Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
Salah Paham #2


__ADS_3

Bobby berada diklinik persalinan bersama Yasmin, mereka sedang berada diruang tunggu. Wajah Yasmin benar-benar kesal dan malu. Ia sadar bila Bobby sudah tahu keadaannya maka Luna pasti juga sudah tahu.


"A.. apakah Luna sudah tahu kalau aku hamil?" tanya Yasmin dengan suara pelan.


Bobby mengangguk tapi dia sangat acuh pada Yasmin. Bahkan Bobby tidak menoleh ke arah Yasmin. Perawat memanggil Yasmin, Yasmin berdiri dan berusaha untuk kabur. Bobby menangkap tubuh Yasmin dan memaksanya masuk, Bobby ikut ke dalam untuk berjaga-jaga.


"Silahkan duduk nyonya, tuan" sapa dokter wanita yang terlihat sudah berusia 40 tahunan itu.


Dokter itu menatap heran kepada Yasmin dan Bobby yang terlihat sangat tidak bersahabat satu sama lain. Namun dokter enggan untuk bertanya, ia meminta Yasmin untuk tidur di ranjang pemeriksaan. Setelahnya dokter menjelaskan kondisi kehamilan Yasmin, Bobby mendengarkan dengan seksama tapi Yasmin seperti tidak tertarik sama sekali.


"Terima kasih atas penjelasannya dokter" ucap Bobby sambil menjabat tangan dokter.


"Ya sama-sama tuan, sebaiknya tuan lebih memperhatikan nyonya Yasmin agar nyonya Yasmin semakin nyaman dengan kehamilannya. Dan bila ada pertengkaran lebih baik diselesaikan secepatnya" ujar dokter sambil tersenyum, Bobby menatap dokter dengan bingung.


"Dia bukan ayah dari anak yang saya kandung dok" sahut Yasmin cepat, ia tak mau dokter itu salah paham dan mengira Bobby adalah suaminya.


Dokter itu terbelalak heran, namun ia tetap tersenyum sambil menatap keduanya bergantian karena memang terlihat satu sama lain tidak saling menyukai.


Saat keluar dari ruangan dokter, Luna dan Rey baru saja datang. Luna langsung memeluk Yasmin erat.


"Kau baik-baik saja?" tanya Luna khawatir.


"Ya aku baik-baik saja" jawab Yasmin malas, ia berjalan keluar dari klinik.


Luna langsung mengejarnya dan memaksanya masuk ke mobil. Yasmin sudah tidak bisa menolak dan dengan terpaksa mengikuti keinginan Luna. Luna dan Yasmin duduk dibelakang sedangkan Rey yang menyupir.


"Ikuti kata-kata ku Yasmin, atau aku tidak segan-segan mengurungmu dirumah sakit" ancam Luna.


Yasmin melirik kesal ke arah Luna.


"Dari mana kau tahu semua ini?" tanya Yasmin dengan nada sebal.


"Ini.." Luna memberikan hasil testpack Yasmin yang ia ambil tadi pagi.


Mata Yasmin melotot, ia mengambil testpack itu dengan kasar lalu melemparnya sembarang arah.


"Apa masalahmu?!" seru Luna yang kesal melihat Yasmin membuang testpack itu ke arah depan dan hampir saja mengenai Rey.

__ADS_1


"Aku kesal kau ikut campur urusanku!" balas Yasmin ketus, Luna melotot.


"Apa katamu?! Aku baru saja menyelamatkan hidupmu dan bayi dalam kandunganmu itu! Seharusnya kau berterima kasih padaku!" Luna tak mau kalah sewot.


"Aku tidak butuh pertolongan mu! Aku tidak menginginkan bayi ini" Yasmin menangis, ia seperti menyesal dengan apa yang terjadi padanya.


Luna perlahan mendekatkan dirinya ke Yasmin, ia merangkul bahu Yasmin dengan lembut. Yasmin menolaknya namun Luna tetap bersikeras memegang bahu Yasmin.


"Ada aku, kita akan lewati ini bersama" ujar Luna menenangkan Yasmin.


"Kau bisa bicara begitu karena kau tak ada diposisi ku! Kau memiliki Rey yang akan selalu ada disampingmu! Tapi aku..." Yasmin tidak sanggup melanjutkan kata-katanya, ia menutup rapat wajah dengan jemarinya.


Luna melihat miris kepada Yasmin, ia memeluk erat sahabatnya itu.


"Kau tak perlu memikirkan apapun, jangan melakukan kebod**an seperti tadi. Bayi ini tak bersalah kau tak boleh menyakitinya" ujar Luna sambil mengusap rambut Yasmin.


"Aku tidak menginginkannya! Dia adalah kesalahan! Aku tak mau memilikinya!!" Yasmin memberontak dan memukul-mukul perutnya, Luna memegangin tangan Yasmin dengan kuat.


"Tidak Yasmin, jangan lakukan itu! Kau bisa menyakitinya" Luna mulai panik.


"Aku tak mau Luna, aku tak menginginkannya!" tangis Yasmin semakin menyayat hati Luna dan Rey yang mendengarnya.


Kenyamanan dipelukan Luna dirasakan Yasmin semakin menghangatkan, ia tertidur karena lelah. Luna menatap nanar kepada Yasmin, tak terasa air matanya terjatuh. Rey melihat Luna dari kaca spion, ia hanya bisa mendoakan segala sesuatu yang baik untuk kedua sahabat itu.


"Sweety, kita sudah sampai" Rey membangunkan Luna yang ikut tertidur bersama Yasmin.


"Ya Tuhan maafkan aku hubby, aku jadi ikut tertidur juga bersama Yasmin" Luna membuka matanya dengan kaget.


"Apakah kita harus membangunkannya?" tanya Rey sambil menoleh ke arah Yasmin, Luna mengangguk.


"Aku akan membangunkannya perlahan" ujar Luna, karena bagaimanapun ia tak rela bila Rey harus menggendong Yasmin.


Yasmin bangun dengan perasaan lebih tenang. Ia mengikuti Luna keluar dari mobil dan berjalan perlahan ke apartemen Luna.


"Duduklah... Aku akan mengambilkan air hangat untukmu" kata Luna setelah mereka masuk ke dalam apartemen.


Rey yang berjalan dibelakang Luna dan Yasmin, melihat iba ke arah Yasmin.

__ADS_1


"Cerialah Yasmin, kami akan selalu bersamamu" Rey menghibur Yasmin, Yasmin hanya tersenyum miris menatap Rey.


"Ini air hangatmu, minum lah"


Yasmin hanya mengikuti apa Luna katakan. Ia tersenyum melihat Luna dan Rey berdiri berdampingan didepannya, walaupun ia sedikit iri namun ia hanya bisa meratapi nasibnya.


"Katakan padaku, siapa ayah dari anak dalam kandunganmu?" tanya Luna, Rey terkejut mendengar pertanyaan Luna yang tiba-tiba.


Prang...


Yasmin menjatuhkan gelas yang ada ditangannya.


"Maafkan aku.." Yasmin langsung menunduk untuk membereskan gelas pecah yang ia jatuhkan.


Dengan sigap Rey berjalan ke arah Yasmin namun Luna menghentikannya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan Yasmin!" seru Luna kesal, Yasmin mengurungkan niatnya untuk membereskan gelas itu.


Ia duduk dengan tegak dan menoleh ke arah Luna dengan tatapan sedih.


"Apakah pria itu tahu tentang kehamilanmu?" tanya Luna sedikit geram, Yasmin menggeleng pelan.


Luna menahan amarahnya dengan menghembuskan nafasnya perlahan.


"Apakah dia tidak mau bertanggung jawab bila kau memberi tahunya?" tanya Luna lagi, kali ini ia menekan kata-katanya.


Yasmin mengangguk pelan, ia memalingkan wajahnya dari Luna. Luna kembali menarik napasnya sambil mengatur emosinya.


"Sweety, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu" Rey berusaha menenangkan Luna.


"Tidak, aku harus tahu segera siapa pria tidak bertanggung jawab itu!" Luna menjadi kesal pada Rey, namun Rey yang sudah sangat mengenal Luna hanya tersenyum dan merangkul bahu Luna.


"Yasmin! Cepat katakan padaku siapa ayah dari bayi yang ada didalam kandunganmu!" Luna semakin kehilangan kesabaran.


Yasmin hanya menunduk dan menangis kembali, ia tak berani mengatakan apapun pada Luna.


"Baiklah, jika memang kau tak mau mengatakannya!"

__ADS_1


Luna mengambil ponselnya.


"Bobby, segera selidiki tentang Yasmin. Cari tahu siapa ayah dari bayi yang dikandungnya dan seret dia kehadapan ku segera!"


__ADS_2