari kru program Samuel yang merupakan aktor idolaku. Aku sangat gugup" ujarnya sambil menunduk.


Yasmin sedikit terkejut karena tadi gadis itu tak nampak gugup sama sekali didepan Samuel dan orang lainnya.


"Bagaimana bisa kau bersikap biasa tadi?" tanya Yasmin penasaran.


Gadis itu tersenyum.


"Aku menganggap mereka sebagai keluargaku, walaupun aku gugup dan takut namun mereka bersikap baik kepadaku jadi aku kehabisan alasan untuk khawatir saat berada diantara mereka. Sedangkan denganmu, jujur saja aku belum bisa merasa biasa" ucapnya sambil sesekali menoleh kepada Yasmin.


Yasmin berpikir sejenak, gadis itu benar. Tak ada yang memperlakukannya buruk sejak tadi, bahkan sutradara mengajaknya bicara seperti seorang teman.


"Mengapa aku tak berpikir sepertimu sejak tadi" gumam Yasmin.


"Ada apa nona?"


Yasmin tersenyum dengan wajar dan tulus lalu menggeleng.


"Jangan gugup aku juga keluargamu, kau bisa meriasku sekarang" kata Yasmin.


Gadis itu seketika menjadi riang, tangannya yang gemetar menjadi lebih tenang. Ia memoles wajah Yasmin dengan baik.


"Kau sudah siap?" Samuel menghampiri Yasmin, Yasmin menoleh dan tersenyum.


Syuting dimulai, Yasmin bisa mengekspresikan dirinya dengan baik bersama suami dan anaknya. Saat break, ponsel Yasmin berbunyi.


"Ya Luna.." jawab Yasmin.


"Yasmin apakah kau bisa membuat gaun pengantin dengan waktu cepat?"

__ADS_1


__ADS_2