
Mami menutup telponnya dengan wajah kecewa. Luna melihat ekspresi mami dan langsung tahu apa yang Rey katakan.
"Rara.. cepat kemasi barang-barangmu. Kau akan tetap tinggal bersamaku walau tanpa persetujuan Rey" ucap mami lalu menarik tangan Rara ke kamar sambil berjalan cepat.
Luna terkejut dengan tingkah maminya, ia berusaha meraih tangan Rara tapi mami lebih cepat. Merekaa masuk ke kamar dan menguncinya.
Dok.. dok.. dok..
"Mi... jangan begini. Rey akan marah bila kau memaksa membawa Rara" Luna meratap didepan pintu kamarnya.
"Diamlah kau Luna, mami sedang membantumu. Seharusnya kau berterima kasih" jawab mami dari dalam, suaranya terdengar senang.
Rara memperhatikan mami yang sibuk memasukan barang-barangnya dari lemari, padahal barang-barang itu baru saja dimasukan.
"Nyonya.." ucap Rara pelan.
"Ya.." mami menjawab singkat.
"Kenapa kau mau aku tinggal bersamamu?" Rara bertanya agak takut.
Mami menghentikan apa yang sedang dilakukannya dan melirik ke Rara.
"Kau tahu, aku hanya memiliki satu orang putri yang selalu saja membuat kepalaku sakit. Aku dan dia selalu berbeda pendapat, saat aku bertemu Rey aku selalu ingin menculiknya agar aku memiliki teman yang bisa selalu menemani dan sepemikiran denganku. Tapi itu tidak mungkin karena aku dan Luna bisa perang dingin sepanjang hayat. Saat melihat sikapmu yang sama dengan Rey, aku menemukan seseorang yang cocok untuk tinggal dan menemaniku" ucap mami santai.
Rara memiringkan sedikit kepalanya karena berpikir sekaligus bingung.
"Aku? Menemanimu nyonya?" tanya Rara ragu.
"Kau tak mau?" Mami menatap Rara dengan pandangan penuh dan menghela napas.
Rara berpikir sejenak, ia menimbang-nimbang keputusan yang harus dibuat olehnya.
"Ayolah Rara, ikutlah denganku. Sudah terlalu lama aku tinggal sendiri" mami memohon dengan tatapan kucing lucu andalannya.
Rara melihat ke arah mata mami dalam-dalam.
"Tapi nyonya.." Rara semakin ragu, ia masih ingin dekat dengan kakaknya.
"Panggil aku mami, dan kau bisa bertemu dengan Rey kapanpun kau mau. Yang terpenting kau tinggal bersamaku dan menemaniku" ucap mami, Rara tersenyum.
__ADS_1
Hal yang paling berat untuknya adalah berpisah dari Rey dan sulit bertemu kembali dengan kakaknya tersebut.
"Kau mau kan?" mami meyakinkan Rara.
Rara mengangguk yakin.
"Lagipula apartemen ini tidak sehat untukmu. Di rumah mami, kau bisa berkebun dan melakukan hal-hal yang kau suka. Berbeda dengan disini, tak ada tempat untuk melakukan apapun" ujar mami mengejek apartemen Luna.
"Ya baiklah nyo.. eh maksudku mami" Rara membiasakan diri bersama mami.
Luna menunggu diluar dengan cemas, ia menelpon Rey dan Rey mengatakan setelah ia pulang dari rumah sakit akan menjemput Rara dirumah mami. Tak lama Rara dan mami keluar, Rara membawa tasnya.
"Kau benar-benar ingin pergi dengan mami?" Luna tak percaya.
Rara mengangguk.
"Sebaiknya aku tinggal bersama mami kak Luna. Aku tak tega juga melihat kak Rey harus tidur di sofa, selama ia menemaniku dirumah sakit ia harus tidur disofa dan saat aku tinggal bersamanya juga ia harus tidur di sofa" ujar Rara menjelaskan, Luna menatap Rara terkejut.
"Aku menyayangi kak Rey, aku tak mau ia tersiksa karena harus tinggal bersamaku. Lagipula mami berjanji akan membiarkan aku melakukan hal yang aku suka. Kak Luna dan kak Rey tak perlu khawatir" Rara menaruh tasnya dilantai dan memeluk Luna.
Luna masih tak percaya dengan keputusan Rara.
"Sudah.. sudah.. ayo kita pulang. Bila berlama-lama disini nanti wanita ini akan membujukmu untuk tidak ikut bersama mami" mami menarik tangan Rara, Rara mengambil tasnya lalu melambaikan tangan pada Luna.
Luna masih mematung sambil menatap mami dan Rara yang sudah menghilang dibalik pintu.
♥️♥️♥️
Yasmin keluar dari kamar mandi, ia bersiap ke rumah sakit untuk menjenguk Erika bersama Samuel. Mereka membawa Sheryl karena bertepatan dengan jadwal Sheryl harus diimunisasi.
"Sam, kenapa kau tidak mengganti pakaian dan bersiap-siap?" tanya Yasmin heran, karena Samuel masih bermain dengan Sheryl ditempat tidur.
"Kau saja belum berdandan dan memilih baju yang akan kau gunakan. Setidaknya aku masih memiliki waktu 1 jam untuk bermain dengan Sheryl" jawab Samuel santai.
Yasmin mendengus kesal, ia mengambil pakaiannya dilemari. Ia memilih gaun dengan panjang dibawah lutut dan membawanya ke dalam kamar mandi.
Yasmin keluar dari kamar mandi dan terlihat kesulitan meresleting bagian belakang gaunnya. Samuel yang melihat Yasmin menaruh beberapa guling disamping Sheryl dan menghampiri istrinya.
"Kau butuh bantuan?" tanya Samuel yang sudah ada dibelakang Yasmin.
__ADS_1
Yasmin tersentak, Samuel mengusap dengan lembut punggung istrinya. Yasmin menutup matanya namun seketika ia tersadar.
"Tidak.. jangan mengambil kesempatan!" tukas Yasmin membalik tubuhnya.
"Benarkah?" Samuel menggoda Yasmin.
Yasmin ragu mengatakan hal yang sebenarnya, ia tetap berusaha sendiri. Samuel tersenyum melihat tingkah laku Yasmin.
"Apa kau tidak lelah dengan harga dirimu itu?" ujar Samuel dengan tatapan meledek.
Yasmin melirik sebal pada Samuel, mana mungkin dia meminta bantuan karena pasti akan ada imbalan yang diminta oleh Samuel.
"Tidak.. menjauhlah. Aku semakin kesulitan melakukannya saat kau ada disini" ucap Yasmin, ia menjaga gengsinya walaupun memang ia tak bisa melakukannya sendiri.
Samuel gemas, lalu ia membalik paksa tubuh Yasmin dan menutup resleting gaun Yasmin dengan cepat.
"Aku sudah melakukannya.. Dan seperti biasa kau mempunya kesempatan untuk mencium suamimu yang menawan ini" ujar Samuel sambil memajukan wajahnya.
Yasmin mendorong wajah Samuel menjauh darinya.
"Tidak.. aku tidak mau melakukannya. Hal ini yang membuatku enggan meminta bantuan padamu.. Huh!" ujar Yasmin, lalu duduk didepan meja riasnya.
"Kesempatan ini tak datang setiap saat. Ada yang bilang berciuman akan membuat hubungan suami istri akan selalu harmonis" Samuel masih berharap.
"Apa?! Harmonis?!" Yasmin berdiri dan memegang kening Samuel dengan telapak tangannya.
"Tidak panas.. tapi kenapa kau bicara seperti orang sakit" sambung Yasmin sambil memalingkan wajah dari Samuel.
Samuel menarik badan Yasmin dan memeluk Yasmin dari belakang.
"Aku hampir frustasi, sangat sulit berdekatan denganmu. Apa kau benar-benar ingin aku menyerah?" Ucap Samuel sambil menaruh kepalanya di belakang kepala Yasmin.
Yasmin agak terkejut dengan pengakuan Samuel.
"Jika kau ingin menyerah lalu kau akan meninggalkan aku dan Sheryl begitu?" tanya Yasmin ragu.
Samuel menggeleng.
"Aku juga tidak tahu. Dengan tubuh dan wajah sempurna yang aku miliki saja kau tidak tertarik, bagaimana bila aku jelek dan kurus kering" ucap Samuel, suaranya terdengar agak menyedihkan.
__ADS_1
Yasmin merasa kasihan pada Samuel. Ia membalik tubuhnya.
"Apa kau sedang berakting sekarang Sam?"