Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
S2 - Pesaing #2


__ADS_3

Rey menggenggam jemari Luna dengan erat.


"Jangan merasa seperti itu sweety, Rara tidak pernah merasakan kasih sayang selama ini. Aku hanya ingin memberikan perhatian yang selama ini tidak dia dapatkan" Rey memberi pengertian pada Luna.


Hal itu tidak akan mudah untuk Luna, dia adalah anak tunggal yang memiliki semua perhatian dari semua orang. Untuk berbagi dengan orang lain adalah hal yang sulit untuk Luna.


"Aku tak suka kau memperhatikan orang lain" ujar Luna sambil memanyunkan bibirnya.


"Tak ada yang ingin mengambilku darimu sweety. Aku mencintaimu dan kau pasti tahu itu. Aku mohon sedikit pengertian darimu tentang Rara, dan berharap kau juga bisa memberikan perhatian padanya" Rey mengusap jemari Luna yang ada digenggamannya.


Luna menatap Rey dengan sedikit rasa kesal yang tersisa.


"Selama ini hanya ada aku dimatamu dan yang selalu menjadi perhatian untukmu. Sekarang aku harus berbagi rasanya sangat menyebalkan" Luna berkata dengan jujur kegelisahan hatinya.


"Hanya kau yang ada dimata dan hatiku sweety dan itu tak akan pernah tergantikan dengan siapapun. Rara adalah adik kita, yang harus kita sayangi dan lindungi bersama" Rey menatap lekat wajah, ia berusaha meyakinkan istrinya.


Luna menghela napas, ia masih tak rela lalu Rey menceritakan tentang kehidupan yang dijalani oleh Rara. Begitu berat dan menyedihkan, disamping penyakit yang dideritanya.


"Ya Tuhan.. " Luna menutup mulutnya karena tak percaya.


"Bagaimana bisa ada seorang ibu yang tega berbuat hal seburuk itu pada putrinya?" Luna menjadi geram.


Rey tersenyum, Luna memiliki pikiran yang sama dengannya.


"Itulah alasannya aku tak bisa mengabaikan Rara" ucap Rey.


"Ya baiklah, mungkin aku bisa berbagi sedikiiiiit saja perhatianmu dengannya. Tapi kau harus tetap mengutamakan aku" ujar Luna enteng, ia menyuapkan makanannya ke mulut Rey dengan wajah judesnya.


"Kau adalah prioritas utama untukku"


Luna tersenyum lalu mencubit hidung Rey dengan gemas. Setelah makan siang, Luna kembali ke apartemen, ia terlihat mulai lelah dengan perutnya yang besar.


"Rara bila ada apa-apa kau bisa hubungi aku, ini ponsel untukmu. Rey yang memilihkannya tadi" ucap Luna sambil tersenyum.


Rara terkejut bukan main melihat ponsel yang Luna berikan padanya. Sebuah hadiah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Aku harus pulang, aku harus istirahat karena bayi-bayi ku mulai lelah. Kita bertemu lagi besok ya" Luna memegang tangan Rara sambil berusaha tersenyum dengan wajar.


Rara mengangguk dengan semangat.


"Aku akan mengantarkan Luna sebentar ke mobilnya" ujar Rey sambil mengikuti langkah Luna.


"Kak.. Aku tak mau sendirian disini.." ucap Rara dengan nada sedih.


Luna menghela napasnya, ia membalik tubuhnya dan tersenyum memaksa.

__ADS_1


"Hubby.. kau temani saja adikmu. Aku sudah meminta Jiraiya untuk ke sini menjemput ku" kata Luna menahan rasa sebalnya.


Rara tersenyum manis kepada Luna, ada kemenangan disenyum itu yang membuat Luna menjadi kesal. Tak lama Jiraiya mengetuk pintu.


"Aku pulang, jagalah dirimu baik-baik hubby" Luna mengecup pipi suaminya dengan mesra dan melirik sambil tersenyum sinis kepada Rara.


Rara mengeraskan rahangnya menahan kesal. Rey mencium kening Luna dan mengelus perutnya sambil membisikan sesuatu pada si kembar disana.


"Bye bye Rara..." Luna melambaikan tangannya sambil tersenyum puas.


Setelah Luna keluar dan Rey menutup pintunya. Rara terlihat menyibukkan diri dengan ponsel yang baru diterimanya.


"Bagaimana cara memakainya?" tanya Rara polos.


Rey tersenyum dan membantu Rara menggunakan ponselnya.


"Ini untuk mengirim pesan. Aku dan Luna sudah menyimpan nomormu. Cobalah.." Rey memberi pengarahan pada Rara secara perlahan, Rara suka Rey mendekat padanya.


"Ra.. cobalah.." ujar Rey, Rara yang terlalu fokus memperhatikan Rey tak tahu apa yang Rey katakan.


"Emm.. bisakah kau mengulangnya kak Rey?" tanya Rara manja.


Rey tersenyum sambil mengelus rambut adiknya.


"Baiklah ayo kita ulangi" ujar Rey antusias, Rara mengangguk dan mulai memperhatikan dengan seksama penjelasan darinya.


Ia mencoba mengirim pesan pada Rey.


Cling...


Pesan yang Rara kirim sampai ke ponsel Rey.


Terima kasih kak..


Begitu isi pesannya. Rey tersenyum.


"Nah itu sudah benar, dan ini adalah kamera. Kau bisa mengambil fotomu dari ponsel ini" ucap Rey, ia mengklik kamera yang ada diponsel Rara.


Wajah Rara takjub, ia memiringkan wajahnya ke kanan dan kiri mencari angle yang pas.


Cekrek..


Rara berhasil mengambil foto dirinya dan memperlihatkannya pada Rey.


"Kau sangat cantik" puji Rey, Rara mengulum bibirnya menahan rasa senang.

__ADS_1


Lalu Rey mengajarkan lagi penggunaan ponsel selanjutnya.


♥️♥️♥️


Luna sampai di apartemen, ia terlihat agak kesal. Ia berkacak pinggang sambil mengatur napasnya.


"Apa-apaan gadis itu? Apa dia mulai menabuh genderang perang denganku?! Hah...!!!" Luna berteriak dengan kesal, ia memegang perutnya yang menegang.


Luna duduk disofa perlahan.


"Ya Tuhan... maafkan mama sayangku. Mama hanya berusaha menyelamatkan perhatian papamu dari kita" kata Luna sambil mengelus perutnya dengan kasih sayang.


Luna menghela napas panjang, ponselnya berbunyi. Yasmin menelponnya.


"Luna, apa kau ada diapartemen? Aku perjalanan ke sana bersama Melisa dan Sheryl"


"Ya aku baru saja sampai, kemarilah. Aku butuh kau disini" kata Luna agak lemas.


"Aku sudah mendengar kabar tentang Rey, aku berencana menemanimu di apartemen"


"Terima kasih Yasmin, segeralah datang"


Tak lama Yasmin sampai disana, ia menggendong Sheryl. Luna langsung memeluk Yasmin. Melisa meletakkan barang-barang Sheryl dan menidurkan Sheryl dikamar Luna.


"Ada apa? Kau terlihat gusar?" tanya Yasmin khawatir.


Luna mengambil napas panjang, dan mulai menceritakannya pada Yasmin.


"Apa?!" Yasmin menahan rasa kesalnya, ia menutup kedua matanya perlahan untuk mengatur emosinya.


"Dimana gadis itu sekarang?" tanya Yasmin kesal.


"Kau tak perlu menemuinya, aku hanya ingin mencurahkan perasaanku padamu. Aku tidak mau membuat Rey bimbang dengan rasa cemburuku ini" ucap Luna sambil mendesah menahan rasa dalam hatinya.


Yasmin melirik ke Luna, Luna memang terlihat sedih.


"Apa kau sudah bicara pada Rey?" tanya Yasmin, Luna mengangguk.


"Rey ingin aku bisa lebih paham kondisi adiknya, mereka baru bertemu saat ini setelah puluhan tahun" Luna menjelaskan.


"Ya... tidak semua saudara ipar bisa berbagi dengan baik. Aku sangat beruntung memiliki Anne sebagai iparku, dia baik dan manis. Dia menyayangi Sam dan aku namun tak pernah membuatku kesal dengan tingkahnya" ucap Yasmin sambil memikirkan Anne.


"Aanne gadis yang beruntung, kehidupannya serba berkecukupan sejak lahir. Berbeda dengan Rara, ia merasa diperhatikan semenjak bertemu dengan Rey dan aku tak bisa memperlakukannya dengan buruk. Hal itu pasti bisa membuat Rey sedih" Luna sangat memikirkan perasaan suaminya.


Yasmin menjadi gemas.

__ADS_1


"Besok aku akan menjenguk gadis itu dan melihat seperti apa rupanya!"


__ADS_2