
Luna terlihat gusar, Avior terus menangis. Akhirnya Luna memanggil seorang dokter anak ke rumah mami. Dokter menjelaskan mengenai kondisi Avior, Luna dan Rey mengangguk-angguk paham. Setelah dokter pulang, Luna menatap Avior.
"Ternyata tidak mudah menjadi orang tua" ucap Luna dengan wajah sedih.
"Tenanglah sweety, kita harus lebih banyak belajar" Rey menenangkan Luna.
Alioth menangis, Rey segera menggendongnya. Jika Rey dan Luna berada didalam kamar si kembar, kedua baby sitter bisa beristirahat.
"Kenapa kau menangis Alioth? Apa kau ikut sedih karena mama menangis?" ujar Rey sambil menimang Alioth.
Tak lama Avior juga ikut menangis namun tangisannya terdengar lemah, Luna menggendong putranya yang tengah sakit dan menyusuinya. Avior menjadi tenang, dan Alioth ikut tenang padahal Alioth tidak sedang menyusu. Luna dan Rey saling tatap.
"Apa Alioth sedang memberitahu kita bahwa Avior haus?" tanya Luna, ia mencium puncak kepala Alioth.
"Karena Avior sedang sakit dan lemas, maka Alioth menggantikan Avior untuk menangis terlebih dahulu" Rey sepertinya paham apa yang terjadi.
"Kau kakak yang baik Alioth" puji Luna, Rey juga mencium pipi Alioth.
Ponsel Luna berdering, Yasmin melakukan panggilan video.
"Hai Luna.. Aku sedang bersama Erika dan Bintang" sapa Yasmin sambil menunjukan Erika yang sedang menyusui Bintang, Luna memiringkan ponselnya agar Rey tidak melihat.
Terlihat Erika dan Yasmin berada didalam kamar.
"Erika maafkan aku, Avior sedang tidak sehat. Aku akan segera menjengukmu nanti" ucap Luna menyesal.
"Sampaikan salam ku untuk Erika" bisik Rey.
"Rey menitipkan salamnya untukmu" kata Luna.
Mereka berbincang seperti kawan yang sudah lama tak bertemu. Sementara itu, Samuel dan Bobby duduk di ruang tamu berdua. Jiraiya sedang tak ada dirumah, pelayan sudah menyediakan minuman hangat untuk keduanya.
"Kau tak mau minum tuan?" tanya Bobby sambil menyeringai.
Samuel melirik sebal pada Bobby, tatapan Bobby sangat mengintimidasinya.
"Ah.. aku sudah menonton drama terbarumu. Kau sangat hebat, pandai bela diri dan terlihat seperti pria sejati" puji Bobby, namun Samuel tak suka dengan pujian tersebut.
__ADS_1
"Apa kau berniat menyindirku Bobby?" kata Samuel dengan tatapan tajam.
"Hahaha kenapa kau berpikir seperti itu tuan? Bukankah kau memang pria sejati? Kau sudah pernah menang melawanku waktu itu" Bobby tertawa, Samuel memicingkan matanya.
Pertandingan itu bukan sesuatu yang bisa ia banggakan karena ia tetap saja akan kalah dari Bobby bila harus berkelahi.
"Diamlah, aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu" Samuel berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak bisa mengabaikan tamu, kau datang dan aku harus menyambutmu dengan baik. Baiklah, apa yang membuatmu senang? Oia kau paling suka membicarakan popularitasmu kan?" Bobby tetap mengajak Samuel bicara.
Samuel membetulkan posisi duduknya saat Bobby mengatakan popularitas, Bobby memang sangat mengetahui karakter tamunya tersebut.
"Aku melihat beberapa filmmu, kau sangat menjiwai semua karakter. Apakah aku belajar dari seseorang?" Bobby berlagak seperti seorang reporter ditelevisi.
Samuel membusungkan dadanya dengan wajah sombong.
"Aku mendapatkan bakat itu sejak lahir, kau tahu Bobby? Aku sudah menjadi bintang iklan sejak usiaku 1 tahun dan itu karena seorang produser yang melihatku di pusat perbelanjaan" ujar Samuel bangga.
"Waah.. tak ku sangka kau sangat hebat" Bobby berpura-pura takjub dan bertepuk tangan, ia ingin membuat Samuel terbuai dengan ucapannya.
"Begitukah, tapi aku heran. Kenapa waktu itu kau harus berselingkuh dengan gadis lain jika memang kau terkenal sejak kecil?" perlahan-lahan Bobby mengorek informasi.
"Oh itu, hemm.. di dunia entertainment, bila kau adalah artis cilik maka untuk merubah image mu akan terasa sulit karena kau memiliki aura lucu dan menggemaskan. Untuk merubahnya kau harus membuat sesuatu yang menandakan kedewasanmu, namun aku sadari apa yang aku lakukan adalah kesalahan yang besar" kata Samuel, ia terlihat sedikit menyesal.
Bobby mengangguk-angguk.
"Lalu buat apa kau meminta nona untuk kembali padamu?" Bobby semakin menggali.
"Itu untuk membersikan namaku tentunya, age sebagai pengkhianat tidak baik untukku. Aku ingin tetap terlihat sebagai pria baik, namun sangat sulit merubahnya. Tapi memang aku ditakdirkan untuk menjadi superstar, maka aku tetap bertambah terkenal walaupun Luna tak kembali padaku hahaha" Samuel berbangga hati, Bobby ikut tertawa dengan wajah aneh.
"Ya ya ya, aku tak tahu rasanya. Itu sebabnya aku bertanya padamu tuan Sam" kata Bobby.
"Emm.. bagaimana dengan adegan bermesraan? Apa kau selalu membayangkan nona Yasmin?" bisik Bobby, Samuel tertawa.
"Tentu saja tidak" jawab Samuel dengan cepat.
"Tidak??" Bobby menjadi heran.
__ADS_1
"Yasmin banyak menolakku, bila terbayang wajahnya saat aku melakukan adegan mesra yang ada aku akan merasa takut pada lawan mainku karena Yasmin terlihat seperti hantu berambut panjang yang menakutkan saat marah" Samuel terkekeh, namun Bobby diam saja matanya melirik ke arah lain.
"Tapi saat berciuman ia sangat menyenangkan, emm tetap saja tak bisa aku membayangkannya saat berakting. Mana mungkin aku membayangkan hantu dalam adegan sepasang kekasih kan?" Samuel berkata lagi sambil mengusap air mata karena ia tertawa dengan geli.
"Oh.. jadi kau berpikir aku seperti hantu? BEGITU SAM!!!"
Terdengar suara yang sangat menakutkan ditelinga Samuel, ia menatap ke arah Bobby dengan wajah merana. Samuel menelan ludahnya perlahan, ia menoleh ke arah sumber suara menakutkan itu. Dilihatnya Yasmin berkacak pinggang sambil menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Ya Tuhan..." Samuel menutup matanya dan bergidik ngeri.
Bobby mengulum senyumnya dan menahan tawa.
"Apa kau sengaja melakukannya?!" bisik Samuel sambil melirik ke Bobby penuh curiga.
Bobby mengangkat kedua bahunya, ia tak mau ikut andil dalam masalah itu.
"Ayo kita pulang dan selesaikan ini di apartemen" ujar Yasmin ketus.
"Bobby terima kasih atas jamuannya, kami pulang dulu. Sampai jumpa" Yasmin menoleh ke Bobby dengan senyuman dan kembali menoleh ke Samuel dengan wajah sinis.
Samuel menghela nafasnya, jiwanya seakan sudah beranjak dari raganya. Seolah tak mau ikut dimarahi Yasmin saat sampai di Apartemen.
"Aku pulang dulu.." ucap Samuel, ia melambaikan tangan dengan lemah dan mengikuti langkah Yasmin keluar dari rumah Jiraiya.
Yasmin masuk ke mobil dan membanting pintu.
"Cepat masuk!!" perintah Yasmin.
"Bisakah kita bicarakan ini baik-baik istriku?" kata Samuel penuh harap.
Yasmin menyeringai.
"Apa menurutmu aku adalah wanita yang bisa melakukan hal itu Sam??"
Samuel menggeleng dengan tatapan kosong, ia masuk ke mobil penuh penyesalan. Bobby tertawa dengan puas sambil mengintip dari dalam.
"Maafkan aku tuan Sam, namun aku tak dapat menahan diriku untuk tidak mengerjaimu"
__ADS_1