
"Ayah? Apakah ayahmu ada di kota ini?" tanya Rey penasaran, Erika mengangguk.
"Ayah dan ibuku tidak pernah menikah Rey, mereka melakukan cinta dalam satu malam dan menghasilkan aku. Rasanya sangat menyedihkan menjadi diriku. Saat ibuku meninggal aku menemukan buku harian ibuku, dan aku mengetahui bahwa ayah dan ibu bertemu di kota ini"
Rey mengangguk-angguk, ia mulai paham situasinya.
"Kau harus menjelaskannya pada Bobby, aku yakin dia bisa membantumu" Erika menunduk lagi.
"Sepertinya Bobby sudah tidak ingin lagi bicara denganku"
"Cobalah, aku yakin dia masih sangat menyukaimu"
Erika menggeleng, ia tak yakin dengan apa yang Rey katakan setelah apa yang terjadi.
"Kau akan menyesal bila tidak memperjuangkannya" ucap Rey sambil berjalan meninggalkan Erika.
Erika menutup wajahnya namun ia berusaha untuk tidak menangis lagi. Saat keluar dari ruang penyimpanan makanan tak sengaja dia berpapasan dengan Bobby.
"Aku... "
"Jangan bicara lagi denganku!" Bobby berkata dengan ketus lalu meninggalkan Erika.
Rey yang melihat hal itu langsung menghampiri Erika dan merangkulnya, mengajaknya untuk mulai fokus bekerja.
Waktu makan siang seperti biasa restauran ramai dengan pengunjung, Bobby sudah mulai membantu didepan membawakan makanan yang akan disajikan kepada pengunjung.
"Ini berikan kepada meja nomor 5 dan ini untuk meja nomor 12" Erika memberikan piring kepada Bobby, tanpa disadari tangan mereka bersentuhan.
Erika dan Bobby saling bertatapan namun Bobby segera mengalihkan pandangannya dan mengambil piring yang diberikan oleh Erika.
♥️♥️♥️
Mami menelpon Luna, Luna melihat malas ke layar ponselnya.
"Kenapa mih?"
"Besok ajaklah suamimu itu ke rumah, mami ingin bertemu dengan kalian berdua"
Luna seperti mendengar hal yang tak mungkin terjadi.
"Apa? Mami tidak bercanda kan?"
"Mami tidak memiliki waktu untuk bercanda dengan masa depan putri mami satu-satunya" mami menjawab ketus.
"Baik mi, aku pasti datang bersama Rey"
Luna sangat senang maminya mulai luluh, ia memanggil Jiraiya untuk mempersiapkan semuanya.
__ADS_1
"Aku ingin kau siapkan semua pengawal terbaik untuk melindungi aku dan Rey selama di rumah mami. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada suamiku. Owh ya pastikan Bobby ikut bersamaku!" perintah Luna.
"Baik nona" ucap Jiraiya sambil membungkukkan badan.
"Owh ya bagaimana pencarian mu? Apakah kau sudah bisa menemukan Grace?" tanya Luna.
Jiraiya menunduk lalu menggeleng dengan wajah sedih.
"Kau sangat pandai menemukan seseorang untukku, kenapa sulit sekali menemukan seorang wanita untuk dirimu sendiri" ujar Luna sambil menatap iba kepada Jiraiya.
"Saya yakin akan segera menemukannya nona"
"Ini sudah lebih dari 20 tahun Jiraiya, sejak aku kecil aku selalu bertanya pada diriku sendiri kenapa kau tidak menikah"
"Rasa bersalah yang saya rasakan pada Grace begitu besar, saya tidak bisa mengkhianatinya"
"Semoga Grace bisa merasakan rasa besarnya rasa cintamu padanya"
"Saya juga berharap demikian"
"Baiklah, kau persiapkan semuanya. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu"
Jiraiya keluar dari ruangannya, ia menyeka air mata yang ada diujung matanya.
Rey senang mendapat kabar dari Luna kalau besok ia akan diundang datang ke rumah mami.
"Tentang apa?" Bobby balik bertanya, terlihat jelas Bobby tidak fokus.
"Besok aku dan Luna akan datang ke rumah mami. Luna memintamu untuk ikut"
"Owh ya, tuan Jiraiya sudah memberitahuku tadi siang"
"Apakah kau mau minum bersamaku sebentar?" ajak Rey.
"Besok aku akan bertugas menjadi pengawalmu, aku tidak boleh mabuk malam ini"
"Kita akan minum jus, itu tidak akan membuatmu mabuk"
"Baiklah"
Bobby dan Rey berhenti di sebuah mini market yang buka 24 jam, mereka duduk di depan mini market yang menyediakan meja dan kursi kecil.
"Apa tujuanmu mengajakku ke sini?" tanya Bobby curiga.
"Kita sudah lama tak mengobrol banyak" jawab Rey sambil meminum jus dengan sedotan.
"Aku baik-baik saja Rey, tidak ada waktu untuk percintaan yang rumit" Bobby dapat menebak apa tujuan Rey.
__ADS_1
"Aku tahu kau sangat menyukai Erika, jangan terlalu keras dengan dirimu sendiri"
Bobby tersenyum miris, ia menundukkan wajahnya lalu meminum jusnya.
"Ayolah sahabatku, kau bisa memberikan Erika kesempatan. Berilah ia waktu untuk menjelaskan alasannya. Aku tak mau kau menyesal dengan keputusanmu"
"Kau tahu Rey, saat aku menyadari Erika memata-matai mu aku berusaha berdamai dengan diriku atas apa yang dia lakukan dan berusaha menutupinya. Tetapi saat tuan Jiraiya menjelaskan padaku bahaya apa yang bisa terjadi padamu aku sangat merasa bersalah dan tak dapat memaafkan diriku sendiri. Aku tahu apa yang aku lakukan Rey" Bobby menepuk bahu Rey, ia bermaksud memberikan pengertian pada Rey.
"Aku tahu kau begitu bertanggung jawab atas diriku, tapi aku yakin Erika tidak akan tega menyakitiku. Lihat aku? Sampai saat ini aku baik-baik saja"
"Itu karena aku segera menghentikannya! Bila tidak bisa saja ia memberikan informasi penting tentangmu dan nyonya bisa berbuat apa saja kepada mu!" Bobby mulai geram.
"Bobby, cobalah bicara pada Erika. Dengarkan alasannya" Rey melihat Bobby dengan serius.
"Apapun alasannya itu semua tak dapat dibenarkan Rey! Sudahlah, aku sudah mengambil keputusan untuk melepasnya. Ayo kita pulang" ajak Bobby, ia memaksakan senyuman cerianya.
Rey hanya bisa menghela napas panjang, ia tak bisa memaksa Bobby untuk kembali pada Erika. Rey sampai di apartemen.
"Pikirkan lah baik-baik, jangan sampai kau menyesal" Rey mengingatkan Bobby lagi.
Bobby hanya menepuk lengan Rey pelan dan pulang dengan motornya.
"Kau terlihat lelah hubby" Luna melihat wajah Rey yang murung.
"Aku tidak berhasil membujuk Bobby untuk kembali kepada Erika" jawabnya.
"Tak perlu sedih, nanti kita akan memikirkannya lagi. Lihat ini aku sudah menyiapkan makanan untukmu" kata Luna dengan bangga.
Luna memasak telur dadar dan nasi. Telur terlihat agak acak-acakan namun tidak gosong, nasi pun bisa dimasak dengan baik oleh Luna. Mata Rey berbinar, ia mengecup kening Luna.
"Ayo kita makan" Luna menarik tangan Rey.
"Tunggu dulu, aku harus mengganti pakaianku. Ini sudah ku pakai seharian, baunya sudah tidak enak" kata Rey lalu masuk ke dalam kamar, Luna mengikuti langkah Rey masuk ke kamar.
Tak diduga Luna langsung naik ke badan Rey, ia seperti digendong didepan Rey. Rey memegang kaki Luna agar Luna tidak jatuh. Luna langsung menautkan bibirnya ke bibir Rey.
Kriuuukkk...
Perut Rey berbunyi. Luna berhenti menautkan bibirnya dan tertawa.
"Cepat ganti bajumu, aku akan menunggumu diluar" kata Luna sambil terkekeh.
Wajah Rey memerah karena malu, ia segera mengganti pakaiannya lalu keluar. Luna sudah menunggu Rey di meja makan.
"Duduklah disini, aku sudah memiliki ide untuk menyatukan Erika dan Bobby" kata Luna dengan antusias.
"Oh ya, apa itu?" tanya Rey penasaran.
__ADS_1
"Aku akan membuat staff gathering untuk semua pegawai di restauran ke taman hiburan di pusat kota minggu depan, dan kita akan membuat Bobby dan Erika kembali bersama"