
Samuel sangat bahagia dengan kabar kehamilan kedua istri tercintanya, Yasmin. Ia langsung menemui Yasmin yang sedang tertidur diranjang rumah sakit. Perlahan Samuel meraih jemari Yasmin.
"Sayang..." panggil Samuel lembut.
Yasmin perlahan membuka matanya, ia melihat ke arah Samuel dengan tatapan heran.
"Apa aku akan mati?" tanya Yasmin yang merasa aneh Samuel memanggilnya 'sayang'.
Samuel menggeleng dengan cepat.
"Kau tidak akan mati tapi kau akan membutuhkan tenaga ekstra untuk kehamilan keduamu" ucap Samuel membuat mata Yasmin terbelalak dan ia bangun terduduk.
"Apa?!!!" ujar Yasmin setengah berteriak, bukan Yasmin namanya jika tidak ekspresif dalam bersikap.
"Kenapa kau berteriak?" Samuel menenangkan Yasmin.
"Bagaimana bisa aku hamil?" tanya Yasmin sambil setengah berpikir.
"Apa kita mabuk lagi dan melakukannya secara tak sengaja untuk kedua kalinya?" kata Yasmin sambil melirik sebal ke arah Samuel.
"Ckckck.. Kita melakukannya dengan sadar, apa kau lupa malam indah itu?" ucap samule dengan tatapan menggoda.
Yasmin terdiam, ia mencoba mengingat apa yang dimaksud oleh Samuel.
"Ahh... iya aku ingat.." kata Yasmin mulai mengingatnya dan kembali melirik kesal ke Samuel.
"Aku sudah mengatakan padamu waktu itu bahwa aku belum ingin hamil lagi!" tukas Yasmin ketus.
"Kau sangat membuatku g*la saat itu, bahkan kita melakukannya sampai 5 kali" bisik Samuel membuat wajah Yasmin memerah.
Yasmin memukul pundak Samuel pelan sambil mengulum senyumnya. Samuel berdiri dan memeluk Yasmin.
"Terima kasih istriku, kau akan memberikan kebahagiaan baru untukku dan Sheryl" ucap Samuel yang disambut anggukan oleh Yasmin.
Tak lama Luna dan Rey datang, dengan wajah khawatir Luna memeluk Yasmin.
"Kau baik-baik saja?" tanya Luna penuh penekanan dalam kata-katanya.
"Aku baik-baik saja Luna" jawab Yasmin sambil tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu, semua orang sangat khawatir padamu. Bahkan Anne sempat menangis tadi" kata Luna dengan wajah menyesal.
"Tak perlu ada yang dikhawatirkan Luna. Karena aku dan Yasmin akan segera memiliki bayi lagi" tutur Samuel santai, Yasmin melotot padanya.
Luna tersenyum sumringah, Rey pun menyambut kabar bahagia itu dengan ekspresi yang sama.
"Benarkah? Ya Tuhan... aku bersyukur atas itu semua" Luna memeluk Yasmin lagi.
__ADS_1
Yasmin tersenyum kecut, sebenarnya Yasmin ingin menyembunyikan kehamilannya dulu sementara.
"Baiklah, sepertinya kau butuh istirahat. Aku akan menghubungi Anne dan memberitahunya bahwa kau baik-baik saja. Jaga Yasmin dengan baik!" kata Luna dengan nada mengancam pada Samuel.
Samuel mengangguk dengan cepat.
"Si kembar sudah lelah mereka pasti ingin segera sampai dirumah. Aku hanya ingin memastikan kondisimu saja, aku pulang" kata Luna sambil melambaikan tangannya pada Yasmin dan meraih lengan suaminya.
"Jaga dirimu baik-baik Yasmin" ucap Rey sambil tersenyum, Yasmin mengangguk dengan antusias membuat Samuel cemburu.
"Jangan memperhatikan wanitaku, pergilah" tukas Samuel dengan ketus.
Rey tidak menanggapi ocehan Samuel, ia sudah sangat terbiasa dengan sikap ketus Samuel padanya. Yasmin kembali melotot pada Samuel.
"Kau tak perlu menghiraukannya, aku sangat bersyukur atas perhatian kalian" kata Yasmin sambil tersenyum manis pada Luna dan Rey.
Rey dan Luna mengangguk lalu berjalan keluar dari kamar Yasmin. Setelah Luna dan Rey menghilang dibalik pintu, Yasmin kembali menoleh ke arah Samuel dengan kesal.
"Aku tidak mau kau membuat konferensi pers mengenai kehamilanku ini!" ancam Yasmin.
"Ya Tuhan.. aku tak akan membuat konferensi pers istriku. Tapi aku yakin semua media sudah menunggu kita didepan rumah sakit ini untuk menanyakan mengenai kondisimu. Dan aku akan berkata jujur"
♥️♥️♥️
Sementara itu, Rara dan Armando sedang perjalanan pulang menuju rumah mami. Mereka hanya berdua dimobil, suasana sangat canggung. Rara bingung untuk memulai pembicaraan dengan kekasihnya itu.
"Apa kau ingin ke suatu tempat?" tanya Armando sambil menoleh sekilas pada Rara.
"Apa kau ingin segera sampai dirumah?" tanya Armando lagi.
Rara mengangguk dengan malu-malu.
"Sayang sekali, padahal aku ingin lebih lama berdua denganmu" ucap Armando dengan nada kecewa.
Rara terkesima dengan ucapan Armando dan menjadi merasa tak enak hati, ia menoleh ke Armando yang sedang fokus mengendarai mobil.
"Emmm.. " Rara takut untuk berkata-kata.
"Apa kau keberatan jika kita melihat sungai bersih yang ada didekat apartemen nona muda?"
Rara tersenyum.
"Asalkan denganmu, aku mau" kata Rara membuat Armando mengalihkan wajahnya dari Rara untuk menahan rasa senangnya.
Armando segera mengarahkan mobilnya ke tempat yang ia maksud. Setelah sampai ia memarkirkan mobilnya menghadap ke sungai, pemandangan yang indah untuk dilihat bersama orang tercinta.
"Tempat ini sangat bagus" ucap Rara dengan mata berbinar.
__ADS_1
Armando menatap mata Rara yang membulat itu. Rara menoleh ke Armando dan tatapan mereka bertemu.
"Aku mencintaimu..." ucap Armando, wajah Rara langsung merah padam lalu ia mengalihkan pandangannya.
Armando terkejut dengan sikap Rara.
"Apa kau sudah tidak mencintaiku?" tanya Armando dengan wajah polos.
Rara menoleh lagi ke Armando dengan wajah khawatir.
"Tentu saja aku juga mencintaimu" jawab Rara, lalu ia menunduk dan mengulum senyumnya karena malu.
"Boleh aku menggenggam tanganmu?" kata Armando dengan ragu.
Rara mengangguk namun merasa sangat malu dan ia masih menunduk.
Tangan Armando agak bergetar, ia meraih jemari Rara yang terasa dingin. Entah karena AC didalam mobil atau kecanggungan diantara mereka.
Tiba-tiba Rara merasakan ada sesuatu dijemarinya, ia menoleh ke arah jarinya. Sebuah cincin berwarna silver melingkar dengan indah disana. Mata Rara membulat.
"Apa kau suka?" tanya Armando dengan senyum menawannya.
Rara menarik tangannya perlahan dan memperhatikan cincin itu dengan seksama. Tak terasa air matanya mengalir membuat Armando sedikit panik.
"Apa cincin itu membuatmu sakit?"
Rara menggeleng.
"Huhuhu.. ini sangat indah dan mengharukan seperti cerita dalam drama percintaan" ujar Rara menambah keras tangisannya.
Armando menghela nafas lega, ia menyenderkan tubuhnya sambil tersenyum puas.
"Aku bersyukur kau menyukainya" ucap Armando sambil memejamkan matanya.
Cup....
Sebuah ciuman mendarat di pipi Armando, Armando membuka matanya karena terkejut. Rara menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Ma.. maaf.. aku terlalu senang dan tak sadar melakukannya" ucap Rara dengan wajah yang sangat malu.
Armando mengangkat tubuhnya, ia memegang tangan Rara agar Rara tak menutupi wajahnya lagi.
"Pipiku yang satunya merasa iri karena tidak mendapatkan kecupan darimu" goda Armando.
Rara memukul pelan lengan Armando dan tersipu.
"Apakah aku hanya mendapatkan satu kecupan karena hanya 1 jarimu yang ku berikan cincin?" tanya Armando sambil berpikir.
__ADS_1
Rara tertawa kecil mendengar ucapan Armando.
"Seharusnya kemarin aku belikan kau 10 cincin agar kedua pipiku mendapatkan masing-masing 5 kecupan darimu"