
"Apa mami serius?" Luna terkejut mendengar kata-kata maminya.
"Ya.." jawab mami enteng.
Luna mengernyitkan dahinya karena ragu.
"Em... Aku tak yakin namun.." Luna menggantungkan kata-katanya.
Mami melirik ke arah Luna dengan heran.
"Kau yang memaksa tadi, kini mami sudah memutuskan namun kau ragu. Dasar anak labil" ucap mami tak berperasaan.
Luna menatap sebal ke arah maminya.
"Bukan begitu, namun Jiraiya pasti belum mengatakan apapun pada Erika" ujar Luna sambil menggigit bibirnya pelan.
Mami terhenyak, bahkan ia tak memikirkan Erika sama sekali. Bagi mami persetujuan Luna adalah segalanya namun tidak untuk Jiraiya.
"Ah.. gadis itu" ucap mami singkat.
"Ya.. Aku akan menelpon Bobby nanti untuk mengetahui apakah Erika sudah tahu mengenai hal ini" kata Luna sambil berdiri.
Kali ini mami meraih jemari Luna.
"Terima kasih putriku" ucap mami penuh haru.
Luna menoleh dan tersenyum sambil menatap maminya. Ia duduk kembali dan memeluk mami.
"Aku ingin mami bahagia.." kata Luna, tak terasa air matanya menetes.
Bulir-bulir bening juga jatuh dari pelupuk mami, keduanya saling merasakan kasih sayang satu sama lain yang selama ini jarang mereka tunjukan.
Tiba-tiba sebuah pelukan lain datang.
"Semoga kita semua bahagia" Rara yang juga beruraian air mata ikut senang.
Luna dan mami tersenyum pada Rara lalu menyambutnya dengan hangat.
♥️♥️♥️
Di tempat lain Anne masih sibuk dengan pernikahannya yang tinggal 1 bulan lagi. Sehari-hari banyak dihabiskan dengan bertengkar dengan James. Mulai dari gaun pengantin, kue tart, dekorasi dan lain sebagainya. Itu belum termasuk mood Anne yang selalu naik turun dan mudah marah.
"Aaaarghhh apakah menikah membuat setiap orang menjadi stress!!" keluh Anne saat sedang mencoba gaun pengantinnya di galeri Yasmin.
"Tenanglah Anne, kau terlalu tegang" ucap Yasmin sambil membantu Anne memakai gaunnya.
__ADS_1
"Setiap hari aku seperti bertengkar dengan diriku sendiri, James membuatku kesal dengan sikap santainya dan ia sama sekali merasa bersalah" keluh Anne lagi.
"Bagaimana bisa James yang kaku seperti es batu bisa membuatmu kesal?"
"Dia hanya berkata ya dan setuju dengan apapun yang aku usulkan tanpa membantah sedikitpun, aku merasa ia tak perduli sedikit pun dengan pernikahan ini" kata Anne dengan kesal.
Yasmin tertawa.
"Kau sangat sensitif Anne, James mempercayakan semua keperluan pernikahan kepadamu. Jadi ia setuju dengan semua yang telah kau pilih" Yasmin membelai lembut rambut adik iparnya.
Anne menghela nafas panjang.
"Pernah sekali aku meminta pendapatnya, namun aku tak setuju dan memilih hal yang lain dengan pilihan James. Dan kau tau Kak Yasmin apa yang terjadi?" kata Anne menggebu.
Yasmin menatap Anne penuh rasa penasaran.
"Ia hanya berkata, pilihanmu lebih baik" Anne memukul dahinya pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Itu lebih baik, saat rencana pernikahanku dan Samuel lebih menyebalkan karena aku dan Sam tak pernah sepakat dengan hal apapun. Akhirnya mami Sam yang mengambil keputusan karena lelah melihat aku dan Sam terus bertengkar. Dan itulah pertengkaran yang sesungguhnya. Bersyukurlah karena James tidak berusaha berdebat denganmu selama persiapan pernikahan Anne"
"Dia tidak perduli kak.." ujar Anne lirih, perasaannya tak menentu.
"Itu hanya perasaanmu, Hem.. apa yang membuatmu merasa lebih baik? Apakah kau mau James ke sini dan memujimu karena sangat cantik menggunakan gaun ini?" ucap Yasmin usil.
Anne mengulum senyumnya, wajahnya merona merah membayangkan pujian yang akan keluar dari bibir kekasih tercintanya.
Anne menunduk malu.
"Kau terlalu mencintainya Anne sampai-sampai kau ingin semua perhatiannya hanya untukmu dan tak rela jika ia seolah tak perduli padamu" Yasmin masih terkekeh.
"Ya kau benar kak, entah apa yang membuatku sangat sangat mencintainya. Semakin dia menghiraukanku maka aku semakin mencintainya. Aku bodoh ya" gerutu Anne sambil memanyunkan bibirnya.
"Kau tidak bodoh Anne, hanya sedang gugup saja. Bagaimana jika kita makan sesuatu yang manis? Tadi ada kolegaku yang memberika sebuah kue tart sebagai ucapan terima kasih" kata Yasmin.
Anne mengangguk.
"Tapi tolong fotokan aku dulu dengan gaun pengantin ini, aku akan mengirimnya pada James" ujar Anne dengan mata berbinar.
Yasmin geleng-geleng kepala sambil tersenyum simpul. Yasmin mengambil beberapa angle, Anne bergaya malu-malu membuat Yasmin mengulum senyumnya.
"Apa aku terlihat cantik difoto itu?" tanya Anne dengan wajah khawatir, Yasmin mengangguk.
Anne meminta ponselnya dan melihat hasil foto yang diambil oleh Yasmin.
"Foto ini membuatku terlihat pendek dan gemuk, bisa kau fotokan lagi kak?" ujar Anne memohon, Yasmin tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Cekrek.. Cekrekk..
Beberapa foto diambil kembali, kali ini Yasmin sambil menunduk, berjongkok dan memiringkan tubuhnya agar Anne terlihat seperti yang ia inginkan.
"Ini.." Yasmin mengembalikan ponsel Anne.
Anne melihat-lihat fotonya dan tersenyum puas.
"Terima kasih kak.." ucap Anne bahagia.
Setelah melepas gaunnya, Anne dan Yasmin menuju ruangan Yasmin.
"Yasmin.." Luna yang baru tiba dengan mami dan Rara memanggilnya.
Yasmin dan Anne menoleh, Yasmin tersenyum senang. Rara langsung menghampiri Anne dan memeluknya, sedangkan mami bersembunyi dibalik kacamata hitamnya.
"Haii Luna.. apa kau kesini untuk membuat gaun pengantin?" tanya Yasmin dengan nada usil sambil melirik ke arah mami.
Luna juga melirik ke mami dan tersenyum, mami pura-pura tak mendengar dan sibuk melihat ke arah lain.
"Kak Yasmin, aku dan Rara akan ke ruanganmu duluan ya" ujar Anne meminta izin.
"Oke.. kuenya ada di atas mejaku, buka dan makanlah" kata Yasmin menoleh ke arah Anne dan kembali melihat ke arah Luna.
"Ehem.. silahkan nyonya.." kata Yasmin sambil menahan tawa dan mengajak mami juga mami ke tempat pengukuran.
Mami berjalan mendahului Yasmin dan Luna dengan angkuhnya. Luna dan Yasmin saling tatap dan tertawa kecil. Setelah berada di ruangan, mami membuka kacamata hitamnya dan melihat sekitar.
"Gaun seperti apa yang nyonya inginkan?" tanya Yasmin dengan menahan senyumnya.
Mami melirik sinis kepada Yasmin.
"Apa kau sedang menggodaku Yasmin?" ucap mami agak ketus, Yasmin hampir saja tertawa namun Luna melotot padanya.
Tentu saja Luna tak mau mami berubah pikiran.
"Baik baik, aku akan mengukurmu terlebih dahulu" ujar Yasmin, mami mengangguk dengan gaya elegannya.
Yasmin mengukur mami dibantu oleh Luna karena mami selalu saja membantah jika Luna tak membantu.
"Baiklah sudah selesai, gaun seperti apa yang Tante inginkan?"
Mami terlihat berpikir sejenak, ujung bibirnya terlihat menyunggingkan senyum. Luna dan Yasmin penasaran dibuatnya.
"Perasaanku tidak enak" bisik Luna pada Yasmin yang ada disebelahnya.
__ADS_1
"Buatkan aku gaun dengan rok lebar layaknya seorang putri kerajaan.."