Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
S2 - Bintang


__ADS_3

Siang itu Erika sedang berada dikamar, Bobby dan Jiraiya belum pulang. Ia merebahkan dirinya sambil bermain dengan ponselnya.


"Kepalaku terasa pusing.." ucap Erika, ia menaruh ponselnya dan mencoba untuk menutup matanya.


Rasa sakit dikepalanya tidak hilang, malah bertambah dan semakin membuatnya pusing. Erika mengambil lagi ponselnya, ia menelpon Bobby.


"Honey.. kepalaku sangat pusing. Kau bisa pulang?"


"Baiklah aku akan pulang. Kau mintalah air hangat pada pelayan dan tidurlah"


"Baiklah"


Erika menutup telponnya. Ia berusaha berjalan keluar dari kamar secara perlahan. Saat keluar tak ada pelayan yang terlihat.


"Bik.. " panggil Erika.


Tak ada yang menjawab panggilan Erika, lalu ia berjalan menuju kotak obat. Erika bermaksud mencari obat sakit kepala.


"Dimana ayah menaruhnya ya?" ucap Erika sambil sesekali memegang kepalanya.


Tak lama obat yang ia cari dapat ia temukan. Erika mengambil obat itu dan berjalan kembali untuk mengambil air minum.


"Semoga saja setelah meminumnya kepala ku tak akan sakit lagi" ucap Erika yang merasa sakit kepalanya semakin menjadi.


Erika duduk di sofa, ia menyobek bungkus obat yang diambilnya. Lalu Erika meminum obat itu dengan santai, hal itu bertepatan dengan Bobby sampai dirumah.


"Darling.. kau baik-baik saja?" tanya Bobby khawatir.


Erika sempat tersenyum kepada Bobby lalu ia kejang beberapa saat dan seketika pingsan.


"Darling..." Bobby menggoyang tubuh Erika pelan, namun Erika tak bergerak sedikitpun.


"Darling... kau kenapa? Erika... " Bobby mulai frustasi.


Ia langsung menggendong Erika dan membawanya ke rumah sakit.


♥️♥️♥️


Erika sudah berada di ruang operasi dan lampu ruangan itu menyala tanda operasi sudah berlangsung, Bobby menunggu diluar bersama Jiraiya. Keduanya terlihat frustasi. Bobby mengusap wajahnya kasar, air matanya menetes.


Tak ada kata-kata yang terucap dari keduanya, suasaana hening tercipta diiringi isak tangis yang cukup menyayat hati dari Bobby. Sedangkan Jiraiya hanya terdiam dan termenung, tatapannya kosong. Ia merasa jiwanya telah pergi dari raga yang selama ini ia banggakan.


Seorang perawat keluar dengan wajah panik.

__ADS_1


"Apakah anda keluarganya?" tanyanya gusar.


Bobby langsung menyambut pertanyaan perawat itu dengan anggukan, ia mengusap air matanya.


"Pasien mengalami pendarahan, kami harus melakukan transfusi darah untuk menyelamatkan keduanya" ucap perawat itu.


Bobby tahu golongan darahnya dengan Erika berbeda, ia menoleh ke arah Jiraiya yang masih diam saja.


"Ayah.. Erika membutuhkan donor darah. Apakah ayah bersedia menolongnya?"


Jiraiya menoleh ke Bobby dengan tatapannya yang masih kosong, lalu ia mengangguk. Entah saat itu Jiraiya sadar atau tidak.


"Saya akan membawa tuan ini untuk diperiksa"


Bobby membantu perawat membawa Jiraiya. Beruntung golongan darah Erika dan Jiraiya sama, perawat itu langsung meminta Jiraiya untuk mendonor. Jiraiya hanya mengangguk mengikuti arahan perawat yang memeriksanya.


"Ayah.. terima kasih. Kau mau menyelamatkan istri dan anakku" Bobby yang menemani Jiraiya menggenggam jemari ayah mertuanya.


Jiraiya menoleh ke arah Bobby.


"Hanya ini yang bisa membuatku merasa berguna untuk Erika dan cucuku" ucap Jiraiya, setetes bulir bening jatuh dari ujung matanya.


"Erika sangat menyayangi mu ayah, dia selalu memujimu setiap ada kesempatan. Ayo kita saling menguatkan" ucap Bobby, ia tersenyum penuh kepedihan.


"Apa ini anakku?" Bobby langsung menghampiri perawat itu.


"Apa anda suami nyonya Erika?"


Bobby mengangguk dengan pasti.


"Ya ini putri anda, namun..." perawat itu menggantung kata-katanya.


Tak lama dokter keluar, perawat itu membawa inkubator ke ruangan khusus dengan segera. Dokter mengajak Bobby dan Jiraiya berbicara diruangannya.


"Kami bersyukur putri anda dapat dilahirkan dengan selamat dan kondisinya stabil. Namun ia masih harus dirawat dalam inkubator karena ia lahir dalam usia yang belum sepenuhnya siap. Namun nyonya Erika.." Dokter membuka kacamatanya, ia mengatur napas untuk melanjutkan kata-katanya.


"Nyonya Erika masih dalam keadaan koma.." sambung dokter.


Jiraiya dan Bobby terkejut bukan main, mereka menahan perasaannya dihadapan dokter. Dokter menjelaskan kondisi Erika, karena memang kemungkinan Erika akan koma dalam waktu yang lama.


Bobby menutup matanya, ia berusaha menguatkan hatinya. Jiraiya memukul dadanya berulang kali, ia menahan kegelisahan yang berkecamuk dihatinya.


"Nyonya Yasmin akan dipindahkan ke ruang perawatan. Setelah itu tuan bisa melihatnya, kami akan berusaha semaksimal mungkin agar nyonya Erika bisa kembali sadar" ucap dokter.

__ADS_1


Bobby merangkul Jiraiya saat keluar dari ruangan dokter, mereka saling menguatkan. Rey datang, Luna tak bisa ikut karena ia harus banyak istirahat dan Rara harus ditemani.


"Bagaimana keadaan Erika?" tanya Rey dengan nada khawatir.


Bobby langsung memeluk Rey dengan erat. Rey paham apa yang terjadi, ia membalas pelukkan Bobby.


"Tenanglah, Erika sama kuatnya denganmu. Dia pasti akan kembali tersenyum ceria seperti biasanya" hibur Rey, Bobby mengangguk.


"Aku berharap hal yang sama" ucap Bobby.


"Bagaimana dengan bayinya?" tanya Rey sambil melepaskan pelukkannya.


"Erika berhasil melahirkannya, dia sudah dibawa ke ruang bayi namun masih harus berada dalam inkubator" kata Bobby.


Rey mengajak Bobby dan Jiraiya melihat bayi Erika. Setidaknya itu hal yang bisa dilakukan agar mereka tetap bisa tersenyum dalam kondisi seperti saat ini.


"Sangat mungil" ucap Jiraiya dengan tatapan nanar.


"Kau akan menamainya apa?" tanya Rey.


Bobby diam saja sambil memandang bayinya lekat, Rey memegang bahu Bobby. Bobby baru merasa terpukul saat melihat bayinya.


"Bobby.." panggil Rey.


Bobby menoleh, tatapannya sangat menunjukan kesedihannya. Sepertinya Bobby membayangkan membesarkan bayi itu tanpa Erika. Bobby membalik tubuhnya dan terduduk dilantai sambil menutup wajahnya.


"Bagaimana jika..." Bobby tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Jiraiya menoleh ke arah Bobby, ia menghampirinya dan berjongkok didepan menantunya itu.


"Kau tak boleh begini Bobby, kita harus kuat hingga Erika siuman. Apapun yang terjadi kita harus memiliki harapan itu" Jiraiya menatap Bobby tajam, Bobby mengangguk setuju.


Bobby dan Jiraiya berpelukan, Rey tersenyum melihat ketegaran mereka.


"Kau harus mulai memikirkan nama si mungil itu, berikan dia nama yang baik" ucap Jiraiya sambil berdiri bersama Bobby.


Bobby terlihat berpikir. Rey dan Jiraiya melihat kepada Bobby bersamaan, mereka menunggu nama yang akan Bobby berikan pada anaknya.


"Aku akan memberinya sebuah nama. Dimana kita akan selalu ingat untuk berharap dan memiliki harapan akan kesadaran Erika" ucap Bobby, ia tersenyum miris sambil menoleh ke arah Jiraiya dan Rey.


Rey tersenyum, ia melihat sebuah harapan yang besar dimata Bobby.


"Lalu kau akan menamakan apa si mungil ini?" Rey bertanya karena penasaran.

__ADS_1


"Aku akan memberinya nama putriku, Bintang.."


__ADS_2