Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
S2 - Terkejut


__ADS_3

Rey dan Bobby sampai dirumah sakit, Yoshida dibawa ke ruang operasi dengan brankar.


"Aku berharap ayahku baik-baik saja" ucap Rey lirih.


"Ya aku juga berharap begitu, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dan bagaimana pun dia adalah ayahmu dan Rara. Hemm.. Rey.. sepertinya kita melupakan sesuatu" kata Bobby sambil membelalakan matanya.


Rey menoleh ke Bobby dengan wajah tak kalah terkejut.


"Rara..."


Bobby dan Rey seperti orang bingung, mereka mengusap wajah masing-masing dengan kasar. Bobby mendapat pesan singkat dari Armando yang memberitahu bahwa Rara tak ada dimobil Yoshida.


"Kemana mereka membawa adikmu! Arghhhh!!!!" Bobby geram, ia marah pada dirinya sendiri karena kurang fokus dengan banyak hal yang terjadi.


Rey menghela nafasnya berat, dalam satu hari ia mendapatkan cobaan yang bertubi-tubi.


"Aku menyuruh Armando untuk mengintrogasi teman-teman ayahmu. Semoga hari ini juga adikmu bisa ditemukan" Bobby memegang bahu Rey.


Rey mengangguk. Samuel menghampiri Rey dan Bobby sambil menggendong Sheryl, Yasmin masih menjenguk Erika.


"Apa yang terjadi?" tanya Samuel heran melihat wajah Rey yang kusut.


"Sam.. sedang apa kau disini?" Rey balik bertanya dengan tatapan heran.


"Aku mengantar Yasmin menjenguk Erika. Kalian mengapa disini? Bukankah seharusnya Bobby menjaga Erika?" Samuel tak kalah heran.


Rey menceritakan apa yang terjadi, Samuel menyeringai lalu tertawa.


"Apa tak ada yang bagus dari asal usulmu Rey? Aku miskin dan memiliki ayah seorang kriminal, tak mengherankan" ledek Samuel, membuat Bobby ingin memukulnya namun Rey mencegahnya.


"Dan kau? Aah.. aku tak habis pikir, istrimu terbaring tak sadarkan diri tapi kau malah lebih memilih temanmu ini. Seharusnya kau menikah saja dengannya" Samuel meledek Bobby juga.


Buk...


Yasmin tiba-tiba ada dibelakang Samuel dan memukul kepalanya dengan kecang.


"Apakah kau tidak punya hati nurani Sam? Rey dan Bobby dalam keadaan terguncang dan mulutmu yang kejam itu mengatakan hal-hal yang sangat menyebalkan!" hardik Yasmin kesal.


Samuel menoleh ke arah Yasmin dan mengusap kepalanya yang sakit. Yasmin mengambil paksa Sheryl dari gendongan Samuel.


"Mami berharap kau tak menuruni sifat menyebalkan papimu" ucap Yasmin pada Sheryl.


Rey dan Bobby tersenyum melihat kedatangan Yasmin, ia terlihat seperti penolong emosi Bobby yang akan meledak pada Samuel.


"Kau baik-baik saja Rey? Bobby?" Yasmin membalas senyuman dua pria dihadapannya.


Samuel memutar matanya melihat sikap ramah Yasmin pada Bobby dan Rey.


"Ya aku baik-baik saja, namun adikku belum ditemukan" jawab Rey.

__ADS_1


"Aku juga baik-baik saja, tapi aku harus melihat Erika sekarang dan harus memeriksa keadaan Bintang. Sepertinya aku harus pergi. Rey, kau tak apa aku tinggalkan bersmaa mereka?" tanya Bobby.


Rey mengangguk lalu Bobby berlalu meninggalkan mereka. Yasmin duduk disebelah Rey sambil memangku Sheryl, Rey memegang tangan Sheryl yang mungil.


"Dan sekarang kalian terlihat seperti keluarga yang bahagia" Samuel meledek lagi dengan wajah sebal.


"Diam Sam!" tukas Yasmin tak kalah kesal.


Samuel mengalihkan pandangannya dari Yasmin dan Rey yang sedang mengobrol, mereka tampak akrab dan wajah Yasmin berbeda dari biasanya. Ia tersenyum dengan gembira.


"Berikan Sheryl padaku, aku tak mau ia melihat maminya bahagia dengan pria lain" Sindir Samuel.


Yasmin berdecak kesal, lalu ia pamit kepada Rey dengan wajah menyesal dengan sikap suaminya.


♥️♥️♥️


Rara tidak tahu dimana apartemen Luna, karena ia baru sekali ke sana dan langsung dibawa oleh mami pergi.


"Lalu bagaimana aku bisa mengantarmu?" tanya Ben bingung.


"Entahlah, aku ingin menghubungi kakakku tapi aku tidak hafal dengan nomornya" ujar Rara sambil menghela nafasnya.


Ben juga tak tahu harus berbuat apa, ponsel Ben berbunyi ada yang menelponnya.


"Maaf aku harus mengangkat telpon ini, kau tak keberatan bila ku tinggal sendiri?" tanya Ben, Rara mengangguk ia mulai makan makanan yang Ben berikan.


Ben keluar dari kamarnya.


"Ben.. aku minta maaf sepertinya aku tak bisa ke hotel sekarang"


"Apa yang terjadi?"


"Aku tak bisa menceritakannya sekarang, aku dalam perjalanan menuju rumah sakit"


"Kau akan melahirkan?"


"Oh.. tidak Ben, ayah suamiku harus dioperasi malam ini. Aku ingin membawakan suami makan malam dan berada disampingnya walau sebentar"


"Kau memang istri yang sangat pengertian, sayang kau bukan istriku" goda Ben.


"Aku tak punya waktu meladeni gombalanmu itu Ben, aku tutup telponnya. Bye.."


Ben tersenyum mendengar apa yang Luna katakan padahal itu berasal dari dalam hatinya yang terdalam. Ben kembali masuk, Rara masih makan dengan lahap.


"Sekarang apa rencanamu?" tanya Ben pada Rara.


Rara mengelap mulutnya dengan tissue.


"Aku juga tidak tahu, hanya kakak yang aku punya di kota ini dan aku kehilangan kontaknya" ujar Rara sambil menunduk sedih.

__ADS_1


Ben menghela nafasnya lalu mengacak rambutnya perlahan, Rara kembali mencuri pandang pada Ben.


"Kalau ibumu? Apa kau tidak memiliki nomornya?" tanya Ben karena Rara tidak menyebutkan ibunya dari awal.


Rara diam saja, ia tak ingin menjawab pertanyaan Ben.


"Ibumu sudah meninggal?" Ben terkejut dan memasang wajah menyesal.


"Maafkan aku, aku tidak tahu" ucap Ben.


Rara hanya tersenyum kecut, ia tak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Oia bila kau sudah selesai makan, kau harus minum obat" Ben mengambil obat yang diberikan dokter lalu memberikannya pada Rara.


"Terima kasih.." ucap Rara, lalu ia meminum obat yang diberikan oleh Ben tanpa rasa curiga.


"Kau sangat aneh.." kata Ben sambil memperhatikan Rara.


"Aneh?" Rara tak paham maksud Ben.


"Iya aneh.. Aku memberimu makan dan obat, lalu kau mengkonsumsinya begitu saja tanpa rasa takut. Apa kau tidak khawatir aku menaruh racun di makanan yang aku berikan dan memberikan mu obat yang salah?" ujar Ben sambil terkekeh.


Rara memiringkan kepalanya sedikit.


"Kenapa aku harus merasa demikian?" tanya Rara polos.


"Kau baru mengenalku dan pasti kau tak tahu apakah aku baik atau tidak. Kau tidak takut mati ditanganku?"


Rara menggeleng.


"Kematian adalah kata-kata yang paling banyak aku dengar selama hidupku. Setiap hari ibuku mengatakan aku akan mati karena penyakit yang aku derita"


Ben terkejut dengan kata-kata Rara.


"Ini hanya perasaanku saja atau memang ayah dan ibumu begitu kejam padamu?"


"Tuhan yang memilihku untuk menjalani semuanya. Namun Tuhan juga yang mempertemukan ku dengan kakakku, seseorang yang tak pernah aku ketahui keberadaannya selama ini tapi menjadi penolong untuk masa depanku" ucap Rara penuh kebahagiaan.


"Sehebat itukah kakakmu?" Ben seperti tak percaya.


Rara mengangguk dengan yakin. Ia menceritakan bagaimana kakaknya menolong dan membawanya pergi dari ibunya.


"Tunggu..." Ben memotong cerita Rara.


"Kau tadi menyebut Bobby.." Ben mulai curiga.


"Ya.. dia adalah pengawal yang bekerja untuk istri kakakku" ucap Rara bangga.


Ben memicingkan matanya, ia mulai tahu siapa kakak yang Rara maksud.

__ADS_1


"Apakah kakakmu itu Rey?"


__ADS_2