
Siang itu Yasmin dan Samuel bersiap untuk konferensi pers kelahiran Sheryl, acara digelar di ballroom hotel Luna. Agensi Samuel memilih tempat itu karena memang ini merupakan salah satu peristiwa besar untuk dunia hiburan.
"Apa kita harus menggunakan baju dengan warna senada? Aku seperti berada di taman kanak-kanak" ucap Yasmin kesal, Samuel seakan tak perduli dengan ocehan Yasmin ia bermain dengan Sheryl dengan wajah bahagia.
"Jangan mengomel terus Yasmin, kau akan menambah kerutan diwajahmu. Dengan memakai pakaian warna senada maka kita makin terlihat seperti keluarga yang harmonis" Samuel menjawab sekenanya.
"Cih.. bahagia apanya? Bahkan tak ada cinta disini.."
"Kau mau cinta dariku? Hahaha ya ya ya wajar saja, semua wanita menginginkannya tak terkecuali istriku sendiri" Samuel memulai sesuatu yang sangat dibenci oleh Yasmin.
"Haruskah kau mengatakan hal itu? Pantas saja kau senang kemarin ada gadis bernama Carol itu datang dan mengatakan ingin aku membagimu dengannya" cibir Yasmin, sangat terlihat guratan rasa cemburu dimatanya.
"Kau masih saja membahasnya, aku sudah memutuskan tidak menerimanya menjadi pacarku. Seharusnya kau berbangga hati karena aku memilihmu dibandingkannya"
"Itu sangat lucu Sam, aku tak memintamu untuk memilihku" Yasmin tertawa meledek.
"Ya memang kau tak memintanya, tapi aku masih membutuhkan kakiku saat ini"
Gio memanggil Yasmin dan Samuel yang berada di salah satu kamar di hotel Black.
"Kalian sudah siap? Para wartawan sudah menunggu.." ucap Gio, Samuel mengangguk ia menggandeng Yasmin untuk keluar bersamanya.
Yasmin berusaha membuat wajah senyum seindah mungkin untuk menyeimbangkan dirinya dengan akting Samuel.
"Berikan tepuk tangan untuk Samuel dan keluarga kecilnya.." ucap MC yang membuka acara itu.
Samuel dan Yasmin menebar senyum kepada semua awak media, Samuel menggendong Sheryl dengan wajah bangga.
"Saya ucapkan terima kasih kepada semua awak media yang berkenan hadir.."
Samuel menyampaikan sambutannya kepada wartawan, ia menunjukan wajah Sheryl yang imut itu. Yasmin tersenyum ke sana kemari menunjukan keramahannya.
"Bisakah kalian berhenti berpura-pura!!" tiba-tiba Carol datang dengan sombongnya, ia sudah menyiapkan segala sesuatu untuk membongkar keaslian pernikahan Yasmin dan Samuel.
"Semua kebohongan akan aku bongkar semuanya" ujar Carol lagi lalu menjentikan jarinya.
__ADS_1
Sebuah layar proyektor menunjukan Yasmin yang sedang memarahi Samuel dan beberapa gambar lainnya yang memperlihatkan sikap kasar Yasmin pada Samuel. Samuel memberikan Sheryl kepada Yasmin, itu cukup untuk meredam kemarahan Yasmin.
"Maaf untuk semua rekan media, dan terima kasih Carol atas slide show yang sangat bagus ini. Jujur saja tak ada rumah tangga yang terus menerus dalam situasi damai, ada kalanya percikan datang apalagi saat ini kami baru saja membiasakan diri dengan kehadiran Sheryl. Istriku marah ya memang wanita suka marah saat ada sesuatu yang tak sesuai dengan harapannya. Tapi bukan berarti dia membenciku dan tak bisa menghargaiku sebagai suaminya. Hahaha ini bukan sesuatu yang ingin kami sembunyikan namun kami hanya ingin membagi kebahagiaan dan biarlah masalah kami tidak menjadi konsumsi publik" ujar Samuel, membuat Yasmin yang ada disebelahnya menatap dengan tatapan tak percaya.
Carol menghentakkan kakinya karena kesal, ia meninggalkan tempat itu sambil mengumpat Yasmin melalui gerakan bibirnya yang tak bisa ia keluarkan.
"Ya terima kasih untuk suamiku yang selalu bisa menerima segala kekuranganku" Yasmin mengucapkannya sambil tersenyum pada Samuel, Samuel malah terlihat ngeri dengan senyuman Yasmin yang mengandung sejuta makna menyeramkan untuknya.
Konferensi pers sudah selesai, Yasmin dan Samuel kembali ke kamar. Yasmin menidurkan Sheryl di ranjang, Samuel sedang berusaha membuka dasinya yang terkait kencang dilehernya. Yasmin menghampiri Samuel.
"Begini saja kau tak bisa" ucap Yasmin dengan nada agak ketus, ia mengalungkan tangannya dileher Samuel untuk membantu Samuel melepaskan dasinya.
Samuel melihat Yasmin dengen seksama, Yasmin hendak pergi setelah selesai membantu Samuel. Namun dengan isengnya Samuel menahan tubuh Yasmin dan membuat wajah mereka saling berdekatan.
"Lepaskan aku Sam" ujar Yasmin yang merasa tak nyaman dengan posisinya.
"Kau berhutang sesuatu padaku Yasmin" Ujar Samuel menatap Yasmin penuh keinginan.
"Berhutang? Apa maksudmu?" tanya Yasmin heran.
"Aku sudah membelamu tadi didepan para wartawan, apa aku bisa mendapatkan ucapan terima kasih dalam bentuk lain?" Samuel menggoda Yasmin, Yasmin menyeringai.
"Aku tak menolak bila kau memang ingin memberikannya" ucap Samuel.
Yasmin mengangguk-angguk seperti setuju dengan permintaan Samuel. Yasmin mendekatkan wajahnya ke bibir Samuel, semakin dekat membuat Samuel semakin berharap.
"Itu hanya akan terjadi dalam mimpimu" ucap Yasmin lalu melepaskan diri dari Samuel dan berlalu masuk ke kamar mandi.
"Dia sangat jual mahal...tapi aku mulai menyukainya" Samuel mengusap bibirnya yang sudah hampir disentuh oleh bibir Yasmin.
♥️♥️♥️
Bobby sampai di dermaga, ia memberikan uang yang cukup banyak pada Louis. Louis menerimanya dengan wajah bahagia. Bobby langsung memberhentikan sebuah taxi dan masuk ke dalamnya.
"Pak bisakah kau secepat mungkin membawaku ke apartemen Krisan?" tanya Bobby penuh rasa rindu.
__ADS_1
Padahal baru hampir dua hari ia menghilang dan tidak bertemu istrinya.
"Maaf tuan, jalanan sangat padat. Didepan ada sebuah kecelakaan" ucap pak supir membuat Bobby semakin gusar.
Bobby ingin berlari namun jaraknya masih sangat jauh dan kondisinya masih belum memungkinkan untuk lari sejauh itu.
"Ya Tuhan cobaan apa ini? Aku sangat merindukan Erika dan ingin memeluknya segera" doa Bobby dalam hati.
Bobby frustasi, taxi berjalan sedikit demi sedikit. Rasanya semakin jauh dari apartemen yang ia tuju.
"Aku turun disini saja.." ucap Bobby lalu memberikan uang kepada supir taxi itu.
Ia berjalan perlahan, namun itu lebih membuatnya nyaman karena tujuannya menjadi cepat terlaksana yaitu menemui istrinya.
"Bobby?" ada suara yang memanggilnya.
Bobby menoleh, Ben ada dibelakangnya dengan tatapan heran melihat kondisi Bobby.
"Tuan Ben?"
"Bukankah kau hilang dilautan? Bagaimana kau bisa sampai disini?" Ben semakin tak percaya apa yang dilihatnya.
"A.. aku..."
"Sudah aku sepertinya paham, aku akan mengantarmu ke apartemen"
Ben menelpon seorang pegawainya dan meminjam sebuah sepeda motor karena jalanan padat dan hanya motor yang memungkinkan ia mengantar Bobby dengan cepat. Ben juga menelpon Luna memberitahukan Bobby ada bersamanya.
"Erika.. Bobby sudah sampai di kota. Dia menuju ke sini..." ujar Luna yang sedang bersama Erika di apartemennya.
"Benarkah?" Mata Erika berkaca-kaca.
Erika keluar dari apartemen, Luna terkejut namun tak bisa menahannya. Erika menekan tombol lift berulang kali, ia ingin segera menemui Bobby dan tak bisa diam saja menunggu didalam apartemen.
Ting...
__ADS_1
Lift terbuka Erika langsung masuk ke dalam dan tak lama sampai di lobby bawah. Terlihat Bobby sedang menyerahkan helm dan mengucapkan terima kasih kepada Ben. Erika berjalan cepat melihat Bobby yang sudah ada dihadapannya. Saat Bobby membalik tubuhnya Erika langsung memeluknya.
"Honeeyy... aku sangat merindukanmu"