
Samuel tercengang melihat Rey, ia segera masuk ke dalam lift dan mendorong Rey keluar lalu menutup pintu lift.
"Kenapa bisa ada dia disini?" gerutu Samuel dalam hati, ia ingin segera menuju mobilnya.
Saat keluar dari lift terlihat Bobby sedang duduk di lobby sambil membaca surat kabar. Bobby sepertinya belum menyadari keberadaan Samuel. Dengan mengendap-endap Samuel berjalan menuju pintu keluar.
"Setakut itukah dia padaku?" gumam Bobby dalam hati, dia sedang malas mengurusi Samuel.
Sementara Rey sudah berada didepan apartemen Yasmin, ia menunggu Luna dan Yasmin keluar.
"Apakah kau sudah lama menunggu?" Tanya Luna saat keluar dari apartemen Yasmin, Rey hanya tersenyum lalu memegang pinggang Luna untuk membantunya berjalan perlahan-lahan.
Yasmin tampak melihat ke segala arah, ia memastikan Samuel sudah pergi.
"Apa kau mencari sesuatu Yasmin?" tanya Luna ikut menengok ke kanan dan kiri.
Yasmin menggeleng lalu tersenyum malu. Mereka bertiga turun ke bawah untuk menuju lobby. Saat perjalanan menuju galeri Yasmin, mereka berbicara satu sama lain sambil bercanda ria. Rey duduk didepan bersama Bobby.
"Apakah kau melihat Samuel tadi di lobby?" tanya Rey kepada Bobby.
Wajah Yasmin seketika berubah panik.
"Ya aku melihatnya, dia berjalan perlahan untuk menghindari ku" ujar Bobby lalu tertawa kecil, ia menjaga sikap didepan Luna.
"Samuel?" Luna bertanya heran, ia menoleh ke arah Yasmin.
Yasmin mencoba berakting seolah-olah kaget dengan pernyataan Rey.
"Iya sweety, aku bertemu dengannya saat akan keluar dari lift untuk menjemputmu" ujar Rey sambil menengok ke arah Luna.
"Apa Samuel memiliki apartemen dilantai yang sama denganmu?" Luna bertanya pada Yasmin.
Yasmin berusaha menutupi rasa gugupnya. Ia menggeleng.
"A.. aku tidak tahu soal itu" ucap Yasmin sambil mengalihkan pandangannya ke arah jendela mobil.
Luna dan Rey saling pandang, mereka tidak ingin memaksa Yasmin mengatakan apa yang ia tak ketahui. Akhirnya mereka sampai di galeri Yasmin dalam diam.
"Terima kasih Luna sudah mengantarku" ucap Yasmin sambil melambaikan tangan.
Luna dan Rey membalas lambaian tangan Yasmin. Rey sudah pindah duduk di belakang menemani Luna.
__ADS_1
"Apa kau merasa aneh dengan tingkah Yasmin?" tanya Luna.
"Aneh?" tanya Rey tak mengerti.
"Iya aneh, dia terlihat gugup saat aku menanyakan soal Samuel. Apa Yasmin menyembunyikan sesuatu dariku?" Luna menjadi curiga.
"Sudahlah sweety jangan terlalu mencampuri urusannya. Kau dan Yasmin sama-sama sudah dewasa untuk menyelesaikan masalah masing-masing" Rey membelai rambut Luna.
"Eeem kau benar hubby, mungkin itu karena aku terlalu khawatir padanya" ucap Luna, ia menempelkan kepalanya pada bahu Rey.
♥️♥️♥️
Hari minggu ini, Anne sudah berjanji akan berkencan dengan James. Anne mengenakan blouse berwarna pastel dan sepatu dengan heels cukup tinggi agar terlihat dewasa. Sebenarnya Anne sangat tidak nyaman menggunakan heels namun ia harus membuktikan kepada James kalau ia cukup dewasa untuk menikah.
"Hai selamat pagi tuan James" sapa Anne, saat James menjemputnya.
James membukakan pintu mobil tanpa keluar, Anne masuk lalu tersenyum simpul. Semalaman Anne belajar bagaimana bersikap menjadi orang dewasa, mulai dari cara duduk sampai cari bicara dan tersenyum.
"Apa kau sakit hari ini? Senyummu membuatku ngeri" ujar James melirik malas ke arah Anne, Anne memegang kedua pipinya sambil cemberut ke arah James.
"Kau mau kemana hari ini?" tanya James sebelum ia melajukan mobilnya.
"Bagaimana kita ke caffe? Aku ingin minum kopi" jawab Anne berusaha tetap tenang.
"Apa kau yakin tidak ingin ke taman hiburan atau tempat lainnya?" tanya James memastikan.
"Tidak, itu tempat untuk anak-anak" kata Anne dengan wajah sok dewasa.
James menuruti keinginan Anne, ia melajukan mobilnya ke arah caffe. Di sana Anne memesan kopi hitam tanpa gula, James memesan coklat panas. Ia tak bisa merokok bila berada di dekat Anne.
"Hari ini sepertinya cerah" ucap Anne sambil menengok ke jendela, James menatap aneh kepada Anne.
Pelayan membawakan pesanan mereka. Anne mengambil cangkir kopinya, semalam ia sudah mencoba kopi hitam punya papinya dan rasanya sangat pahit namun ia bisa menahannya. Saat Anne meminum kopi yang disediakan caffe itu...
"Huweekk.. uhuk uhukkk... pahit..." Anne menjulurkan lidahnya karena tak tahan dengan rasa pahitnya, rasa kopi itu dua kali lebih pahit dari kopi yang semalam ia coba.
James tertawa melihat ekspresi Anne, Anne mengusap lidahnya dengan tissue.
"Minum ini" James menggeser coklat panas pesanannya ke arah Anne.
Dengan wajah merah Anne menerima coklat itu dan meminumnya perlahan.
__ADS_1
"Ini enak sekaliii....." ujar Anne sampai memejamkan matanya.
James mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.
"Buatkan coklat panas satu lagi dan bawakan roti butter untuknya" ucap James, membuat Anne bertambah malu.
Tak lama pelayan membawakan pesanan baru James.
"Makan ini" James menyerahkan roti untuk Anne, Anne menerimanya sambil menunduk malu.
"Terima kasih" ucap Anne pelan, ia merasa sangat malu.
Anne memakan roti pemberian James, matanya membulat namun ia menahan rasa sukanya pada roti itu.
"Apakah itu enak?" tanya James sambil melihat ke arah Anne, Anne hanya mengangguk pelan.
"Cepat minum coklat itu dan habiskan rotinya, setelah ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat" ujar James sambil meminum coklat panasnya, ia tersenyum tipis melirik Anne.
Setelah selesai dari caffe, James mengajak Anne ke sebuah museum sejarah yang ada ditengah kota. Anne nampak asing dengan tempat itu, matanya menjelaskan segalanya tentang ketidaknyamanannya.
"Bila ada waktu luang aku suka ke sini" ujar James sambil memasukan permen ke mulutnya.
James berjalan cepat didepan Anne, Anne harus berjalan hati-hati karena menggunakan heels. Ia tak mau terjatuh dan malu untuk kedua kalinya.
"Lihat ini, pernah terjadi krisis pangan di kota kita. Kita harus bersyukur atas melimpahnya bahan pangan saat ini" ujar James sambil tersenyum, Anne suka melihat senyuman James itu.
"Dan ini, di masa lampau orang-orang masih menggunakan barang-barang berharganya sebagai alat tukar sesuatu" James menunjuk gambar lainnya, James terlihat sangat antusias.
Anne hanya mengangguk-angguk padahal ia tak mengerti. Semakin lama langkah Anne terasa semakin berat, kakinya lecet karena ia tak biasa menggunakan heels. Ia tertinggal jauh dari James yang sudah berjalan didepannya.
"Aduuh kakiku sakittt" keluh Anne, ia duduk disebuah bangku yang tersedia di museum itu sambil memijat kakinya.
Tiba-tiba James datang dengan sebuah paper bag ditangannya. James berjongkok di depan Anne dan membantunya melepas sepatu heelsnya lalu mengobati kaki Anne dengan obat merah yang dibawanya. Ia juga menempelkan plester untuk meminimalisir rasa sakitnya. James mengganti sepatu Anne dengan sepatu yang dibawanya didalam paper bag.
"Syukurlah pas, lain kali pilihlah sesuatu yang memang kau sukai dan nyaman digunakan" ujar James pada Anne, ia memasukan sepatu heels Anne kedalam paper bag.
James berdiri, lalu hendak berjalan mendahului Anne. Jantung Anne berdegup sangat kencang.
"Tuan James..." panggil Anne.
James menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Bila kau benar-benar ingin menjadi kekasihku, sepertinya aku akan mulai mempertimbangkannya"