
"Bibi, bagaimana kabarmu?" sapa Rey sambil tersenyum.
Wanita yang memanggilnya adalah wanita pemilik kedai yang sudah lama mengenal Rey, Luna ikut tersenyum melihatnya.
"Apakah dia istrimu?" tanya wanita yang sudah berusia 60 tahun itu.
"Ya benar nyonya, ini Luna istriku. Dia cantik kan?" goda Rey, membuat Luna menjadi malu.
"Dia sangat cantik, kau sangat pandai memilih istri. Lihat ini wajahnya sangat halus, ia mirip denganku waktu masih muda" kata wanita itu sambil menatap Luna dengan wajah sumringah.
"Terima kasih nyonya" ujar Luna senang.
"Rey ini adalah pria yang rajin, dia selalu membantu bibi dan pamannya. Aku ingat saat bibimu akan melahirkan anak keduanya, kalian bertiga dengan anak pertamanya sedang makan disini dan dia merasakan kontraksi yang hebat" wanita yang bernama Bibi Chen itu mengingat kenangannya bersama Rey.
"Ya waktu itu semua orang menjadi panik dan aku dengan sekuat tenaga menggendong bibiku ke bidan dekat sini" mereka tertawa bersama-sama.
Tiba-tiba pintu kedai terbuka, seorang wanita datang dengan wajah panik.
"Bibi.. Tolong akuu, suamiku memukul ku lagi" Isak wanita itu.
Rey melihat wanita itu dengan seksama, wanita yang sedang panik itu baru sadar ada pengunjung di kedai milik Bibi Chen.
"Ya Tuhan Rey...." pekik wanita itu dan langsung memeluk Rey dengan erat.
Wajah Luna seketika marah, karena wanita itu terlihat berusia tak jauh darinya.
"Jauhkan tubuhmu dari suamiku!" bentak Luna sambil menarik tangan wanita itu dengan kasar, lalu ia berdiri didepan Rey dengan tatapan menantang.
Wanita itu melihat Luna dengan wajah heran. Rey tidak bergeming, dia diam saja. Karena Rey tau wanita itu adalah Minnie, kakak kelas yang pernah menjadi kekasihnya.
"Apa dia kekasihmu Rey?" tanya wanita itu dengan wajah sedih.
"Aku istrinya, istri yang sangat dicintainya!" ujar Luna ketus.
Wanita itu menatap Rey, seolah meminta penjelasan darinya.
__ADS_1
"Sweety, dia adalah Kak Minnie" kata Rey dengan nada datar, sepertinya Rey tidak menyukai pertemuan itu.
Minnie terlihat terkejut mendengar Rey memanggil Luna dengan panggilan yang sangat manis.
"Kak Minnie?" Luna menoleh ke Rey dengan tatapan heran.
"Aku adalah kekasih Rey saat SMA" kata Minnie dengan yakin, Luna menatap Minnie dengan tajam.
Rey memegang pergelangan tangan Luna.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, ini Bi Chen uang untuk membayar makanan kami. Terima kasih" kata Rey sambil menarik tangan Luna dengan lembut.
"Sebenci itu kah kau padaku Rey?" Minnie menghalangi jalan Rey dan Luna yang hendak melangkah keluar.
"Aku tidak pernah membencimu Kak, aku hanya ingin menghindari kesalahpahaman yang akan terjadi bila aku tetap berada disini. Aku harus menjaga perasaan istriku" jawab Rey dengan senyuman.
Luna sudah sangat geram, ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rey namun Rey memegangnya dengan erat.
"Aku ingin menjelaskan kejadian waktu itu dan aku menunggumu untuk menemuiku tapi kau tak kunjung datang. Padahal aku sedang menguji perasaan mu padaku waktu itu" kata Minnie mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
Plaakk....
"Kau tahu, bila kau memang mencintainya jangan pernah mengujinya dengan sebuah perpisahan! Itu adalah keegoisanmu yang paling mendasar, kau ingin tahu seberapa besar rasa cintanya tanpa memikirkan bagaimana perasaannya saat membaca surat perpisahan darimu?!" Bentak Luna.
Minnie melihat ke arah Rey dengan perasaan miris, ia menyesali perbuatannya.
"Rey berjuang untuk tetap bertahan bersama mu bahkan ia berlatih bela diri untuk menjaga dirinya dari pria-pria yang mengejarmu dan menyiksanya! Dan kau dengan mudahnya mengatakan bahwa perpisahan itu adalah sebuah uji coba perasaan! Hatimu sangat busuk!" sambung Luna lagi.
Brak....
Pintu kedai terbuka, seorang pria yang setengah mabuk masuk ke dalam dan menghampiri Minnie. Ia menarik tangan Minnie dengan kasar, Rey menahan tangannya.
"Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku!" bentak pria itu dan ia hendak memukul Rey, dengan sigap Armando langsung memegang tangannya dan menguncinya dibelakang badan.
"Lepaskan aku bo**h!!" maki pria itu kesakitan.
__ADS_1
"Bawa dia pergi dari sini!" seru Bibi Chen, ia merangkul Minnie dan membawanya ke dalam.
Luna memberi kode untuk Armando membawa pria itu pergi. Luna dan Rey diajak masuk oleh Bibi Chen.
"Suamimu itu sudah gila, kau harus segera berpisah dengannya!" ujar Bibi Chen geram, suami Minnie adalah keponakannya namun Bibi Chen tidak suka bila Minnie diperlakukan secara tidak manusiawi oleh keponakannya itu.
Minnie hanya menangis sesegukan dipelukkan Bibi Chen. Rey dan Luna saling tatap.
"Rey, bantulah ia berpisah dengan suaminya. Bibi sudah tidak tahan melihatnya terus-menerus dipukul oleh suaminya itu" pinta Bibi Chen dengan suara lirih.
"Bagaimana cara aku membantunya?" tanya Rey heran, Luna masih menunjukkan ketidaksukaannya pada Minnie.
"Carikan pengacara yang bagus untuknya, suaminya itu suka mengancam dan tidak memberikan uang sepersen pun pada Minnie" Bibi Chen memohon lagi.
"Baiklah, aku akan menolongnya. Tapi ingat jangan pernah kau menyentuh Rey-ku lagi!" seru Luna dengan nada kesal.
"Masa lalu mu dengan Rey sudah selesai, saat ini aku dan Rey sedang menatap masa depan yang indah. Jadi jangan bermimpi untuk memilikinya lagi!" sambung Luna, ia mengambil ponselnya dari saku celana dan menelpon Jiraiya.
"Terima kasih nona muda, terima kasih" Bibi Chen dan Minnie sangat berterima kasih pada Luna.
Minnie sedikit mencuri pandang kepada Rey, namun Rey tidak melihatnya sama sekali. Mata Rey hanya tertuju pada Luna seorang, sangat terlihat cinta mendalam dari Rey untuk Luna. Minnie menghela napasnya panjang.
"Rey, maafkan aku. Aku salah memperlakukanmu tidak baik di masa lalu. Semoga kau tidak membenciku" kata Minnie saat ia dan Rey ditinggal berdua oleh Luna menelpon Jiraiya dan Bibi Chen mengambilkan minum untuk Minnie.
"Aku tidak pernah membencimu Kak" jawab Rey singkat, ia tersenyum dengan tulus.
Melihat senyuman Rey yang tidak berubah, hati Minnie terasa sangat sakit. Ia menyesal sudah menyia-nyiakan hubungannya dengan Rey.
"Pengacaraku akan datang ke sini besok, sebaiknya kau tinggal disini untuk sementara. Pengawalku akan berjaga disini untuk melindungimu" kata Luna, lalu ia menarik tangan Rey untuk pergi dari kedai itu.
Rey dan Luna pamit kepada Bibi Chen, Bobby sudah menjemput mereka dengan mobil lalu mereka kembali ke villa. Setelah sampai mereka langsung masuk ke dalam kamar.
"Rasanya aku sedikit menyesal datang ke sini. Bertemu dengan mantan kekasihmu adalah hal yang paling menyebalkan di dunia!" seru Luna marah.
Rey hanya tersenyum melihat kecemburuan Luna yang menggebu, ia mengelus punggung Luna dengan lembut.
__ADS_1
"Tunggu... tunggu..." Kata Luna sambil sedikit berpikir.
"Apakah kau juga kesal saat melihat Samuel seperti yang aku rasakan saat ini?"