
Rara menunduk malu mendengar kata-kata Armando.
"Terserah kau saja" ucap Rara sambil tersipu.
"Baiklah sayang, ayo kita berangkat" kata Armando.
Rara mengangguk pelan, ia menggenggam erat tangan Armando.
"Karena kau tidak bisa terlalu lelah, maka aku akan mengajakmu nonton film. Kau suka film apa?" Tanya Armando saat melajukan mobilnya.
"Emmm... aku masih ragu, aku belum pernah pergi ke bioskop" kata Rara dengan nada sedih.
"Kau tak perlu khawatir, ini adalah kali pertama kau ke bioskop dan setiap kau ingin ke sana kau bisa bilang padaku" hibur Armando, membuat Rara tersenyum manis.
"Terima kasih, sa.. ehm.. Armando" Rara mengurungkan niatnya memanggil Armando dengan panggilan 'sayang'.
Armando tersenyum melihat Rara yang sedang gugup, ia fokus pada kemudinya. Rara melihat ada sebuah cincin yang melingkar di jari kelingking Armando, ia menjadi penasaran.
"Apa cincin itu pemberian ibumu?" tanya Rara dengan wajah polos.
Armando terdiam, ia terlihat sedang berpikir lalu ia menggeleng.
"Lalu dari ayahmu?" Rara bertanya lagi.
Armando melirik ke Rara dan menggeleng lagu.
"Apakah itu dari temanmu?" Rara menjadi semakin penasaran.
"Bukan.. Ini dari seorang gadis yang sangat baik kepadaku" ujar Armando, membuat mata Rara terbelalak.
Rara meluruskan pandangannya, ia tak mau terlihat cemburu dan marah. Ini adalah pertama kalinya ia bisa berkencan, ia tak mau merusak suasana. Armando juga kembali fokus pada kemudinya.
Sesekali Rara melirik ke cincin itu, ia memanyunkan bibirnya sedikit karena takut Armando dapat membaca rasa kesalnya.
"Kenapa kau diam?" tanya Armando, membuat Rara salah tingkah.
"Tidak apa-apa" jawab Rara singkat.
"Apa kau lapar?" tanya Armando karena hari sudah mulai siang.
Rara mengangguk walaupun sebenarnya ia tak merasa lapar sedikitpun.
"Kau mau makan apa?"
__ADS_1
Rara diam saja, ia masih memikirkan gadis yang memberikan cincin pada Armando.
"Gadis itu bernama Laluna Atmadja, tak lain adalah Kakak iparmu. Saat nona memberikannya padaku, dia belum menikah dengan tuan Rey. Jadi aku menyebutnya gadis" Armando menjelaskan, ia tak mau Rara berlarut-larut dalam rasa penasarannya.
Rara menahan senyumnya, Armando cukup peka sebagai seorang pria membuat Rara tak perlu repot-repot untuk menunjukan perasaan yang sebenarnya.
"Kau senang mengetahuinya?" tanya Armando sambil menoleh sebentar pada Rara, Rara mengulum senyumnya dan mengangguk.
Dibalik sikap dingin Armando, ia banyak memperhatikan wanita-wanita yang ada disekitarnya. Seperti Luna, Erika dan Yasmin. Ketiganya memiliki sifat yang berbeda namun dalam satu tabiat yang sama yaitu mudah marah dan cemburu. Jadi Armando mengambil kesimpulan wanita yang marah dan diam biasanya karena ia sedang cemburu atau menginginkan sesuatu namun tak dapat ia ucapkan.
♥️♥️♥️
Luna sengaja mengajak mami membeli beberapa perlengkapan bayi, mereka memilih pakaian untuk Alioth dan Avior ke berbagai toko. Rey baru saja mendapat kabar jika Erika sudah sadar.
"Benarkah? Pasti Bobby sangat senang. Kita akan ke sana besok" ucap Luna senang saat Rey memberitahunya.
"Aku setuju, Bobby berkata Erika sedang membiasakan dirinya dengan Bintang. Jadi kita jangan mengganggunya sekarang" kata Rey lalu merangkul Luna.
Avior dan Alioth sedang tertidur di baby stroller khusus bayi kembar yang dibelikan oleh Yasmin.
"Rasanya mami ingin membeli semua pakaian bayi yang ada disini. Lihat ini sangat imut dan lucu untuk kedua cucu mami" keluh mami sambil memegang dua buah baju bayi berwarna hijau dan biru.
"Jangan mi, nanti mau ditaruh dimana barang-barang sebanyak ini? Bisa-bisa kamar Avior dan Alioth menjadi toko baju bayi" kata Luna sambil tertawa kecil.
"Mereka masih akan terus tumbuh mi, kalau kita belikan banyak-banyak maka nanti akan banyak baju yang tak terpakai saat badan mereka bertambah besar. Kita beli secukupnya, karena baju Avior dan Alioth masih banyak yang belum terpakai"
Mami cemberut mendengar perkataan Luna, ia tetap memilih beberapa baju sambil mengoceh. Luna melihat sekitar toko, matanya terbelalak saat melihat Armando dan Rara melintas didepan toko bayi tersebut.
Apa yang mereka lakukan disini?
Gerutu Luna, ia menyembunyikan rasa kagetnya dari Rey.
"Ada apa sweety?" Rey melihat ada gelagat aneh dari Luna.
Luna memaksakan senyumnya dan menggeleng.
"Tidak apa-apa hubby, aku hanya melihat jumper yang cocok untuk si kembar" Luna berjalan ke arah pakaian bayi yang ada di dekat pintu keluar, Rey hanya tersenyum dan tak beranjak dari tempatnya.
Diam-diam Luna mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Rara.
Pergilah dari mall ini, aku dan mami sedang membeli pakaian bayi disalah satu toko disini..
Isi pesan Luna, Rara terkejut sat menbacanya.
__ADS_1
"Kita harus keluar dari mall ini" ucap Rara dengan nada gugup.
"Ada apa?" Armando menjadi khawatir.
"Tak apa-apa, yang penting kita keluar dulu" ucap Rara.
Ia mengajak Armando berputar arah, namun saat ini bertepatan dengan mami yang keluar dari toko. Armando terkejut melihat mami, dengan spontan ia dan Rara membalik tubuh mereka dan berjalan kembali ke arah sebaliknya.
"Apa kita akan mencari toko lagi?" tanya mami pada Luna.
"Aku lapar mi, bagaimana bila kita makan?" usul Luna.
"Mami suka makan sushi yang ada disana" tunjuk mami ke arah Rara dan Armando sedang berjalan cepat, Luna melihat Rara dan Armando yang sedang berjalan membelakanginya.
"Aku ingin makan yang lain mi" Luna membalik tubuh mami cepat ke arah lain.
Mami heran melihat tingkah Luna, namun mami curiga.
"Apa yang kau sembunyikan?" mami langsung membalik tubuhnya cepat, matanya mencari sesuatu yang disembunyikan Luna.
Luna melihat ke belakang, Armando dan Rara sudah tidak terlihat.
"Tidak ada mi, kau selalu saja curiga. Aku hanya ingin makan sesuatu yang berkuah dan hangat" ucap Luna sambil tersenyum aneh.
Mami melihat wajah Luna dengan seksama lalu mami mengangguk dan berjalan sesuai dengan yang Luna arahkan. Luna menghela nafas panjang.
"Apa kau sedang menyembunyikan Rara dan Armando?" bisik Rey membuat Luna terkejut.
Luna menoleh ke arah Rey dengan tatapan takut, lalu ia memutar matanya untuk mencari alasan.
"Kau tak mau jujur padaku?" tanya Rey dengan tatapan heran.
Luna menggeleng.
"Aku akan menceritakannya dirumah nanti" ucap Luna pasrah.
"Ya baiklah" jawab Rey santai, ia merangkul Luna dan berjalan dibelakang mami.
Armando dan Rara menghela nafas panjang, mereka sudah berbelok ke arah toilet.
"Apa mereka sudah pergi?" tanya Armando sambil melihat sekitar.
Rara diam saja, jarak wajahnya dan Armando hanya 10 cm. Ia menatap wajah Armando dengan tatapan sendu. Armando baru tersadar kalau dirinya sangat dekat dengan Rara. Armando melihat ke arah lain dan mengangkat tubuhnya, namun Rara menarik bagian pinggang Armando.
__ADS_1
"Bisakah kita dalam posisi ini 1 menit lagi?"