
"Ibuuu?? Itu ibumu?" Luna terkejut.
Rara menunduk dan mengangguk pelan, Armando yang mengetahui bahwa itu adalah ibu Rara menelpon pengawal Luna lainnya untuk membereskan masalah mengenai ibu Rara.
"Jangan usir dia, bagaimana pun itu adalah ibuku" Rara berkata dengan lirih.
"Darimana ia tahu tempat tinggalku?" Luna bertanya dengan nada kesal.
"Nona adalah wanita terkaya di kota ini, hampir semua orang tahu dimana tempat tinggal nona" ujar Armando membuat Luna terperangah.
"Terkadang aku lupa siapa diriku di sini" Luna bertambah kesal.
Rara menatap nanar ke arah ibunya yang sedang berteriak-teriak didepan pintu masuk apartemen, dua orang sekuriti menahannya untuk masuk.
"Aku ingin menjemput anakku!! Mereka mengambilnya dengan semena-mena!!" maki ibu Rara, Rara sangat malu melihatnya.
Tiba-tiba Rara keluar dari mobil, Luna terlambat menahannya. Armando terkejut dan mengejar Rara.
"Ibu.." panggil Rara penuh dengan rasa takut.
Feli, ibu Rara menoleh dan menatap Rara dengan kesal. Ia menghampiri Rara dan hendak memukulnya namun Armando langsung menangkap tangannya lalu berdiri didepan Rara sebagai tameng.
"Siapa kau! Minggir aku mau membawa anakku pulang!" seru Feli kesal, ia tak terima perlakuan Armando.
Rara tak mau berlindung dibelakang Armando ia berdiri disebelah Armando.
"Ikut dengan ibu, kau tak bisa pergi begitu saja!" Feli hendak memegang tangan Rara namun Armando menepis tangan Feli.
"Kau!!!" Ibu menatap marah pada Armando.
"Kembalikan uang yang telah kami berikan padamu kemarin dan kau bisa membawa Rara pergi" ucap Armando datar.
Feli menghentakkan kakinya kesal.
"Harga anakku tidak semurah itu!" ujar Feli menantang.
"Bila memang itu sebuah harga yang murah, aku berikan kau waktu satu jam dari sekarang untuk mengembalikannya segera" Armando berkata dengan santai namun Feli bertambah geram, ia hendak memukul Armando.
"Ibu.. jangan!!" kali Rara menahan tangan ibunya.
Feli melotot.
"Kau sudah berani melawan ibu?? Hah!!!" bentak Feli kesal.
"Apa kau ingin dipenjara nyonya? Aku bisa memanggil polisi untuk menangkapmu karena kau sudah membuat keonaran disini" ucap Armando, ia menarik tangan Rara agar menjauh dari ibunya.
"Kau mengancamku?!" Feli makin kesal, wajah Armando menunjukan ketidakpedulian padanya sama sekali.
"Apa dia kekasihmu?! Sampai kau berani melawan ibu dan membiarkan pria ini mengancam ibumu sendiri!" teriak Feli, emosinya tak terkendali.
Feli datang karena ia membutuhkan uang untuk membayar hutangnya yang lain, uang yang diberikan Bobby tidak dapat menutup semua hutangnya. Karena sebagian uang itu dia gunakan untuk berjudi dan kalah.
__ADS_1
"Ya sudah aku akan pergi tapi berikan aku uang 1 juta !" pinta Feli sambil mengadahkan tangannya dengan sombong.
Rara merasa malu dengan sikap ibunya.
"Kau ingin aku memanggil polisi sekarang?" ancam Armando, Feli mulai ciut.
"Baiklah berikan aku 500ribu saja dan aku akan pergi" Feli bernegosiasi dengan Armando.
Armando tak bergeming, ia menatap malas kepada Feli lalu mengambil ponselnya.
"Ya sudah 200ribu cukup untuk ongkosku pulang" ucap Feli lagi.
Armando mulai menekan nomor diponselnya.
"100 ribu?" ujar Feli masih berusaha meminta uang.
Armando mengeluarkan uang dari sakunya dan memberikannya pada Feli.
"Apa?! Hanya 20ribu? Apa kau bercanda denganku?!" Feli gusar, ia harus pulang ke rumahnya namun uangnya sudah habis.
Feli memang berniat memeras Luna dan Rey.
"Kau tak mau?" Armando hendak mengambil uangnya kembali.
Feli langsung meremas uang yang diberikan oleh Armando dan memasukkannya ke saku.
"Urusanku belum selesai denganmu anak durhaka! Hutang budimu karena ibu telah melahirkanmu harus kau bayar!" tukas Feli sambil berlalu pergi.
"Ya Tuhan..." Rara berjongkok dan menutup wajahnya.
"Kau baik-baik saja nona?" Armando ikut berjongkok bersama Rara.
Rara menggeleng, Luna berjalan perlahan menghampiri Rara.
"Ayo kita masuk kau butuh istirahat" Luna membantu Rara bangun, namun seketika Rara pingsan.
Luna meminta Armando menggendong Rara.
♥️♥️♥️
Keesokan harinya, mami datang. Wajahnya terlihat khawatir apalagi Luna bercerita bahwa semalam Rara pingsan.
"Rara.. Ya Tuhan syukurlah" mami langsung memeluk Rara yang sedang terbaring ditempat tidur.
Rara membuka matanya perlahan, kepalanya masih terasa pusing.
"Mami?" ujar Rara heran.
"Mami benar-benar tak dapat berpikir kemarin. Ini ponselmu" mami mengembalikan ponsel Rara yang ditemukan oleh pengawalnya.
Rara menatap ponselnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih mami" Rara duduk dan memeluk mami.
Ada perasaan tertusuk yang amat dalam di hati Rara, ibu kandungnya ingin menjadikannya ladang uang sedangkan ibu orang lain memberikannya kasih sayang yang sangat banyak. Tak terasa air mata Rara menetes.
"Kenapa kau menangis? Apa ada bagian tubuhmu yang sakit?" mami kembali khawatir.
Rara mengusap matanya dan menggeleng.
"Aku hanya senang melihat mami" kata Rara membuat mami lega.
"Mami juga senang melihatmu, apa kau mau ke rumah mami hari ini?" tanya mami ragu.
Rara berpikir sejenak.
"Apakah kak Rey hari ini akan pulang? Jika iya aku akan ikut ke rumah mami" ujar Rara.
"Kenapa begitu? Bukankah kau senang bertemu dengan Rey?" mami heran.
"Bukan begitu mami, kalau aku disini saat kak Rey pulang nanti kan Rey akan tidur di sofa. Ia kurang istirahat akhir-akhir ini" Rara memberi alasan.
"Sepertinya hari ini Rey akan pulang, aku meminta Armando menjaga ayahmu malam ini. Jika kau ingin ke rumah mami, lusa aku dan Rey akan ke sana untuk melihatmu" Luna masuk ke kamar membawakan susu untuk Rara.
"Baiklah kalau begitu kak" Rara tersenyum.
"Sekarang kau minum susu dulu, setelah itu mandi dan bersiap karena mami akan mengajakmu untuk memeriksa kondisimu ke dokter spesialis" ujar mami.
Rara tersenyum miris, ia bahagia sekaligus bersedih. Ia berandai mami adalah ibu kandungnya pasti hidupnya akan bahagia sejak dulu.
"Rara.. aku penasaran satu hal. Apakah Ben memperlakukanmu dengan baik?" tanya Luna dengan nada iseng.
Mami membulatkan matanya karena heran.
"Ben? Bukankah itu nama pria yang pernah menyukaimu" ujar mami enteng.
Luna menaruh jari telunjuk dibibirnya ke arah mami. Mereka fokus pada jawaban Rara.
"Benarkah Ben menyukai kak Luna?" Rara penasaran.
"Itu bukanlah hal yang penting" ucap Luna santai.
"Jadi bagaimana? Kau menyukai Ben? Atau kau lebih suka pelindung tampan seperti Armando?" Luna terkekeh, ia bisa membaca keadaan dengan mudah.
"Armando?" Mami terheran kembali.
Luna mengangguk dengan wajah meledek Rara. Rara menunduk malu.
"Itu adalah hal yang terlalu cepat untuk diputuskan kak" ucap Rara sambil tersipu.
"Tak usah malu, kami ini keluargamu. Kau bebas memilih pria yang kau sukai" desak Luna.
"Hemm.. mami lebih setuju kau dengan Ben, dia pria kaya dan baik. Hidupmu akan bahagia bersama pria yang memiliki banyak uang" ujar mami mendukung Ben.
__ADS_1
"Seharusnya mami melihat bagaimana Armando melindungi Rara, dia terlihat keren"