
Armando menoleh dengan mata membulat mendengar ucapan terakhir Rara namun ia tak berani untuk bertanya. Pandangan Rara lurus ke depan, ia seperti tak menyadari apa yang ia katakan. Tiba-tiba Rara memegang dadanya, ia baru merasakan sakit dijantungnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Armando dengan wajah khawatir.
Rara mengangkat kepalanya dari bahu Armando, ia menoleh ke Armando dan menggeleng.
"Aku baik-baik saja, sakit yang aku rasakan bukan dijantungku. Tapi hatiku.." kata Rara yang kembali beruraian air mata.
Armando tak tega melihat Rara terlihat sangat bersedih.
"Ma.. maafkan aku nona" ucap Armando lirih.
Sekali lagi Rara menggeleng, ia menggigit bibirnya menahan sakit didadanya. Dengan gemetar, Armando mengusap air mata yang menetes di pipi Rara. Tangan Armando terasa sangat dingin karena gugup.
Rara juga gugup Armando memegang wajahnya. Armando menarik tangannya, wajah Armando dan Rara sama-sama bersemu merah. Keduanya saling mengalihkan pandangan.
"Emm.. apa aku tadi mengatakan jatuh cinta?" gumam Rara dalam hati.
Rara memegang dadanya yang berdetak dengan kencang, bukan karena sakit namun berdebar-debar.
♥️♥️♥️
Beberapa hari kemudian, terlihat James keluar dari rumahnya. Ia memakai setelan jas berwarna hitam dan bucket bunga mawar merah ditangannya. Malam itu ia akan bertemu dengan orang tua Anne.
"Jangan takut, atau kau akan menjadi bujang tua seumur hidupmu" Bob yang melihat James termenung didepan pintu mobilnya memberi wejangan.
James terkejut dengan suara Bob yang ada dibelakangnya.
"Apakah ayah yakin tak mau ikut denganku?" tanya James.
Bob menggeleng dengan yakin.
"Jika ayah ikut maka kau akan menjadi pria bisu dan mengandalkan ayah untuk melamar gadis itu. Pergilah, dan bawa berita baik saat pulang" Bob terkekeh dan kembali masuk ke dalam rumah.
James menghela nafas panjang, ia dan Anne sudah berlatih berulang kali agar tak gugup. Semua kata-kata yang akan ia ucapkan sudah tertulis dengan rapi, jika ia lupa maka ia tinggal membuka catatan itu.
Perjalanan ke rumah Anne terasa sangat berat, James berulang kali mengelap keringat yang ada Adi dahinya. Ac mobil terasa sangat panas untuk James, tak lama ia sampai di perkarangan rumah Anne yang megah.
__ADS_1
"Kau sudah datang.." Sambut Anne dengan wajah sumringah, ia mengenakan gaun berwarna merah muda yang menawan.
James berusaha tersenyum dengan wajar dan hanya mengangguk dengan sambutan hangat wanita pujaan hatinya itu. Anne mengajak James masuk, sudah ada kedua orang tua Anne, Yasmin dan Samuel yang sedang menggendong Sheryl.
"Se... se.. lamat malam.." ucap James terbata-bata.
Yasmin mengulum senyumnya melihat kegugupan James, Samuel hanya melirik malas ke arah James. Mami dan papi Anne saling pandang lalu memperhatikan James dengan seksama.
"Tenanglah, mereka tak akan memakanmu" bisik Anne sambil tersenyum usil pada James.
Berkali-kali James mengusap keringatnya, bahkan ia lupa memberikan bunga yang ia bawa untuk mami Anne. Semua mata tertuju pada James, ia menelan ludahnya perlahan.
"Saya ingin menikah dengan Anne.." ucap James pada akhirnya, semua kata-kata yang sudah tertulis dan latihan yang selama ini dilakukan sia-sia begitu saja.
Yasmin menahan tawanya melihat ekspresi dan ucapan James, Anne tersenyum senang. Papi dan mami Anne terkejut dengan keterus terangan James, ia terlihat seperti pria matang yang polos.
"Kau terlalu tua untuknya" seru Samuel ketus, Yasmin menyiku perut Samuel dan melotot padanya.
"Diam atau aku sobek mulutmu!" ancam Yasmin dengan suara pelan.
Samuel mengalihkan pandangannya dari James, ia membawa Sheryl masuk ke kamar.
Hal ini menjadi sangat menakutkan daripada terkena minyak panas didapur restauran.
"Sa.. sa.. saya.. mencintai Anne tuan.." jawab James pelan.
Papi mengernyitkan dahinya, ia hampir tak mendengar suara James.
"Apa?" tanya Papi lagi.
"Saya tak dapat hidup tanpa Anne, hidup saya akan sempurna dengan Anne menjadi pendamping saya" ucap James cepat dengan suara lantang.
Anne tertawa namun ia menutup mulutnya, tak pernah ia sangka James akan segugup ini. Berbeda dengan dirinya yang tegas dan santai saat di restauran. Papi menyandarkan tubuhnya disofa dan menoleh ke mami, mami tersenyum. Mami sudah sangat paham maksud suaminya.
"Bagaimana denganmu Anne?" tanya mami dengan lembut.
Anne terdiam, ia melirik ke arah James yang masih terpaku. James dan papi saling pandang, tatapan papi seperti curiga sedangkan James agak ketakutan.
__ADS_1
"Aku mencintai James mami, tidak ada alasan menolak pinangannya" jawab Anne dengan yakin dan ceria.
Mami tersenyum mendengar jawaban putri yang selalu ia anggap sebagai anak kecil. Mami memegang paha papi, meminta suaminya menanggapi jawaban Anne.
"Apa kau sudah yakin Anne?" tanya Papi sambil menatap putri cantiknya, Anne mengangguk dengan mantab.
Tiba-tiba air mata papi mengalir deras, mami nyaris tertawa melihat ekspresi berlebihan suaminya. Mami langsung mengelus punggung papi dengan lembut, Yasmin pun membantu mami menenangkan papi Anne.
"Pi.. Anne sudah cukup dewasa untuk menentukan masa depannya," ucap mami pelan.
"Tapi dia putri kecilku yang manis, bagaimana bisa dia menikah semuda ini? Papi masih ingin ia bermanja dan memeluk papi" Isak papi, membuat Anne menjadi terharu.
Anne mendekati papi dan memeluknya erat.
"Tentu saja aku masih akan menjadi putri papi, apakah setelah menikah papi akan melarangku bermanja dan memeluk papi?" kata Anne.
Mami dan Yasmin saling pandang dan tersenyum, hanya James yang belum bisa tersenyum saat itu. Ia belum mendapatkan jawaban yang ia inginkan.
"Pi.. James adalah cinta pertamaku. Dia baik, tampan dan dewasa. Aku yakin dia bisa menjadi pria yang hebat seperti papi" hibur Anne sambil mencium pipi papinya.
Papi menatap Anne lekat, ia memegang kedua pipi putri cantiknya. Anne memegang tangan papi dan tersenyum. Papi mengalihkan pandangan ke arah James, James yang merasa diperhatikan oleh papi langsung berdiri dan membungkuk.
"Saya akan menjaga dan melindunginya sampai kapanpun, juga berjanji tak akan membuatnya menangis" janji James pada papi.
"Apa kau akan menjauhkan Anne dariku setelah menikah?" ujar papi dengan nada mengancam.
James menggeleng.
"Tidak tuan, saya akan tetap mengizinkan Anne untuk bertemu tuan kapan pun ia menginginkannya" James berkata dengan jelas.
Papi menghela nafasnya, Anne mengusap air mata dari pipi papinya.
"Pi.. izinkan aku menikah dengan James" Anne setengah merengek.
Papi membelai rambut Anne perlahan.
"Menikah adalah bukan main-main Anne, apa kau benar-benar sudah siap untuk itu semua?"
__ADS_1
Anne mengangguk dengan tegas.
"Aku akan belajar dari mami mulai hari ini"