
"Apa? Menculik Samuel?" Luna terkejut dan menatap Rey, wajah Rey juga tak kalah terkejutnya.
Mami menjelaskan apa yang Samuel ceritakan, Luna mendengarkan dengan seksama sambil melihat ke arah Rey dengan tatapan kesal. Sesekali Luna mengangguk dan akhirnya mami memutus telponnya.
"Rey, jelaskan padaku apa yang terjadi?" Suara Luna terdengar marah.
Rey tak bisa mengatakan apapun, ia sudah berjanji pada Bobby untuk merahasiakannya.
"Ayolah Rey, ceritakan padaku. Mami menelponku dan akan melaporkanmu ke polisi. Bahkan ia juga akan menyeret Bobby" Mata Rey terbelalak.
"Baik baik aku akan menceritakannya, tapi kita bicara sambil duduk"
Rey menghampiri Luna dan mengajaknya duduk di sofa. Mereka duduk berhadapan dan Rey memegang kedua tangan Luna dengan lembut.
"Maafkan aku nona, aku tidak memiliki niat apapun untuk membohongimu.."
Pelan-pelan Rey menceritakan kronologis kejadian yang menimpanya beberapa hari yang lalu, mulai dari penculikan Erika, niatnya untuk pergi hingga rencana Bobby untuk membalas perbuatan Samuel. Luna menatap dalam-dalam mata Rey.
"... Begitulah nona, aku dan Bobby sama sekali tidak menyakitinya. Bahkan aku tidak menyentuhnya sama sekali"
"Memang dia adalah pria yang sangat br******k! Aku akan membuat perhitungan dengannya!" kata Luna geram, ia segera berdiri hendak mengambil ponselnya.
"Sudahlah nona, itu semua sudah berakhir" Rey menahan Luna.
"Walaupun semua sudah berakhir tetapi apa yang dilakukan Samuel tidak dapat dibenarkan!"
"Jangan emosi nona.Bila memang mami nona ingin melaporkanku dan Bobby, kami tidak akan kabur dan mengikuti proses hukum dengan baik"
"Ya Tuhan, apakah suamiku ini Kau ciptakan terlalu sempurna?" Luna memegang kedua pipi Rey kuat-kuat sambil menatapnya.
Rey hanya tersenyum manis. Luna mengecup kening Rey lama, ia merasa beruntung dipertemukan dengan pria sebaik Rey.
"Kau tahu Rey, bila saat itu kau tidak menolongku mungkin aku sudah menjadi wanita yang gila" ucap Luna sambil menyenderkan kepalanya di dada Rey.
"Itu adalah keberuntungan bagiku nona, bertemu gadis cantik sepertimu dan bisa menikah denganmu adalah anugerah yang tak pernah aku bayangkan seumur hidupku. Tapi ini nyata bahkan saat ini aku bisa menyentuh tubuhmu" Rey mengusap lembut rambut Luna.
"Sejak kapan kau mencintaiku?" tanya Luna sambil menatap mata Rey.
"Aku tak tahu dengan pasti tapi aku jatuh cinta kepadamu setiap hari sejak kita bertemu" wajah Luna memerah.
"Bukankah aku sangat galak kepadamu?"
"Tidak nona, kau sangat baik. Bahkan kau memberikan aku pekerjaan di restauran dan mempertemukan aku dengan Bobby, sahabat lamaku yang lama menghilang"
"Begitukah menurutmu?" Rey mengangguk, ia berdiri dan berjalan menuju lemarinya untuk mengambil dompet.
"Lihat ini" Rey mengeluarkan sebuah kertas yang sudah dilaminating yang ada didalam dompetnya.
'Ya Tuhan..." mata Luna berkaca-kaca karena terharu.
__ADS_1
"Kau begitu mencintaiku, sampai-sampai aku merasa kalah" Luna memeluk Rey erat.
"Aku mencintaimu nona, bahkan terlalu mencintaimu hingga aku takut menyakitimu"
"Tapi kau hampir meninggalkan ku"Luna cemberut.
"Hal itu tidak akan pernah terjadi lagi nona, aku akan berusaha untuk selalu berada disisimu"
"Rey, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"
"Apa itu?"
"Bisa kah kau berhenti memanggilku nona?" Rey menunduk, ini sama seperti yang Bobby tanyakan.
"Apakah itu adalah panggilan yang buruk menurutmu nona?"
"Bukan begitu, tapi kau adalah suamiku. Kontrak itu sudah ku hancurkan berkeping-keping, kau adalah suamiku sesungguhnya"
"Ya aku tahu itu, tapi..."
"Tapi apa Rey?"
"Apa kau keberatan bila aku memanggilmu sweety?" Luna mengangguk senang, ia suka dengan panggilan itu.
"Baiklah aku akan memanggilmu dengan sebutan hubby, apa kau suka?" Rey juga mengangguk senang.
"Baiklah hubby, dimana tehku?"
Mereka saling bertatapan lalu tertawa dengan panggilan baru yang lucu itu. Rasanya masih sangat aneh tapi mereka berusaha membiasakannya.
Rey mengambil teh yang sudah ia buat untuk Luna.
"Silakan sweety diminum tehnya" goda Rey yang sebenarnya masih agak canggung memanggil Luna dengan panggilan barunya.
"Terima kasih hubby tercintaku"
Mereka berdua tertawa lepas, bahkan mereka seperti tidak memiliki masalah apapun di masa lalu dan ke depannya.
"Aku harus menghubungi Bobby" Tiba-tiba Rey beranjak dari duduknya.
"Untuk apa?"
"Tentu saja aku dan Bobby harus mempersiapkan diri untuk dilaporkan oleh mami"
"Owh ya kau benar, cepat kau hubungi dia"
Rey mengambil ponselnya dan menelpon Bobby.
"Iya bos" jawab Bobby enteng.
__ADS_1
"Dengarkan aku baik-baik..."
Rey menceritakan tentang pelaporan yang akan dilakukan oleh mami Luna.
"Baiklah serahkan semua ini padaku. Aku akan membuat aktor bodoh itu malu untuk kesekian kalinya. Dan sepertinya aku sudah tidak memiliki belas kasih kepadanya saat ini" ucap Bobby sambil tertawa.
"Jangan bertindak yang aneh Bobby, aku yakin mami tidak akan semudah itu mempercayai apa yang kita katakan"
"Aku tahu Rey, aku tahu. Kau tidak perlu khawatir, akan ku buat aktor kacangan itu menelan kata-katanya sendiri sampai ia mengompol lagi" Bobby menambah keras ketawanya.
"Baiklah, aku percayakan ini padamu. Tapi ingat jangan menculiknya lagi atau kita benar-benar dalam masalah besar"
"Iya Rey, tenanglah. Kau berkata seolah-olah aku adalah orang yang berhati kejam yang akan menerkam tuan gila itu"
"Aku hanya mengingatkanmu. Baiklah aku tutup telponnya. Bye"
Rey mematikan telponnya lalu kembali duduk disebelah Luna.
"Bagaimana? Apakah Bobby memiliki cara untuk melawan Samuel saat pelaporan?"
"Sepertinya begitu, aku dengar Bobby sangat yakin dengan kata-katanya"
"Bagus, itu artinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan" Luna menjentikkan jarinya.
"Apakah kita bisa mengandalkannya?"
"Ya kau benar, hubby. Bobby adalah mata-mata terbaik yang aku miliki dan kau pasti tahu dialah yang membongkar segala kebusukan Samuel dulu"
"Ya aku tahu itu, dia sangat bangga saat menceritakannya"
"Jiraiya sangat beruntung memiliki anak seperti Bobby"
"Anak?" Rey bertanya heran.
"Anak angkat, Jiraiya sangat menyayangi Bobby bahkan mengangkatnya sebagai anak karena Bobby merupakan anak yang patuh dan dapat diandalkan waktu itu. Aku pun selalu bangga padanya, usianya sama denganku tetapi dia mau bekerja keras" tutur Luna sambil mengingat masa awal Bobby bergabung didalam hotelnya.
"Ya dia sudah melewati saat-saat yang berat"
"Sekarang dia sudah memiliki Erika, seorang wanita kuat nan berani yang selalu menolong semua orang direstauran"
"Mereka adalah pasangan yang sangat serasi" ucap Rey, Luna mengangguk setuju.
"Hoaaaam, aku lelah" Luna merenggangkan tubuhnya.
"Baiklah, selamat beristirahat sweety" ucap Rey sambil tersenyum.
Luna menatap heran kepada Rey.
"Mengapa kau mengatakannya sekarang?"
__ADS_1
"Apakah aku harus mengatakannya besok pagi?" Rey bingung dengan pertanyaan Luna.
"Mulai hari ini kau akan tidur bersamaku di kamar"