
Rara dan Armando keluar dari kedai ice cream, Armando menggenggam tangan Rara dengan lembut sambil menatap matanya. Rara tersenyum dengan manis membalas tatapan kekasihnya.
"Rara..?"
Terdengar suara yang tak asing bagi Rara dan Armando, Armando melepaskan genggamannya seketika. Rara menoleh perlahan, ia menggigit bibirnya. Sang Kakak, Rey memergokinya sedang bergandengan tangan mesra dengan Armando.
"Kak Rey, kakak sedang apa disini?" Rara berusaha menenangkan dirinya, ia tersenyum dengan wajar.
Armando juga membalikkan badan lalu membungkuk memberi hormat pada Rey.
"Aku sedang mengantar biji kopi untuk kedai itu" jawab Rey, matanya memandang lurus kepada Armando penuh dengan banyak pertanyaan.
"Owh begitu, aku baru saja makan ice cream dikedai ini. Rasanya sangat enak, ayo kita makan bersama" Rara berusaha mengalihkan perhatian Rey, ia memegang tangan Rey dan mengajaknya masuk kembali ke kedai ice cream.
Tak disangka Rey menolaknya dengan lembut.
"Masuklah ke dalam mobil, Armando akan menyusulmu nanti" ujar Rey yang masih tak mengalihkan pandangannya dari Armando.
"Tapi.."
"Masuklah Rara" Rey tersenyum sambil menatap adiknya, senyuman yang begitu menakutkan untuk Rara dan Armando.
Apakah kakak akan marah pada Armando? Tidak tidak.. Kak Rey tak pernah marah. Tetapi mengapa tatapannya begitu penuh arti yang mencemaskan hatiku..
Rara bergumam dalam hati, ia berjalan ke mobil dengan hati yang galau. Saat sudah berada didalam mobil matanya tak henti melihat ke arah Rey dan Armando yang masuk ke kedai kopi.
Ya Tuhan.. apa yang aku lakukan salah hingga Kak Rey terlihat marah?
Rara meratap, ia merasa sangat khawatir.
Rey dan Armando sudah berada didalam kedai kopi, Rey memesan dua cangkir kopi dan meminta Armando duduk dihadapannya.
"Apa kau sudah makan Armando?" tanya Rey.
Armando mengangguk pelan, ia mencoba untuk menghadapi rasa cemasnya.
"Tu.."
"Kau menyukai Rara?" Rey mendahului Armando.
Armando mengangguk dengan tegas.
"Kau tahu dia memiliki penyakit dan trauma?"
Armando mengangguk lagi, tentu saja Armando tahu semua itu karena semua informasi tentang Rara yang diberikan Bobby pada Rey adalah hasil penelusuran Armando.
__ADS_1
"Bahkan saya yang pertama kali melihat wajah takutnya saat dipaksa menikah dengan seorang pria tua oleh ibunya tuan" ungkap Armando, membuat Rey sedikit terkejut.
"Sejak pertama saya melihatnya, ada rasa ingin selalu melindunginya. Tatapannya yang kosong juga wajah pasrah yang ia tunjukan atas perlakuan ibunya membuat saya langsung jatuh hati pada gadis yang bernama Ramona" sambung Armando.
Rey baru tahu, ternyata Armando menyukai Rara saat melihat titik terendah dalam hidup Rara. Bukan setelah Rara menjadi gadis yang ceria dan penuh kasih sayang seperti saat ini.
"Saya mohon tuan, izinkan saya menjaga dan melindunginya" Armando menatap Rey dengan serius.
Rey kehilangan kata-katanya, ia tak menyangka ada pria setangguh Armando. Pria yang bisa menerima segala hal yang Rara miliki, bukan hanya saat bahagianya namun saat terpuruknya juga.
"Baiklah.." Rey tersenyum, ia bangkit dari duduknya dan menepuk bahu Armando.
"Pastikan Rara tidak merasakan trauma lagi, dan beritahu aku bila dia sakit" ujar Rey, lalu pergi meninggalkan Armando yang masih terpaku.
Rey keluar dari kedai, Armando segera mengikuti langkah Rey. Ia membungkukkan badannya dan berterima kasih.
"Aku tahu kau pria yang baik" ucap Rey, Armando tersenyum.
Rara yang melihat Rey dan Armando keluar dari kedai langsung menghampiri.
"Kak.." Rara menatap Rey penuh harap.
"Sudah jangan menutupinya lagi" Rey mengacak lembut rambut adiknya.
"Emm.. bagaimana dengan mami?" ujar Rara takut.
Rara tersenyum malu.
"Bolehkah kita merahasiakannya dari mami?" Rara memohon.
"Hemm... aku tak pandai berbohong. Tapi jika itu membuatmu lebih nyaman, maka aku akan diam untuk masalah ini" kata Rey lagi.
Sontak Rara memeluk kakaknya dengan riang lalu mencium pipinya.
"Terima kasih kak, kau yang terbaik" puji Rara.
"Bukankah kau harus kembali untuk menjemput Luna dan si kembar?" tanya Rey mengingatkan, Rara dan Armando saling tatap.
"Kau benar, kami harus kembali. Terima kasih banyak kak" Rara mencium pipi kakaknya sekali lagi dan berjalan cepat ke arah mobil.
Armando membungkukkan badannya, memberi hormat pada Rey dan berjalan mengikuti Rara.
Tuan Rey adalah pria yang bijaksana dan baik, dia benar-benar memikirkan kebahagiaan nona Rara. Aku harus bisa membuktikannya..
Gumam Armando dalam hati. Setelah Rara dan Armando sudah masuk ke dalam mobil, Armando melajukan mobil kembali ke baby spa.
__ADS_1
♥️♥️♥️
Mami tiba dirumah, tak ada siapapun disana. Hanya ada para pelayan dan pengawal mami.
"Apakah Rara ada dikamarnya?" tanya mami kepada salah satu pelayan.
"Tidak nyonya, nona Rara ikut dengan nona muda dan tuan kecil keluar"
"Apakah pengawal muda itu bersama mereka?" tanya mami lagi dengan nada curiga.
Pelayan itu mengangguk, mami menyuruhnya pergi dengan gerakan tangan. Mami terlihat berpikir.
"Ternyata Luna benar-benar mengambil kesempatan untuk mendekatkan Rara dengan pengawal itu" ujar mami dalam hati, ia masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
Mami membuka ponselnya, ia melihat rekaman cctv yang dipasang diseluruh sudut rumah kecuali kamar mandi dan kamar tidur. Mata mami terbelalak melihat Rara sedang melakukan kiss bye pada Armando dan Armando menerimanya dengan wajah senang.
"Apa-apaan ini?!" seru mami gusar.
"Seharusnya aku mengeceknya saat berada diluar negeri setiap saat" ujar mami yang sangat menikmati perjalanan liburan dengan teman-temannya.
Mami memutar beberapa video lainnya, salah satunya video Ben datang bersama Bianca.
"Ben? Dengan dokter Bianca?" mami terheran-heran.
Mami memanggil menelpon Jiraiya, ia ingin memastikan sesuatu.
"Datanglah ke rumahku segera. Aku ingin kau membawakan sesuatu untukku" kata mami, Jiraiya hanya bisa tunduk dengan perintah mami.
Tak lama, Luna beserta Rara dan si kembar pulang. Mami sudah menunggu mereka di ruang tamu dengan secangkir teh.
"Mami..." Rara terlihat senang bertemu dengan mami.
Rara langsung berhambur ke pelukkan mami.
"Bagaimana keadaanmu Rara?" mami mencium kening Rara dengan seluruh perasaan rindunya.
"Aku baik-baik saja mi, kemarin aku sudah check up bersama kak Rey. Dokter bilang pengobatan ku berjalan dengan baik" kata Rara dengan yakin.
Luna juga menghampiri mami dan mencium pipinya, sementara Alioth dan Avior dibawa masuk ke kamar karena dalam keadaan tertidur. Luna heran melihat ada amplop besar berwarna coklat dimeja.
"Apa ini?" tanya Luna sambil mengambil amplop itu dan duduk disebelah Rara.
Mami menoleh ke Luna dengan wajah santai.
"Itu adalah biodata pengawal mu yang bernama Armando" ungkap mami, Rara melepaskan pelukkannya dan menatap Mai dalam-dalam.
__ADS_1
"Untuk apa?" Luna semakin heran.
"Tentu saja mami harus tahu asal usul pria yang saat ini menjadi kekasih Rara"