
Pertandingan dimulai, Bobby dan Samuel saling kejar mengejar angka. Suasana seketika riuh dengan teriakan Erika, Yasmin dan Anne.
Aku tak akan kalah darimu...
Ujar Samuel dalam hati, ia berusaha keras untuk menang.
Apa harus sampai seperti ini aku membantu tuan Sam dan nona Yasmin?
Gerutu Bobby dalam hati, ia menyetujui permintaan Erika agar istrinya tidak marah lagi.
"Ayoo Sam.. kau bisaa..." Yasmin memberi semangat membuat Samuel makin besar kepala.
"Jangan kalah honey..." Erika juga memberi semangat kepada Bobby, Bobby menoleh Erika dengan senyum yang sedikit ia paksakan.
Satu jam berlalu, Bobby dan Samuel terlihat mulai lelah. Semangat sudah memudar karena tidak mudah memindahkan kacang dengan sumpit.
"Kenapa kacang-kacang ini tidak melompat sendiri saja ke baskom sebelahnya.." ucap Bobby yang sudah meletakkan kepalanya dimeja.
"Apakah dibawah baskom ini ada alat untuk membuat kacang didalamnya tidak habis-habis?" Samuel mengeluh, ia sudah tidak dapat mengangkat sumpitnya.
Yasmin maju ke depan, ia terlihat gemas dengan Samuel yang sudah tidak memiliki tenaga untuk melanjutkan pertandingan.
"Sam.. cepat selesaikan.. Aku akan memberikan kau ciuman saat kau menang" bisik Yasmin sambil menggoyangkan tubuh Samuel dengan kencang.
Samuel melihat ke arah Yasmin yang ada dihadapannya dengan tatapan lelah.
"Ayo Sam..." Yasmin menggoyang lagi tubuh Samuel, entah mengapa ia ingin Samuel menang.
Luna mulai tidak tega, ia menghentikan pertandingan. Yasmin menghela napas pasrah, Anne maju ke depan dan memeluk Samuel.
"Kau sudah berusaha keras kak" puji Anne senang.
Bobby juga sudah tak bisa mengangkat tangannya dan Rey membantu memijat pelan lengan Bobby.
"Kita akan menimbang hasil pertandingan dan pemenangnya akan ditentukan dari yang paling berat"
Seorang pria membawa timbangan besar dan membantu Luna menimbang hasilnya. Luna melihat hasil timbangan dan mencatatnya.
"Apakah kak Sam akan menang?" ujar Anne dengan nada khawatir, ia tak bisa melihat hasil timbangan karena Luna menutupinya.
Samuel hanya duduk, ia sudah tak memperdulikan hasil pertandingan. Ia menikmati genggaman Yasmin dijemari kanannya, sepertinya Yasmin tidak menyadari hal itu karena Yasmin sama penasarannya dengan Anne akan hasil pertandingan.
Luna sudah selesai menimbang dan tersenyum melihat hasil pertandingan.
"Dan pemenangnya adalaaaah.... " Luna mulai mengumumkan hasilnya.
__ADS_1
Jen jen jenggggg.....
"Samuelllll dengan berat 6 kg!!!"
"Yeaaaay...." Yasmin langsung memeluk Samuel dengan gembira, ia terbawa suasana pertandingan.
Samuel tak mau melepaskan Yasmin, Yasmin yang sudah tersadar mendorong tubuh Samuel dengan kuat.
"Jangan mengambil kesempatan!" kata Yasmin ketus.
"Tapi aku senang kau menang Sam" Yasmin tersenyum namun ia membalikkan tubuhnya dan melakukan toss dengan Anne.
Bobby hanya tersenyum, Erika mengelus lengan Bobby lembut.
"Terima kasih honey, sepertinya sudah ada satu langkah maju hubungan antara kak Yasmin dan tuan Sam" bisik Erika.
"Kau berhutang sesuatu padaku darling" Bobby juga berbisik ditelinga Erika.
"Berhutang apa?" Erika heran dan menatap Bobby dengan polos.
"Aku sudah mengikuti apa maumu, jadi nanti malam kau yang harus mengikuti apa mauku" Bobby tersenyum usil sambil menyenggol bahu Erika dengan bahunya.
Erika mengulum senyumnya, sambil melirik malu ke arah Bobby.
"Yess...." Bobby bersorak senang.
Kemenangan jadi milik mereka semua.
♥️♥️♥️
Keesokan harinya Bobby dan Rey kembali dengan aktifitas mereka di kedai. Banyak pengunjung diwaktu siang membuat mereka sibuk.
"Buatkan dua buah waffel ke meja nomor 3 dan esspreso ke meja no 10 dan 12" ucap Rey pada pelayan yang sedang bertugas.
"Baik tuan"
Rey mengusap keringatnya dengan tissue yang tersedia di depan meja kasir, ia melihat ke arah Bobby yang juga sedang sibuk mencatat pesanan.
"Syukurlah kedai ini bisa ramai" ucap Rey dalam hati sambil mengedarkan pandangannya keseluruh kedai.
"Belum waktunya tersenyum bos, banyak yang harus kita kerjakan" Bobby membuyarkan lamunan Rey.
"Hehehe maafkan aku, aku terbawa suasana nyaman ini" kata Rey sambil terkekeh.
Tiba-tiba datang tiga orang pria bertopeng masuk kedalam kedai. Dua orang bertopeng lainnya memblokade pintu keluar.
__ADS_1
"Jangan bergerak!! Cepat keluar semua barang berharga kalian!" Seseorang diantara mereka langsung mengacungkan senjatanya.
Bobby dan Rey saling pandang, ada perampokan di kedai mereka. Bobby langsung menekan salah satu tombol diponselnya.
Para pengunjung terlihat ketakutan, mereka sangat panik.
Dor...
Perampok itu melepaskan tembakan ke sebuah kursi.
"Aku tidak main-main cepat keluarkan semua uang dari dalam kasir!!" ucap pria yang melepaskan tembakan.
Dua pria lainnya mengambil barang yang diserahkan oleh pengunjung. Bobby dan Rey masih menaruh kedua tangan mereka dibelakang kepala. Posisi Rey tertutup oleh Bobby karena Bobby harus selalu menjaga Rey. Rey menunggu aba-aba dari Bobby untuk menyerang. Mereka harus menunggu waktu yang tepat agar tidak ada pengunjung yang terluka.
"Kau yang disana! Cepat keluarkan semua uang!" perintah pria itu kepada pelayan dimeja kasir.
Pelayan itu menoleh ke arah Bobby, Bobby mengangguk pelan. Pelayan itupun segera mengambil semua uang dalam mesin kasir. Saat pria bersenjata maju untuk mengambil uangnya, Bobby langsung bergerak dengan menjegal kakinya hingga pria itu terjatuh.
"Br*****k!!" pekiknya kesal.
Kedua teman yang lain hendak membantu nun Rey dengan satu tendangan memutar melibas mereka berdua hingga tersungkur, Rey langsung membekuk mereka. Pria yang terjatuh lebih dulu hendak mengambil kembali senjatanya, namun Bobby terlebih dahulu menendang senjata itu jauh dari jangkauannya.
"Kau mau bermain-main denganku?" seru pria itu menantang dan berdiri.
"Aku tidak bermain-main dengan nyawa seseorang" tukas Bobby sambil melakukan kuda-kuda bersiap untuk menyerang dan diserang.
Para pengawal Luna yang dipanggil oleh Bobby sudah datang dan membekuk dua orang yang memblokade pintu. Rey membantu pengunjung keluar satu persatu, Bobby masih harus melawan pria yang berada dihadapannya.
"Hiyat..." pria itu menyerang dengan tangkas, sepertinya dia ahli dalam bela diri.
Bobby berusaha melawan, dan hampir saja kewalahan menghadapi perampok itu. Tinggal dia saja yang belum berhasil dibekuk. Rey yang melihat Bobby kesulitan langsung membantunya. Perampok itu segera ingin berlari ketika melihat Rey.
"Heii.. kau tak bisa lari begitu saja!!" Bobby langsung menarik tangan pria itu.
Rey menendang pria yang ditangkap Bobby namun pria itu masih bisa menangkisnya. Dia memang pria yang jago bela diri, Rey dan Bobby bersatu. Bobby membisikkan sebuah rencana, Rey mengangguk dengan cepat.
"Satu.. dua.. tiga.." Bobby menghitung agar Rey mengubah posisinya.
Sat Rey bergerak, perampok itu mulai terkecoh. Bobby langsung memiting kaki sang perampok hingga dia terjatuh dan menguncinya. Akhirnya pria itu bisa dilumpuhkan. Bobby mengikat pria itu dan membawanya keluar kedai dan dikumpulkan bersama temannya yang lain.
"Aku penasaran dengan pria jagoan ini" ujar Bobby menyeringai.
Dengan cepat Bobby membuka topeng pria jagoan itu, mata Rey terbelalak karena terkejut.
"Ayah....???"
__ADS_1