
"Itu ide yang bagus, kau sangat pintar" Rey mencubit pipi Luna pelan.
"Ini makanlah" Luna menyuapi telur dadar ke mulut Rey.
"Hap.. awww asin..." kata Rey.
"Benarkah?" Luna mencoba telur dadarnya, ia melepehkan kembali telur itu.
"Aku terlalu banyak menaburkan garam diatas telurnya" Luna terlihat merasa bersalah.
"Tak apa-apa, aku akan memakannya dengan nasi pasti rasanya akan lebih enak" hibur Rey.
♥️♥️♥️
Pagi itu Rey dan Luna bersiap ke rumah mami, keduanya memakai bajunya serasi. Rey dengan kemeja biru dan celana bahan panjang berwarna hitam. Sedangkan Luna memakai gaun dengan potongan pendek berwarna senada dengan kemeja Rey.
"Semuanya sudah siap nona"
"Ayo hubby"
Luna dan Rey menaiki lift menuju parkiran, tangan Rey terasa dingin karena gugup. Luna menggenggamnya erat untuk menenangkan Rey.
"Mami ku orang yang baik hanya saja Samuel terus menghasutnya. Kau tak perlu takut"
Rey tersenyum mendengar kata-kata Luna.
Sesampainya dirumah mami, Luna dan Ray turun dari mobil. Tidak ada penjagaan yang ketat disana membuat Luna heran.
"Selamat datang nona muda, tuan muda" sapa para pelayan disana.
Mami duduk di kursi ruang tamu yang seperti singasana, ada beberapa sofa berjajar didepannya. Luna dan Rey duduk di sana. Luna melihat sekitar, tidak ada tanda-tanda Samuel disana.
"Kalian sudah sarapan?" tanya mami dengan wajah datar, matanya masih melihat tidak suka ke arah Rey.
"Sudah mi, Rey selalu memasak untukku" jawab Luna sambil tersenyum pada Rey dan menggenggam tangannya.
"Bila kau mencari koki, menurut mami terlalu berlebihan kalau kau sampai menikahinya" mami berkata dengan sombong.
__ADS_1
"Mamiiii...."
"Apa yang salah dari kata-kata mami? Kau bisa mempekerjakannya lalu memberikan imbalan yang pantas" mami masih saja merendahkan Rey.
"Saat aku menikah dengan Rey aku hanya melihat kebaikan hatinya mi, aku sama sekali tidak berpikir dia akan memperlakukan aku dengan sangat baik seperti saat ini. Bukankah wanita akan beruntung bila menikah dengan seorang pria yang bisa menjadikannya ratu? Seperti mami saat menikah dengan papi?"
Mami terdiam, ia menatap wajah Luna. Terlihat putrinya itu bahagia dengan suami pilihannya, bahkan Luna tidak marah-marah seperti biasanya saat mami memaki Rey.
"Kau terlalu membelanya, dia akan besar kepala bila kau seperti itu" mami makin menekan Rey dengan kata-katanya.
"Yang aku katakan ada kebenaran mami, aku mohon jangan terus merendahkan Rey. Dia bahkan jauh lebih baik dari Samuel"
"Apa yang membuatmu seyakin itu?"
"Rey tetap memaafkan Erika, orang yang mami bayar untuk memata-matainya. Padahal aku tahu dengan pasti mami akan mencelakakan Rey"
Mami terkejut Luna tahu semua hal yang dilakukannya pada Rey.
"Apa kau bisu? Bicaralah sesuatu yang dapat meyakinkanku kalau kau adalah pria yang pantas untuk putriku" desak mami, Rey yang daritadi terdiam langsung berdiri.
"Sebelumnya saya belum memperkenalkan diri saya dengan baik kepada nyonya. Nama saya Rey Julian, saya berasal dari keluarga biasa yang sehari-hari bekerja di kebun buah peninggalan kakek saya. Saya tidak dapat menjanjikan apapun kepada nyonya untuk memberikan Luna harta dan benda berharga, tetapi saya memiliki hati yang besar untuk menerima segala kekurangan dan kelemahannya. Bila Luna mabuk saya akan menggendongnya pulang dan mengingatkannya akan bahaya alkohol, bila Luna terluka maka saya akan mengobatinya dengan sepenuh hati saya dan jika ada yang berniat menyakiti Luna saya akan berada didepannya untuk melindunginya dengan segenap jiwa dan raga saya"
Mami terkesima dengan perkenalan Rey, ia sama sekali tidak mengungkapkan keburukan Luna sama sekali. Bahkan Rey senantiasa menemani Luna dan melindunginya. Jiraiya memberikan sebuah tablet kepada mami, dan memperlihatkan bagaimana Rey menolong Luna.
Mami melihat semua gambar yang ada di tablet itu. Lalu ia meminta Luna untuk bicara berdua dikamarnya.
"Kau duduklah disini, aku akan segera kembali" ucap Luna lalu mengikuti langkah maminya masuk ke kamar.
Tak lama Luna keluar lagi dengan wajah ceria. Rey berdiri saat melihat Luna, Luna langsung meloncat kepelukan Rey.
"Mami sudah merestui pernikahan kita" ucapnya.
"Benarkah?" Luna mengangguk, Rey mengangkat tubuh Luna dan memutar badannya.
Kebahagiaan mereka sepertinya lengkap sudah dengan restu dari mami.
Di lain sisi, Jiraiya baru saja mendapat telpon dari orang suruhannya yang ia utus untuk mencari Grace. Wanita yang menjadi cinta pertama dan bisa disebut juga cinta satu malamnya. Orang suruhan Jiraiya mengatakan bahwa Grace sudah meninggal tiga tahun yang lalu dan ia memiliki seorang anak.
__ADS_1
"Ada apa tuan?" Bobby melihat wajah Jiraiya yang terlihat lesu, tak seperti biasanya yang selalu tegas dan sangar.
Jiraiya seperti akan terjatuh ia memegang dadanya, Bobby memeganginya.
"Tuan.." Bobby khawatir.
"Dadaku terasa sakit.." Tiba-tiba Jiraiya pingsan.
Luna dan Rey yang melihat Jiraiya pingsan langsung menghampirinya dengan wajah panik, Jiraiya langsung dibawa ke rumah sakit.
"Apa yang terjadi?" tanya Luna kepada Bobby.
"Aku tak tahu pasti nona, tetapi tuan Jiraiya baru saja menerima telpon dan mungkin saja hal itu yang membuatnya terkena serangan jantung" jawab Bobby masih menerka-nerka.
"Ya Tuhan.." Luna menangis, Rey memeluknya.
"Tolong jaga dia Bobby, aku akan membawa Luna duduk dikursi itu"
Bobby mengangguk, dokter keluar dari ruangan Jiraiya diperiksa. Bobby diajak oleh dokter ke ruangannya. Selang beberapa lama Bobby keluar dari ruangan dokter dengan wajah sedih.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Rey cemas, Luna masih dalam pelukannya.
"Tuan Jiraiya terkena serangan jantung, ia tidak boleh diberikan tekanan apapun. Saat ini dia harus beristirahat dengan baik" kata Bobby sambil menunduk, Jiraiya adalah orang yang penting dalam hidup Bobby.
"Aku yakin Jiraiya akan baik-baik saja, kau harus percaya itu" kata Rey sambil menepuk pundak Bobby, Bobby mengangguk.
Bobby, Rey dan Luna serta beberapa pengawal menunggu Jiraiya dipindahkan ke ruang rawat inap. Setelah Jiraiya dipindahkan, Luna dan Rey pamit karena Luna harus menghandle semua urusan hotel.
Bobby duduk didekat ranjang Jiraiya, ia memegang tangan Jiraiya yang terbaring lemah.
"Aku yakin kau akan kembali baik lagi, tuan" ucap Bobby lirih, ia meneteskan air matanya dan membenamkan wajahnya di tangan Jiraiya.
Seorang pengawal datang membawa sebuah amplop coklat, ia mengatakan itu adalah berkas yang ditunggu oleh Jiraiya. Bobby menerimanya, ada tulisan rahasia dibagian luarnya. Biasanya Bobby akan menyimpannya untuk Jiraiya namun entah mengapa Bobby merasa penasaran dengan isi amplop itu.
Diam-diam Bobby membukanya perlahan, matanya terbelalak.
"Ya Tuhan apakah ini mungkin?"
__ADS_1